Skip navigation

Ada dua hal ironi dalam hidupku di Bayern.

Pertama, sebagai penganut ideologi kiri payun yang mencintai lingkungan hidup, aku menentang penggunaan mobil pribadi dan memilih angkutan umum. Akan tetapi, aku bekerja di litbang komponen mobil pribadi. Tempat kerjaku secara geografis mendukung pemakaian kendaraan pribadi. Tapi aku naik angkot tiap hari (bus, kereta listrik, kereta bawah tanah, dll). Mungkin suatu hari, aku bakal sekolah mengemudi dan dapat SIM Jerman, lalu beli mobil pribadi murah yang setara satu bulan gajiku.

Kedua, aku kuliah teknik otomasi di Uni Bremen (Automation Engineering atau Automatissierungstechnik). Akan tetapi, aku tak percaya dengan kendaraan yang otomatis. Beberapa mobil pribadi punya sistem otomasi, sehingga bisa parkir paralel tanpa manusia. Padahal parkir paralel termasuk bagian ujian mengemudi. Aku lebih memilih manusia mengemudi mobil dan memarkir paralel sendiri tanpa bantuan mesin.

Di Nürnberg, aku merasa tidak nyaman dengan kereta bawah tanah U2 dan U3 yang berjalan tanpa masinis atau sopir. Rasanya canggung, kalau duduk di depan dan melihat kereta melaju melewati terowongan tanpa sopir. Aku tidak percaya bahwa kita bisa menyerahkan keselamatan publik kepada mesin, walaupun dia memiliki artificial intelligence. Ironisnya, sebagai engineer, aku mendesain sistem otomasi dan artificial intelligence.

Sabtu lalu, aku naik U2 bersama kawan-kawan. Karena kereta ini otomatis tanpa pengawas dan tanpa sopir, aku masuk tetapi pintu mau menutup. Untung sensornya bagus dan ada prosedur “exception handle” yang membuatku tidak terjepit pintu. Aku bisa masuk kereta ini. Akan tetapi, ada satu orang penumpang yang mengikutiku yang terpisah dari teman-temannya. Dia masuk bersamaku tetapi kawan-kawannya gagal masuk kereta U2 ini karena pintu telah tertutup secara otomatis. Penumpang ini panik. Aku ingin membantu tetapi aku juga bersama kawan-kawanku yang ada janji. Ini salah satu contoh kenapa aku tidak suka otomasi.

Dulu di Uni Bremen, institusi tempatku bikin thesis, yaitu Institute of Automation (IAT), tidak memiliki pintu otomatis. Berbeda dengan institusi lainnya. Kata orang IAT, “we hate automation”. Ironi juga. Ternyata pendidikan otomasi di Bremen, terbawa ke Bayern. Walaupun mendesain sistem otomasi, aku tetap tak percaya dengan otomatisasi.

Mungkin aku lebih baik mendengar lagu “Ironic” dari Alanis Morissette aja. Siapa tahu aku bisa mendalami makna ironi dalam hidupku.

 

Nürnberg, 25 Januari 2012

iscab.saptocondro

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: