Skip navigation

Setelah musim semi Arab tahun 2011, seorang blogger Tunisia bernama Lina Ben Mhenni diwawancara mengenai sistem politik baru di Tunisia. Mau dibawa ke arah mana politik Tunisia? Kata gadis Tunisia ini, “We don’t know what we want but we know what we don’t want”.

Kondisi Tunisia sejak tahun 2011 mirip dengan kondisi Indonesia paska 1998. Diktator turun meninggalkan sistem bobrok yang korup dan penuh tirani. Akan tetapi rakyat tak tahu mau ke mana. Sebagian ingin menggantikan pemimpin. Sebagian merindukan pemimpin yang satria piningit sekelas Imam Mahdi yang bisa jadi mesias bagi semuanya. Tapi rakyat disodorkan dengan pemilihan umum yang menyediakan calon pemimpin yang tak sesuai dengan hal-hal ideal di benak mereka.

Setelah calon tersebut duduk di dalam kepemimpinan, entah menjadi pemerintah maupun menjadi anggota parlemen (DPR), ternyata sistem busuk membuat pemimpin menjadi ikut busuk apapun latar belakang indah ketika mereka masih jadi calon. Seorang ulama jadi koruptor. Seorang rohaniwan jadi koruptor. Wanita baik-baik jadi koruptor. Rakyat kecewa. Sayangnya kita tak tahu mau dibawa ke mana arah negara ini.

Sebagian rakyat ingin negara Islam tapi sebagian lain bilang “Sorry, gua Katolik. Gua kaga akan dukung elu”. Sebagian ingin negara liberal tapi sebagian lain bilang “Sorry, gua pengen mempertahankan tradisi gua. Gua kaga bakal dukung elu.” Sebagian ingin pembangunan tapi sebagian lain bilang “Enak aja, rumah gua digusur. Enak aja, hutan gua disikat. Sorry, gua kaga bakal dukung elu”. Mencari tujuan bersama dalam bernegara itu kaga mudah, kawan.

Tiga paragraf di atas adalah tentang tujuan bersama. Sekarang aku ingin bercerita tentang tujuan pribadi. Memiliki tujuan hidup bisa mudah bagi sebagian orang dan sulit bagi lainnya. Aku termasuk orang yang sulit dalam menemukan tujuan hidup. Bisa dikatakan kalau aku termasuk orang yang dikatakan oleh Baz Luhrmann bahwa sampai umur 40 tahun pun aku tak punya tujuan hidup. Kata-katanya bisa diperoleh dari lagu Everybody’s Free to Wear Sunscreen yang menjadi soundtrack film produksinya yaitu Romeo + Juliet (1996) yang dibintangi Leonardo di Caprio dan Claire Danes

Aku tak pernah dididik untuk memiliki tujuan hidup. Aku terdidik untuk mengikuti perintah. Orangtuaku memberiku perintah. Aku juga dididik di sekolah Katolik yang isinya adalah aturan dan pilihan yang kumiliki cuma dua: menuruti peraturan atau menerima konsekuensi jika melanggar peraturan. Negaraku memberiku tujuan hidup yaitu menjadi manusia Indonesia sesuai P4 dan sesuai pedoman “Mengolahragakan masyarakat dan memasyarakatkan olahraga”. Masyarakat juga memberiku tujuan hidup bahwa manusia itu sekolah, kuliah, cari kerja, menikah, punya anak, punya rumah, lalu mati masuk surga, apapun caranya.

Aku dilahirkan sebagai manusia yang penuh tanda tanya. Tuhan menganugerahiku dengan tanda tanya agung yang selalu kubawa bersamaku ke mana pun aku pergi. Tanda tanya ini bisa dibaca di novel Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh karya Dewi Lestari (True Dee). Dengan tanda tanya seperti itu tujuan hidup manusia lainnya takkan bisa menempel dengan mudah ke dalam tujuan hidupku. Aku tak pernah berhenti mempertanyakan mengenai makna hidup dan tujuan hidup. Tidak ada satu manusia pun yang bisa menghentikanku untuk bertanya. Hanya jemputan Sang Kematian yang bisa membuatku berhenti bertanya. Mungkin tujuan hidupku adalah menjadi Tanda Tanya.

Kalau ada orang yang bertanya apa tujuan hidupku, kujawab dengan jujur “Aku tak tahu. I don’t know.” Pewawancara kerja saja kutipu dengan kukatakan “I want to be engineer”, “I want to be a researcher”, dll. Aku juga menipu perempuan kalau ditanya mengenai tujuan hidup, dengan jawaban “Aku ingin bersama kamu. Kamulah tujuan hidupku.” yang kadang dibumbui “till death do us part” alias “hingga kematian memisahkan kita”.

Sewaktu memilih jurusan kuliah, aku kebingungan. Aku tak tahu aku ingin jadi apa. Semua test minat dan bakat yang kuikuti memberiku jawaban kalau aku bisa apa aja. Inilah kutukan Bisawarna, aku bisa segalanya, bisa warna merah, kuning, hijau, biru, putih, hitam, dll. Aku adalah seorang multitalent. It is both a gift and a curse. Di satu sisi, aku bisa belajar banyak hal baru tapi di sisi lain, aku jadi pusing dalam memilih tujuan hidup. Talenta mana yang ingin kukembangkan? Orang yang sukses biasanya orang yang memilih satu talenta dan telah menghabiskan 10000 jam hidupnya  mengembangkan talenta tersebut (kata Malcolm Gladwell di bukunya: The Outliers).

Sewaktu mau daftar UMPTN, aku memilih jurusan secara acak. Aku tak tahu mau milih jurusan apa. Karena suatu kebetulan, aku bisa diterima kuliah sastra listrik di universitas gajah tapa di Bandung. Aku juga kaga tahu mau milih apa dalam bidang sastra listrik ini. Sesuai prinsip “I don’t know what I want but I know what I don’t want”, aku menolak elektronika, persamaan Maxwell, rangkaian listrik tiga fasa, dan pemrograman. Aku memilih Kendali karena tak suka Aroes Koeat, Telekomunikasi, Elektronika, dan Komputer. Pilihan tolol. Karena di Kendali aku juga tak bisa menghindari pemrograman sewaktu tugas akhir. Aku adalah makhluk yang matematis tapi tidak logis. Jadinya berat bagiku menerjemahkan persamaan matematika yang bisa kumainkan indah dengan bolpen dan kertas ke dalam algoritma komputer. Buatku bahasa manusia lebih indah daripada bahasa pemrograman. Jawa, Sunda, Inggris, dan Jerman lebih enak kupelajari daripada C/C++, Python, MATLAB, Java, dll.

Karena kebetulan lagi, bukan karena aku punya tujuan hidup, aku pernah menjadi guru di suatu SMA dan juga dosen di suatu universitas. Aku suka mengajar dan punya pengalaman jadi guru les privat. Ketika kebetulan sedang menjemput seseorang untuk pulang bareng (ehem…), aku diajak seorang Ibu Guru untuk melamar kerja di sana. Kebetulan juga aku seorang pengangguran saat itu. Melalui proses wawancara dan test kepribadian, aku bisa jadi guru. Sebagian muridku bisa jadi kawan dugemku di Jerman saat ini. Karena aku merasa sebagai guru di SMA, kemampuanku tidak bisa berkembang maksimal serta kecintaanku pada dunia sastra listrik tak kesampaian, aku mencoba menjadi dosen. Karena kebetulan memiliki kenalan di universitas, aku melamar jadi dosen. Kena wawancara dan test kepribadian lagi, deh.

Aku selalu dilekati tanda tanya akbar dari Tuhan yang Akbar. Jadinya aku bertanya-tanya kenapa aku tak puas menjadi guru di SMA. Padahal aku suka mengajar. Gaji? Keinginan untuk mengembangkan diri? Aku juga tak puas jadi dosen. Aku bertanya dalam hatiku kenapa aku diberi tujuan hidup seorang dosen bernama Tridharma tapi tidak diberi dana, waktu, dan upah cukup untuk menjalankan ketiga Dharma tersebut. Tridharma perguruan tinggi adalah pendidikan/pengajaran, penelitian, dan pengembangan masyarakat. Aku harus mengajar untuk kuliah dan mempersiapkan bahan ajar dengan waktu terbatas. Aku harus meneliti dengan dana seadanya dan bikin paper (yang buatku paper sampah). Aku juga bosan dengan politik tempat kerja dalam setiap rapat dan pertemuan dosen. Lebih baik waktuku kuhabiskan mempersiapkan kuliah dan membaca paper daripada terlibat politik.

Suatu kebetulan menyelamatkanku dari politik terkutuk. Aku dapat beasiswa DAAD yang bisa membuatku merantau ke Bremen, Jerman. Aku melanjutkan kuliah sastra otomasi sesuai bidangku sastra listrik dan sastra kendali. Bukan karena aku memiliki tujuan hidup di bidang otomasi. Aku hanya ingin studi S2 di Jerman dan kebetulan juga aku bisa sedikit berbahasa Jerman.

Ternyata aku kena lagi dengan Rangkaian Tiga Fasa, persamaan Maxwell, dan pemrograman di universitas ini. Tiba-tiba aku dihadapkan dengan kecemasan akut. Salah jurusan?

Rangkaian tiga fasa dan ilmu-ilmu sakti dari Aroes Koeat seperti Power Converter kulewati dengan senyum kemenangan. Aku gagal dalam Mekatronika dan Electrical Drives. Ternyata aku memang tak mengerti tiga fasa dalam motor listrik. Untung ini kuliah pilihan. Setidak-tidaknya aku bisa bikin konverter. Persamaan Maxwell juga bisa kulewati dengan senyum tipis kemenangan. Tipis karena berada di ambang lulus dan tak lulus. Yang penuh darah dan air mata adalah pemrograman. Hal inilah yang bikin aku tak lulus Cum Laude di Indonesia. Ternyata di Jerman, aku kena ini lagi dan menghabiskan waktu dan uang gara-gara ini.

Kata seorang kawan, “Jika hidup terasa berat, ingatlah suatu hari, kita akan mati”. Nampaknya aku tak bisa belajar bahasa pemrograman. Setelah mengobrol sedikit dengan jeruk, aku berpikir kalau aku tak mungkin belajar pemrograman dalam keadaan hidup. Aku harus mengakhiri hidupku.

Pada ulang tahunku ke-29, aku bangun pagi dan menerima email kalau aku dipecat (atau diusulkan untuk dipecat) dari universitas di Indonesia. Kosong. Hampa. Aku pergi keluar rumah. Tanpa teman untuk curhat. Semua sibuk dengan urusan masing-masing. Hidupku berakhir? Aku menelpon wanita yang kucintai. Biasanya dia mau ngobrol dikit dan setidak-tidaknya mengucapkan selamat ulang tahun untukku di hari itu. Dia tidak ada. Ketika dia mengangkat telponku, dia sedang bersama pria lain yang jadi kekasih barunya. Waktu yang tak tepat buat curhat. Dia juga nampaknya lupa ulang tahunku. Cintaku kandas. Tiba-tiba dunia berputar. Napasku sesak. Terima kasih, Tuhan! Aku mati hari itu.

Setelah kematianku, aku bangkit berdiri menatap langit. Seperti kata Ibu Harper kepada Alan Harper dalam film seri Two and The Half Man, manusia perlu merasakan jatuh ke tempat terdalam sehingga dia sadar bahwa satu-satunya jalan adalah ke atas karena dia sudah tak mungkin jatuh ke bawah lagi. Kalau Syekh Siti Jenar mencapai tahap manunggal kawula ing Gusti, aku mencapai tahap manunggal kawula ing Seda. Aku telah bersatu dengan kematian.

Dalam keadaan hidupku dahulu, aku tak sanggup belajar pemrograman. Setelah kematianku, aku bisa belajar bahasa pemrograman baik baru maupun lama dengan cepat. Aku bisa mudah memindahkan persamaan matematika di kertas ke dalam algoritma pemrograman. Aku juga tak pernah khawatir dengan uang setelah kematianku. Aku hamburkan uangku untuk seminar pengembangan diri, cara menulis yang baik, makan-makan dan nonton bersama teman-temanku di Bremen, dll. Aku rela menghabiskan waktuku untuk belajar pemrograman step-by-step tanpa peduli pendapat orang lain yang menuntutku untuk cepat, makan dan nonton bersama kawan, dll. Aku jarang menolak undangan makan-makan di Bremen, baik gratis maupun bayar. Aku hanya menolak kalau bentrok jadwal.

Kusadari bahwa kematian memberikan keseimbangan di alam. Kematianku membuat hidupku seimbang antara memberi dan menerima. Memberi ilmu dan menerima ilmu. Memberi kebahagiaan dan menerimanya. Memberi uang dan menerimanya. Uang tidak dibawa mati. Tidak ada uang, puasa sejenak dan pinjam sebentar. Ada uang, makan enak dan bayar utang. Aku sadar bahwa aku harus menyadari siapa aku. Aku sadar bahwa aku memang tak punya tujuan hidup dan jangan membebani diriku dengan mencari tujuan hidup. Kematianku menyadarkanku bahwa aku harus bersatu dengan jagat alias universe. Biarlah Sang Jagat (Universe) membawaku kemanapun ia mau.

Kuikuti jalan hidup yang kebetulan kupilih, yaitu sastra otomasi. Kuselesaikan studi ini. Lalu kucari kerja secara acak. Yang penting, sesuai bidang. Aku pernah mencoba melamar kerja sebagai programmer C++. Ketika aku ditanya mengenai polimorphisme dan inheritance, aku bengong. Ternyata kemampuan C++ milikku pas-pasan. Mencari kerja mirip dengan mencari jodoh. Kalau sering ditolak, pilihannya dua yaitu makin merasa rendah diri atau jadi makin tahan banting. Karena aku tak punya tujuan hidup, aku berdiri di antara keduanya. Aku tak punya jati diri.

Suatu kebetulan datang lagi, aku diterima kerja di perusahaan yang terletak di jantung Jerman. Disebut jantung, karena lokasinya pas di tengah Jerman, yaitu Thuringen. Jantung Jerman ini merasakan trauma tirani Hitler dan tirai komunisme Jerman Timur. Runtuhnya tembok Berlin membuat Jerman bersatu memiliki jantung ini.

Perusahaan di jantung Jerman ini menempatkanku di perusahaan lain di Bayern. Perusahaan komponen kendaraan bermotor. Aku bekerja di kantor pusatnya. Ini karena litbangnya berada di sana. Kulihat peta kantor-kantornya. Tidak ada kantor di Indonesia. Aku bertanya dalam hatiku, apakah Indonesia masuk dalam tujuan hidupku. Nampaknya tidak. Aku memilih menjadikan Jerman jadi tujuan hidup sementara. Aku bekerja di tempat ini sampai putus kontrakku. Aku menjadi test engineer di perusahaan ini. Pekerjaan utamaku hanya mengetes perangkat lunak yang telah di-flash ke dalam ECU mobil. Pekerjaan lain adalah mengembangkan test bench baik perangkat keras maupun lunak. Kata Syekh Siti Jenar, ini namanya manunggal software ing hardware. Aku juga tak tahu yang kutes itu perangkat keras atau lunak karena keduanya telah bersatu.

Walau sudah jadi engineer, aku tetap tak tahu mau jadi apa aku. Aku tak punya tujuan hidup. Aku menerima diriku apa adanya, lengkap dengan jati diriku, identitasku. Aku punya berbagai topeng jati diri: guru, programmer, engineer, blogger, pecinta, tukang nonton, penikmat musik, facebooker, dll. Identitasku kudapatkan secara kebetulan bukan karena aku memiliki tujuan hidup. Aku tak ingin membebani diriku dengan mencari jati diri dan mencari tujuan hidup.

Nampaknya tujuan hidup yang saat ini kumiliki ada tiga (mirip Tridharma, yah?):

  • menjadi Homo Sapiens dan Homo Economicus yang berusaha sintas atau survive, apapun caranya.
  • menjadi pembelajar yang senang belajar hal-hal baru atau yang menarik, hingga memperoleh kesejatian seperti kisah Bima bertemu Dewa Ruci dalam Mahabharata.
  • menjadi manusia yang berbagi dengan sesama, seperti Adipati Karna dalam Mahabharata 

Mas Nugie menyanyikan lagu di hari kematianku dulu, yaitu Lentera Jiwa.
Cocok buat yang punya masalah dengan tujuan hidup.

***

Tentang musim semi Arab bisa lihat wiki atau guardian.
Atau bisa baca tulisan Mbak Merlyna Lim tentang sosial media dan gerakan oposisi di Mesir tahun 2004 hingga 2011, juga presentasinya, dan catatannya, serta wawancaranya bersama Slate.

Tentang Mbak Lina Ben Mhenni, bisa lihat blognya “A Tunisian Girl” atau baca wiki (en/de/fr) atau berita dari Guardian. Beliau masuk nominasi hadiah Nobel.

Kalau mau tahu lagu Everybody’s Free to Wear Sunscreen dari Baz Luhrmann bisa lihat dua versi. Lagu ini muncul di film Romeo + Juliet ketika Juliet menemui Romeo di gereja secara sembunyi-sembunyi.

Versi 5 menit, katanya asli.

Versi 7 menit, kayanya kaga asli. Tapi ada teks bahasa Spanyolnya. 

***

Akhir kata, aku hanya bilang begini tentang tujuan hidupku,
“I don’t know what I want but I know what I don’t want.”

Nürnberg, 14 April 2012

iscab.saptocondro 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: