Skip navigation

Tiga tahun lalu, di miliscab, aku pernah menulis tulisan di bawah ini.

***

Padamkan mataku, aku tetap bisa melihatmu,
Sumbatlah telingaku, aku tetap bisamendengarmu,
dan tanpa kaki, aku masih bisa menuju dirimu,
dan tanpa mulut, aku masih dapat memohon padamu.
Putuskan tanganku, aku tetap memegangmu
dengan jantungku bagaikan dengan tanganku,
Remaslah jantungku, dan otakku akan tetap berdetak,
dan lemparkan bara dalam otakku
maka aku akan tetap membawamu dengan darahku.

Puisi di atas adalah karya Rainer Maria Rilke (1875-1926).
Puisi ini salah satu hal yang menginspirasi diriku untuk pergi merantau ke Jerman.
Dalam hidup, cinta, dan studi selalu ada banyak tantangan. Terimalah tantangan sebagaimana adanya.
Melarikan diri dari tantangan sudah kulakukan berkali-kali. Begitu juga menghadapinya dengan tegar.
Jangan terlalu kecewa ketika semua rencana berantakan. Itu bagian hidup yang harus dilewati.

Jangan terlalu kecewa ketika rencana studi 2 tahun berantakan karena tiba-tiba di tengah jalan lentera jiwamu padam.
Entah karena kamu lupa bawa korek atau karena angin dingin bertiup memadamkan lenteramu.

Jangan terlalu kecewa ketika bangun di pagi hari di hari ulang tahun menerima surat pemecatan dan di sore hari di hari yang sama, kekasihmu pergi bersama yang lain dan memutuskan tak dapat bersamamu kembali.

Jangan terlalu kecewa ketika kau tak dapat masuk ke dalam taman hati orang-orang yang kaucintai. Mungkin memang belum saatnya opening hour, hahaha.

Jangan terlalu kecewa ketika kau pindah jurusan karena mereka tak bisa meluluskanmu. Mungkin jurusan baru lebih cocok untuk membuat bunga dalam taman jiwamu mekar berseri. Daripada jurusan lama yang penuh semak belukar menghimpit bunga tersebut. Kadang-kadang dibutuhkan keberanian lebih besar untuk mengakui kegagalanmu daripada perjuanganmu melawan kegagalan.

Jangan terlalu kecewa ketika kau kesepian. Percayalah bahwa banyak orang kesepian di sini. Tapi mereka terlalu malu mengakuinya. Mungkin kebersamaan kita tak cukup menyembuhkan rasa sepimu, tapi percayalah bahwa kesepian tidak bisa disembuhkan sendirian. Kamu juga patut berterimakasih kepada mereka yang memberimu kesibukan beserta deadline-deadline, karena itu bisa membuatmu lupa sejenak akan kesepian.

Jangan terlalu kecewa kalau aku dan teman-temanmu tidak ada untukmu ketika kamu membutuhkan. Kau tahu, kami juga punya kesibukan masing-masing. Percayalah bahwa kamu selalu memiliki tempat di hatiku dan sedikit waktu di jadwalku.

Jangan terlalu kecewa ketika kau buka matamu dan tak kaulihat masa depan. Tunggu sejenak dengan sabar, percayalah bahwa kamu bisa menemukan korek api di kantong hatimu untuk menyalakan lentera jiwamu. Jangan takut akan kegelapan lalu panik mengikuti lentera orang lain. Apa yang cocok buat mereka belum tentu cocok buat dirimu.

***

Cukup sudah basa-basinya. Kembali ke puisi Rilke.
Terjemahan tidak pernah seindah puisi asli.
Puisi asli ada di bawah ini, judulnya “Lösch mir die Augen aus”.

Lösch mir die Augen aus: ich kann dich sehn,
wirf mir die Ohren zu: ich kann dich hören,
und ohne Füße kann ich zu dir gehn,
und ohne Mund noch kann ich dich beschwören.
Brich mir die Arme ab, ich fasse dich
mit meinem Herzen wie mit einer Hand,
halt mir das Herz zu, und mein Hirn wird schlagen,
und wirfst du in mein Hirn den Brand,
so werd ich dich auf meinem Blute tragen.

Selamat Hari Minggu!
Walau kelabu, senandung rindu tetap membawaku ke langit biru.

Condro

***

Tulisan di atas ditulis di hari Minggu, 14 Maret 2010, ketika cuaca Bremen masih mendung. Saat itu, aku sedang mengandung anak rohani, yang kuberi nama Thesiscab Masterindu Sinyalia. Segenap kegalauan kuterima dengan keikhlasan dan telah kupersembahkan kepada anak rohaniku yang tampangnya kaga cantik maupun ganteng, tapi lumayanlah ia telah lahir.

Tulisan tersebut juga menginspirasiku 9 hari yang lalu untuk membuat posting tentang Rilke di blog berbahasa Jerman milikku: Lösch mir die Augen aus. Setelah lebih dari tiga tahun berlalu, kubaca tulisanku lagi. Aku teringat bahwa perjuangan masih panjang. Akupun ingin hamil lagi. Kali ini aku ingin memiliki anak rohani yang lain. Semoga kali ini, ia ganteng atau cantik.

Oh, ya, hari ini hari Minggu dengan langit biru terang dan sedikit berawan. Tidak kelabu.
Walau berhenti sejenak di persimpangan, aku tahu Dharmaku akan membawaku ke mana.

Bremen, 9 Juni 2013

iscab.saptocondro

via iscablog http://iscab.blogspot.com/2013/06/padamkan-mataku.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: