Skip navigation

Sebagai orang Indonesia, aku termasuk orang yang masih sering menipu diri sendiri. Satu contohnya, aku masih suka memajukan jam lima atau sepuluh menit. Teman-temanku dari Indonesia juga suka melakukan ini. Kalau mereka ditanya kenapa, jawabnya supaya tidak telat, supaya bisa bangun lebih awal, dll. Kalau ditanya lebih kritis lagi, apalagi oleh orang Eropa, teman-temanku bisa gelagapan menjawab.

Aku sempat mengobrol dengan kawan-kawan Eropaku tentang kebiasaan memajukan jam yang dimiliki oleh banyak orang Indonesia. Bagi mereka, kebiasaan ini “does not make sense” (English-speaking) atau “Das ist Unsinn!” (Deutsch/ German-speaking). Kawan-kawan Eropaku berpikir kalau kita sudah tahu jam tangan bergeser sepuluh menit, tentu kita tahu jam berapa sekarang sesungguhnya. Masalah telat maupun tidak telat bukan terletak pada apakah jam di tangan kita digeser beberapa menit melainkan pada niat kita untuk datang tepat waktu atau tidak. Begitulah cara berpikir kawan-kawan Eropaku.

Aku punya kawan Indonesia yang sempat marah karena ada orang Jerman berkata bahwa kebiasaan memajukan beberapa menit adalah hal yang “nonsense”. Kawan Indonesiaku ini bilang orang Jerman ini aneh. Aku hanya tersenyum. Orang Jerman biasa berbeda pendapat dan bisa mengemukakan pendapatnya blak-blakan. Teman Indonesiaku ini marah karena kebiasaan memajukan jam 10 menit adalah bagian dari identitasnya. Siapa yang tidak marah kalau tradisi alias kebiasaan diremehkan serta identitas diinjak-injak. Buatku sih, temanku ini sedang tidak siap menerima kenyataan.

Aku berpikir kalau aku tahu jamku maju sepuluh menit, tentu aku sadar jam berapa sekarang. Kalau bangun pagi dan lihat jam tersebut dengan pengetahuan bahwa jam kumajukan sepuluh menit, aku tetap tahu jam berapa sesungguhnya sekarang. Jadinya memang betul, memajukan 30 menit pun tidak akan mengobati masalah ketidaktepatan waktu.

Masalah lain adalah kalau ada orang Eropa bertanya jam berapa sekarang, kita harus menghitung dulu jam berapa sesungguhnya sekarang. Suruh siapa, ya, memajukan beberapa menit. Menghitung ini butuh waktu. Berapa lama menghitungnya tergantung kondisi mental kita. Hal inilah yang memancing orang Eropa  bertanya kenapa kita memajukan jam beberapa menit. Pada kondisi mental yang tak siap, kita bisa marah-marah kalau mendapat pertanyaan kritis.

Nah, walaupun aku tahu bahwa memajukan jam beberapa menit itu “nonsense” atau “Unsinn”, aku tetap memajukan jamku sepuluh menit. Kenapa? Karena sepuluh menit adalah prediksi waktu tempuh dari pintu rumahku ke halte kereta bawah tanah terdekat kalau aku jalan santai. Jadinya kalau aku lihat jam ketika aku usai mengunci pintu rumah/apartemen, aku tahu kira-kira jam berapa aku sampai halte/stasiun kereta.

Ke depannya, aku butuh mobile apps yang cocok buatku yang senang menipu diri sendiri ini. Mobile apps ini harus bisa menunjukkan beberapa mode waktu pada layar telpon genggam: waktu sesungguhnya, waktu dimajukan (mode menipu diri sendiri), waktu di kota lain, dll. Kalau apps ini belum ada, berarti aku harus belajar membuat apps sendiri.

 

Nürnberg, 11 Maret 2011

iscab.saptocondro

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: