Skip navigation

Monthly Archives: December 2012

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2012 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

600 people reached the top of Mt. Everest in 2012. This blog got about 5,900 views in 2012. If every person who reached the top of Mt. Everest viewed this blog, it would have taken 10 years to get that many views.

Click here to see the complete report.

Advertisements

Sekarang hari kedua Natal, yaitu 26 Desember 2012. Ini Natal ketujuh di Jerman. Kali ini kunikmati malam Natal bersama keluarga Rayendra di Bremen, dilengkapi oleh Ibu Polwan dan Hesti. Lalu kujalani hari pertama dan kedua Natal dalam kesendirian dan perenungan. Aku beryukur atas kembalinya aku ke Bremen dan atas pekerjaan baruku. Frohe Weihnachten, euy!

Tahun lalu, kurayakan Natal di Nürnberg bersama kawan-kawan baru. Hari itu kupakai beryukur atas pekerjaan pertama di Jerman sebagai tukang insinyur. Waktu itu, kusangka aku akan tinggal lama di Bayern dan bekerja di sana. Tapi ternyata takdir mengirim surat kepada kosmos sehingga secara kosmologi aku tak cocok tinggal di sana dan kini kembali ke Bremen. Entah sampai berapa lama, tapi kujalani hidup ini secara Carpe Diem aja deh. Merry Christmas, euy!

Dua tahun lalu, kurayakan Natal di Bremen, dan aku tak punya ingatan apa yang terjadi hari itu. Tidak kutorehkan sesuatu tentang Natal di blogku. Yang kurasakan saat itu, hanyalah gabungan eforia lulus kuliah Master dan kegalauan seorang pemuda pengangguran yang hidup dalam ketidakpastian mengenai masa depannya. Namun mimpi Eropaku saat itu tidak pernah padam. Selamat Natal, euy!

Tiga tahun lalu, kuterima banyak ucapan Selamat Natal dari orang-orang yang tidak kukenal (dekat). Tahun ini kupuas karena yang memberi pesan Natal kepadaku hanya mereka yang dekat di hatiku saja. Memiliki 2000 kenalan Facebook dan lebih dari 200 kawan di address book telponku tidak memungkinkan aku memberikan pesan Natal yang personal. Kalaupun personal, sebagian dari mereka bakal mem-forward pesanku sehingga tidak menjadi personal. Kugabungkan saja pesan Natalku di blog tiga tahun lalu. Aku bersyukur memiliki kenalan di dunia nyata dan maya, jauh maupun dekat, baik jarak di hati maupun jarak geografis. Sugeng Natal, euy!

Tiga tahun lalu, kurayakan Natal sebagai manusia yang patah hati. Tahun tersebut aku kehilangan pekerjaan dan cinta seorang perempuan. Di satu sisi, aku sudah bukan burung dalam sangkar lagi. Di sisi lain, aku adalah Rajawali Sakti yang bisa merentangkan sayapnya lebar dan terbang tinggi serta jauh menjelahi angkasa. Namun burung yang terbang tinggi adalah burung yang menjejakkan kakinya terlebih dahulu pada sesuatu yang kokoh. Aku belum punya pijakan yang kokoh saat itu. Aku harus membangun rasa percaya diriku yang hancur sebelum terbang tinggi menggapai mimpi. Wilujeung Natal, euy!

Aku teringat cintanya yang selalu memberiku hidup. Tapi cinta seperti ini tidak sehat. Hidup harus bisa bangkit dari diriku sendiri dan memancar bagi manusia di sekitarku. Aku pun belajar supaya menjadi mandiri dalam menjadi manusia berbahagia. Kalau tidak bisa membangkitkan kebahagiaan dari dalam diri sendiri, aku takkan mungkin bisa membagi kebahagiaanku kepada sesama dan hanya akan menjadi benalu cinta bagi orang lain. Kini aku memiliki kendali atas emosi yang kumiliki. Namun aku yakin perjalanan cintaku belum berakhir. Feliz Navidad, euy!

Empat tahun lalu, kurayakan Natal ketiga di Bremen. Ingatan yang kumiliki hanyalah saat itu, aku memulai blogging menggunakan WordPress. Perasaan yang kuingat saat itu adalah aku dihinggapi kecemasan seorang mahasiswa yang tidak lulus-lulus. Selain itu, aku juga tak tahu apa tujuan hidupku saat itu. Aku dihadapkan pada suatu dilema apakah aku sebaiknya mennyelesaikan kuliahku dengan cara DO alias batal atau dengan cara lulus hingga akhir. Masing-masing memiliki konsekuensinya. Kini aku bersyukur atas pilihanku sehingga memiliki jalan hidup seperti hari ini. Joyeux Noel, euy!

Lima tahun lalu, kurayakan Natal kedua di Bremen. Saat itu kurayakan pesta lintas agama dan lintas budaya. Sepulangnya kutuliskan pesan Natalku tentang Indonesia. Aku bersyukur bisa punya pengalaman lugu dan naif di Jerman saat itu. Wesolych Swiat, euy!

***

Buatku Natal tahun ini adalah perjalanan. Perjalanan Yosef dan Maria yang hamil tua menuju Yerusalem. Saat itu, mereka harus pergi ke sana untuk mengikuti sensus penduduk yang diselenggarakan Pemerintah Romawi. Mereka pun secara taat hukum kembali ke daerah asalnya. Walau hamil tua, perjalanan jauh harus diarungi oleh Bunda Maria.

Buatku Natal tahun ini adalah perjalanan. Perjalanan kaki petani Jambi sejauh 1000 km ke Jakarta menuntut hak-haknya yang dirampas perkebunan sawit. Perjalanan yang jauh dan penuh pengorbanan. Ada yang tertabrak motor maupun truk.

Buatku Natal tahun ini adalah perjalanan. Perjalanan umat gereja HKBP Filadelfia di Bekasi menuju Gerejanya untuk merayakan Natal. Perjalanan yang penuh darah dan air mata. 

Buatku Natal tahun ini adalah perjalanan. Perjalanan seorang anak manusia mencari jati diri, merantau ke Jerman menggapai mimpi. Segenap kesukaran harus dilalui karena perjalanan spiritual adalah suatu yang harus dihadapi oleh setiap manusia yang ingin dewasa dalam iman. 

Dalam suatu perjalanan, selalu ada pemberhentian.
Maria dan Yosef harus berhenti sejenak untuk mempersiapkan kelahiran bayi Yesus. Seorang yang kelak akan mengguncang dunia, baik dalam iman maupun dalam sejarah.
Petani Jambi harus berhenti sejenak dan menggalang massa di tempat pemberhentiannya. Mereka harus mempersiapkan kelahiran suatu semangat perubahan. Perubahan yang mengguncang dunia.
Aku harus berhenti sejenak untuk mempersiapkan kelahiran semangatku. Semangat yang bergelora menghadapi tahun 2013 dengan pekerjaan baru beserta segenap tantangannya. Semangat untuk menyambut setiap kesempatan yang ada.

Kisah Natal adalah suatu penolakan terhadap keangkuhan suatu kekuasaan. Maria dan Yosef harus menghadapi keangkuhan orang-orang yang menolak mereka untuk menginap sementara ketika Maria ingin melahirkan. Keangkuhan Herodes, raja Israel saat itu juga yang mengancam nyawa bayi Yesus. Namun kerendahan hati dari tiga Majus dari Timur dan gembala-gembala sekitar Betlehem yang diterima oleh Maria dan Yosef.

Kisah Natal adalah suatu penolakan terhadap keangkuhan suatu kekuasaan. Petani Jambi dan perwakilan suku anak dalam yang tanahnya dirampas harus berhadapan dengan kekuasaan. Sebagian dari mereka tidak ditanggapi oleh Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan dengan angkuhnya. Sang Menteri lebih memilih menari Gangnam Style daripada mendengarkan keluhan rakyat petani. 

Kisah Natal adalah suatu penolakan terhadap keangkuhan suatu kekuasaan. Polisi dan militer menghalangi umat gereja HKBP Filadelfia yang ingin beribadah di Gerejanya. Mereka membiarkan FPI melempari umat HKBP dengan air kotor dan sampah. Negara kehilangan fungsinya dalam melindungi warga negaranya. Negara hanya menjadi simbol keangkuhan suatu pihak yang menindas pihak lainnya.

Kisah Natal adalah suatu penolakan terhadap keangkuhan suatu kekuasaan. Di hari Natal ini, segenap keangkuhan yang kumiliki menjadi hilang maknanya. Segenap identitas yang membanggakan seperti titel sarjana dari perguruan tinggi itu maupun titel master lulusan negara anu tidak memiliki makna. Senyum manis dan otak cemerlang yang kumiliki bisa membuatku mempengaruhi orang lain. Namun kekuasaan ini tak ada maknanya di hari Natal ini. Aku ingin merenung dalam kesunyian jiwaku di Natal ini dan lepas dari hingar-bingar kekuasaan.

***

Selamat Natal & Tahun Baru! 

Bremen, 26 Desember 2012

iscab.saptocondro  

Aku lahir Selasa Pahing.
And the angels were singing.

Aku lulus dari ITB Sabtu Pahing.
Yeah, that was Electrical Engineering.

Aku lulus Uni Bremen Senin Pahing.
Did I just study Automation Engineering? 

Bremen, 21 Desember 2012 (Jumat Wage, bukan Pahing)

iscab.saptocondro

Setelah menguji kemampuan smartphone dalam menulis, kuketahui bahwa hasilnya tidak sesuai harapan. Kini aku mencoba menggunakan posterous lagi, yang kadang berhasil dan kadang tidak.

***

***

***

Semoga pada ujian ini, tidak ada kegagalan yang berarti.

 

Nürnberg, 14 Desember 2012

iscab.saptocondro

CURHATAN BUPATI GARUT

 

Pernikahan yang hanya 4 hari aku rajut,
kini mulai disangkut paut,
sebagai skandal yg menurutku gak perlu diribut,
ini pasti ada yang menghasut,
dalam arena politik wajar kl saling sikut dan saling hasut,
agar aku lengser dari Bupati Garut,
tapi aku gakkan beringsut,
walau terjadi kemelut.

 

Awalnya aku kepincut,
oleh Fani Oktora yang lemah lembut,
orgnya ramah gak pernah cemberut,
dan suka makan tutut.
Dia terlihat seperti gadis penurut,
kalo diajak bicara dia slalu manggut manggut,
tapi sayang dirinya robek dibagian selaput,
mungkin sblm aku sdh ada yg merenggut,
begitupun sakit polionya yg mulai akut,
sampai masalah bau mulut,
sungguh tak patut,
jadi wajar kl dia aku luput,
ikrar janji suci pernikahanpun aku cabut.

 

Tuhan… aku skrg sudah mulai takut,
karena kasusku terus di usut,
skrg aku mulai tersudut,
tidak hanya pihak Fani yang menuntut,
tapi masyarakat luaspun ikut tersulut,
berat badanku yg dulu agak gendut,
skrg sdh mulai beringsut surut,
memikirkan nasib karir politikku yg mulai semrawut,
pikiranku semakin kusut,
pekerjaanku semakin carut marut,
bisa saja aku menjadi bangkrut,
skrg aku bisanya cuma kentut dan kentut,
jantungku sdh mulai lamban berdenyut,
semoga saja aku gak sampai semaput,
apalagi dijemput malaikat maut,
namun aku harus tetap chemungut,

 

Tuhan… maafkan aku krn ajaranmu tak ku anut,
hingga aku tak bisa menjaga ini perkutut,
sehingga ia bebas terbang kemana ia ingin bergelayut dan memagut.
Benar firman Tuhan, akan terjadi petaka kl kita tidak bisa menjaga benda yg dibawah perut,
diatas lutut,
benda yg mirip liliput,
yaitu iwak belut.

 

Garut, 6 Desember 2012

Ini ceritakut, apa ceritamut?

 

 

*kopas dari Vivi, karena tulisannya kuanggap lucu imut-imut*

Kota Bremen, dengan anginnya yang dingin menyegarkan, memiliki banyak cerita yang selalu mengalir dalam kehangatan orang-orang Indonesia yang makan tidak makan asal berkumpul. Sebagian dari mereka menjadi legenda, bukan karena studinya, melainkan karena mereka memiliki sesuatu yang dibagikan kepada segenap manusia.

Terkadang mereka tidak menjadi kepala suatu organisasi. Namun mereka memilih menjadi jantung alias “the heart of organisation”. Mereka mengisi segenap suka duka manusia-manusia Indonesia di Bremen. Itulah yang membuat mereka menjadi legenda di Bremen.

Kali ini, aku akan bercerita mengenai dua orang yang pernah menamatkan studinya di Bremen, yaitu Abe Susanto dan berikutnya Okta Nofri. Yang pertama adalah legenda Bremen yang belum pernah kutemui. Yang terakhir adalah seorang kawan seangkatan penerima beasiswa DAAD. Kesamaan keduanya adalah menulis buku tentang studi ke Jerman.

Abe Susanto (li,fb,tw) menerima beasiswa DAAD untuk mengikuti program doktoral di Universität Bremen. Bidang penelitiannya adalah rumput laut (http://rumputlaut.org). Dia mengajar di Universitas Diponegoro Semarang. Di Bremen, dia dikenal oleh banyak orang Indonesia dari berbagai kegiatan dan perkumpulan. Ada yang bilang kalau dia “Pak RT-nya Bremen”. Aku tak pernah bertemu

Bersama dengan I Made Wiryana dan Adang Suhendra, Abe Susanto mengarang buku Orang lugu sekolah di Jerman. Buku ini membantuku dalam memperjuangkan beasiswa hingga bisa kuliah di Bremen. Buku tersebut bisa dibeli di toko buku, seperti dulu kubeli di Gramedia. Kalau senang dengan yang gratis, buku tersebut bisa diperoleh di kambing UI dalam bentuk pdf: Sekolah di Jerman. Resensinya bisa dilihat di Google Books.

Okta Nofri (li) mengikuti program doktoral di Jacobs University of Bremen. Bidang penelitiannya adalah ekonomi. Berbarengan denganku, dia menerima beasiswa DAAD, sehingga kami kadang pergi bersama mengikuti seminar gratis yang diadakan oleh DAAD. Di Bremen, dia senang berkumpul di Pengajian Bremen dan pada rapat-rapat penting PPI Bremen.

Ada selentingan kabar di tahun 2008, kalau Okta Nofri mengarang buku: Panduan Studi di Jerman for SmartStreet Student. Aku belum membaca buku tersebut jadi tidak bisa berkomentar banyak di posting blog kali ini. Silahkan cari bukunya di tautan yang diberikan oleh SmartStreet.

Selain kedua orang tersebut, ada satu orang Indonesia di Bremen yang senang mengarang buku di Indonesia. Namanya adalah Mas Nganu. Buku-buku karangannya tentang IT dan arsitektur. Dia sempat menceritakan keinginannya tentang menulis buku mengenai kuliah di Jerman. Tapi aku belum menemukan buku tersebut. Kudoakan semoga pengalamannya menjadi mahasiswa Erasmus bisa tertuang di buku.

Sebetulnya ada lagi orang Indonesia di Bremen yang lagi membuat novel. Tapi sepertinya perjalanannya (atau mereka) masih panjang. Pesanku hanya satu, kalau mau bikin buku, segeralah menyelesaikan, jangan ditunda-tunda.

Nürnberg, 5 Desember 2012

iscab.saptocondro

P.S. Jadi pengen bikin buku juga.