Skip navigation

“Jauh di mata, dekat di hati.”
Itu kata orang tentang cinta yang terpisahkan oleh jarak. Satu di sana, satu di sini. Saling cinta, namun jarak memisahkan keduanya secara geografis.

Seberapa besarnya pengaruh jarak ini dalam dunia percintaan? Mungkinkah ikatan cinta tak terputus oleh jarak? Akankah jarak jauh mengganggu kesetiaan cinta? Banyak sekali pertanyaan yang ada dalam kepala para pecinta. Sanggupkah hati menjawab pertanyaan ini?

***

Ketika Bapakku pergi kuliah 5 tahun di St. Gallen, Swiss, terdapat jarak seperempat keliling bumi, dengan ibuku di Bandung, Indonesia. Ikatan cinta keduanya begitu kuat. Kenapa bisa kuat? Ada lembaga pernikahan yang melindungi ikatan ini. Ada anak yang membuat keduanya memiliki suatu hubungan batin. Dan berbagai alasan lain. Oh, ya, waktu itu, jalur komunikasi keduanya adalah telegram, surat, dan kartu pos. OK, ada juga wesel untuk pengiriman uang.

Ketika aku pergi kuliah 2 tahun plus-plus di Bremen, Jerman, terdapat jarak yang sama dengan seseorang di Bandung. Aku tidak merasakan ada ikatan cinta yang kuat antara kami. Aku juga tak percaya cinta jarak jauh kalau tidak dalam ikatan pernikahan.

Seperti kata film Road Trip (wiki, imdb), pada hubungan yang lebih dari 500 mil (kira-kira 800 km), selingkuh bukanlah selingkuh. Jadi kalau satu mencoba mencicipi masakan lokal, itu bukanlah selingkuh melainkan semacam “open relationship”. Intinya aku tidak percaya cinta yang terpisahkan jarak lebih dari 800 km. Ini namanya “The rule of 500 miles”.

Jarak jauh meningkatkan kerinduan, sedangkan “Kerinduanku” adalah judul salah satu album Susilo Bambang Yudhoyono. Kerinduan bagaikan sayatan silet pada hati seorang masochist yang senang mengiris-iris tubuhnya sendiri. Kerinduan ini dapat berbuahkan pita kuning indah bak lagu “Tie A Yellow Ribbon round The Old Oak Tree” atau surat jahanam bagai lagu “Dear John”. Pada suatu ulang tahunku, yang kudapat adalah yang terakhir. Kalau dapat yang pertama, aku yakin sampai di sana, seperti album Susilo Bambang terakhir.

Ketika kerinduan terbasuh oleh pertemuan, reaksi pada otak bisa setara orgasme. Silahkan coba cek sinyal EEG, karena scanning dengan MRI tidak memungkinkan. Ini mirip dengan orang yang kecanduan, lalu diberikan candu. Reaksi otaknya akan orgasmik. Tapi sebaiknya lakukanlah riset neuroscience yang benar, jangan percaya sama neuroscientist wannabe.

Kerugian dari cinta jarak jauh buatku adalah aku tidak bisa memaksimalkan kelima inderaku. Indera penglihatanku hanya mampu kupakai untuk membaca surat, kartu pos, SMS, email, foto, Facebook, Twitter, dan videonya saat Skyping. Indera pendengaranku terpuaskan oleh suaranya di telpon dan Skype. Indera yang lainnya tak terpuaskan.

Aku tak bisa mencium aroma tubuhnya: pakai parfum apa dia hari ini, sabun apa yang membasuh kulitnya, lotion apa yang terbalur di kulitnya. Aku tak bisa merasakan kehangatan tubuhnya. Hembusan angin hangat pada telingaku tak bisa kurasakan ketika ia membisikkan rayuannya. Indera perabaku juga tak bisa kupakai membelai rambutnya dan merasakan rambut-rambut halus pada tubuhnya. Indera pengecapku tak bisa kupakai untuk merasakan manis bibirnya.

Oh, ya, kompresi pada Skype juga membatasi kemampuan indera penglihatan. Aku pernah melihat gambar buram orang yang di sana. Hanya hidungnya saja yang kujadikan patokan saat mengobrol. Indera pendengaran juga terbatas oleh jeda beberapa milidetik dan kadang suaranya seperti kena auto-tuned. Detak jantungnya sama sekali tak bisa kurasakan dari jarak jauh ini.

Akan tetapi banyak juga kisah sukses cinta jarak jauh alias long distance relationship. Bandung-Jerman itu seperempat keliling bumi. Ada lagi yang lebih jauh, yaitu sepertiga keliling bumi: Papua-Jerman. Ada yang bisa sukses dalam kisah cintanya. Yang penting bisa tahan Jetlag, seperti lagu dari Simple Plan dan Natasha Bedingfield.

Dalam cinta jarak jauh, percayalah apa kata hatimu.
Ketika kepalamu bertanya-tanya, hatimu tahu jawabannya.

Aturan 500 mil tidak perlu dipercaya. Biarlah kerinduan ini memuncak dalam orgasme ketika terjadi pertemuan.

***

Ini video Jetlag, dari Simple Plan dan Natasha Bedingfield, untuk mereka yang yang saling mencintai walau terpisah jarak.

Mereka yang merindukan orang-orang yang dicintainya nan jauh, takkan kuberikan lagu Kerinduanku dari Susilo Bambang Yudhoyono. Alunan suara Fievel dan Tanya lebih cocok untuk para perindu.

Yang mempermasalahkan cinta dan jarak, ingatlah pepatah “Kasih anak sepanjang galah, kasih ibu sepanjang jalan”.

Bremen, 2 Maret 2013

iscab.saptocondro

via Cinta Sapto Condro http://cintascondro.blogspot.com/2013/03/jarak-jauh.html

3 Comments

  1. Video youtube hilang, euy.

  2. sebetulnya mah tak ada yg masalah dalam LDR.

    • Ini termasuk ranah ketidakpastian Heisenberg.
      Aku termasuk orang yang menganut aturan 500 mil.
      Selain itu, aku butuh kehangatan tubuh perempuan, jadi LDR pasti tidak cocok buatku.


One Trackback/Pingback

  1. […] Hari ini, aku mencoba menulis posting cinta menggunakan IFTTT. Aliran cintanya seperti ini, dari Cinta Sapto Condro, akan auto-posting ke wacana iscab. […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: