Skip navigation

Dulu aku pernah menceritakan awal mula aku menggunakan perangkat jejaring sosial online, pada artikel “A Friend for a Click or a Click for A Friend?” Pada tulisanku, aku masih belum mengenal perangkat genggam cerdas, sebagaimana smartphone Android milikku kini. Saat itu, kuakses online social network service melalui komputer. Saat itu, kukenal (hanya) Friendster, StudiVZ, Facebook, Multiply, serta KTCommunity.

Kini Friendster tak pernah kubuka dan ia telah bangkrut sebagai penyedia jasa jejaring sosial online. Sebagian datanya dihapus Friendster dan sebagian lagi kupindah ke Facebook dan Blogspot. Multiply kuhapus karena fungsinya tak sesuai keinginanku. Oh, ya, Multiply pun menghapus data penggunanya dan pindah haluan bisnis sebagaimana Friendster. StudiVZ  dan KTCommunity jarang kubuka karena terlalu “Jerman”.

Seiring berjalannya waktu, aku menambah jejaring sosial lainnya: Twitter, Plurk, Flickr, Instagram, Path, LinkedIn, Xing, dll. Sebagian untuk “haha hihi”. Sebagian untuk alasan profesional. Semenjak aku bekerja jadi tukang insinyur, aku sanggup memmbeli perangkat genggam untuk menggantikan semua handphone rusak dan quasi-rusak milikku. Tentu saja alat genggam ini harus cerdas dan bisa internet. Aku pun kini memiliki aplikasi untuk jejaring sosial tersebut. Jadi social network dalam genggaman, deh.

***

Apakah ada perbedaan antara jejaring sosialku di dunia nyata dan maya?
Apa perbedaan kawan di jagad online dan di dunia nyata?
Apa makna perkawanan? Mengapa harus berteman?
Apakah kita teman? atau kolega? atau sekedar pernah kenalan?
Mengapa mereka tidak meng-unfriend diriku walau aku cukup “annoying” dan bikin kebisingan di Facebook?

Banyak sekali pertanyaan di dalam benakku. Aku bertanya seperti ini karena aku merasakan kehilangan makna akan teknologi jejaring sosial ini. Aku sudah tidak tahu siapa temanku yang sesungguhnya. Semua yang kulihat hanyalah aliran data, gambar, tulisan, video, dan tautan. Aku tidak bisa merasakan kemanusiaan dan pertemanan dalam teknologi ini.

Kini akupun merenung, mengapa aku masih menggunakan teknologi ini. Pada dasarnya aku cukup puas dengan telpon dan SMS untuk mengobrol jarak jauh dengan sahabat dan keluarga. Lebih asyik lagi kalau bikin acara bareng: makan-makan, nonton, jalan-jalan, dll. Jadi ada pertemuan fisik yang sesungguhnya.

Kucoba kembali ke awal mula menggunakan teknologi tersebut.

  • Friendster, diperkenalkan oleh kawan dekatku, Arief, di Bandung, Indonesia tahun 2004. Isi jejaringnya ialah teman dekat, kawan sekolah, kawan kuliah, murid-murid yang pernah kuajar.
  • StudiVZ, diperkenalkan oleh teman kos di Bremen, Jerman tahun 2006. Isi jejaringnya ialah orang-orang yang kukenal di Jerman, terutama Bremen.
  • Facebook, awalnya kupakai untuk ikatan silaturahmi dengan para Erasmus Student. Kemudian karena bentuknya semakin lama semakin menarik, kawan-kawanku di Friendster dan jejaring milis kutambahkan ke sini. Oh, ya, Facebook memiliki kemudahan untuk disambungkan ke jasa online social network lainnya.
  • LinkedIn, aku diperkenalkan Arthur Purnama di tahun 2007. Aku memakai ini untuk alasan profesional. Urusan mencari kerja, gitu loh.
  • Xing, juga untuk urusan profesional. Tapi ini terlalu Eropa-sentris (baca: Jerman).
  • Twitter, awalnya kupakai karena bisa disambung ke berbagai jasa lainnya. Kini Twitter sudah pernah kusambung ke StudiVZ, Facebook, LinkedIn, WordPress, dll serta juga e-learning kampus Uni Bremen. Semenjak menggunakan perangkat genggam, aku mulai mengerti kelebihan Twitter (baca juga GBT ini).
  • Path, diajak kawan dekatku, Andre Tobing, ketika aku mudik ke Bandung, Indonesia tahun 2012. Karena jumlah teman dibatasi cuma 150 orang, jadinya aku mulai merenung siapakah sesungguhnya temanku.
  • Online social network lain tidak kusebut karena jarang kupakai. Sebagian diperkenalkan oleh kawan maya maupun nyata. Sebagian kupakai terus, misalnya untuk mencari penginapan (Couchsurfing) atau karena untuk baca artikel harus dipaksa jadi anggota dan selalu login. Sebagian tidak kupakai lagi.
  • Blog yang kupakai seperti Blogspot dan WordPress, sebetulnya memiliki kemampuan jejaring sosial. Namun kemampuan ini tidak kutekankan penggunaannya. Aku menggunakan blog untuk menulis, sesuai hobiku.

Kini kusadari bahwa mayoritas isi jejaring sosial di jagad maya adalah orang yang pernah kutemui di dunia nyata. Namun kawan-kawan terdekatku di Bandung, juga keluargaku di Indonesia, bukanlah orang-orang yang banyak berinteraksi di dunia maya (Facebook, Twitter, dll). Menghubungi mereka pun harus lewat telpon. Kawan-kawan terdekatku di Bremen mengobrol dengan nyaman jika kami bertemu fisik bukan di layar monitor komputer maupun perangkat genggam. Apalagi kalau mereka masak, betul-betul lezat.

Hanya kawan-kawan dekat (dan orang-orang yang ingin kudekati), yang mampu meyakinkanku untuk menggunakan jasa online social network terbaru. Aku hanya tergerak oleh kawan-kawan yang dekat di hatiku. Sesudah diajak mereka untuk memiliki akun, aku hanya terikat pada jasa yang memudahkan hobiku: membaca, mencatat, menulis, dan berbagi. Facebook dan Twitter begitu pintar untuk terhubung dengan blogku.

Kupikir-pikir, aku menulis ini karena kangen kawan-kawanku di Bandung dulu. Oh, ya, aku juga belum bertemu saudara-saudara dan keluarga besarku selama 7 tahun lebih dikit. Kurenungkan pula, akhir-akhir ini, aku menjadi Lone Wolf. Aku hidup sendiri dan tidak tahu ingin ngomong apa kalau bertemu kawan di dunia nyata maupun jagad maya. Isi Facebook dan Twitter dariku hanyalah kebisingan. Interaksi denganku hanyalah bunyi-bunyian tidak penting. Mending aku menjadi pendengar (dan pembaca) yang baik aja.

Hidupku semakin absurd dengan teknologi jejaring sosial. Setidak-tidaknya aplikasi jejaring sosial online membantuku di toilet ketika aku menunggu kejatuhan mereka yang melekat hangat di pantat.
Absurdiscab, iscab yang absurd.

Bremen, 21 April 2013

iscab.saptocondro

via iscablog http://iscab.blogspot.com/2013/04/jejaring-sosial-maya-dan-nyata.html

10 Comments

  1. kok menyedihkan to mas. Disana jarang ketemuan dg teman2 nyata ? dirimu terlalu sibuk ya.
    Kalau aku, dunia maya itu fasilitas. Membuat jadwal kopdar dg teman2 adl jadwal rutin di periode tertentu

    • Ngumpul bareng kawan-kawan juga, aku tetap kesepian.

      • dulu aku pernah, mas. Tyt masalahnya ada dlm diriku yaitu tidak percaya dg teman, krn lingkungan yg individualis memaksa betul2 harus jd mandiri dan egois. Kl aku, ku coba pindah komunitas teman mas.

      • Pada dasarnya aku tidak percaya semua orang, termasuk Bapak dan Ibuku.

      • Nah, itu yg salah mas. Padahal seharusnya justru keluarga adl org yg paling dipercaya terutama bapak dan ibu. Karena kl kita ada kesusahan ataupun kekurangan diri, org yg paling bisa menerima kita dlm keadaan apapun adalah mereka. Belajar pcy mas, memang butuh proses dan NIAT. Mas, aku br dekat dg ortu ku adl setelah S2 lho.

      • Tentu aja, aku dan orang tua saling membantu. Aku bisa membantu orang tanpa harus percaya.

      • itu berbeda, mas. Pemaknaan percaya itu lebih dr sekedar bantu membantu.
        Ttg kesepian, itu relatif. Kesepian menjadi tidak bermakna jika mengenal, dan berdamai dg diri sendiri.

      • Mengakui diri kesepian lebih baik daripada menyangkalnya.
        Setidak-tidaknya, sekarang aku tidak terobsesi dengan kematian dan bunuh diri seperti dahulu.

  2. terobsesi dg kematian? maksudnya ingin bunuh diri, mas? Kok begitu.
    Ya alhamdulillah to, sekarang lebih baik drpd dulu. Semua kan juga berproses, menjadi dirimu sekarang juga bukan hal yg buruk juga. Asal bisa menerima situasi saja


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: