Skip navigation

Air memiliki makna spiritual dalam berbagai macam kebudayaan. Dalam tradisi Indonesia (Jawa, Sunda, Bali, dll), beberapa mata air dikeramatkan. Dalam tradisi Kristen, air adalah dipakai dalam pembabtisan dan pembaharuan janji babtis. Dibabtis berarti menjadi manusia baru dan meninggalkan dosa lama. Air di sini lambang pembersihan dari dosa. Dalam tradisi Islam, air dipakai untuk wudhu. Sebelum berdoa, orang harus membersihkan dirinya terlebih dahulu.

Dalam tradisi Jawa, sebelum menikah ada mandi kembang pada saat “Midodareni”. Juga ada mandi kembang tengah malam. Ada yang bilang jika mandi kembang tujuh rupa pada tengah malam, akan cepat dapat jodoh atau kasih tak sampai bisa berubah haluan menjadi sampai. Ada juga yang bilang mandi kembang tengah malam akan memikat pria.

Dalam lagu Caca Handika “Mandi Kembang Tengah Malam”, seorang wanita ingin balik kepada pria yang ditinggalkannya dan disakiti hatinya dulu. Dengan mandi kembang, wanita tadi berharap pria itu kembali padanya. Sang Pria berkata kalau untuk meminta maaf tak perlu mandi kembang dan Sang Pria langsung memaafkannya. Betul-betul pria berhati besar. Nasib Caca Handika lebih baik daripada diriku. Wanita yang kukasihi tidak mau balik padaku jadinya aku lebih baik mencari yang lain. Move on, gitu loh!

Penjelasan non mistik dari mandi kembang adalah begini. Kembang alias bunga memiliki serangkaian senyawa ester dan eter yang memiliki aroma khas. Aroma ini menarik banyak hewan, dari insekta hingga mamalia. Salah satu spesies mamalia, yaitu Homo Sapiens, tertarik dengan aroma mawar, melati, anggrek, dll tergantung selera masing-masing individu. Di wikipedia, ada penjelasan mengenai ester (id,en,de) dan eter (id, Ether en, Ästher de).

Pada teknologi pembuatan parfum modern. Kembang dimasukkan ke dalam air atau larutan alkohol yang diaduk. Setelah beberapa lama, air yang berisi larutan sari kembang diambil. Dengan proses destilasi, ester dan eter bisa diambil secara terpisah. Kadang ester dihidrogenisasi untuk memisahkan asam lemak dan eter. Jadilah bibit parfum.

Cara lain adalah dengan mesin espresso. Uap air panas bertekanan tinggi dialirkan ke kembang. Setelah uap mengembun, didapatkan sari kembang. Sari kembang ini diolah seperti di atas untuk mendapatkan bibit parfum. Kemudian bibit parfum dicampur dengan bibit parfum lainnya untuk memperoleh aroma parfum yang berbeda-beda.

Pada tradisi parfum jaman raja-raja Jawa dulu, kembang baru sampai tahap dimasukkan dalam air untuk memperoleh wanginya. Kemudian air ini langsung dibasuhkan kepada tubuh. Setelah mandi kembang, diharapkan aroma kembang ini bisa menarik pria.

Kembali ke judul. Akhir-akhir ini aku sering mandi kembang tengah malam. Hal ini bukan kulakukan untuk membuatku tahir dari segenap cacat asmara yang kumiliki. Aku tak percaya fakir jodoh bisa dientaskan dengan mandi kembang tengah malam. Acara ini kulakukan karena aku baru sempat dan kuat mandi pada tengah malam. Aku pulang kerja malam, lalu beristirahat (mengolah makanan, makan, istirahat, santai). Setelah badan kaga keringatan dan makanan tercerna, barulah aku mandi. Inilah alasan mandi tengah malam.

Pada mandi tengah malam ini, kembang yang kugunakan adalah Lavender. OK, lebih tepatnya sih sabun dengan tulisan sari bunga Lavender dari pegunungan Alpen. Ester yang terdapat dalam bunga lavender adalah Linalil asetat. Aromanya asyik.

Dengan diiringi musik jazz, dari smartphone Samsung Galaxy S III yang baru kubeli kredit bulan Agustus lalu, aku mandi kembang tengah malam. Betul-betul relax. Tubuhku dipijat secara lembut dengan semburan air dari shower. Tanganku membasuh segenap permukaan tubuhku. Kadang kupijat bahu dan leherku dengan tangan yang penuh sabun aroma Lavender. Setiap bulir-bulir air yang menetes membuat jiwaku berkata “Selamat tinggal segala penat!”.

Aku pun bersyukur pada Tuhan dan teringat Matius 6:34 “Janganlah kamu kuatir akan hari besok karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” Keringat, daki, dan air mata mengalir bersama basuhan air shower dan alunan musik jazz. Semoga seluruh dosaku dan pikiran negatif terhanyut dalam aliran ini.

Andai Caca Handika bisa bermain musik jazz, mungkin aku akan mendengar “Mandi Kembang Tengah Malam” dalam jazz. Walaupun dangdut is the music of my country, seperti kata Project Pop, aku suka musik jazz. Seperti kata seniorku di ITB, daripada musik metal, lebih baik musik jazz. Seperti kata lagu rohani, dalam Jazz kita bersaudara. Kuingat selalu akan Jazz yang pernah berkata “Aku adalah jalan, kebenaran, dan hidup” (Yohanes 14:6).

***

Inilah lagu “Mandi Kembang Tengah Malam” yang dinyanyikan Caca Handika bukan dalam jazz.

***

Ini petuah seniorku di ITB dulu tentang musik jazz.

***

Nürnberg, 9 September 2012

iscab.saptocondro

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: