Skip navigation

Setelah merenungkan ideologi politik apa yang perlu kuanut, akhirnya aku memilih suatu ideologi bernama “Kiri Payun”.

Kata “kiri payun” berasal dari bahasa Indonesia “kiri” dan bahasa Sunda “payun”, yang artinya “depan” dalam Bahasa Indonesia. Dengan ideologi ini, aku memilih pergerakan di kiri dan arah ke depan. Kalau banyak membaca buku Marx, Engels, dan Trotski tentang revolusi permanen, gerakan “kiri payun” bersifat progresif revolusioner. Progresif yang bergerak ke depan dan revolusioner yang kiri. Dalam gerakan sosial, ekonomi, dan politik, “kiri payun” terinspirasi oleh Marxisme dan variannya.

Kata-kata “kiri payun” ini digunakan oleh orang di Jawa Barat dan Banten di Indonesia ketika dalam angkot ingin turun. Ideologi kiri payun juga berhubungan dengan angkot (angkutan kota). Penganut ideologi ini mengedepankan penggunaan kendaraan umum daripada kendaraan pribadi. Kendaraan umum memiliki keunggulan berupa bahwa dia bisa digunakan oleh masyarakat umum secara bersama-sama. Kebersamaan ini bisa diresapi maknanya dari pidato Soekarno “Lahirnya Pancasila” tentang gotong royong (lihat sini).

Kendaraan pribadi itu tidak ramah lingkungan. Dia serakah akan lahan parkir. Kendaraan pribadi menghabiskan lebih banyak waktunya di tempat parkir daripada dipakai jalan. Selain itu, kendaraan pribadi berperan besar dalam kemacetan. Pengurangan kendaraan pribadi bisa mengurangi polusi lokal. Sebagai penganut ideologi “kiri payun”, aku juga bersifat progresif revolusioner dalam gerakan lingkungan hidup secara praksis dan teori. Sisi environmentalisme dalam “kiri payun”, bersifat eco-sosialist.

Karena “kiri payun” berhubungan dengan angkot. Penganut ideologi ini perlu mempelajari sifat-sifat angkot, terutama di wilayah Jawa Barat dan Banten. Angkot bersifat adaptif, dalam artian berhentinya bisa di mana saja. Jalur angkot juga bisa berubah ketika tiba-tiba jalan ditutup atau penumpang tinggal sedikit kemudian sopir dan penumpang membuat kesepakatan mengenai jalur angkot. Dari sini, kita bisa ambil sisi pragmatisme gerakan politik “kirip payun”. Selain itu, kita bisa mengambil sisi ekologis dari gerakan kiri payun, terutama tentang self-organizing ecology. Ketika suatu sistem ekologi berubah, contoh jalan ditutup, angkot bisa melakukan “self organizing” untuk memilih jalur lain. Penganut ideologi kiri payun harus sadar sosial ekologi.

Kiri payun berasal dari dua bahasa, yaitu Indonesia dan Sunda, menunjukkan bahwa penganut harus memiliki sifat “think globally, act locally”. Walau menguasai teori-teori yang menjadi pandangan dunia (Weltanschauung/world view), gerakan praksis selalu bersifat lokal. Gerakan politik harus mulai dari sesuatu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Seperti kata Aa Gym, dimulai dari yang kecil, dari diri sendiri, dan dari sekarang, penganut “kiri payun” memulai gerakan dengan membentuk sikap hidup dan gaya hidup pribadi. Sesuatu ideologi politik harus bersifat personal.

Gerakan kiri payun juga terinspirasi oleh kata-kata seorang feminis Carol Hanisch, “The Personal is Political” (baca ini). Gerakan politik tak bisa terpisahkan dengan hal-hal personal. Beberapa hal personal seperti identitas, seks, pilihan penampilan, dll tak terpisahkan dengan politik. Bagaimana seseorang berpenampilan diatur dengan Perda jilbab di beberapa wilayah di Indonesia. Peraturan daerah adalah hasil proses politik dan bagaimana seseorang berpakaian adalah masalah personal. Larangan berambut mohawk di Aceh yang mengakibatkan penggundulan paksa adalah contoh lain mengenai kehidupan personal dan dunia politik tak bisa dipisahkan. Gerakan kiri payun bersifat sadar dan kritis terhadap politik identitas.

2 Trackbacks/Pingbacks

  1. […] “kiri payun“. Aku selalu bergerak ke depan dengan aliran politik kiri. Betulkah “kiri payun” adalah pandangan politik yang […]

  2. By TODO-Y02-M01-D06 | Darah Juang, Dr. Dro! on 06 Sep 2014 at 8:54 am

    […] Hari itu juga, sepeda biruku yang bernama “The Blue Sodomist” di Bremen rusak. Shock breaker lepas tiba-tiba ketika aku sedang menyebrang di perempatan. Sepeda protol. Ini mirip kejadian Black Monday tahun lalu, di Bremen. Dulu sepeda ini pernah menyodomiku sehingga celanaku sobek, kini sepeda ini kubalas dengan tunggangan kenikmatan ala Sharon Stone di film Basic Instinct. Waktu itu bobot lengkapku sekitar 100 kg. Sepertinya shock breakernya ada masalah sekrup sehingga tak sanggup menahan bobot Sharon Super Stone. Kini mobilitasku di Bremen berkurang drastis, aku harus naik angkot lagi. […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: