Skip navigation

Bulan lalu, Lady Gaga memenuhi ruang media yang berhubungan dengan Indonesia. Mother Monster ini ingin mengadakan konser di Jakarta dalam rangka tur musik untuk mendekatkan dirinya dengan para Little Monster. Ada sekelompok orang dan organisasi yang tak suka dengan Lady Gaga yang melakukan demonstrasi. Kebetulan ada satu organisasi yang terbiasa melakukan kekerasan, sehingga Lady Gaga dan manajemennya membatalkan konser di Jakarta.

Ada yang menarik dari info-info yang muncul dalam media. Satu pihak yang menolak Lady Gaga mengatakan bahwa mbak ini adalah pemuja setan. Mbak Gaga juga dituduh terlibat konspirasi Illuminati dan/atau Freemasonry. Sebagian lain, berkata bahwa Lady Gaga lesbian. Padahal mbak ini biasanya pacaran dengan laki-laki terus. Dia pernah pacaran dengan rocker, yang juga manusia. Bukan setan, lho.

Pihak lain yang tidak terlalu menolak Gaga, meminta supaya Lady Gaga mengatur kostum dan koreografi supaya sesuai dengan budaya setempat, maksudnya Indonesia. Sebagai pekerja seni yang penuh totalitas, Lady Gaga menolak ini. Nah, hal inilah yang membuatku teringat akan ITB.

Di ITB, sebelum abad 21, pernah ada kerjasama antara Keluarga Mahasiswa Katolik (KMK) dan Persekutuan Mahasiswa Kristen (PMK). Kerjasamanya adalah Natalan bersama di GSG (Gedung Serba Guna). Seperti biasa, KMK menyiapkan penyanyinya untuk vokal grup dan seniman teaternya untuk drama musikal. Masalah terjadi ketika ada elemen PMK tidak setuju dengan lagu yang dipakai dalam drama KMK. Hal inilah yang mengingatkanku akan Lady Gaga yang diminta untuk meredam ekspresi seninya.

Salah satu lagu yang ditolak oleh elemen PMK tersebut adalah lagu dari Metallica (web, wiki). Mereka menganggap lagu ini tak pantas masuk dalam perayaan natal bersama. Bagi mahasiswa PMK, acara ini ibadah Natal. Bagi mahasiswa KMK, Natal itu adanya setelah 25 Desember, jadinya acara ini hanyalah perayaan biasa, yang bukan ibadah. Drama ini dianggap sebagai bagian ekspresi seni dalam suatu kegiatan bersama.

Para pemain drama berusaha melobby PMK. Mereka menolak ekspresi seni diredam. Ketika keluar alasan bahwa Metallica mengikat perjanjian dengan setan di Gunung Semeru supaya albumnya laku, para pemain KMK sudah tahu bahwa harapannya pupus untuk melobby PMK. Aku juga melongo ketika elemen PMK yang menolak mengatakan bahwa Dewa 19 pergi ke Gunung Lawu untuk mengikat perjanjian dengan jin. Sutradara dan script writer dari KMK setelah itu menolak tampil di acara Natalan bersama seperti Lady Gaga menolak konser di Indonesia.

Hari-hari berikutnya, aku bété kalau ketemu mahasiswa PMK yang menjual kaset musik rohani. Apalagi kalau cover kasetnya muka Pendeta yang tidak kukenal dengan gaya rambut mirip Yana Julio (wiki). Saat itu, aku kesal dan suka bikin komentar asal: “Ah, mereka nuduh penyanyi lain pemuja setan, supaya penjualan album pendetanya laku”.

Sejak itulah, PMK dan KMK ITB pada awal abad 21 tidak mengadakan acara Natal bersama lagi. Kerjasamanya cukup kegiatan Paskah bersama saja.

Aku selalu tertarik dengan berbagai ekspresi kesenian dari beragam aliran. Aku berusaha berpikir ada apa atau apa maksud di balik suatu ekspresi seni. Mengapa Lady Gaga memilih kostum dan menyusun koreografi seperti itu? Mengapa Tisna Sanjaya menggunakan benda-benda yang nampak seperti sampah plus ditambah aroma jengkol dan terasi dalam karya-karya seninya? Mengapa pemain KMK menggunakan lagu Metallica dalam dramanya? Ada apa dengan Inul dan goyang ngebor? Ada apa dengan Dewi Persik dengan goyang rambo/gergaji?

Aku senang berbagai macam interpretasi manusia ketika dia melihat/mendengar/mencium suatu ekspresi seni. Aku senang berdiskusi bersama orang ketika selesai nonton film atau video di Youtube. Yang jadi masalah buatku adalah ketika suatu interpretasi dipaksakan kepada orang lain dengan segenap otoritas kekuasaannya. Ketika dia berinterpretasi bahwa suatu musik setan, lalu semua orang lain dilarang melakukan re-ekspresi musik tersebut.

Pelabelan suatu ekspresi seni dengan kata “setan”, “porno”, “sampah”, “kampungan”, dll sebetulnya adalah hal biasa. Jadi masalah ketika otoritas kekuasaan masuk, ditambah dengan elemen kekerasan, kemudian membunuh ekspresi kesenian yang berbeda.

Akan tetapi, kata film V for Vendetta (wiki), “Ide tidak mati. Ide tidak dapat dibunuh”. Ekspresi kesenian yang ditindas akan selalu mencari celah untuk keluar menentang penindasnya. Sebagian sejarah manusia ditulis dengan darah. Darah kaum tertindas dalam melawan para penindasnya. Sejarah manusia adalah sejarah melawan penindasan. Ekspresi seni adalah satu cara menulis peradaban tanpa menggunakan darah.

***

Buat orang yang tidak tahu apa itu kaset. Jaman dahulu, ketika Fraunhofer belum selesai riset mengenai mp3, orang menikmati musik dari kaset. Mereka mengompilasi lagu (bahasa halus dari membajak lagu) dari radio, CD, dll untuk direkam ke kaset. Jaman sekarang orang tinggal pakai komputer lalu copy-paste sana-sini, jadilah kompilasi lagu buat mp3 player di kantong. Para DJ jaman dahulu juga masih menggunakan piringan hitam saja, belum memakai sistem digital yang bisa nyambung ke mp3 dalam USB.

Nürnberg, 3 Juni 2012

iscab.saptocondro

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: