Skip navigation

2012, Nürnberg & Herzogenaurach 
Aku masih bingung memikirkan smartphone apa yang perlu kupakai: iPhone, Android, atau Blackberry. Aku suka Android karena aku pemuja Google. Aku suka desain Apple pada iPhone, tapi rata-rata keluarga dan teman-teman pakai Blackberry. Aku juga punya 2 nomor O2 dari Telefonica dan 1 nomor T-com. Mungkin beli ketiga perangkat dan celanaku bakal sobek kebanyakan gadget di kantong. Protokol yang kubutuhkan telpon flatrate, internet flatrate, pesan singkat flatrate, Google Maps, jadwal angkot, dan mp3 player serta kamera minimal 5 megapixel.
Aku juga sudah bergabung dengan banyak online social network, seperti bisa dilihat secara jeli di lapak milikku, dan masih memikirkan apakah aku perlu ikut Pinterest dan Quora.

2011, Nürnberg
Akhirnya aku punya internet sendiri berbasis DSL dari Telecom Jerman. Lengkap dengan WLAN Router. Aku bingung dengan 3 nomor telpon flatrate yang kumiliki. Aku hanya butuh satu dan jarang kupakai. Internet flatrate ini menarik, sayangnya saat ini tempat-tempat untuk mengunduh jahanam sering dijaga polisi Jerman. Jadinya internet rumah kencang tapi kaga pernah torrent dengan protokol P2P serasa tak berguna.

2011, Bremen
XDA Neo O2 milikku suka mati mendadak. Aku tidak bisa menggunakannya untuk telephone interview di masa-masa gawat dalam mencari kerja. Nokia 5110 milikku cuma tergeletak di rumah jadi weker. Aku hanya punya Nokia 6600 tanpa charger. 

2008, Bremen
OK, deh, aku gabung Facebook. Itu terjadi karena inilah jalur telekomunikasi para Erasmus Student. Undangan party dan jalan-jalan bisa kudapat di sini. Saat aku gabung, Facebook sangat lambat kalau buka profil orang yang kecanduan aplikasi. Kaga nyangka beberapa tahun kemudian, aku betul-betul mencintai Facebook. 

2008, Bremen.
Di musim panas, kantong celanaku bolong. Nokia 5110 jatuh dari kantong ke paha dan sesampainya di betis, aku sangka ada anjing yang menggigit kakiku. Aku refleks melakukan tendangan ala Tiger Wong “Hempasan Ekor Naga”. Aku pun melihat perangkat ini melayang di udara. Dia terhempas lebih dari 10 meter. Saat itulah aku sadar bahwa aku harus beli celana baru dan punya telpon genggam baru.

2007, Bremen
Aku ikut ujian Communication Network di Uni Bremen. Aku harus menjelaskan TCP/IP, DSL, WLAN, ATM, finite state machine, TDMA, FDMA, bla bla bla, dalam ujian lisan (oral exam alias mündliche Prüfung). Tidak dapat Excellent, tapi dapat Good.
Saat ini, 4G (LTE Advanced) dan 3.9G (LTE dan WiMax) masih jadi bahan riset. 

2006, Bremen 
Pertama kali kukenal XDA. Kata orang ini gabungan PDA dan telpon genggam. Protokol yang kumiliki telpon berbasis GSM, internet berbasis Wifi alias IEEE 802.11, pesan singkat berbasis SMS. Kameranya kurang asyik. Aku memilih kontrak O2 tidak flatrate. Akibatnya aku harus membayar harga yang sama untuk telpon 1 menit dan satu kali SMS. Aku jadi jarang SMS dan nelpon supaya tagihan bisa limit mendekati nol. 

2005, Semarang
Aku mendapatkan Nokia Telor Sejuta Umat alias Nokia 6600 dari sisa tanteku. Kata temanku, ini Nokia Bokép 3GP. Berbagai julukan diberikan kepada perangkat ini. Nokia saat itu adalah perangkat yang dicintai penggemar SMS. Tombolnya empuk. Hingga 2012 ini, aku masih pakai “telor” ini. Karena hanya dia yang reliable. Protokol yang kumiliki di alat ini adalah telpon, pesan singkat berbasis SMS, dan kamera yang tak berguna selain untuk hal-hal narsis dan voyeur.

2004, California
Facebook baru lahir. 

2004, Bandung
OK, deh, gua ikutan Friendster. Itu terjadi setelah teman dekatku mengajakku gabung. Itulah awal aku menggunakan online social network. Menambah dan mengurangi teman hanya bermodal klik jari pada perangkat elektronik.

2003, Bandung
Aku lulus kuliah di Bandung. Saat itu ubiquitous computing berbasis touchscreen adalah riset hangat di universitas dan lembaga penelitian di dunia. Hal inilah yang menjadi dasar smartphone dengan layar yang tinggal digesek dan disentuh di jaman sekarang. Kini hal seperti itu sudah kuno.

2001, Bandung
Aku ikut kuliah Jaringan Telekomunikasi oleh Pak Sigit Haryadi dan membeli buku kecil TCP/IP karangan Onno W. Purbo, et al. Aku juga ikut kuliah lain yang kulupa namanya yang berhubungan dengan komunikasi antar komputer. Nama dosen kulupa, tapi nama asisten dosen Tabratas Tharom takkan kulupa. Oh, ya, saat ini 3G dan 3.5G masih jadi bahan riset, belum masuk pasar.

2000, Bandung
Aku mendapatkan Nokia Sejuta Umat alias Nokia 5110 yang kuanggap sebagai istri pertamaku. Saat inilah, aku mulai menggunakan perangkat komunikasi nirkabel. Kini perangkat inilah yang kujadikan weker di Nürnberg. Dulu alat ini memiliki protokol telpon GSM dan pesan SMS. Kini hanya protokol weker aja yang kugunakan karena telpon ini rusak kutendang 10 meter di Bremen.

1998, California
Google baru lahir. 

1998, Bandung
Pesan yang ingin dikirim “Kita ketemu di lapangan tenis”.
Pesan yang diterima di pager si doi, “Kita ketemu di lapangan p*n*s”.
Mbak-mbak di call center lagi mikirin apaan, yah, kok huruf T bisa jadi P?
Saat itu, alat komunikasi yang lagi beken adalah pager. Aku harus mengontak call center untuk memberi pesan text kepada orang yang ingin dikirim. Biasanya aku mengontak bokap untuk pulang bareng dalam rangka menghemat biaya angkot pakai pager. Aku belum punya telpon genggam saat itu. Juga beberapa aktivis mahasiswa yang dulu berteriak “Turunkan Soeharto” menggunakan pager.

1998, Bandung
Pertama kali aku punya internet di rumah. Protokol favoritku adalah SMTP dan HTTP. Untuk mengirim email tentu saja aku pakai SMTP. Aku juga suka dengan milis. Internet dengan modem 56K yang harus memakai jalur telpon PSTN, itu super lambat. Surfing di Indonesia itu betul-betul perjuangan. Selain itu, biaya internet dihitung per menit. Inilah hal yang bikin malas menggunakan protokol IRC, alias chatting. Aku pernah mencoba chatting. Selain kaga mengerti bahasa chatting yang disingkat, aku juga tidak tahan dengan tagihan internet ditambah tagihan telpon bulan berikutnya.

1995, Bandung
Telpon umum kartu di SMA St. Angela adalah alat yang kupakai untuk menelpon dia. Kartunya tipis dan bisa mudah masuk kantung. Aku tak percaya kenapa telpon ini masih bisa dipakai di tahun itu. Biasanya sudah diganti dengan telpon kartu chip. Oh, ya, aku kursus Bahasa Inggris di St. Angela dan dia eh mereka yang ingin kutelpon bersekolah di SMA St. Maria dan SMA 5 (atau 3, yah?).

1992, Bandung
Ada alat apaan, nih, di rumah?
Oh, ternyata telpon. Saat itulah pertama kali keluargaku memiliki sambungan telpon. Aku tak percaya mulai saat itu aku bisa mengobrol dua arah secara berbarengan dengan orang lain nun jauh di sana.

1991, Bandung
“Break break”, “Kopi”, “Ganti”, “Kopi darat, yuk?”, “Pindah frekuensi, yuk?”
Istilah ini kukenal karena aku tak punya telpon. Baru setahun kemudian aku punya telpon. Saat inilah, kami berkomunikasi dengan gelombang radio. Komunikasi hanya bisa dilakukan secara searah pada waktu dan frekuensi yang sama. Jadi komunikasi dua arah harus dilakukan secara bergantian pada frekuensi yang sama. Kalau tidak, suara kresek-kresek yang keluar. Jadi kalau ingin berbicara harus cari frekuensi kosong, lalu mengobrol. Tanpa perangkat radio amatir ini, lagu “Bercinta di Udara” karangan Farid Harja kaga bakal didaur-ulang oleh Kasino dari Warkop DKI.

1988, Bandung
Nyokap pergi ke Telkom untuk mengirim telegram kepada bokap di Swiss. Juga terkadang, ada kiriman telegram bokap sampai kotak surat di rumah. Jaman ini, ketika cinta terpisah lautan dengan jarak seperempat keliling dunia, surat dan telegram adalah media komunikasi yang cukup aman di kantong. Telegram berbasis sinyal dengan kode morse. Sinyalnya fleksibel bisa lewat kabel maupun lewat udara dengan radio.

Tahun yang tak kuingat, Semarang
Ada telpon di rumah Eyang, dengan nomor yang diputar secara mekanik. Mereka berbicara dengan alat yang aneh itu. Saat itu aku bertanya-tanya kenapa rumahku di Bandung tak memiliki sambungan telpon.

1982, Amerika Serikat
Kelahiran internet.
(Maksudnya adalah kelahiran standar protokol TCP/IP yang menjadi cara supaya antar perangkat bisa terhubung dalam suatu jaringan. Protokol ini boleh dikatakan sebagai internet)

1980, Bandung
Hari kelahiranku. Aku lebih tua daripada internet, yah?

***

Untuk mengenang kisah cintaku dengan segenap perangkat dan protokol telekomunikasi, kupersembahkan link video “Bercinta di Udara” karangan Farid Harja, dinyanyikan oleh Kasino dari Warkop DKI dan kawan-kawan.

Nürnberg, 23 Juni 2012

iscab.saptocondro

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: