Skip navigation

Mereka bertanya kenapa aku masih lajang?
Jawabanku sederhana sekaligus kompleks.

“Wanita yang kusuka, tidak menyukaiku…
…wanita yang menyukaiku, tidak kusuka”

Jawaban di atas sebetulnya sederhana dan jelas. Tapi orang bisa menambah rumit dengan pernyataan dan pertanyaan lain.
“Ah, elu terlalu pilih-pilih” (Aku cuma tersenyum)
“Elu musti belajar mencintai orang yang tidak elu sukai” (Aku mengernyitkan alis)
“Ah, elu sok ganteng” (Hmmm… aku melirik ke sudut kanan mataku sambil berpikir)
Jawaban sederhana tidak bisa diterima banyak orang.

Buatku syarat utama menanggalkan kelajangan adalah suka sama suka. Aku tak mau memiliki wanita yang tak mencintaiku untuk mendampingi hidupku. Dan sebaliknya, kupikir wanita juga tak akan mau menghabiskan waktu hidupnya mendampingi pria yang tak pernah mencintainya.

OK, ada pepatah Jawa, “witing tresno jalaran soko kulino”.
Tapi ada pepatah Jawa lain, “ora konak jenengane impoten”.

Aku ingin memiliki wanita yang bisa bikin konak. Salah satu tujuan pernikahan adalah meneruskan keturunan secara alamiah. Kaga bisa konak, artinya impoten. Untuk bisa konak, musti ada relasi ketertarikan. Relasi ini hanya timbul kalau suka sama suka. Kalau salah satu memaksa, itu namanya perkosaan.

Semua yang di alam ini memiliki pasangan yang cocok. Guanin dan Citosin saling berpasangan dalam asam deoksiribonukleat (DNA). Begitu juga Adenin berpasangan dengan Timin. Jangan paksa Guanin berpasangan dengan Adenin dalam DNA. Jangan paksa aku mencintai orang yang tak kucintai. Janganlah pula orang yang tak mencintaiku terpaksa hidup bersamaku.

Jawaban sederhana
“Wanita yang kusuka, tidak suka padaku…
Wanita yang suka padaku, tidak kusuka”
bisa jadi persamaan kompleks matematika.

Dulu aku pernah belajar persamaan kisah cinta Romeo dan Juliet. Cinta dan benci dimodelkan menjadi persamaan state dan model “Stock and Flow” dalam kuliah Konsep Teknologi di kampus kuliahku di Bandung. Di Bremen, aku membaca buku seorang kawan yang meneliti “complexity”. Kisah cintaku bisa dirumuskan dengan agent-based model (ABM).

Dengan ABM, dijelaskan bahwa aturan sederhana “Wanita yang kusuka, tidak suka padaku. Wanita yang suka padaku, tidak kusuka” bisa menjadi kompleks ketika aku dihadapkan manusia-manusia lainnya. Mereka pun mengikuti aturan yang mirip. Tapi banyak di antara mereka yang punya masalah jodoh seperti diriku. Aku terkesan dengan agent-based modelling ini. Komponen sederhana bisa menjadi sistem kompleks.

Tapi aku tetap bertahan dengan kesederhanaan jawabanku. Cukup dua kalimat. Aku tetap membuka peluang kalau aku dikenalkan maupun berkenalan dengan perempuan. Aku selalu mengikuti kegiatan-kegiatan yang memberiku peluang bertemu kenalan baru. Kata orang, aku adalah “social person”. Aku suka berkenalan dengan orang baru.

Aku juga memberi peluang pada wanita yang tak kusuka tapi dia suka padaku. Aku menjaga relasi, karena siapa tahu suatu hari aku jadi suka dia. Tapi tetap saja, Sang Waktu yang menentukan bagaimana trajektori kisah cintaku, apapun controller yang kumiliki. Wanita bosan menunggu, apalagi menunggu cinta. Jadi lebih baik buat mereka untuk meninggalkanku daripada menunggu cintaku. Sebaliknya, aku juga punya batas waktu kalau menunggu cinta.

Marilah kita dengar lagu Oppie Andaresta, “Single Happy” dari youtube.

“The girls I like, don’t like me.
The girls who like me, I don’t like.”
Jawaban sederhana dari seorang control engineer.
Seperti kata Pengkhotbah 3:11, “Segala sesuatu indah pada waktunya.”

 

Nürnberg, 15 April 2012

iscab.saptocondro

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: