Skip navigation

Monthly Archives: May 2013

STOP
Think
Observe
Plan

***

Cast Away, 2000, movie from Robert Zemeckis and starred by Tom Hanks.

Bremen, 29 Mei 2013

iscab.saptocondro

via Sapto Condro Serius http://saptocondro.blogspot.com/2013/05/stop.html

Hari ini aku teringat kejadian aneh di suatu kampus perguruan tinggi negeri yang aneh di Bandung. Suatu hari, aku telah memutuskan untuk memperdalam pengendalian diri dengan memilih Control Engineering dalam studiku di jurusan sastra listrik. Aku merasa ceria bersama kawan-kawan Control Engineering seperti yang nampak pada foto berikut.

Control98
Control98
 
Pada suatu hari, usai suatu kelas dan mengisi jeda sebelum memasuki kelas berikutnya, aku duduk nongkrong di depan dinding pahala dan dosa. Di sinilah tembok ratapan bahagia di atas duka. Segenap perjuangan satu semester, terbayar sudah di hadapan papan ini.
Di sana, kulihat seorang kawan sesama Control Engineer. Ia nampak sendu, duduk merenung di ujung. Kudekati dirinya dan kuajak mengobrol. 
“Kenapa lu? Kok, duduk sendirian?” tanyaku.
Ia pun terdiam sejenak. Lalu ia menatapku sayu dan berkata, “Aku lagi ada masalah, nih.”
Aku pun duduk di sampingnya. “Ada apa?”
Ia terdiam. Lalu ia menatap ke arah perempatan Student Center. Kemudian ia menerawang langit.
Aku pun masih menunggu jawabannya.
Akhirnya ia menjawab, “Masalahku ini begini….”
Kutatap matanya dengan pandangan sebagai teman yang siap membantu dalam susah dan senang.
Ia melanjutkan jawabannya, “Aku terlalu ganteng.”
Jadi masalahnya adalah ia terlalu ganteng. Jawaban yang tak kuduga. Ada rasa ingin menonjoknya dengan teknik Bang Bang Control akibat alur logikanya yang fuzzy dan nonlinear tersebut.
Kini kusadari bahwa sebagai Control Engineer, kami memang harus mengontrol kegantengan. Cukup satu orang saja yang cantik, dan biarkan yang lain ganteng terkendali. Ini bagai pepatah “Everything is under Control”.
Banyak sekali kejadian aneh di kampus ini, yang sulit dikendalikan oleh ilmu Control System. Nanti akan kuceritakan pada tulisan berikutnya. Semoga aku bisa menulis lagi setelah belajar Ilmu Pengaturan yang lebih kokoh dan optimal.
Bremen, 25 Mei 2013

via Ignatius S. Condro A.B. (iscab, EL98) & Ganesha Gajah Duduk http://iscabitb.blogspot.com/2013/05/mengontrol-kegantengan.html

Mengapa mata kuliah dasar, sering disebut 101?
MA-101 biasanya Kalkulus I.
FI-101 biasanya Fisika Dasar I
Bahkan Cari Jodoh 101 bisa jadi judul buku.

Jawaban pertanyaan di atas tidak kutahu. Sepertinya angka satu berhubungan dengan semester I atau tingkat I. Apalah arti sebuah nama? Bunga mawar berganti nama akan tetap memiliki wangi yang sama. Itu kata Shakespeare dalam Romeo dan Juliet.

Aku sedang merenungkan makna 101 Fakta Mahasiswa ITB dan merefleksikan masa laluku di suatu kampus perguruan tinggi negeri di Bandung. Walau lebih tepat disebut opini, daripada fakta, sebagian besar dari 101 poin tersebut cocok denganku. Lumayanlah menggambarkan mahasiswa di kampus itu.

Ingin sekali aku menanggapi 101 poin tersebut, satu per satu. Namun apa daya, aku lelah. Kucatat dahulu, untuk kutanggapi di posting berikutnya. Yang jelas, aku rajin mandi, senang mencari info beasiswa, benci cumi, mengirim SMS ke teman nanya apakah ada kuis, pernah ngajak Dona ngobrol walau kaga nyambung, dan cuma dua kali ikut arak-arakan wisuda serta suka datang rapat Senat untuk tidur di pojokan. Oh, ya, aku suka demo, tapi lebih suka masuk kuliah. Pernah ketinggalan acara demo, tahu-tahu teman-teman udah pada merebut dan membawa perisai dan helm polisi.

Bremen, 14 Mei 2013

iscab.saptocondro

P.S. Kalau aku jadi anggota DPR, aku termasuk yang tidur dan hanya bangun kalau udah mulai voting.

via Ignatius S. Condro A.B. (iscab, EL98) & Ganesha Gajah Duduk http://iscabitb.blogspot.com/2013/05/itb-101.html

Drück den richtigen Knopf!

Männer sind wie Toaster.
Frauen sind mehr wie Akkordeons.
– Patrick Jane, The Mentalist, Staffel 1 – Folge 14

***
Press the right button!

Men are like toasters.
Women… little more like accordions.
Patrick Jane, The Mentalist, Season 1 – Episode 14: Crimson Casanova

***
Tekan tombol yang tepat!

Pria itu seperti toaster.
Wanita itu bagai akordion.
– Patrick Jane, The Mentalist, Season 1 – Episode 14

***
Push the Button – Sugababes
Button – The Pussycat Dolls, mit Snoop Dog
Bremen, 11. Mai 2013

via Sapto Condro auf Deutsch http://saptocondeutsch.blogspot.com/2013/05/deutsch-lernen-der-knopf-button-tombol.html

Memandang jalan dekat apartemenku yang sekarang di daerah Bremen-Neustadt, kuteringat kejadian dua tahun lalu. Suatu hari di hari Sabtu yang cerah, 30 April 2011, ada ajakan berlari-lari di Bremen dalam rangka lingkungan hidup. Aku tidak mengikuti usulan tersebut, tetapi hari itu aku tetap berlari-lari. Kali ini, aku bukan berlari-lari bersama Heli, melainkan bersama polisi-polisi Jerman.

sondereinheit1
Satuan khusus anti huru-hara, oleh Hartoyo

OK, aku berlari bersama demonstran lain ketika dikejar polisi anti huru-hara. Hari itu, aku mengikuti demonstrasi menentang pawai Neo Nazi yang diadakan di daerah Bremen-Neustadt. Selebaran anti Neo-Nazi sudah disebarkan sebelumnya di universitas, Gereja, Masjid, kafe, dll. Hari-hari sebelumnya, aku datang melihat persiapan demo yang dilakukan ESG Bremen (Evangelische Studierenden Gemeinde), juga diskusi-diskusi mereka. Mereka mempersiapkan demonstrasi damai, dengan poster warna-warni.

esg-bremen-taz
ESG Bremen berdemo damai, oleh TAZ, die Tageszeitung

Selain itu, aku juga ikut dalam persiapan demo bersama Mrs. M, Mr. S, dan Mr. R. Dalam persiapan, Mr. S menerangkan jejaring manusia dan organisasi yang memiliki ideologi Neo-Nazi. Partai politik dengan ideologi ini contohnya adalah sebagai berikut.

  • Nationaldemokratische Partei Deutschlands (NPD, wiki:de,en)
  • Die Republikaner (REP, wiki:de,en)
  • Deutsche Volksunion (DVU, wiki:de,en)
  • Bürger in Wut (BIW, wiki:de,en)
  • Partei Rechtsstaatlicher Offensive (PRO, wiki:de,en)
  • Bürgerbewegung pro NRW (Pro-NRW, wiki:de,en), yang berpusat di Köln (Cologne)
  • Bürgerinitiative Ausländerstopp (wiki:de), di Nürnberg dan München

Masih ada organisasi kepemudaan yang tergabung dalam ideologi kanan ini, baik yang hanya diawasi (wiki:de) maupun sampai dilarang (wiki:de). Ketika pawai, ada pula massa tidak terorganisir seperti “bobotoh” ideologi ini yang turut serta, contohnya Frei Kameradschaften. Selain itu, ada juga sel-sel teror berideologi ini, contohnya Nationalsozialistischer Untergrund (NSU, wiki:de,en). Disebut sel teror karena aksi terorisme mereka adalah menembak dan menusuk orang dan mereka memiliki bahan peledak.

***

Kembali ke cerita 30 April 2011. Demo ini dihadiri banyak orang dari berbagai organisasi.

  • ASTA Uni Bremen (Badan Eksekutif Mahasiswa, Universitas Bremen), juga ASTA HS Bremen, dan universitas di Bremen dan sekitarnya
  • partai politik kiri (SPD dan Linke), juga hijau (Grünen)
  • ESG dan KHG Bremen
  • gereja-gereja dan masjid-masjid
  • anak sekolah
  • mahasiswa-mahasiswi
  • Antifa (wiki:de,en), kelompok anti fasisme. Biasanya berpakaian hitam dan berkacamata hitam, dan selalu siap berkonfrontasi secara fisik dengan lawannya. Bisa disebut “Schwarzblock” (blok hitam)
  • dan lain-lain

Seperti demo lainnya, semua selalu diawali dengan damai. Ada truk demo dengan musik damai. Ada orang yang membawa gitar dan kendang, lalu bernyanyi, menari, dan bermusik. “In the jungle, the mighty jungle, where the lions sleep tonight…”

demo-damai
Demo damai sambil bernyanyi, oleh Rafi & Ade

Selain itu, aku bertemu Gadis Beruang Kecil, di demonstrasi tersebut. Wanita ini, peneliti di kantor Mr. S. dan Mr. R. Seperti biasa, setiap bertemu, wanita ini selalu memelukku. Inikah rasanya pelukan seekor beruang yang kecil?

Little-Bear
Aku dan Gadis Beruang Kecil di suatu pesta, oleh Felix Oey

Sampailah 4000 orang kelompok penentang Neo-Nazi di beberapa perempatan daerah Neustadt. Aku bersama Mrs. M, Mr. S, dan Mr. R berhenti dekat perempatan Pappelstraße-Langemarckstraße. Kami bertemu kakak-beradik yang membuat beberapa foto di posting ini. Keduanya terpaksa ikut demo karena lupa bawa KTP untuk bisa masuk ke apartemen mereka di daerah Neustadt yang sudah dibarikade polisi. Kami duduk sejenak menanti kedatangan pawai Neo-Nazi.

demonstran-bayaran
Makan-gak-makan asal ngumpul, oleh Rafi & Ade
***

Sementara itu, 3000 polisi mempersiapkan keamanan pawai NeoNazi supaya tidak bentrok dengan demonstran anti Neo-Nazi. Ada polisi dengan kamera. Ada “Sondereinheit” (special force) anti huru-hara yang biasanya berukuran besar, menggunakan body-protector bernama “Schildkröte” (kura-kura) serta membawa pentungan. Walau dengan pakaian tebal seperti itu, mereka bisa berlari cepat. Aku sudah membuktikannya ketika berlari bersama mereka, “kejarlah daku, kau kutangkap” kata Lupus.

polisi-berbaris
Polisi bersiap-siap, oleh Hartoyo

Polisi juga sudah mempersiapkan barikade. Lengkap dengan panser dan kendaraan mandi gratis.

Panzer
Panser Jerman, oleh Hartoyo

OK, mandi gratis dengan water canon.

water-canon
Water canon, oleh Hartoyo
***

Kira-kira gambaran perempatan tempat kami berhenti. Juga dekat dengan rumahku sekarang, seperti ini.

pappelstrasse-bremen
Perempatan Pappelstraße-Langemarckstraße, oleh Hartoyo

Awalnya polisi santai dengan barikade 2 lapis. Lalu datanglah demonstran. Aku masih bernyanyi bersama demonstran damai.

barikade-polisi
Barikade Polisi Dua Lapis, oleh Hartoyo

Demonstran memenuhi jalan Pappelstraße. Polisi menambah personel dan menambah 1 lapis lagi untuk menahan demonstran.

demonstran-pappelstrasse
Demonstran di Pappelstraße, oleh Hartoyo
***

Datanglah pawai Neo-Nazi. Mereka membawa bendera, poster, dan truk. Seperti biasa, mereka membawa jargon-jargon anti imigran, anti orang asing (Ausländer), anti Islam, pekerjaan untuk orang Jerman. “Ausländer raus!” (orang asing keluar Jerman).

Pawai-Neo-Nazi
Neo-Nazi melewati perempatan Pappelstraße-Langemarckstraße, oleh Hartoyo

Truk sewaan dilengkapi speaker mengeluarkan propaganda fasis.

truk-Neo-Nazi
Truk Neo-Nazi dengan speaker, oleh Hartoyo

Kelompok anti Neo-Nazi pun berdiri dan meneriakkan yel-yel anti Neo-Nazi dan fasisme. “Nasionalismus raus aus dem Kopf” (Buang ide nasionalisme dari kepalamu). “Alerta, alerta, antifascista!”.

Oh, ya, seperti yang dikatakan oleh Bung Karno, nasionalisme negara terjajah, berbeda dengan nasionalisme Eropa. Nasionalisme Eropa berbentuk fasisme dan berhubungan dengan penindasan bangsa lain. Nasionalisme Indonesia, sebagai negara terjajah, menurut Bung Karno, mengutip Otto Bauer (wiki:en,de), berasal dari perasaan senasib-sepenanggungan kaum tertindas untuk melawan penindasnya, sehingga pada akhirnya bisa berdiri sebagai bangsa yang sejajar.

Jadi aku bersama kelompok anti fasis meneriakkan yel-yel “Nasionalismus raus aus dem Kopf”. Orang Jerman memiliki trauma yang dalam akan nasionalisme model Nazi, beserta trauma Perang Dunia II yang mengikuti fasisme ini.

alerta-antifa
Kelompok anti fasisme meneriakkan yel-yel menentang pawai Neo-Nazi, oleh Rafi & Ade
***

Pawai Neo-Nazi pun berlalu dari perempatan itu. Kondisi mulai memanas. Massa Antifa mulai berlari mencari celah menembus barikade. Sebagian mencari perempatan lain. Atau taman dekat situ. Sebagian berusaha melakukan dorong-dorongan dengan polisi. Awalnya aku membentuk barikade bersama kawan untuk menekan polisi. Akan tetapi, barikade lepas setelah polisi mengarahkan pepper-spray pada barikade terdepan.

nazi-vorbei
Neo-Nazi berlalu, oleh Hartoyo

Polisi anti huru-hara mulai bergerak cepat. Apalagi ketika barikade polisi lapis ketiga mulai jebol di beberapa titik.

anti-huru-hara
Polisi menambah penjagaan pawai, oleh Hartoyo
***

Setelah berlari-lari menembus celah-celah barikade lapis ketiga, sampailah aku dan kawan-kawan di perempatan lain, Langemarckstraße-Westerstraße.

Gambar Westerstraße ketika demonstran sampai di sana, oleh Rafi & Ade

Di sana, mobil mandi gratis sudah mengarah kepada demonstran. Mereka siap “membabtis” orang-orang dengan semburan air kecepatan tinggi.

water-canon
Mobil mandi gratis dengan water canon, oleh Rafi & Ade

Kondisi memanas ketika demonstran blok hitam berusaha melakukan konfrontasi fisik dengan polisi. Ada suara tembakan pertama. Suaranya kecil. Demonstran blok hitam mulai mencabuti rambu-rambu lalu lintas. Tembakan kedua, juga suaranya kecil. Ada molotov dan batu yang terlempar. Lalu ada tembakan ketiga yang suaranya lebih besar.

Demonstran hitam dan yang damai tiba-tiba berlari. Ternyata polisi anti huru hara mengejar. Akupun berlari bersama kawan-kawan. Polisi ini “Sondereinheit” (satuan khusus) berbadan besar, berlari cepat, dan bawa pentungan. Aku berlari paling belakang setelah mengumpulkan kawan-kawan semua dalam satu rombongan. Salah satu Dharmaku sebagai  seorang demonstran adalah melindungi anggota grup jangan sampai tertangkap. Hal ini dilatih dalam Masa Bina Cinta di kampus Gajah Tapa di Bandung dulu.

Kami berlari-lari menyusuri Sungai Weser yang indah. Melewati bawah jembatan, tapi tidak sambil nyanyi lagu “Under the Bridge”. Sampailah kami dekat rel kereta api. Blok hitam masih membuat ulah. Mereka melempari polisi dan mobil polisi dengan botol dan batu.

Aku bingung mengapa mereka memblokir rel kereta api dengan palet kayu dan qubitainer dari pabrik dekat rel. Oh, ya, pabrik tersebut adalah pabrik pengepakan madu, tempatku dulu bekerja. Bukankah tujuan demo adalah menentang Neo-Nazi? Bukan untuk melepas stress dengan menentang otoritas. Demonstran damai sepertiku jadi harus ikut lari-lari. Aku juga bingung kenapa aku harus lari. Akupun hanya berbaring telentang di atas rumput hijau dekat situ, menikmati hangatnya mentari dan sejuknya udara.

Aku pun kembali berjumpa Gadis Beruang Kecil setelah sempat terpisah dalam kacaunya demonstrasi hari itu. Seperti biasa, ia mengajakku olahraga bareng. Akupun menyambut positif ajakannya. Kali ini, bukan olahraga lari-lari bersama polisi.

Demonstran damai pun duduk bersama menikmati mentari sambil melihat demonstran blok hitam berulah. Memblokir rel kereta api dengan ban terbakar, palet kayu, qubitainer. Sial sekali mereka yang naik kereta Oldenburg-Delmenhorst-Bremen. Jalur kereta terputus. Polisi pun menaklukan demonstran blok hitam.

Akhirnya Mrs. M berkata “Demo telah usai. Mari kita masak ayam bumbu bali!”. Kami menyambut gembira ajakannya. Lalu kami pergi belanja dan pergi ke rumahnya untuk masak dan makan bareng. Makan gak makan asal ngumpul. Energi yang habis dipakai berlari terisi ulang oleh lemak bumbu bali dan karbohidrat nasi. Tentu saja sambil membahas acara demonstrasi sebelumnya.

Bagaimanakah kondisi Westerstraße setelah aku berlari dari sana?
Ternyata ulah blok hitam begitu parah. Mereka membakar banyak barang, juga mencabuti rambu-rambu lalu  lintas.

bakar
Bakar-bakaran, ulah Blok Hitam (Schwarzblock), oleh Rafi & Ade

Oh, ya, di tempat lain, ada juga mobil Neo-Nazi yang dipukuli hingga penyok dan pecah. Serta beberapa Neo-Nazi sempat dikeroyok demonstran. Tidak ada yang mati.

***

Angka-angka dalam demo 30 April 2011 ini adalah sebagai berikut

  • 188 Neo-Nazis berpawai
  • 4000 orang dari berbagai organisasi dan paguyuban menentang Neo-Nazi
  • 3000 polisi, yang bukan hanya dari Bremen
  • 1,2 juta EUR biaya menjaga pawai Neo-Nazi ini
***

Dua tahun berlalu. Aku tinggal di daerah Neustadt, tempat aku pernah berpartisipasi dalam demo tersebut. Aku belum bertemu Gadis Beruang Kecil. Hanya pesan teks saja yang menghubungkan kami berdua. Siapa tahu kami berenang bersama di kolam renang di daerah ini.

Bremen, 1 Mei 2013

iscab.saptocondro

via iscab di Bremen http://iscabremen.blogspot.com/2013/05/30-april-2011.html