Skip navigation

Aku suka video klip ini. Jaya Suprana bisa menyatukan politisi paska Soeharto dalam satu video musik, dengan segenap kelebihan dan kekurangannya (dalam bermusik). Walaupun berbeda kepentingan politik namun bisa bersatu dalam satu lagu.

Pengen juga bikin beginian dengan tokoh-tokoh mahasiswa dan ilmuwan Indonesia yang merantau di luar negeri.

 

Nürnberg, 28 Januari 2012

iscab.saptocondro

 

Ada dua hal ironi dalam hidupku di Bayern.

Pertama, sebagai penganut ideologi kiri payun yang mencintai lingkungan hidup, aku menentang penggunaan mobil pribadi dan memilih angkutan umum. Akan tetapi, aku bekerja di litbang komponen mobil pribadi. Tempat kerjaku secara geografis mendukung pemakaian kendaraan pribadi. Tapi aku naik angkot tiap hari (bus, kereta listrik, kereta bawah tanah, dll). Mungkin suatu hari, aku bakal sekolah mengemudi dan dapat SIM Jerman, lalu beli mobil pribadi murah yang setara satu bulan gajiku.

Kedua, aku kuliah teknik otomasi di Uni Bremen (Automation Engineering atau Automatissierungstechnik). Akan tetapi, aku tak percaya dengan kendaraan yang otomatis. Beberapa mobil pribadi punya sistem otomasi, sehingga bisa parkir paralel tanpa manusia. Padahal parkir paralel termasuk bagian ujian mengemudi. Aku lebih memilih manusia mengemudi mobil dan memarkir paralel sendiri tanpa bantuan mesin.

Di Nürnberg, aku merasa tidak nyaman dengan kereta bawah tanah U2 dan U3 yang berjalan tanpa masinis atau sopir. Rasanya canggung, kalau duduk di depan dan melihat kereta melaju melewati terowongan tanpa sopir. Aku tidak percaya bahwa kita bisa menyerahkan keselamatan publik kepada mesin, walaupun dia memiliki artificial intelligence. Ironisnya, sebagai engineer, aku mendesain sistem otomasi dan artificial intelligence.

Sabtu lalu, aku naik U2 bersama kawan-kawan. Karena kereta ini otomatis tanpa pengawas dan tanpa sopir, aku masuk tetapi pintu mau menutup. Untung sensornya bagus dan ada prosedur “exception handle” yang membuatku tidak terjepit pintu. Aku bisa masuk kereta ini. Akan tetapi, ada satu orang penumpang yang mengikutiku yang terpisah dari teman-temannya. Dia masuk bersamaku tetapi kawan-kawannya gagal masuk kereta U2 ini karena pintu telah tertutup secara otomatis. Penumpang ini panik. Aku ingin membantu tetapi aku juga bersama kawan-kawanku yang ada janji. Ini salah satu contoh kenapa aku tidak suka otomasi.

Dulu di Uni Bremen, institusi tempatku bikin thesis, yaitu Institute of Automation (IAT), tidak memiliki pintu otomatis. Berbeda dengan institusi lainnya. Kata orang IAT, “we hate automation”. Ironi juga. Ternyata pendidikan otomasi di Bremen, terbawa ke Bayern. Walaupun mendesain sistem otomasi, aku tetap tak percaya dengan otomatisasi.

Mungkin aku lebih baik mendengar lagu “Ironic” dari Alanis Morissette aja. Siapa tahu aku bisa mendalami makna ironi dalam hidupku.

 

Nürnberg, 25 Januari 2012

iscab.saptocondro

 

November 2011, Aku mendapat Wohnung (apartemen) di daerah Gostenhof, di Nürnberg. Gostenhof terbentang dari Plärrer hingga Maximilianstraße. Kalau aku ingin berangkat kerja, aku harus mengambil angkot di salah satu dari kedua halte tersebut. Gostenhof sering disebut dengan “Gostanbul” atau “GoHo”.

Gostanbul adalah sebutan Gostenhof karena banyaknya orang Turki dan keturunannya di daerah ini. Sering disebut juga sebagai “Klein-Kreuzberg”. Kreuzberg adalah wilayah ghetto di Berlin yang sepertiga penduduknya berasal dari Turki.

Di wilayah ini juga terdapat Wohnung murah untuk keluarga miskin yang dikelola oleh WBG. Karena banyak orang Turki berasal dari kelas sosial bawah lalu pengangguran serta keluarga miskin sudah pasti berasal di kelas yang sama, Gostanbul adalah Bronx di Nürnberg.

Gostenhof sering juga disebut sebagai GoHo. Sebutan GoHo untuk menyandingkan Gostenhof dengan SoHo di Lower Manhanttan, New York, USA dan SoHo di Westminster, London, UK. SoHo di Manhanttan terkenal sebagai tempat nongkrong seniman dan teater (wiki: en & de). SoHo di Westminster terkenal sebagai tempat kehidupan malam (wiki: en & de). GoHo dan kedua Soho memiliki kemiripan. Ketiganya adalah tempat multikultural, seniman berkumpul, kafe, bar, restoran, teater, dll. Ada poster yang bertulis “GoHo is bunt” yang artinya GoHo itu warna-warni. Toko dan butik di kedua SoHo juga penuh ragam warna. OK, red light district (tempat prostitusi) juga ada di ketiga tempat tersebut. Di ujung Gostenhof, ada Plärrer. Di situ ada red light district di balik tembok kota lama (Altstadt) di gerbang terdekat.

Gostenhof juga terkenal sebagai wilayah kiri di Nürnberg. Ada tulisan “Gostenhof bleibt links!”, yang artinya “Gostenhof tetap kiri!”. Kiri di sini maksudnya adalah kiri secara politik. Partai sosialis seperti SPD dan die Linke, serta Partai Hijau (Grünen) biasanya menambang suara dari wilayah ini dalam pemilu. Orang miskin dan kelas sosial bawah di Eropa memang cenderung memilih partai kiri. Seniman juga cenderung memilih partai kiri.

Entah berapa lama, aku akan tinggal di wohnung ini. Aku menanti musim panas di Nürnberg untuk menikmati kafe dan Biergarten di wilayah Gostenhof ini. Banyak restoran segala bangsa dan warung kebab  yang belum kucoba di daerah ini.

 

Nürnberg, 22 Januari 2012,

iscab.saptocondro

***

Untuk wilayah lain di Nürnberg, silahkan lihat di sini.

***

Untuk tahu seperti apa Gostanbul, bisa dengar lagu Gostanbul 429.  Videonya bisa dilihat di siniGostanbul 429 berarti Gostenhof di daerah berkode pos 90429, yaitu kode pos rumahku di Denisstraße.

Untuk tahu, seperti apa orang-orang yang tinggal di Gostanbul 429 dan juga bentuk gedungnya, bisa lihat video ini.

Rabu waktu Indonesia, ada orang yang mengirim link ke blog yang berhubungan dengan hari rabu dan cinta.

http://52wednesday.blogspot.com/

Selama setahun penuh, tiap hari Rabu, blog tersebut akan diisi tulisan tentang cinta. Silahkan hubungi pemilik blog tersebut kalau ingin mengirim tulisan.

 

Nürnberg, 19 Januari 2012

iscab.saptocondro

Hari ini, aku mendapatkan DAAD letter edisi Desember 2011. Di situ ada artikel dari Horst Willi Schors mengenai buku-buku yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Jerman. Tahun 2010, ada 11000 buku diterjemahkan ke dalam Bahasa Jerman. Mayoritas, yaitu 65%, berasal dari buku berbahasa Inggris. Bahkan untuk novel, angkanya 70%. Buku  dengan Bahasa Indonesia masuk urutan 20 besar yang diterjemahkan.

Urutannya sebagai berikut:

  1. Inggris, 65%
  2. Prancis, 10,2% 
  3. Jepang, 5,8%
  4. Italia, 3,2%
  5. Spanyol, 2,4%
  6. Swedia, 2,1%
  7. Belanda, 1,9%
  8. Rusia, 1,5%
  9. Latin, 0,8%
  10. Norwegia, 0,7%

Sisanya 6,3% kalau digabung.

Dalam artikel Schors, aku membaca tentang Litprom. Sejak tahun 1984, Litprom berurusan dengan perkembangan literatur di Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Yang menarik, Litprom memberi dukungan finansial untuk penerjemahan buku-buku fiksi dari ketiga benua tersebut ke dalam Bahasa Jerman. Penerjemahan buku ke dalam bahasa lain bisa mendukung adanya pemenang Nobel Sastra dari ketiga benua, menurut artikel tersebut.

Hal ini menarik buatku karena banyak novel, roman, dll berbahasa Indonesia yang bagus untuk diterjemahkan ke dalam bahasa lain, khususnya Jerman. Semoga ada pemenang Nobel Sastra dari Indonesia dalam waktu dekat. Yang mudah kutemukan di Jerman adalah terjemahan Tetralogi Buru karangan Pramoedya Ananta Toer ke dalam Bahasa Jerman. Mudah-mudahan makin banyak buku Indonesia yang dialihbahasakan.

***

Tentang Litprom, silahkan baca

http://www.litprom.de/

http://de.wikipedia.org/wiki/Litprom

 

***

Mengenai dukungan finansial dari Litprom untuk menerjemahkan buku fiksi dari bahasa Indonesia ke Jerman silahkan baca

http://www.litprom.de/uebersetzungsfoerderung.html

***

Selamat menerjemahkan!

Nürnberg, 14 Januari 2011

iscab.saptocondro

 

Der Level – The Level – Level Itu

 

Level I:

Du isst Hundefleisch, das in einem Restaurant serviert wird.

You eat dog meat, which is served in a restaurant.

Kamu memakan daging anjing yang tersedia di restoran.

 

Level II:

Du lässt deinen eigenen Hund geschlachtet werden. Danach isst du das Fleisch.

You let your own dog be slaughtered. Then you eat the meat.

Kamu membiarkan anjingmu sendiri disembelih. Lalu kamu memakan dagingnya.

 

Level III:

Selbst schlachtest du deinen eigenen Hund. Danach isst du das Fleisch. Mmm, lecker!

You slaughter your own dog by yourself. Then you eat the meat. Mmm, delicious!

Kamu menyembelih anjingmu sendiri. Lalu kamu memakan dagingnya. Mmm, lezat!

 

***

In diesem kalten Winter vermisse ich Hundefleisch.

In this cold Winter, I miss dog meat.

Di musim dingin ini, aku kangen daging anjing.

Der Level – The Level – Level Itu

 

Level I:

Du isst Hundefleisch, das in einem Restaurant serviert wird.

You eat dog meat, which is served in a restaurant.

Kamu memakan daging anjing yang tersedia di restoran.

 

Level II:

Du lässt deinen eigenen Hund geschlachtet werden. Danach isst du das Fleisch.

You let your own dog be slaughtered. Then you eat the meat.

Kamu membiarkan anjingmu sendiri disembelih. Lalu kamu memakan dagingnya.

 

Level III:

Selbst schlachtest du deinen eigenen Hund. Danach isst du das Fleisch. Mmm, lecker!

You slaughter your own dog by yourself. Then you eat the meat. Mmm, delicious!

Kamu menyembelih anjingmu sendiri. Lalu kamu memakan dagingnya. Mmm, lezat!

 

***

In diesem kalten Winter vermisse ich Hundefleisch.

In this cold Winter, I miss dog meat.

Di musim dingin ini, aku kangen daging anjing.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 271 other followers