Skip navigation

Monthly Archives: March 2013

Minggu lalu, aku menghadapi beberapa hal yang membuatku stress.

Pertama, internet dan telpon via DSL tidak jalan. Dari 28 Februari hingga pertengahan Maret, aku bolak-balik ke Kundencenter (customer service) perusahaan telekomunikasi terbesar di Jerman. Customer service yang tidak mengerti produk yang dijual dan cuma mengandalkan layar monitor. Selain itu, telpon hotline menggunakan software speech processing yang hanya cocok untuk mereka berbahasa-ibu Jerman (deutsche Muttersprache/ german mother language).

Akhirnya, kutahu bagaimana mengurus masalah ini via website. Aku bisa memasukkan keluhanku via website, ditambah beberapa ancaman (hehehe). Setelah tiga minggu, yaitu 19 Maret, aku bisa menggunakan DSL ini untuk internet (dan telpon). Itu pun dengan kerja keras mencari di mana kabel telpon dan kotak utama di rumah. Akibat urusan ini, aku tidak bisa konsentrasi dengan pekerjaanku dan insomnia (sampai sekarang).

Kedua, aku pergi mencuci dengan gembira di suatu malam, sepulang kerja. Wajah ceriaku sebelum mencuci bisa dilihat di blogku yang berbahagia. Di sana, terlihat pula seorang jomblo di malam Sabtu, pergi mencuci untuk perdamaian dunia. Washing for World Peace, euy!

Akan tetapi kebahagiaan ini tak bertahan lama. Akibat ketidaktahuan akan jadwal washing center, bencana pun tiba pada diriku ini. Di tempat mencuci tersebut, tidak tertulis jadwal. Aku keluar sebentar untuk secangkir coklat hangat, ternyata pintu otomatis mengunci pada jam tertentu. Ketika aku berbalik, pintu tertutup erat dan terkunci rapat.

Satu lagi yang brengsek, informasi nomor telpon yang harus dihubungi terletak di dalam washing center bukan di pintu atau di luar tempat itu. Terpaksa, keesokan harinya, aku harus mengambil pakaianku yang tertinggal di sana. Lumayan, aku belajar bahwa washing center ini tutup jam 22.00 dan nomor telpon pemiliknya sudah kucatat.

Ketiga, aku masih mengurus kepindahan dari Nürnberg ke Bremen. Urusan telpon di atas membuat waktu dan pikiran terkuras. Ketika aku tidak bisa pergi ke Nürnberg akibat kepala pening, aku mencuci pakaian untuk perdamaian. Ternyata bukan kedamaian yang kudapat, melainkan tambahan stress dan gangguan jam tidur.

Minggu lalu, kudapat telpon dari pemilik rumah kalau akan ada calon penyewa yang ingin melihat apartemen di Nürnberg. Akupun segera pergi ke Nürnberg, membereskan tembok yang bolong dan membereskan beberapa hal. Calon penyewa positif mengambil apartemen tersebut. Untungnya, dia pengusaha tranporter. Jadinya aku bisa menyewa jasanya untuk pindahan. Aku juga mendapat jadwal untuk pindahan.

Urusan pindahan ini lumayan membuat ketenangan Paskah diriku terganggu. Aku juga harus mengatur janji mana yang harus kutepati dan kubatalkan di Bremen. Nampaknya, aku harus merayakan Paskah di Nürnberg.

Keempat, aku salah mengklik tautan di internet. Ini akibat rasa ingin tahuku, tentang apa hubungan hacktivist Anonymous dan suatu kampung bernama Steubenville, di Ohio, USA (Amerika Serikat). Akibat klik ini, tiba-tiba aku menginvestigasi banyak forum, blog, berita, dll yang tentu saja menambah klik jemariku untuk hal di luar pekerjaan utamaku.

Tentang kampung ini, aku akan menceritakan di posting blog berikutnya. Yang jelas kampung ini betul-betul ramai di media berbahasa Inggris: USA, UK, dan Kanada (serta mungkin Australia?). Mengikuti berita ini bisa membuat stress mereka yang bermimpi tentang dunia yang penuh keadilan dan kesetaraan. Perjuangan masih panjang.

Akibat sistem otomatisasi hotline yang menyebalkan, juga kegagalan sistem otomatis pemindahan saluran DSL dari Nürnberg ke Bremen, dan ditambah terkunci oleh pintu otomatis, aku jadi benci dengan otomatisasi dan hal-hal yang serba otomatis. Namun kusadari kalau aku lulusan Automation Engineering, jadi membenci otomatisasi itu sama saja menyangkal diriku sendiri. Kemudian, kutumpahkan semua kekesalanku yang otomatis dalam tulisan “Otomatiscab“.

Aku bersyukur kepada Tuhan, karena aku dapat belajar banyak dari ketegangan ini. Aku juga merasakan bahwa yang membuatku tetap merasa hidup adalah rasa ingin tahuku. Rasa penasaran inilah yang membimbingku dalam Dharmaku sebagai engineer (juga sebagai blogger investigatif, hehehe). Namun kini, aku harus berjuang melawan insomnia. Perjuangan masih panjang, tapi kupercaya bahwa hari kemenangan akan segera tiba.

Bremen, 28 Maret 2013

iscab.saptocondro

via suka duka iscab di bremen http://iscabremen.blogspot.com/2013/03/paska-stress.html

Advertisements

Otomatisasi adalah satu hal yang bikin penasaran. Hari ini, aku kecewa karena aku terkunci di luar oleh sistem otomatis. Namun aku juga penasaran dengan otomatisasi posting blog, tweet, link, dan seputarnya.

Ketika otomatisasi merugikan, rasanya benci setengah mati setengah hidup. Mengapa sistem otomatis ini tidak fleksibel? Tidakkah ada alternatif? Bagaimana memperbaikinya? Bagaimana mitigasi bencana? Bagaimana mengatasi kegagalan?

Ketika otomasi menguntungkan, aku tiba-tiba penuh decak kekaguman tanpa perlu menari kecak di atas becak. Wah, betul-betul canggih sistem ini! Tapi sebagai lulusan jurusan otomasi (Automation Engineering), tetap saja ada rasa penasaran. Bisakah sistem yang otomatis ini dibuat lebih canggih lagi, namun dapat digunakan secara sederhana?

Sebagai seorang ulama al handasah (pakar teknik), aku menganggap tidak ada sistem yang sempurna. Kesempurnaan menghilangkan ruang untuk perbaikan dan membunuh kreativitas. Ulama al handasah punya prinsip “Not perfect is good“, karena Sempurna itu milik Andra & The Backbone yang diwariskan kepada Gita Gutawa.  Akibat ketidaksempurnaan ini, secanggih-canggihnya sistem otomatis, masih ada pekerjaan engineer memperbaiki sistem ini.

Perjuangan mengotomatisasi belum berakhir.

 

Bremen, 16 Maret 2013

iscab.saptocondro

Seseorang bertanya kepadaku, “Adakah Tuhan?”

Kujawab, “Aku tidak tahu Tuhan itu ada atau tidak, tetapi aku tahu kalau aku percaya Tuhan itu ada”.

 

Bremen, 15 Maret 2013

iscab.saptocondro

Hari ini, aku berada di Nürnberg lagi, dalam rangka beres-beres rumah dan bersih-bersih sebelum pindahan. Aku berputar-putar di kota ini untuk mencari makan. Aku tak punya alat masak yang siap-sedia di dapur. Semuanya sudah ada di kardus.

Seusai makan, segeralah aku pergi stasiun utama kota ini. Aku pergi naik kereta bawah tanah: U-bahn nomor 1. Aku naik dengan penuh keyakinan, bahwa U1 jurusan Fürth-Langwasser pasti takkan sampai di Caringin maupun Sadang Serang.

Perjalanan kali ini, nampaknya aku sulit sekali konsentrasi. Aku selalu terbayang, barang apa yang kubereskan hari ini. Yang ini masuk kardus mana. Ataukah segera kubawa ke Bremen dalam koper. Berapa berat barang ini? Ukurannya gimana. Posisi dalam kardus/koper/tas bagaimana?

Lamunanku buyar seiring keherananku pada U1. Mengapa halte yang kulewati begitu indah? Biasanya kumuh. Selain itu, penumpangnya cantik-cantik. Biasanya, sih, yang kulihat orang bertampang kumal atau wanita lesbian (Emangnya cewe lesbi kaga ada yang cantik?). Mengapa kali ini berbeda? Kulihat halte dengan cara seksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya. Ternyata aku salah jurusan.

Aku salah jurusan. Seharusnya dari stasiun utama, aku menuju Fürth. Aku malah menuju Langwasser. Aku  tak memperhatikan tanda-tanda pada papan, kereta, dan tembok. Ini menunjukkan bahwa aku betul-betul tidak waspada hari ini. Hal seperti inilah yang membuat orang mudah dihipnotis atau kecopetan.

Setelah menyadari kesalahan ini, akupun keluar dari kereta. Pindahlah aku ke sepur lain. Aku balik ke arah Fürth. Kurenungkan kata-kata temanku akhir tahun lalu, “Dengan tersesat, kamu akan menemukan dirimu“. Ternyata aku sudah kehilangan orientasi di kota ini. Ikatan geopsikologis dengan kota ini telah putus. Akupun tersadar kalau aku diutus Tuhan untuk menjalankan Dharmaku di kota lain, yaitu mendakwahkan Kabar Gembira dalam pergerakan.

Dengan kereta yang benar, sampailah aku di rumah Nürnberg. Kusadari bahwa aku harus menjalani kisah sengsara: The Passion of Condro. Rumah di daerah Ghetto Gostanbul. Pergi ke kantor lama untuk diospek. Jalur kantor lama dan rumah yang penuh aroma mencolok. Sepulangnya di rumah, aku sudah tak bisa mengurus rumah lagi karena kelelahan dalam menstabilkan emosi. Empat belas jam sehari untuk kantor terasa berat. Aku pun merasa bahwa keberadaanku di kota ini adalah suatu “salah jurusan” dalam hidup.

Salah jurusan membuatku merenungkan makna hidupku. Aku belajar banyak bahwa aku harus melepaskan keterikatanku akan kota. Aku harus selalu siap berpindah. Mobilitasku harus tinggi. Aku harus mulai mengurangi barang-barang milikku. Catatan harus kuscan lalu kutaruh di harddisk dan di awan. Ini artinya aku harus menghilangkan kepemilikan pribadi. Sebagai pria posesif, aku belajar bahwa aku harus menanggalkan yang kumiliki. Aku harus membuang hal-hal yang menghambat mobilitasku.

Melepaskan keterikatan bisa membuatku menjadi Jedi, seperti di Star Wars. Kota Nürnberg memang Jedi Academy. Ketua PPI setempat juga suka dengan Star Wars, selain suka jeruk nipis. Menanggalkan kepemilikan pribadi bisa membuatku jadi komunis, seperti Uni Bremen yang didirikan oleh kaum komunis Bremen tahun 70-an. Oleh karena itu, aku menjadi Jedi Komuniscab.

Kusadari bahwa kota ini selain menimbulkan perasaan “salah jurusan” dalam hidup, juga membuatku belajar banyak. Selain belajar memaknai (maupun menghilangkan makna) kepemilikan pribadi dan keterikatan geografis dan geopsikologis, aku belajar banyak dari orang-orang di sini. Aku terinspirasi ketua PPI Franken yang mengorganisasikan manusia dengan cepat dan efisien, walaupun ia bukan tentara. Aku belajar bahwa dalam bekerja, aku harus tetap menjaga kemanusiaanku. Aku belajar bahwa selain ber-Dharma di kantor, aku juga harus menjadi Bapak Rumah Tangga. Kulihat rumahku berantakan sulit diurus. Kegagalanku dalam mengatur rumah tangga tak boleh terulang di Bremen baru.

Aku bersyukur kepada Tuhan atas segenap “salah jurusan” dalam hidupku. Tanpa kesalahan ini, aku takkan menemukan diriku. Salah jurusan membuatku menemukan manusia-manusia baru yang mengisi hidupku dengan makna baru. Mereka membentukku menjadi semakin dewasa, secara intelektual maupun spiritual. Kini aku selalu berjaga-jaga dalam menghadapi “salah jurusan” berikutnya.

***

Buat mereka yang “Salah Jurusan”, selain tembang macapat Selat Kalatida dan pupuh Asmaranda tanah Sunda, ada lagu dari rif yang cocok untuk didengarkan. Silahkan lihat video di bawah ini.

Kalau videonya gagal ter-embed, silahkan klik tautan di bawah ini.
http://www.youtube.com/watch?v=EoSDaKFKlqY

***

Oh, ya, ayat Kitab Suci di Gereja hari ini tentang “anak yang hilang” (Lukas 15:11-32) menjadi semakin bermakna ketika aku merenungkan kisah “salah jurusan” ini. Salah satunya karena aku salah naik angkot U1 sepulang dari Gereja.

Nürnberg, 10 Maret 2013

iscab.saptocondro

via iscablog http://iscabayern.blogspot.com/2013/03/salah-jurusan.html

Sesungguhnya negara bagian Bremen dan Bayern itu berbeda. Luasnya berbeda. Bahasa daerahnya beda. Bremen menggunakan Plaatdüütsch, sedangkan Bayern menggunakan bermacam-macam bahasa daerah.

Kali ini, aku membandingkan apa yang dilakukan SEO tentang cerita kehidupanku di Bremen dan di Bayern.  Dua gambar berikut akan menjelaskan informasi apa yang didapat orang ketika aku ingin berkisah tentang masing-masing negara bagian tersebut.

***

bremen-2013-03
Bremen

Ternyata orang Bremen suka makan baso tahu dan siomay yang bertabur tongcai. Mereka senang hal-hal gratis. Bukan hanya buku gratis dari Gramedia, kalau bisa mereka tinggal di apartemen secara gratis.

***

bayern-2013-03
Bayern

Gadis Bayern senang sekali mandi kembang tengah malam di bawah pohon waru doyong. Hal ini dilakukan supaya mereka tetap segar pikirannya ketika mengembangkan embedded system dalam smartphone. Pikiran yang tidak cerah bisa menyebabkan kepala botak, seperti Palbot.

***

Begitulah ulah SEO dalam menganalisa kedua blogku.

Bremen, 5 Maret 2013

iscab.saptocondro
P.S. Ini uji coba IFTTT lagi.

via iscablog http://iscab.blogspot.com/2013/03/beda-bremen-dan-bayern-maret-2013.html

Hari ini, kembali kulihat bagaimana orang mencariku di Google. Gambar berikut menunjukkan…
via iscablr http://iscab.tumblr.com/post/44488997337

Hari ini, kuterima surat yang bukan surat cinta. Jadi surat ini bukanlah lukisan luka di hati Hedi Yunus yang jangan kuhempas bila tak ingin kusentuh.

Surat ini adalah surat dari perusahaan (distribusi) listrik lokal di Bremen, yaitu SWB. Pada surat tersebut, terdapat informasi bahwa akan diadakan perbaikan jaringan listrik di daerahku. Kegiatan ini akan diadakan antara 15 Maret dan 1 Juli 2013. Pada masa tersebut, akan ada pemadaman bergilir maupun serentak satu jalan.
Seumur hidup di Bayern, baik 3 bulan sebelah kandang sapi di suatu kampung maupun 1 tahun 4 bulan di ghetto kota metropolitan, belum pernah kurasakan mati lampu. Hanya di Bremen, kurasakan mati lampu dua kali dalam 5 tahun, sebelum kuterima surat ini. Oh, ya, jangan tanya berapa kali mati lampu di (Kabupaten) Bandung. Karena mati lampu di Indonesia terlalu indah, sehingga menginspirasi musisi untuk bikin lagu: “DJ Tolong Matiin Lampunya Dong“.
Untuk mengenang masa-masa mati lampu zaman dahulu dan menikmati pemasangan smart meter dan smart grid di daerahku, lagu “mati lampu” akan kucoba ku-embed. Semoga ifttt dan wordpress memungkinkan. Jika tidak, klik aja tautan di atas.
Bremen, 2 Maret 2013
P.S. Ini uji coba IFTTT lagi.

via iscab di Bremen http://iscabremen.blogspot.com/2013/03/surat-byar-pet-dari-perusahaan-listrik.html