Skip navigation

“Travelling make you lost and find yourself.”
- Oki Suryowahono, 17 Januari 2014 (fb)

“Travel often; getting lost will help you find yourself.”
- Oki Suryowahono, 30 Desember 2012 (fb)

“Manusia harus menjelajah.
Gen yang diwariskan sejak 60 ribu tahun yang lalu ini,
memaksa manusia untuk tetap bertahan hidup
karena sifat keingintahuannya yang besar.”
- Oki Suryowahono, 29 Desember 2012 (fb)

“Dream is the best reason, why we fight to live”
- “5 cm”, film, Rizal Mantovani, 2012,
Oki mengambil petuah film “5 cm”, untuk menggambarkan gairah travelling (fb).

***

Oki Suryowahono adalah kawan kuliahku ketika di Teknik Elektro ITB. Facebooknya berisi pengalaman dan petuah-petuah tentang travelling. Tahun ini, ketika aku sedang merenung di pantai Barcelonetta, di Barcelona. Spanyol, aku teringat petuah-petuah Oki tentang travelling.

Kini aku ingin mencatat petuah-petuahnya di blog ini, demi memberiku inspirasi untuk travelling lebih serius. Aku merasa kata-kata Oki ini yang paling menggambarkan “Wanderlust” seperti apa yang membuatku bergairah untuk pergi jalan-jalan. Jadi kubagikan gairah ini pada pembaca blog ini.

Dear pembaca, kalau punya petuah-petuah travelling lainnya, silahkan juga bagikan kepadaku.
Mari kita berbagi inspirasi!

Bremen, 18 Desember 2014

iscab.saptocondro
“Dalam suatu perjalanan, libatkan dirimu dalam bicara.”

Jalan-jalan Sapto Condro. Travelling iscab. — http://touriscab.blogspot.com/2014/12/petuah-oki-suryowahono-tentang.html

Dua bulan lalu, aku membuat tulisan blog pertama tentang travelling, kini aku melanjutkan mengisi blog ini dengan tulisan tentang jalan-jalan lagi. Aku merenungkan bagaimana caraku berjalan-jalan: haruskah aku online atau offline?

***

Liburan secara offline, artinya ketika aku sedang berlibur atau berjalan-jalan, aku tidak menggunakan internet, baik di komputer maupun di smartphone. Dengan offline, aku tidak menyambung ke Instagram, Facebook, Twitter, Path, dll hanya demi laporan on-the-spot. Aku juga tidak menggunakan Google Maps dan aplikasi peta lainnya di smartphone, hanya demi mencari lokasi tujuan. Aku juga tidak membaca postingan orang lain di social media ketika sedang liburan. Juga tidak buka email ketika berlibur. Jadi dengan offline, aku murni konsentrasi berlibur dan sintas (survive) tanpa bantuan internet.

Keuntungan dari liburan offline, adalah seseorang bisa fokus berlibur atau jalan-jalan. Seluruh jiwa dan raga bisa fokus di ruang dan tempat ia berpijak. Tidak ada buka-buka email pribadi maupun kantor. Jadi kalau liburan kaga perlu ikut debat susu formula, pilpres dan obrolan kapan kawin di milis maupun di social media. Oh, ya, liburan offline juga membuatmu belajar teknik penting untuk tidak menjawab telpon tawaran kartu kredit. Mengangkat telpon itu mahal, lho, kalau dalam roaming internasional. Nah, terapkan teknik ini sepulangnya ke Indonesia.

Keuntungan lain dari liburan offline adalah bisa dapat pengalaman survival. Kalau tersesat, mau tidak mau, harus beli peta yang bagus di lokasi atau nanya orang di jalan. Ada pengalaman asyik, nanya sama orang yang memiliki bahasa ibu yang berbeda. Orang Eropa biasanya cuma tahu jalan dan transportasi dari rumah ke tempat kerja, tapi kaga tahu selain itu. Tapi banyak yang berusaha membantu, ketika ditanya. Jadi kalau travelling di Eropa, kemampuan baca peta murahan di tangan maupun peta di halte bus/trem/stasiun itu penting. Ada juga orang yang tahu jalan, tapi ketika kita nanya jalan, dia tidak bisa bahasa Inggris atau Indonesia. Jadinya bahasa tubuh dan mencoret-coret di tanah bisa jadi bahasa pemersatu. Oh, ya, aku teringat orang Indonesia yang cuma bisa bahasa Jawa dan Indonesia lalu menangis-nangis panik ketika tersesat di suatu kampung di Perancis ketika ketinggalan bus rombongan.

Kerugian dari liburan offline, adalah persiapan liburan harus dilakukan secara matang. Lokasi apa saja yang ingin dikunjungi. Bagaimana jalur dari tempat menginap ke lokasi ke pariwisata. Bagaimana memanfaatkan waktu dari tempat ini ke tempat itu lalu kembali ke penginapan. Bagaimana mencari tiket transportasi murah, dll. Oh, ya, catatan perjalanan harus diprint dan kumpulan kertas itu kaga ringan. Koper kan juga butuh diisi dengan oleh-oleh. Mau tidak mau, kita bikin sampah kertas: peta dan catatan kadang harus dibuang demi koper yang ringan sekembalinya kita dari liburan. Kerugian lain, adalah kita terlibat dalam kerusakan lingkungan dengan memboroskan kertas.

***

Liburan secara online, artinya ketika travelling kita tetap menyambung dengan internet dan menggunakan aplikasi smartphone. Ketika ingin pergi dari sini ke sana, Google Maps siap membantu: bukan hanya jalurnya tapi juga harga tiketnya. Kalau lagi kaga ide mau ke mana, TripAdvisor siap membantu. Biar up-to-date, Foursquare, Instagram, Facebook, Twitter, dkk siap membantu kenarsisan kita.

Keuntungan liburan online, kita tidak perlu membawa peta. Google Maps siap membantu. Aplikasi transportasi kota juga ada yang bisa dipakai. Oh, ya, tips penting adalah kita tahu nama perusahaan transportasi di kota yang kita tuju. Jadinya kita bisa membuka website-nya dan mungkin juga mengunduh aplikasinya, yang biasanya lebih baik daripada Google Map. Selain jalur sini-sana, kita bisa tahu harga tiket transportasi.

Keuntungan liburan online, kita bisa bikin laporan on-the-spot di social media yang kita miliki. Hal ini kadang penting buat blogger yang punya niche di bidang travelling. Bokap-nyokap yang khawatir bisa dihibur dengan foto-foto liburan via Facebook, Instagram, Whatsapp, dll seketika juga. Udah itu, kita bisa memuaskan gairah narsisme kita dari “Like” dan komentar kenalan-kenalan kita di social media.

Keuntungan liburan online, adalah kita tidak perlu membuat rencana detail liburan. Kalau lagi tidak ada ide mau ke mana, aplikasi travelling seperti TripAdvisor siap membantu.

Kerugian liburan online adalah kebutuhan akan charger dan coverage sinyal yang kadang mengganggu kenyamanan. Kadang lekukan indah arsitektur Romantik dan ketegasan arsitektur Barok tidak bisa dinikmati karena kita sibuk berpikir “Aduh, low bat! Harus cari kafe atau restoran buat colok charger”. Kadang semilir angin lembah pegunungan dan birunya langit tidak membuat kita ingin tidur di atas bunga-bunga warna-warni karena kita terlalu sibuk memikirkan “Anjrit! Kaga ada sinyal, euy! Kaga bisa buka Google Maps, euy!”

***

Oh, ya, seperti apa liburan yang kuinginkan? Online atau offline? Pada dasarnya, aku pergi travelling dalam rangka “tapa mlaku” dan membebaskan diriku dari dunia online. Aku ingin merasakan perjalanan spiritual yang mengembalikan fitrahku sebagai manusia yang bisa sintas (survive) tanpa perlu internet dan aplikasi online. Akan tetapi, ada beberapa kondisi yang membuatku harus tersambung lagi ke internet: beli tiket museum dengan jadwal asyik, tidak tahu di mana mengambil peta gratisan, tidak tahu jadwal kereta, beli tiket murah, dll.

Hal yang menarik tahun ini, aku pergi travelling atas nasihat kawanku yang berprinsip jalan-jalan harus offline. Akan tetapi aku bertemu kawanku yang berprinsip liburan tetap online, walau cuma menggunakan aplikasi Google Maps dan TripAdvisor doang untuk navigasi. Selain itu, foto-fotonya harus ada geo-tagging, sedangkan aku mematikan geo-tagging karena aku tidak suka kalau foto digital terlalu banyak memberi informasi pada metadata.

Baik online maupun offline, semoga travelling membuat hidup semakin bermakna.
Dear pembaca, jadi mending jalan-jalan online atau offline, ya?

Bremen, 17 Desember 2014

iscab.saptocondro
“Dalam suatu perjalanan, libatkan dirimu dalam bicara.”

Jalan-jalan Sapto Condro. Travelling iscab. — http://touriscab.blogspot.com/2014/12/jalan-jalan-online-atau-offline.html

Semester lalu, seorang kawan menasihatiku bahwa aku perlu jalan-jalan. Dia merasa khawatir dengan keadaanku yang sepertinya “No Life”, yang hanya duduk depan komputer. Kawanku yang mahasiswi doktoral ini berkata bahwa ia merasa segar dalam studi setiap ia pulang dari travelling. Aku merasakan bahwa aku memerlukan work-life-balance yang sehat, yang bisa merangsangku beraktivitas fisik. Aku membenarkan ide kawanku. Aku perlu jalan-jalan tahun ini.

Kebetulan, ada kawan sekolah yang sedang travelling keliling Eropa. Dia memberikan jadwalnya dan kulihat kota-kota yang dikunjunginya. Aku memilih kota yang belum pernah kukunjungi, yaitu Barcelona, dan bertemu dengan kawanku ini. Tak berapa lama kemudian, aku membatalkan suatu kuliah blok. Aku pun menemui kawanku di Amsterdam.

Di Barcelona, aku pun merasakan kembali gairah travelling atau “Wanderlust” atau semangat jalan-jalan atau apa pun namanya. Aku bisa mencium aroma daerah Gothik di Barcelona dan meresapi sejarahnya. Aku bisa mengagumi arsitektur Gaudi dan merasakan seluruh persamaan matematis dan segenap elemen pembentukan kehidupan dari bangunan yang didesainnya. Butir-butir pasir pantai Barceloneta kurasakan dengan tangan dan kakiku. Angin pantai mengalunkan musik yang membuat rambutku menari-nari sejenak supaya aku terlupa akan segenap kekalutan pikiran.

Mengobrol dan berjalan bersama orang asing dalam perjalanan menyadarkanku bahwa dua tahun terakhir ini, aku malas berkenalan dengan orang di Bremen dan di online social media. Tersesat dalam mencari hostel, kastil dan tempat makan, membuatku menemukan diriku. Kaki yang melepuh dalam travelling menyadarkanku bahwa aku kurang banyak berjalan dan terlalu mengandalkan sepeda dan transportasi umum.

Di pantai Barcelonetta, aku duduk merenung ditemani angin dan pasir putih. Aku memiliki blog tentang Bremen, tentang Bavaria atau Bayern, dan tentang Niedersachsen atau Lower Saxony, tapi tidak punya blog tentang kota-kota yang kulewati kalau aku lagi jalan-jalan. Aku berpikir bahwa aku perlu membuat blog tentang jalan-jalan atau travelling. Oleh karena itu, kuawali blog berisi pengalamanku menjelajah dunia, sepulangnya aku dari Barcelona. Gairah penjelajahanku sepertinya telah terkubur sejak 2008, kini bangkit kembali. Aku pun ingin mengenang kematian dan kebangkitan ini, lalu menyebarkan kabar gembira ini ke seluruh dunia dalam bentuk tulisan blog.

Dengan posting ini, kumulai tulisanku tentang travelling.

“Wanderlust: an irresistible desire to travel to understand one’s very existence” – internet quote

Bremen, 5 Oktober 2014

iscab.saptocondro
“Dalam suatu perjalanan, libatkan dirimu dalam bicara.”

Jalan-jalan Sapto Condro. Travelling iscab. http://touriscab.blogspot.com/2014/10/memulai-blog-tentang-travelling.html

Dalam cerita Mahabharata, dikenal sosok Karna yang senang berbagi. Dia akan rela memberikan apa pun yang diminta, kepada siapa pun yang meminta. Aku juga senang berbagi. Masalahnya adalah belum tentu orang lain mau kubagikan hal-hal yang kumiliki. Hahaha.

Aku senang berbagi kebahagiaan, tetapi aku tidak punya seseorang tempat aku membagi ini. Kalau berbagi kesedihan, sih, lebih mudah. Tapi aku tidak suka berbagi kesedihan sebagaimana aku malas mendengar cerita sedih orang lain. Aku lebih tertarik dengan cerita yang membangun optimisme.

Salah satu perilaku berbagi yang ada padaku adalah berbagi informasi. Aku senang berbagi informasi, di milis, di Facebook, di blog, dan di media sosial lainnya. Tingkah laku ini adalah kelebihan sekaligus kekuranganku. Beberapa kawan sudah meng-unfriend diriku karena habitus ini. Mereka tak sanggup menghadapi banjir di timeline Facebook mereka akibat hobiku yang senang berbagi ini. Aku juga menahan diri untuk tidak berbagi terlalu banyak di Timeline Facebook milikku karena aku menyayangi kawan-kawan Facebookku, yang berjumlah lebih dari 2000 (dan di atas 90% pernah kutemui langsung di dunia nyata).

Kawan-kawan Facebook yang kumiliki terdiri dari berbagai macam agama, aliran politik, hobi, kebiasaan, dll. Ada yang religius dan ada yang atheis. Ada yang berpolitik dengan aliran kiri dan kanan. Kadang aku membagi informasi secara provokatif tentang agama, yang bisa saja menyinggung kawan-kawan yang religius. Kadang aku membagi informasi secara provokatif tentang organisasi yang sering mengganggu kegiatan ibadah agama orang lain, yang tentu saja akan menyinggung kawan-kawan yang mendukung organisasi ini. Kadang aku membagi informasi tentang sains yang “mungkin” memiliki dampak terhadap interpretasi terhadap Kitab Suci agama, yang bisa saja menyinggung apa yang sudah dipercayai kawan-kawanku dalam hidup kesehariannya.

Aku bersyukur karena memiliki kawan-kawan Facebook yang belum meng-unfriend diriku yang kadang terlalu berlebihan dalam berbagi informasi. Aku menyadari bahwa berteman di dunia nyata lebih baik daripada di dunia maya. Mereka yang meng-unfriend diriku toh bisa kutemui dengan asyik-asyik aja di dunia nyata dan kami pun bisa bercerita banyak karena kami tidak tahu isi Facebook masing-masing. Ketidaktahuan bisa menjadi bahan obrolan. Kadang kurang asyik, kalau ketemu untuk membahas topik yang udah ada di Facebook. Tambahan lagi, aku bersyukur karena aku tidak di-unfriend, tetapi hanya di -“hide timeline” aja.

Kini di Indonesia, sedang ada pilpres. Karena calon Presiden cuma dua, maka konstelasinya kawan-kawan Facebook milikku kira-kira seperti ini:

  • Pendukung Prabowo, baik yang profesional maupun sekedar relawan/bobotoh
  • Pendukung Jokowi, baik yang profesional maupun sekedar relawan/bobotoh
  • Pembenci Prabowo
  • Pembenci Jokowi
  • Pembenci tokoh dan/atau organisasi pendukung Prabowo
  • Pembenci tokoh dan/atau organisasi pendukung Jokowi
  • Golput
  • Troll

Aku bersyukur punya kawan-kawan yang beragam. Tapi orang kadang memandang dengan cara dualisme: semua harus biner, ini lawan itu, baik lawan jahat, “are you with or against us?”, dll. Jadinya mereka yang menyuarakan keberagaman, akhirnya jatuh juga kepada pandangan bahwa jagad maya hanya jadi dua ragam: “pilihan gue” atau “lawan gue”.

Pada masa pilpres ini, aku memperoleh informasi dari segala penjuru. Ada informasi mutu berlian dan ada mutu sampah. Sebagian informasi perlu dianalisis secara kritis dan sebagian lagi sudah tersaji oleh media pers resmi yang tentu perlu saja tetap dibaca secara kritis. Ini karena wartawan masa kini lebih senang memberitakan dengan cepat tetapi suka lupa dengan keakuratan berita. Berdasarkan pekerjaanku sebagai peneliti, ketika berurusan dengan informasi dan entropi, selalu ada optimasi antara kecepatan dan akurasi,

Aku selalu memiliki keinginan untuk berbagi. Namun kali ini, aku menahan keinginan untuk berbagi sebagaimana seorang menahan diri dalam masa puasa. Walau ada beberapa informasi yang bisa kubagi, tetapi dalam masa pilpres ini, aku tidak membaginya. Alasannya bermacam-macam. Kasihan dengan kawan yang kena banjir informasi yang tak mereka butuhkan. Aku juga membatasi laju unfriend pada diriku. Masa sih, hanya demi keinginanku untuk berbagi informasi, aku kehilangan kawan?

Selain itu, aku juga harus menghormati kawan-kawan yang memiliki pandangan sosial politik yang berbeda denganku. Aku tidak mungkin menjelek-jelekkan tokoh panutan kawan-kawanku karena tokoh ini adalah harapan bagi kawan-kawanku, walau bukan harapanku. Aku memilih hal-hal yang lucu, kreatif atau membangkitkan optimisme saja yang kubagikan di Facebook Timeline. Memang kadang untuk hal yang kuperjuangkan, seperti penghormatan terhadap hak asasi manusia dan perlawanan terhadap fasisme, aku kadang menggunakan gambar dan cerita yang “keras” atau “tajam”.

Ketika aku memandang foto-foto kawanku di Facebook, mereka adalah suami atau istri yang saling menyayangi atau orang tua yang menyayangi anak-anaknya. Hal ini yang membuatku menahan diri untuk tidak berbagi informasi secara berlebihan dan provokatif di Facebook. Aku tidak ingin mengotori timeline mereka dengan kacaunya duniaku, yang dekat dengan wacana etis dalam dunia sains, sosial, politik, lingkungan hidup, spiritualitas, dan keagamaan. Sometimes ignorance is bliss. Namun aku memilih tetap kritis. Dan kini aku menahan diri supaya kekritisanku tidak mengganggu hidup orang lain yang ingin nyaman ber-Facebook, apalagi bersama keluarga masing-masing.

Aku pun harus serius dalam Dharmaku saat ini, yaitu jadi peneliti yang dibayar untuk meneliti Brain-Computer Interface. Aku harus lebih banyak berbagi sesuai bidangku ini. Aku juga harus merencanakan dengan baik, agar yang kubagikan berada di ruang yang tepat, yaitu jurnal internasional yang ilmiah dengan peer review. Darah Juang!

Akhir kata, aku berterimakasih karena memiliki kawan-kawan yang masih menerima diriku apa adanya. Baik yang di dunia nyata maupun di Facebook. Baik yang masih friend dan yang sudah unfriend. Baik yang “hide timeline” maupun yang membaca posting-ku di Facebook. Kalian semua adalah yang membuatku merasa kaya. Aku juga memohon maaf atas semua informasi tak berguna yang kubagi selama ini di Facebook. Semoga kaga kapok jadi kawanku.

Bremen, 7 Juli 2014

iscab.saptocondro

iscablog, euy http://iscab.blogspot.com/2014/07/berbagi.html

Sudah hampir 3 bulan, aku membuat smartphone milikku cacat. Kecerdasannya kukurangi secara sengaja. Sebelumnya, ada beberapa aplikasi jejaring sosial (online social network) di smartphone. Kini semua kuhabisi, kecuali Xing dan LinkedIn. Aku mengakses jejaring sosial di desktop saja. Kalaupun di smartphone, aku menggunakan browser dan harus melewati banyak login dengan segenap kerumitannya.

Aku mengenal perangkat genggam pertama kali ketika ia hanya memiliki kemampuan telpon dan texting SMS. Aku merasa hal ini cukup untuk berkomunikasi via perangkat genggam. Aku tidak butuh getar-getar dalam celana karena kedatangan tempelan foto Pinterest, “mention” Twitter dan Instagram dari orang yang kukenal maupun tidak, kabar terbaru dari kawan Path, dll. Aku puas dengan kemampuan telpon dan texting sederhana. Aku pertahankan aplikasi buat nelpon: telpon bernomor, Skype, Viber, Hangouts, dan Line. Aku pertahankan aplikasi texting: SMS, Whatsapp, dan Telegram.

Sejak “social media shutdown” ini, hidupku lebih mudah dan sederhana. Aku bisa menikmati mentari dan pepohonan yang menari bersama hembusan angin. Aku juga bisa menikmati bulan dan bintang yang tersipu malu di balik tarian gumpalan awan. Aku bisa mengagumi lampu kota di pinggir sungai setiap kulewati jembatan. Aku juga bisa membangun kontak mata dengan orang-orang yang kutemui di jalan, di toko, dan dalam angkutan umum. Aku bisa melihat senyum nyata manusia-manusia di sekelilingku.

***

Aku teringat masa remajaku yang tanpa perangkat genggam. Aku bisa janjian sama kawan-kawanku ke tempat makan, ke bioskop, ke acara api unggun, ke acara piknik, dll tanpa perangkat genggam. Tidak ada telpon panggilan maupun pesan teks “Di mana lu?” atau “Udah sampai di mana lu?”. Akan tetapi kami pun bisa menikmati acara bersama.

Aku tidak akan membiarkan kemanusiaanku dibuat cacat oleh teknologi. Aku akan membuktikan kepada dunia bahwa “smartphone create dumb people” itu tidak berlaku bagi diriku. Aku juga tidak mau merasakan “alone together”, ketika bertemu kawan-kawan hanya untuk duduk menunduk memandang perangkat genggam. Daripada kemanusiaanku dibuat cacat oleh smartphone, maka kubuat smartphone cacat saja.

Leherku sudah terlalu pegal untuk menunduk di bawah kekuasaan smartphone. Kini saatnya merebut kekuasaan itu. Leherku tidak layak untuk menunduk gara-gara smartphone. Leherku diciptakan Tuhan untuk menengadah ke atas memandang bintang-bintang di langit, karena aku tercipta dari bintang. We are all created from stars! Saatnya revolusi! Kerinduan manusia akan bintang revolusi sudah menggelora dalam jiwaku.

Kini aku membersihkan jiwaku dari kebisingan dunia maya. Apalagi tahun ini, kawan-kawanku sedang terkena eforia Jokowi versus Prabowo. Tidak ada ide besar yang dibicarakan dalam dunia online. Yang ada hanya obrolan bocah-bocah fans club selebriti politik. Kebisingan yang mirip ketika aku masih kanak-kanak, “mainan gue lebih keren daripada mainan lu”. Kebisingan ini baru sekadar obrolan “my horse is bigger than your horse” dan sama sekali tidak memberi makna yang berarti bagi hidupku.

Jika hidup bisa dipermudah, mengapa harus dipersulit oleh smartphone?
Aku pun kembali kepada pekerjaanku, Dharmaku, tanpa gangguan smartphone beserta kebisingan dunia maya yang menyertainya. Aku pun bisa jujur pada diriku sendiri yang hidup dalam kesunyian dan kesendirian. Hanya segelintir kawan dekat dan keluargaku yang mengontakku. Sampai jumpa lagi di posting berikutnya!

***

Bacaan lain:

Selamat membaca.

Oldenburg, 9 Mei 2014

iscab.saptocondro

iscablog, euy http://iscab.blogspot.com/2014/05/membuat-smartphone-cacat.html

Bulan April lalu adalah masa-masa yang membuatku sibuk dengan dua laporan dan satu proposal. Dua laporan praktikum/kuliah blok Signal Processing and Acoustic. Satu proposal riset yang sulit kukerjakan karena jadwalku dan pembimbingku tidak pernah cocok. Aku memilih untuk memulai dengan proposal riset dan ternyata pilihan ini salah. Aku tidak bisa menulis secara progresif. Kemudian ketika mendekati deadline laporan di akhir April, aku menulis dua laporan tersebut yang ternyata tak semudah yang kubayangkan.

Ternyata kemampuanku mengetik rumus LaTeX tidak secepat yang kubayangkan. Ternyata copy-paste (salin-pasang) gambar dari MATLAB ke LaTeX tidak semudah yang kubayangkan karena jumlah gambar yang banyak. Jika aku tahu hal seperti ini bakal terjadi, seharusnya kumulai dengan dua laporan barulah aku mengerjakan proposal. Aku terbiasa mengerjakan hal yang jelas ujung-pangkalnya lebih dahulu  atau hal yang mudah kumengerti kemudian barulah aku mengerjakan hal yang sulit dan tak jelas arahnya.

Keputusanku yang salah ini membuat tulisanku pada kedua laporan tersebut menjadi jelek walaupun terkirim sebelum deadline: 30 April 2014, 24:00. Selain itu, proposal juga tidak selesai. Aku gagal di ketiganya. Ternyata urutan mengerjakan suatu hal itu punya dampak “sistemik”.

Kini aku mulai berhati-hati dalam mengambil kuliah, karena jadwalnya dan deadline tugasnya bisa mengganggu penelitianku. Aku juga harus berhati-hati dengan urusan administratif dari universitas, bank, kantor pajak, maupun kantor imigrasi, yang menghabiskan waktu dan pikiranku. Aku harus waspada, tidak boleh kehilangan kunci seperti tahun lalu yang membuat bulan Novemberku rusak karena harus bolak-balik mengurus duplikat kunci. Bikin janji sama orang juga kukurangi.

***

Pada hari Rabu 30 April 2014, aku berada dari pagi hingga malam di perpustakaan Uni Oldenburg. Aku menulis dua laporan Signal Processing Acoustic I and II. Aku sudah memasukkan yang II ke Dropbox minggu sebelumnya, akan tetapi partnerku meminta koreksi dan beberapa tambahan. Sedangkan aku juga harus menulis yang I. Akhirnya kucoba menulis semampuku. Jam 22:30, partnerku untuk kuliah II merasa puas. Aku pun kembali menyelesaikan kuliah I. Ternyata gambar-gambarnya sangat banyak. Akhirnya aku hanya menaruh gambar dan tidak menulis banyak penjelasan. Jam 23:30, semua sudah kutaruh di Dropbox: “selesai tak selesai, kumpulkan”.

Jam 24:00 perpustakaan tutup. Dari smartphone, kulihat jadwal bus 23:38. Aku pun tak mampu mendapatkan bus itu. Aku harus mematikan laptop dan packing barang-barang. Aku lihat jadwal kereta terakhir adalah 00:06. Karena tiada bus lagi, aku menghitung bahwa tak mungkin aku mendapatkan kereta ini. Kereta baru ada lagi jam 5:35 pagi. Saat itu, pilihanku sedikit:

  • menginap di rumah teman di Oldenburg, lalu keesokan hari pulang ke Bremen
  • menginap di hotel atau hostel di Oldenburg
  • naik taksi dari Oldenburg ke Bremen
  • keliling-keliling Oldenburg sampai pagi lalu pulang ke Bremen

Aku baru selamat melewati garis kematian (deadline) dari dua laporan, namun tidak selamat melewati deadline transportasi bus dan kereta api. Bagaimanakah pilihanku selanjutnya?

Aku mencoba menelpon temanku di Oldenburg. Tiada jawaban. Jadi pilihan menginap di rumah teman harus kucoret. Naik taksi dari Oldenburg ke Bremen berbiaya 85 EUR. Cukup mahal! Menginap di hostel berbiaya 43 EUR tapi biasanya hostel meminta booking terlebih dahulu, kaga bisa dadakan. Selain itu, aku juga harus mencari di mana hostel tersebut berada. Akhirnya kupilih keliling Oldenburg sampai pagi. “Dari jam 12 malam sampai jam 5 pagi, apa yang harus kulakukan?”, pikirku saat itu.

Aku menaruh tasku nan berat dengan laptop dan catatan di stasiun Oldenburg. Sebelumnya aku berjalan kaki 3,5 km dari universitas ke stasiun karena ketinggalan bus. Setelah menaruh tas, aku kembali ke kota dan melihat-lihat apa saja kehidupan malam yang ditawarkan di sana.

Di kota, aku tak sengaja bertemu Number Two (Oh, ya, I am Number Sixteen). Lepas tengah malam, dia ingin pulang ke rumahnya. Aku curhat kilat mengenai garis kematian pengolahan sinyal dan kalau aku ketinggalan kereta jadi harus menunggu 5 jam kereta berikutnya. Aku bertanya bar dan kafe apa saja yang buka dari malam sampai pagi. Dia memberiku beberapa pilihan lokasi.

Setelah mengobrol sebentar dengan Number Two dan pacarnya, aku melanjutkan perjalananku keliling Oldenburg. Aku tidak tahu kehidupan malam seperti apa di Oldenburg. Aku melihat beberapa Irish Pubs dan semuanya penuh. Aku pun berjalan semakin dalam ke pusat kota. Aku berpikir Bar Celona di tengah kota adalah tempat yang cocok untuk duduk dan minum sambil menunggu pagi.

Sebelum sampai di sana, aku bertemu sekelompok orang muda yang teralkoholisasi. Satu orang yang termabuk tiba-tiba mengajak bicara. Dia bertanya aku dari mana dan mau ke mana. Aku bilang aku ketinggalan kereta dan menunggu kereta pagi dengan keliling-keliling merasakan dunia malam Oldenburg. Lalu dia mengajakku bergabung dengan grupnya. Aku pun mengiyakan. Aku bergabung.

Mereka yang mengajakku bergabung adalah orang-orang yang sedang merayakan ulang tahun satu orang. Entah kenapa, aku bisa diajak gabung. Daripada aku kesepian, aku pun ikut mereka ke klub manapun yang mereka masuki. Mereka pun berbagi Havana Cola bersamaku. Kami pun berkenalan dan mengobrol ringan selama mengantri masuk klub.

Klub pertama adalah Amadeus dan antriannya panjang.Tempat ini bertema rock. Lagunya tidak pas buatku dan sebagian besar di antara kami. Aku tidak cocok dengan hard rock. Di sini, aku bertemu rekan kerjaku di Jade HS Oldenburg. Dia suka rock.  Biaya masuk 4 EUR, titip jaket 1 EUR, dan aku minum 1 bir seharga 2,5 EUR. Totalnya 7,5 EUR. Seingatku, aku ditraktir minum bir, jadinya aku keluar uang 5 EUR di sini.

Berhubung banyak yang tidak cocok dengan Amadeus, kami pun keluar dan mencari klub lain. Klub kedua adalah Cubes dan antriannya panjang juga. Oh, ya, grup yang mengajakku berkata bahwa klub yang bagus adalah klub yang antriannya paling panjang. Tempat ini bertema hip-hop, reggaeton, dan pop, sesuai seleraku. Di klub ini ada “Tanz in den Mai” (Tarian memasuki bulan Mei). Di dalam klub, lagu-lagunya cocok dengan selera kami. Kami pun berdansa berdansa. Biaya masuk 5 EUR dan titip jaket 1 EUR. Aku pun hanya meminum air bening seharga 2,5 EUR. Jadinya aku keluar uang 8,5 EUR di sini.

Di Cubes, aku berpisah dengan grup yang mengajakku. Mereka keluar klub jam 4 pagi lalu menginap di Oldenburg. Sedangkan aku menunggu kereta jam 5:35 yang akan membawaku ke Bremen. Oh, ya, grup yang mengajakku ini mayoritas berasal dari Bremen. Mereka sama sepertiku, sama sekali tidak kenal Oldenburg. Jadinya mereka memilih klub secara acak, dan hanya melihat panjang antrian masuk sebagai patokan.

Jam 5 kurang, aku keluar dari Cubes lalu berjalan menuju stasiun. Lalu ada orang mabuk lagi yang memanggilku dan mengajak ngobrol. Aku mengobrol sebentar lalu melanjutkan ke stasiun. Sesampainya di stasiun, kuambil tasku dari loker dan kutunggu kereta 5:35. Kereta ini pun membawaku sampai ke Bremen.

Garis kematian ini memberiku kenangan yang berbekas. Aku jadi mengerti kehidupan malam di Oldenburg. Aku juga jadi mengerti bahwa sepeda memiliki peranan penting di Oldenburg. Berjalan kaki 3,5 km itu lama juga: 45 menit. Aku juga belajar bahwa kita harus waspada terhadap peristiwa kebetulan. Kadang hal tak terduga bisa memberi kita suatu hal bermakna. Karena suatu kebetulan, aku bisa berkenalan dengan orang baru. Gambar di bawah ini, menunjukkan bahwa garis kematian memberiku stigmata, pertanda bahwa aku lulus kursus bahasa roh.

Stigmata setelah melewati garis kematian, pertanda lahir baru dan lulus kursus bahasa roh

Kini aku kembali lagi dalam kehidupan selanjutnya, untuk melewati garis-garis kematian lainnya. Di sana, ada batu mil yang harus kulewati. Aku pun bingung kenapa mereka menggunakan batu mil (milestone), padahal di Jerman, orang menggunakan kilometer. Bukankah seharusnya “kilometerstone” lebih logis daripada “milestones”?

***

Garis kematian pengolahan sinyal bisa dibaca di tempat lain:

Kematian ini telah menebus dosa-dosa kebodohan. Aku pun lahir baru menjadi Anak Manusia.

Oldenburg, 5 Mei 2014

iscab.saptocondro

Sapto Condro bernyanyi bersama semilir angin Sachsen Hilir http://saptoconiedersachsen.blogspot.com/2014/05/setelah-kulewati-garis-kematian.html

Hari ini, aku bertemu Rani, mantan Ketua PPI Bremen. Kali ini, obrolan di bawah ini bukan obrolan imajiner seperti obrolan IKIP lalu.

Rani: “Condro!”
Aku: “Eh, Rani! Apa kabar?”
Rani: “Baik! Lu lagi ngapain di sini?”
Aku: “Mau PhD meeting. Lu lagi bawa susu?”
(melihat kontainer cairan yang digotongnya)
Rani: “Bukan! Ini liquid nitrogen.”
(Oh, ternyata nitrogen cair)
Aku: “Lu ke gedung mana?”
Rani pun menunjuk ke gedung W3.
Rani: “Bye!”
Secepat kilat kami pun menghilang ke gedung tujuan masing-masing.

***

Hari ini, aku kurang tidur karena keracunan deadline selama bulan April ini. Mengapa aku membayangkan kontainer susu cair? Padahal ini bukan peternakan sapi di Oldenburg maupun di Pangalengan atau Lembang. Ini Universitas Oldenburg, kampus Wechloy, tempat bersemayamnya mahasiswa-mahasiswi dan peneliti fisika, kimia dan biologi. Jadi kontainer nitrogen cair lebih masuk akal daripada susu sapi.

Aku pun teringat masa-masa tiga bulan pertama di Bayern atau Bavaria dulu tinggal dekat kandang sapi. Aroma susu sapi dan tahi sapi bergonta-ganti tersebar di udara. Kini, di Jerman Utara, yang kucium pagi hari ini adalah aroma fermentasi biji-bijian menjadi bir Becks. Memang setiap kota dan kampung memiliki aroma yang berbeda-beda.

Aku pun teringat bahwa seekor sapi mengajarkanku mengenai Logika dan Teori Himpunan. Sapi yang sehat memiliki 2 kaki depan, 2 kaki belakang, 2 kaki kanan dan 2 kaki kiri. Berapakah jumlah kaki sapi ini?

Orang yang tidak bisa menguasai kebijaksanaan sapi, akan terjerumus oleh sapi. Aku pun teringat pimpinan partai politik di Indonesia yang terkena masalah hukum karena berurusan dengan sapi. Jadi belajarlah filosofi dua ekor sapi untuk mendalami pandangan dunia (Weltanschauung) dari bermacam-macam ideologi.

OK, kembali ke kegiatan doktoral. Darah Juang!

Oldenburg, 25 April 2014

iscab.saptocondro

Sapto Condro bernyanyi bersama semilir angin Sachsen Hilir http://saptoconiedersachsen.blogspot.com/2014/04/kontainer-cairan.html

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 445 other followers