Skip navigation

Monthly Archives: January 2013

Pada semester III, di suatu perguruan tinggi di Bandung, aku merasakan suatu kuliah bernama Dasar Teknik Elektro. Disingkat sebagai DTE karena mahasiswa yang pertama kali mengambil kuliah ini biasanya mendapat nilai D, T, atau E.

Apa itu nilai T?
Nilai T artinya “Tanpa Nilai”. Kalau dapat nilai T, seorang mahasiswa harus pergi ke dosen yang bersangkutan untuk mengurus nilai. Jika tidak, maka setelah masa waktu mengurus nilai habis (1 semester), nilai T akan berubah jadi E.

Kembali ke cerita, di kuliah Dasar Teknik Elektro yang 4 sks ini, aku merasakan kuliah Dasar Rangkaian Listrik, Dasar Elektronika, Dasar Teknik Digital, dan apapun yang mendasar dari calon sarjana teknik elektro digabung, dipadatkan, dan dijejalkan dalam satu kuliah. Walaupun begitu, satu mata kuliah ini diajar oleh 4 dosen. Wow!

Salah satu dosen, bernama Dimitri Mahayana. Beliau mengajarkan dioda, transistor, dll di mata kuliah ini. Sebenarnya aku lupa, dia mengajar apa aja. Sekilas yang kuingat adalah dia berkata bahwa dioda dan transistor bisa menjadi rangkaian digital. Beliau berkata ini HIGH, maka situ LOW, jadi ini rangkaian NAND, atau NOR, atau apapun lah namanya.

Cara mengajarnya cocok denganku. Dia menjelaskan dari inti suatu konsep lalu berkembang ke suatu hal yang lebih kompleks. Selain itu, dia senang menghubungkan isi mata kuliahnya dengan dunia politik, filsafat, dan musik klasik. Itulah kelebihannya, Kekurangannya adalah kemampuan mengajarnya yang hebat ini hanya tampil jika dia datang ke kelas. Pada masa-masa tertentu, dosen ini bisa tak hadir karena ada tenggat suatu proyek. Mungkin inilah sebabnya, dia hanya mengajar inti dari suatu kuliah, dan contoh-contohnya bisa diserahkan kepada asistennya.

Kuliah DTE, yang katanya terkutuk, ternyata biasa aja. Berkat dosen yang tepat, aku bisa menguasai ilmu yang cukup untuk dapat B dalam sekali mengambil kuliah ini.

***

Aku juga kembali diajar oleh Pak Dimitri Mahayana pada kuliah Sinyal dan Sistem. Kuliah ini berisi hal-hal mengenai sistem, sinyal, dan belitan (konvolusi), yang menjadi jalan hidupku sekarang. Kemudian, aku diajar lagi di mata kuliah “lanjutannya” yaitu Pengolahan Sinyal Digital (Digital Signal Processing). Di kuliah DSP ini, pernah ada mahasiswa meminta diktat kuliah atau catatan dosen untuk difotokopi. Beliau memberikan 4 lembar kertas. Inti kuliah cuma 4 lembar kertas tersebut yang berisi rumus dan diagram. Papan tulislah yang dipakai untuk menjelaskan 4 lembar ilmu kung fu tersebut. Aku suka dosen yang mempersiapkan kuliah seperti ini.

Beliau juga tidak suka menggunakan buku ajar yang rumit-rumit. Walaupun kata dosen lain, buku-buku tersebut digunakan di universitas elit di Amerika Serikat, Jepang, dan Eropa. Pak Dimitri Mahayana lebih suka buku karangan orang India yang mudah dibaca dan singkat. Nampaknya Beliau tahu, mahasiswa-mahasiswi Indonesia malas membaca. Kalaupun suka membaca, biasanya baca novel atau kitab suci agama masing-masing.

***

Saat aku masuk perguruan tinggi di bandung itu, Indonesia lagi penuh eforia politik. Aku mulai kuliah tahun 1998. Dosen dan mahasiswa dalam kampus perguruan tinggi negeri masuk dalam kegiatan politik yang berbeda-beda. Pak Dimitri Mahayana waktu itu kagum dengan PAN, yang berisi Amien Rais dan Faisal Basri. Jadi Beliau banyak bercerita seputar partai dan orang-orang itu. Kadang ketika menjelaskan sistem linear, Beliau menjelaskan nonlinearitas dengan tindakan politik Gus Dur (Presiden saat itu).

Pandangan ekonomi (politik) Dimitri Mahayana cenderung optimis terhadap liberalisasi. Dia ingin menyiapkan mahasiswa-mahasiswinya untuk menghadapi pasar bebas Asia Tenggara (ACTA) yang dimulai tahun 2003. Dia juga membuat buku tentang ini. Aku lupa judulnya. Dia berpikir bahwa pasar bebas tersebut adalah kesempatan Indonesia untuk maju dan bisa bersaing adil dengan negara lain. Untuk hal ini, aku cenderung skeptis dengan “persaingan yang adil”.

Dalam praktek ekonomi, Beliau punya usaha “engineering service” di bidang IT dan bisnis telekomunikasi, yaitu Sharing Vision. Usaha ini dibuka bersama dosen yang lain, juga beberapa alumni kampusku.

Beliau suka filsafat, maka dia membuat blog bernama Filsafat Islam. Dalam kuliah kadang-kadang muncul pertanyaan kritis yang mengarah pada filsafat. Aku tidak mengerti filsafat yang berhubungan dengan agama, jadi tidak bisa bicara banyak. Kalau berhubungan dengan sinyal, sistem, dan dunia sosial politik, aku masih bisa mengerti.

Suatu hari dalam kuliah mengenai sinyal dan sistem, Beliau menghubungkan suatu sistem dengan musik Mozart versus Beethoven. Ini menggambarkan kecintaan dosen lulusan Waseda University Tokyo ini terhadap musik klasik. Berhubung aku cacat irama, aku tidak mengerti musik.

Ini penampilannya saat bermain Mozart.

Oh, ya, videonya diunggah oleh putranya. Pak Dimitri Mahayana memiliki putra dan putri yang bisa bermain musik klasik menggunakan piano.

 

 

Nürnberg, 20 Januari 2013

iscab.saptocondro

P.S: Engineering service adalah bahasa halus dari outsourcing.

Bagaimana cara orang mencari (blog) diriku di internet?
Beginilah caranya.

Jan06

Informasi yang berguna adalah mengenai biaya hidup di Jerman. Sisanya tidak penting-penting amat. Namun kalau ingin merasakan berciuman dengan lulusan ITB, silahkan saja kontak aku. Semoga yang mengontak bukanlah kuntilanak. Walaupun bisa bergoyang seperti Dewi Persik, aku lebih memilih berciuman dengan wanita biasa yang bukan kuntilanak.

Search Engine Optimization (SEO) nampaknya adalah suatu hal yang absurd. Atau SEO ini mengoptimisasi keabsurdan diriku?

Ah, apa itu optimal?
Mengapa perkalian matriks bisa mengoptimalkan pencarian diriku di internet?

Akupun teringat bahwa aku tidak mengerti sama sekali kuliah kendali optimal di kampus Gajah Tapa di Bandung, namun aku bersyukur mendapat nilai  “Very Good” untuk kuliah ini di Bremen. Seusai kuliah ini pun aku masih belum bisa mengendalikan kehidupanku secara optimal. Kehidupan di dunia nyata maupun maya seharusnya bisa dioptimisasi, kan?

Aku teringat bahwa dalam setiap usaha optimisasi, selalu ada tujuan yang ingin dicapai. Apakah tujuan aku membuat blog? Akupun tak tahu. Kini aku tahu mengapa segenap usaha optimisasi yang dilakukan SEO akan selalu absurd. Seabsurd diriku, Absurdiscab.

Bremen, 6 Januari 2013

iscab.saptocondro  

Tucuxi, mengapa malang nasibmu?

Kau mamalia yang senang berenang di Sungai Amazon. Sedangkan kami punya Pesut Mahakam yang senang berenang di Indonesia. Namamu tidak cocok dengan lidah orang Indonesia.

Oh, Tucuxi, mengapa air dari 4 penjuru kota Solo yang dipilih untuk menyirammu?
Engkau kan dari Peru. Kenapa tidak dari penjuru kota Lima aja? Atau dari Sungai Amazon?

Tucuxi, mengapa kamu jadi nama mobil listrik?
Mobil listrik itu jalan di darat, bukan berenang di sungai. Mungkinkah sesungguhnya kau ditakdirkan untuk menyemplung ke sungai?

Tucuxi, di air kaga butuh rem, tapi di darat mobil itu harus punya rem.
Jangan biarkan orang menghinamu, dengan perkataan bahwa sesungguhnya mobil listrik adalah mobil yang remnya tiang listrik, kalau perlu gardu listrik.

Oh, Tucuxi, kau pun remuk redam. Harga milyaran tak mampu membuatmu berhati-hati.
Namun tenang aja Bondan Prakoso akan menghiburmu, wahai mamalia yang suka berenang!


Si Hitam, hey, dari laut Jawa.

 

Bremen, 6 Januari 2012

iscab.saptocondro   

Awal tahun 2013 ini, kumulai belajar mengenai urusan pajak penghasilan. Ada beberapa informasi yang kudapatkan.

Dari petunjuk kawan:

Dari kedua kisah di atas, kudapatkan petunjuk resmi melaporkan (pajak) penghasilan di Jerman, yaitu

  • Elster, pelaporan pajak secara elektronik (elektronische Steuererklärung)
  • Formular-Management-System (FMS) der Bundesfinanzverwaltung: formulare-bfinv, tempat mengunduh formulir
  • Finanzamt terdekat, lalu tanya-tanya dan minta formulir

OK, setelah kubaca, aku pusing. Mungkin akhir pekan ini, aku baca-baca websitenya lalu menyerah dalam keluguan. Setelah itu, datang langsung ke Finanzamt terdekat untuk tanya-tanya secara personal.

Selain itu, aku juga bingung, kenapa tidak ada laporan pengeluaran. Aku ingin melaporkan pajak tahun 2012 dan 2011. Ada pemasukan dan juga pengeluaran. Aku mengeluarkan uang untuk laptop dan pindah rumah, yang kemungkinan bisa berpengaruh dalam pengembalian pajak. Namun formulir yang nampak hanya formulir pemasukan.

Setelah menyelesaikan urusan pajak ini, akan kuceritakan di posting blog berikutnya.

Bremen, 3 Januari 2013

iscab.saptocondro 

Kata orang, jodoh itu di tangan Tuhan.
Ada yang bilang, Tuhan tinggal dalam surga.
Kata Hadith, surga berada di bawah telapak kaki ibu.
Kaki biasanya dipakai untuk menginjak. 

Nampaknya aku harus diinjak-injak kaum ibu supaya dapat jodoh.
Tapi dalam dunia perjodohan, bisa kunikmati surga dunia.

***

Memang cinta tidak kenal logika Aristoteles.
Seperti kata Vina Panduwinata.

***

Cinta itu buta.
Orang buta suka meraba-raba dalam kegelapan.
Dalam bercinta, memang asyik meraba-raba dalam kegelapan.

***

Logika fuzzy juga sulit untuk diterapkan dalam cinta dan dunia perjodohan.
Jika kita dengarkan Vina Panduwinata lebih keras.

***

Pertanyaan tentang hubungan cinta dan logika juga dipertanyakan oleh Katon Bagaskara.

***

Terkadang cinta bisa membawa kita dalam sesat logika (logical fallacies / Fehlschluss).
Namun dengan tersesat, kita bisa menemukan diri kita sendiri, kata Oki Suryowahono, 30 Desember 2012.

Bercintalah, biarlah cinta membimbingmu dalam menemukan dirimu!
(Tapi tersesatnya jangan kelamaan, yah!) 

Bremen, 1 Januari 2013

iscab.saptocondro    

Das Jahr 2012 ist gleich vorbei aber ich habe noch keinen Neujahrvorsatz. Vielleicht soll ich den letzten Vorsatz kopieren und einfügen. Hahaha. Am einfachsten bedanke ich mich für das Jahr 2012. Ich bin sehr dankbar dass ich gesund dieses Jahr bleibe. Ich hatte keine böse Grippe. Ich war noch nie zum Arzt. Meine Gesundheit ist das beste Geschenk im Jahr 2012.

Oh, du, Dezember 2012!
Ich möchte mich für neue Arbeit bedanken. Ich bin noch mal zurück in Bremen. Hier ist eine Stadt, die ich trautes Heim fühle. Meine Sehnsucht nach Bremen wird erfüllt.

Oh, du, November 2012!
Ich möchte mich für vorherige Arbeit bedanken. Ich habe viele Erfahrungen in Bayern gesammelt. Jetzt weiss ich dass Automotive nicht für mich ist. Oder bin ich ein schlecter Ingenieur?

Oh, du, Oktober 2012!
Warum bist du nicht golden? Ich habe schon einen goldenen Oktober gewartet. Trotzdem bedanke ich mich für viele neue Freunde in Nürnberg und Erlangen, die meinen Herz mit warme Liebe erfüllt.

Oh, du, September 2012!
Ich möchte mich für Jokowi und Basuki bedanken. Meine Hoffnung für besser Indonesien ist erweckt. Jakarta, ich hab’ dich lieb!

Oh, du, August 2012!
Ich möchte mich für mein schönes neues Smartphone und das schreckliche Facebook Timeline bedanken. Endlich konnte ich neue Handy bezahlen. Meine alte Handy bleibt mein Wecker weil ich treu bin. Ich muss akzeptieren dass das beschissene Facebook Timeline ein kluger und schöner Archivar ist.

Oh, du, Juli 2012!
Ich möchte mich für ein schöner Urlaub nach meiner Heimat bedanken. Endlich konnte ich ein Flugticket nach Indonesien kaufen. Nach 6 Jahre und 3 Monaten hat meine Sehnsucht nach Bandung erfüllt. Ich konnte mein Eltern umarmen und zur Hochzeit meines bestes Freund kommen.

Oh, du, Juni 2012!
Ich möchte mich für der Fussball Gott und die Germany’s Next Top Model bedanken. Sie sind so sexy. Ich wurde von meinem beschissenen Arbeitsleben als Sklaveningenieur abgelenkt.

Oh, du, Mai 2012!
Ich möchte mich für Soegija und Lady Gaga bedanken. Sie sind beide das Geschenk von der römischen katholischen Kirche, die wie das gegossene Wasser für meine durstige Seele ist.

Oh, du, April 2012!
Ich möchte mich für indonesische Studenten in Berlin bedanken. Sie starten richtige Protest mit ihrer Naivität gegen das dysfunktionale indonesische Parlament.

Oh, du, März 2012!
Ich möchte mich für alle Tiere bedanken. Jeder März verzichte ich auf Fleisch um meine Unabhängigkeit von Fleisch und die Befreiung von Schmerzen der Tiere zu feiern.

Oh, du, Februar 2012!
Ich möchte mich für mein Leben bedanken. Trotz meiner Einsamkeit habe ich mich nicht selbst umgebracht.

Oh, du, Januar 2012!
Ich möchte mich für meine Trauer bedanken. Ich war traurig weil ich nicht zur Beerdigung meiner Größmutter kommen konnte. Damals hatte ich viele Schulden statt Geld im Hand.

***

Ich habe keinen Plan bzw keinen Neujahrvorsatz für das Jahr 2013. Ich hoffe ich werde bessere Ingenieur. Dieses Jahr muss ich die Steuererklärung lernen. Im Jahr 2013 werde ich Dolce Vita statt deutsche Vita genießen.

Frohe Weihnachten und guten Rutsch ins neue Jahr!

Bremen, der 31.12.2012

iscab.saptocondro