Skip navigation

Monthly Archives: June 2013

Dulu aku teringat Sabda Mbah Gossip ketika meninggalkan Bremen.

Ing ngarso Signal Processing. Ing madyo Matematiko. Tut Wuri Control Engineering.

Kemudian aku bertemu Mbah Gossip lagi ketika mendendangkan lagu untuk kuntilanak di Bayern.

Ing ngarso Sepulturo. Ing madyo Metallico. Tut Wuri Obituary.

Sekembalinya ke Bremen, Mbah Gossip pun berkicau.

Kicauan Mbah Gossip ini menghiburku setelah seluruh sel otak dalam kepalaku terbakar menghadapi pertanyaan wawancara untuk penelitian pengolahan sinyal otak dan suara. Entah hasilnya seperti apa. Kutunggu jandamu, eh, kutunggu hasilnya seminggu kemudian.

Bremen, 30 Juni 2013

iscab.saptocondro

via iscablog http://iscab.blogspot.com/2013/06/ngarso-madyo-wuri-akhir-juni-2013.html

Advertisements

Hari ini, kutonton video mengenai jurusanku, yaitu Sastra Listrik di Universitas Gajah Tapa di Bandung, biasa disebut EE sambil ngeden. Ketika aku kuliah dulu, jurusan ini masuk Fakultas Sastra Industri. Kini dia menjadi Sekolah Sastra Listrik dan Gossip, bisa disingkat STEI. Dulu jurusan ini berpusat Labtek VIII, sekarang sudah ganti nama jadi Labtek Lula Bakrie (Lumpur Lapindo). Di lantai duanya, terdapat dinding pahala dan dosa.

Video profil STEI bisa dilihat di Youtube.

Ee, Elektro ITB, derap langkahmu menggema
Ee, Elektro ITB, desah nafasmu menggetarkan udara
Ee. Elektro ITB, bakti karyamu jadi dambaan bangsa
Berjayalah s’lalu di mata dunia
Elektro ITB.

OK, Champs!

Bremen, 28 Juni 2013

iscab.saptocondro

via iscab S. Condro A.B. (iscab, EL98) & Universitas Gajah Tapa http://iscabitb.blogspot.com/2013/06/sastra-listrik.html

Pada suatu akhir pekan, di suatu pertemuan bersama, seorang kenalan mengobrol denganku. Sebut saja, namanya Tanya. Oh, ya, namaku adalah Jawab, karena iscab sebetulnya tidak suka menjawab.

Tanya : “Kamu masih bujangan, yah?”
Jawab : “Iya, kok tahu?”
Tanya : “Itu, baju yang lu pakai kaga disetrika.”
Jawab : “Oh!”

***

Kemudian obrolan berlanjut mengenai menyetrika dengan prinsip 5W+1H (what, where, when, who, why, how). Karena aku tidak konsentrasi dalam obrolan, aku pun lebih banyak memikirkan Iron Man menyetrika kolor merah Superman. Akibat salah menyetrika, Man of Steel tidak memakai kolor merahnya lagi. Ini seperti pepatah Bung Karno, “Amerika kita setrika, Inggris kita linggis.” Akupun berpikir apakah Captain America suka menyetrika.

Ternyata hidup melajang di Bremen membuatku malas menyetrika. Aku hanya menyetrika untuk keperluan wawancara kerja, pertemuan resmi, dan kondangan. Akupun bertanya pada diriku sendiri, apakah kemampuanku menyetrika berhubungan dengan proses pencarian wanita idaman.

Bügeln für den Weltfrieden!

Bremen, 25 Juni 2013

iscab.saptocondro

via iscab di Bremen Bergembira http://iscabremen.blogspot.com/2013/06/bujangan-bremen.html

Berhubung aku kurang gaul, kali ini aku belajar singkatan-singkatan penting. Dengan belajar hal ini, kuharapkan aku bisa lebih baik dalam berkomunikasi, baik dalam obrolan ringan hingga dunia perjodohan. Singkatan-singkatan ini kupelajari setelah membaca males banget dot com.

***

saptocondro: “Apa itu PHP?”
iscab: “Pemberi Harapan Palsu”
saptocondro: “Oh, jadi bukan Personal HomePage atau PHP: Hypertext Preprocesor, yah?”
iscab: “Bukan!”
saptocondro: “Oh, pantas aja, gua bingung kenapa cewek suka galau gara-gara bahasa pemrograman PHP. Gua kira para PHP programmer dan webdesigner bikin cewek jadi galau. Untung gua cuma tahu MATLAB, C++ dan Python doang”

***

saptocondro: “Apa itu PHO?”
iscab: “Perusak Hubungan Orang.”
saptocondro: “Oh, jadi bukan PHO yang nama masakan Vietnam, yah?”
iscab: “Bukan!”
saptocondro: “Oh, pantas aja, gua bingung kenapa mie kuah ala Vietnam dibenci sama orang korban tikungan. Padahal Pho Bo kan enak, bo!”

***

saptocondro: “Apa itu PK?”
iscab: “Penjahat Kelamin.”
saptocondro: “Wah, aku kira PK itu nama partai politik.”
iscab: “Bukan!”
saptocondro: “Nah, kalau PKS itu singkatan apaan?”
iscab: “…”

***

Pelajaran singkatan gaul belum usai. Aku masih perlu banyak belajar demi pergaulan. Tunggulah hasil belajarku berikutnya.

Bremen, 17 Juni 2013

iscab.saptocondro

via iscablog http://iscab.blogspot.com/2013/06/belajar-singkatan-2013.html

Tiga tahun lalu, di miliscab, aku pernah menulis tulisan di bawah ini.

***

Padamkan mataku, aku tetap bisa melihatmu,
Sumbatlah telingaku, aku tetap bisamendengarmu,
dan tanpa kaki, aku masih bisa menuju dirimu,
dan tanpa mulut, aku masih dapat memohon padamu.
Putuskan tanganku, aku tetap memegangmu
dengan jantungku bagaikan dengan tanganku,
Remaslah jantungku, dan otakku akan tetap berdetak,
dan lemparkan bara dalam otakku
maka aku akan tetap membawamu dengan darahku.

Puisi di atas adalah karya Rainer Maria Rilke (1875-1926).
Puisi ini salah satu hal yang menginspirasi diriku untuk pergi merantau ke Jerman.
Dalam hidup, cinta, dan studi selalu ada banyak tantangan. Terimalah tantangan sebagaimana adanya.
Melarikan diri dari tantangan sudah kulakukan berkali-kali. Begitu juga menghadapinya dengan tegar.
Jangan terlalu kecewa ketika semua rencana berantakan. Itu bagian hidup yang harus dilewati.

Jangan terlalu kecewa ketika rencana studi 2 tahun berantakan karena tiba-tiba di tengah jalan lentera jiwamu padam.
Entah karena kamu lupa bawa korek atau karena angin dingin bertiup memadamkan lenteramu.

Jangan terlalu kecewa ketika bangun di pagi hari di hari ulang tahun menerima surat pemecatan dan di sore hari di hari yang sama, kekasihmu pergi bersama yang lain dan memutuskan tak dapat bersamamu kembali.

Jangan terlalu kecewa ketika kau tak dapat masuk ke dalam taman hati orang-orang yang kaucintai. Mungkin memang belum saatnya opening hour, hahaha.

Jangan terlalu kecewa ketika kau pindah jurusan karena mereka tak bisa meluluskanmu. Mungkin jurusan baru lebih cocok untuk membuat bunga dalam taman jiwamu mekar berseri. Daripada jurusan lama yang penuh semak belukar menghimpit bunga tersebut. Kadang-kadang dibutuhkan keberanian lebih besar untuk mengakui kegagalanmu daripada perjuanganmu melawan kegagalan.

Jangan terlalu kecewa ketika kau kesepian. Percayalah bahwa banyak orang kesepian di sini. Tapi mereka terlalu malu mengakuinya. Mungkin kebersamaan kita tak cukup menyembuhkan rasa sepimu, tapi percayalah bahwa kesepian tidak bisa disembuhkan sendirian. Kamu juga patut berterimakasih kepada mereka yang memberimu kesibukan beserta deadline-deadline, karena itu bisa membuatmu lupa sejenak akan kesepian.

Jangan terlalu kecewa kalau aku dan teman-temanmu tidak ada untukmu ketika kamu membutuhkan. Kau tahu, kami juga punya kesibukan masing-masing. Percayalah bahwa kamu selalu memiliki tempat di hatiku dan sedikit waktu di jadwalku.

Jangan terlalu kecewa ketika kau buka matamu dan tak kaulihat masa depan. Tunggu sejenak dengan sabar, percayalah bahwa kamu bisa menemukan korek api di kantong hatimu untuk menyalakan lentera jiwamu. Jangan takut akan kegelapan lalu panik mengikuti lentera orang lain. Apa yang cocok buat mereka belum tentu cocok buat dirimu.

***

Cukup sudah basa-basinya. Kembali ke puisi Rilke.
Terjemahan tidak pernah seindah puisi asli.
Puisi asli ada di bawah ini, judulnya “Lösch mir die Augen aus”.

Lösch mir die Augen aus: ich kann dich sehn,
wirf mir die Ohren zu: ich kann dich hören,
und ohne Füße kann ich zu dir gehn,
und ohne Mund noch kann ich dich beschwören.
Brich mir die Arme ab, ich fasse dich
mit meinem Herzen wie mit einer Hand,
halt mir das Herz zu, und mein Hirn wird schlagen,
und wirfst du in mein Hirn den Brand,
so werd ich dich auf meinem Blute tragen.

Selamat Hari Minggu!
Walau kelabu, senandung rindu tetap membawaku ke langit biru.

Condro

***

Tulisan di atas ditulis di hari Minggu, 14 Maret 2010, ketika cuaca Bremen masih mendung. Saat itu, aku sedang mengandung anak rohani, yang kuberi nama Thesiscab Masterindu Sinyalia. Segenap kegalauan kuterima dengan keikhlasan dan telah kupersembahkan kepada anak rohaniku yang tampangnya kaga cantik maupun ganteng, tapi lumayanlah ia telah lahir.

Tulisan tersebut juga menginspirasiku 9 hari yang lalu untuk membuat posting tentang Rilke di blog berbahasa Jerman milikku: Lösch mir die Augen aus. Setelah lebih dari tiga tahun berlalu, kubaca tulisanku lagi. Aku teringat bahwa perjuangan masih panjang. Akupun ingin hamil lagi. Kali ini aku ingin memiliki anak rohani yang lain. Semoga kali ini, ia ganteng atau cantik.

Oh, ya, hari ini hari Minggu dengan langit biru terang dan sedikit berawan. Tidak kelabu.
Walau berhenti sejenak di persimpangan, aku tahu Dharmaku akan membawaku ke mana.

Bremen, 9 Juni 2013

iscab.saptocondro

via iscablog http://iscab.blogspot.com/2013/06/padamkan-mataku.html

Kali ini, aku berada di persimpangan lagi. Aku masih berhenti sejenak untuk memikirkan langkah selanjutnya. Ke mana aku akan melangkah? Melangkah seperti apa? Semuanya betul-betul belum kuketahui.

Aku teringat dua tahun lalu ketika berada di persimpangan, aku diliputi suatu kecemasan. Lalu kupilih jalan yang tidak terlalu cocok dengan jiwaku. Namun perjalanan ini melatihku untuk melawan naga dan iblis yang menghadangku. Perjalanan ini juga membuatku mengenal banyak orang: mana yang tukang copet, mana yang memberiku air kehidupan untuk melepas dahagaku, dan mana yang membekaliku dengan jurus-jurus baru.

Kini akupun kembali berada di persimpangan yang lain. Ada jalan kembali ke akarku. Ada jalan yang sama untuk meneruskan perjalanan sebelumnya. Ada jalan yang gersang namun kuyakin di ujung sana aku akan menemukan cintaku. Mana yang akan kutempuh? Aku harus memutuskan dalam waktu terbatas, sebelum preman menutup semua jalan dan menyisakan satu, yaitu kembali ke akar.

Akupun berhenti memandang peta. Aku berpikir keras dan kuamati baik-baik peta pemberian Simon Kemp. Kuharapkan jalan yang kupilih berada pada trajektori yang tepat, dan stabil menurut Lyapunov, menuju kemenangan. Semoga bisa kulaksanakan pesan Saykoji, “Hari Kemenangan akan segera tiba!”.

PayGoodLove
I want to win.

Bremen, 5 Juni 2013

iscab.saptocondro

via iscab di Bremen Berangin http://iscabremen.blogspot.com/2013/06/persimpangan-lagi.html

Lösch mir die Augen aus

Lösch mir die Augen aus: ich kann dich sehn,
wirf mir die Ohren zu: ich kann dich hören,
und ohne Füße kann ich zu dir gehn,
und ohne Mund noch kann ich dich beschwören.
Brich mir die Arme ab, ich fasse dich
mit meinem Herzen wie mit einer Hand,
halt mir das Herz zu, und mein Hirn wird schlagen,
und wirfst du in mein Hirn den Brand,
so werd ich dich auf meinem Blute tragen.

Rainer Maria Rilke, Sommer/Herbst 1899, ?

***

Put out my eyes, and I can see you still

Put out my eyes, and I can see you still,
Slam my ears too, and I can hear you yet;
And without any feet, I can go to you;
And tongueless, I can conjure you at will.
Break off my arms, I shall take hold of you
And grasp you with my heart as with a hand;
Arrest my heart, my brain will beat as true;
And if you set this brain of mine afire,
Then on my blood-stream I yet will carry you.

Rainer Maria Rilke (1875-1926), Bohemian–Austrian poet, in: “The Book of Hours”
Translation from German: Babette Deutsch (1895-1982), American poet, critic, translator, and novelist.

***

Padamkan Mataku

Padamkan mataku, aku tetap bisa melihatmu,
Sumbatlah telingaku, aku tetap bisa mendengarmu,
dan tanpa kaki, aku masih bisa menuju dirimu,
dan tanpa mulut, aku masih dapat memohon padamu.
Putuskan tanganku, aku tetap memegangmu
dengan jantungku bagaikan dengan tanganku,
Remaslah jantungku, dan otakku akan tetap berdetak,
dan lemparkan bara dalam otakku
maka aku akan tetap membawamu dengan darahku.

terjemahan Sapto Condro, di miliscab.
terinspirasi dari buku “Rilke: Padamkan Mataku”, kumpulan puisi Rilke dan terjemahannya, oleh Krista Saloh-Forster, Berthold Damshauser & Agus R. Sarjono
Di buku tersebut, Agus Sarjono menerjemahkan terlalu “kata per kata”, sedangkan aku menerjemahkan dengan pengaruh terjemahan puisi Kahlil Gibran oleh Bentara.

Terjemahan yang menurutku lebih kaya akan permainan kata adalah terjemahan Ucu Agustin, Padamkan Mataku. Sayang sekali, penggunaan tanda baca dan permainan inversinya kurang mantap.

Padamkan Mataku

Meski kau padamkan bara di mataku aku masih bisa melihatmu,
Sumbatlah rapat telingaku aku masih mendengarmu,
Tanpa kaki aku masih sanggup mendatangimu,
Mulut tiada aku masih dapat memanggilmu,
Potonglah lenganku aku masih sangup memegangmu,
Hentikan jantungku maka otakku akan berdetak,
Dan jika kau sulut otak itu,
Kau bakal kupanggul dalam darahku!

*rainer maria rilke*
musim panas/musim gugur 1899

***

Ich liebe diese Poesie. Sie gibt mir wieder die Kraft in meinem Leben, um zu kämpfen. Ich erwerbe die Beharrlichkeit von dieser Poesie, jedes Mal ich sie lese.

Bremen, 31 Mei 2013

iscab.saptocondro

via Sapto Condro auf Deutsch http://saptocondeutsch.blogspot.com/2013/05/losch-mir-die-augen-aus-rilke.html