Skip navigation

Di Indonesia, dikenal ada 3 tingkatan sarjana:

  • S1: sarjana
  • S2: magister, master,
  • S3: Doktor

Semua tingkatan harus ditempuh dengan studi. Sewaktu S1 di Bandung, Indonesia, aku harus mengikuti kuliah beserta ujian dan tugas-tugasnya, praktikum di laboratorium, kerja praktek di perusahaan, dan diakhiri dengan tugas akhir. Kebetulan aku kuliah di tempat yang benar mendidik orang menjadi Sarjana Teknik Elektro. Kebetulan lagi aku betul-betul membuat hardware ketika kerja praktek di industri, bukan sekedar merangkum manual alat seperti beberapa mahasiswa lain. Aku juga merasakan tugas akhir yang berurusan dengan bidangku, yaitu Control Engineering (Teknik Kendali). Dalam tugas akhir ini, aku meneliti secara mandiri. Konsultasi dengan dosen, aku cuma dapat teori umum, bukan praksis memakai alat. Teman diskusi tidak ada. Aku juga menurunkan rumus sendiri untuk setengah dari pekerjaanku dalam tugas akhir ini. Selain itu, aku tidak bisa menulis tugas akhir dengan baik dan benar, terutama bagian menulis referensi. Oleh karena itu, tugas akhirku ini tak kuunggah di internet. Akhirnya aku lulus. Kuhitung lama studiku, 5 tahun. Cum Laude tak kudapat melainkan kemelut (quote: Dhita Yudistira, seniroku dan mantan Ketua HME ITB).

 

Setelah S1, kuberencana lanjut studi S2. Kumimpikan di Jerman. Ternyata tidak mulus perjalanannya. Untuk mengejar impian ini, aku ikut kursus bahasa Jerman di Goethe Institute Bandung. Aku juga merasakan bekerja menjadi pengajar di SMA swasta di Bandung selama kira-kira 2 tahun. Kemudian menjadi pengajar di perguruan tinggi swasta di Semarang. Di Semarang, aku mengajar 1 tahun. Ternyata aku merasakan 3 tahun bekerja di lembaga pendidikan.

 

Suatu kebetulan terjadi. Lamaran beasiswaku kepada DAAD Jakarta dilirik. Aku dipanggil untuk wawancara. Aku datang dan diwawancara oleh 1 Profesor Jerman, 2 Doktor Indonesia lulusan Jerman, dan 1 orang pegawai DAAD. Profesor Jerman bertanya mengenai tugas akhir S1. Doktor Indonesia bertanya mengenai apa manfaat buat negara Indonesia kalau aku studi dengan beasiswa ini. Pegawai DAAD bertanya persiapan apa saja yang telah kulakukan untuk studi ke Jerman. Sebulan kemudian, di kala harus berteduh karena hujan deras, telponku berdering. Penelpon bertanya padaku, apakah aku mau menerima beasiswa DAAD. Aku jawab, ya.

 

Setelah mengikuti permainan tarik-ulur layang-layang dan ping pong di tempat kerjaku di Semarang🙂, aku bisa lanjut studi S2 di Jerman. Dalam mengambil master di bidang otomasi di Bremen, aku harus mengikuti kuliah beserta ujiannya, praktikum di laboratorium, mengerjakan penelitian kecil (Project) dan penelitian besar (Thesis). Kecil dan besar berbeda hanya dalam jumlah kredit. Keduanya sama-sama sulit buatku. Penelitiannya dilakukan secara mandiri. Dan kemandirian ini membutuhkan disiplin tinggi dalam manajemen waktu dan memilah-milah paper. Ini yang berat buatku. Aku sudah lelah oleh ujian di Bremen. Ujiannya cuma boleh diulang satu atau dua kali jika tidak lulus (tergantung mata kuliah). Itu aturan Jerman. Kalau mengulang ujian dan tak lulus, itu artinya drop out. Dalam lelah ini, aku salah memilih topik karena pengen cepat lulus. Kemudian aku harus mengulang topik dari awal lagi. Ingin cepat, ternyata aku malah salah jalan.  Mengulang topiknya pun tanpa perlindungan beasiswa DAAD. Aku bekerja jadi buruh di gudang dan pabrik untuk membiayai sisa studiku. Akhirnya aku lulus master. Kuhitung aku studi 4,5 tahun hanya untuk gelar master.

***

Oh, ya, sesuai judul topik ini. Mengapa aku tidak lanjut studi doktoral?

Aku merenung, aku sudah menghabiskan 5 tahun S1, 3 tahun bekerja di lembaga pendidikan, 4,5 tahun S2. Totalnya, aku mendedikasikan hidupku 12,5 tahun untuk dunia pendidikan. Studi S3 bakal menambah masa hidupku di dunia ini lagi.

Aku sudah penat dengan kuliah dan dengan dunia pendidikan. Walau dalam diriku masih tersisa keinginan untuk mengajar. Tapi aku butuh suatu rehat untuk kesehatan jiwaku.

 

Studi S3 atau doktoral juga berarti suatu penelitian mandiri. Aku sudah dua kali gagal dalam penelitian mandiri. Sewaktu S1 di Bandung, kerja praktek dan tugas akhir memperpanjang lama studiku. Sewaktu S2 di Bremen, project dan thesis juga membuat kelulusanku lambat. Aku butuh suatu istirahat dari dunia penelitian di lembaga pendidikan tinggi.

 

Oh, ya, status dosenku juga hilang ketika aku sedang menjalani studi master di Bremen. Aku mendapat email di hari ulang tahunku, tepat ketika aku bangun pagi hari dan membuka komputer. Untuk menambah rasa ini, sorenya, cintaku kandas via telpon. Di saat aku stress karena salah memilih topik project di Bremen, aku mendapat dua hadiah ulang tahun ini. Hal ini sempat membuatku mengobrol dengan jeruk.

 

Tiga dosenku di Bandung berkata tentang studi doktoral atau S3. Studi ini hanya cocok untuk dosen dan mereka yang hidup di dunia penelitian, kata Pak Eniman Syamsudin. Beliau mengajarku Sistem Kendali, suatu mata kuliah yang membentuk identitasku sebagai seorang Control Engineer. Selain itu, Beliau mendidikku menjadi orang jujur dan berintegritas. Dosen kedua, Pak Armein Langi menulis tentang beda S1, S2, dan S3. Menurutnya pendidikan S3 itu untuk menghasilkan peneliti. Pendidikan ini hanya cocok untuk orang yang punya keinginan menghasilkan dan MENULIS pengetahuan baru. Beliau ini dulu memberi kuliah Pengolahan Sinyal Digital yang sempat kuhadiri sekali. Terakhir, Pak Budi Rahardjo membuatku merenung tentang perlu-tidaknya mengambil studi S3. Studi S3 hanya membuang waktu kalau tidak punya “passion” atau gairah dalam penelitian. Selain itu, Beliau juga berkata kalau ingin S3, pilihlah tempat yang memiliki promotor (pembimbing), infrastruktur dan lingkungan yang mendukung. Infrastruktur itu maksudnya fasilitas (alat, laboratorium, perpustakaan, akses jurnal, dll). Lingkungan maksudnya teman diskusi dan “network”. Penelitian berkembang dalam jejaring peneliti. Komunitas peneliti biasanya mengadakan konferensi atau seminar serta menerbitkan jurnal penelitian.

 

Aku menyadari bahwa teman diskusi itu penting dalam dunia penelitian. Dulu di Bandung, aku bisa dapat hal-hal berguna dalam penelitian ketika aku berdiskusi dengan kawan-kawan, terutama Eka Suwartadi. Di Semarang, tiba-tiba aku sulit bergerak karena tiadanya rekan diskusi. Di Bremen, ada beberapa mahasiswa doktoral asal Indonesia yang senang mengajak diskusi. Karena diskusi inilah, ide-ide penelitian bermunculan serta paper ilmiah karangan mereka bisa tajam karena diasah oleh kritik. Kawan diskusi lokal juga berguna buat makan-makan bareng dan nyanyi bareng. Tentu saja makan bareng mereka diselingi obrolan bermutu yang bisa mengisi jiwaku. Mereka juga membuatku untuk masih memiliki keinginan untuk lanjut doktoral.

***

Akhirnya kupilih tak lanjut studi doktoral. Aku ingin membuka mataku untuk dunia lain di luar dunia pendidikan. Aku juga terlalu lelah untuk studi lagi. Mentalku belum siap untuk penelitian mandiri. Apakah aku tidak suka dunia penelitian? Tidak! Saat ini, aku bekerja di bagian penelitian dan pengembangan pada perusahaan komponen kendaraan bermotor. Ternyata aku tidak jauh-jauh dari dunia penelitian. Beberapa rekan kerjaku di sini juga ada yang bergelar Doktor. Saat ini, aku tak sudi lanjut S3 tapi entah apa yang terjadi 5 tahun lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: