Skip navigation

Monthly Archives: July 2013

Empat tahun yang lalu, aku dihadapkan pada suatu kenyataan yang membuatku merenungkan tujuan hidupku. Aku merenungkan mengenai untuk apa aku hidup, di mana rumahku, menjadi apa aku ini, ke mana aku melangkah, dan segenap pertanyaan tentang makna hidup dan jati diri. Tahun ini, aku berada di persimpangan lagi karena dihadapkan kenyataan lain yang membawaku kepada perenungan yang sama.

Tahun lalu, aku pergi ke Indonesia, mudik menemui ayah dan bunda. Aku merasa bahwa aku harus kembali ke akar, untuk menemukan jati diriku, dari mana aku berasal. Aku ingin mendapatkan suatu jawaban masihkah Bandung rumahku. Banyak sekali perubahan selama 6 atau 7 tahun meninggalkan Bandung. Rumahku berbeda (bangunan dan suasana). Kawan-kawanku memiliki dinamika sosial yang berbeda. Di Bandung, aku pun tak menemukan jawaban, di mana rumahku. Yang tersisa hanyalah suatu kerinduan menemui keluargaku dan teman-temanku, tempatku bertumbuh.

Tahun ini, aku kembali ke Bremen. Kota ini seperti rumahku yang lain, setelah kutinggalkan sejenak. Pada mulanya aku gembira bisa bertemu kawan-kawan lama di Bremen. Bahkan beberapa orang yang telah meninggalkan kota ini, kembali lagi untuk melanjutkan studi doktoral. Sesaat aku merasa bahwa aku memiliki suatu takdir di kota ini. Walau dinamika sosialnya berbeda dengan orang-orang baru, untuk sesaat aku merasa Bremen bisa menjadi rumahku.

Akan tetapi, pada suatu hari di musim semi, aku membuka apartemenku di Bremen. Ada perasaan aneh melingkupi diriku. Ada yang salah dengan rumahku. Suatu firasat mengatakan bahwa kota ini bukan rumahku. Aku merasakan bahwa aku harus bergerak dan berkelana. Di kantor di Bremen, aku pun merasakan ada sesuatu yang salah. Sesuatu yang mengatakan bahwa pekerjaan di sana bukan untukku dan aku bukan menjadi diriku. Tak berapa lama kemudian, aku dinyatakan pada kenyataan yang mengonfirmasikan intuisiku.

Kini aku dihadapkan suatu pertanyaan eksistensialis yang sama dengan empat tahun lalu. Apakah aku berada di jalan hidup yang tepat untukku? Di saat itu, aku kehilangan sebagian jati diriku, yang mendefinisikan tujuan hidupku dalam karir dan cinta. Kini aku pun merasakan kehilangan yang sama. Aku pun harus kembali menata hidupku dan menemukan “meine Bestimmung” (apa yah terjemahan Bahasa Indonesianya?).

Aku mulai mempertanyakan siapakah kawanku, apakah aku memiliki sahabat, apa makna jejaring sosial bagi diriku, apa makna diriku bagi kawan, keluarga dan jejaring sosial yang kumiliki. Aku melihat apa saja yang dikerjakan kawan-kawan di Indonesia, di Jerman, terutama Bremen, dll. Apa pilihan karir mereka? Bagaimana mereka berkeluarga di tempat masing-masing? Kemudian kubandingkan dengan diriku, dengan mereka. Bagaimana jika aku hidup, bekerja dan bekeluarga, di tempat mereka? Jakarta? Bandung? Bremen? Singapura? Australia? Belanda? Swiss? USA?

Aku pun bertanya kepada kawan-kawan yang dekat di hatiku. Bagaimana awalnya mereka memilih pilihan karir mereka, baik industri maupun akademesi. Bagaimana pengalaman memilih bidang studi dan topik penelitian. Kini aku mengerti apa makna jejaring sosial yang kumiliki. Ternyata mereka memberiku cermin. Aku belajar mengenai apa saja yang bisa aku kerjakan, apa saja pilihan karir yang bisa kupilih, dll. Aku merasa mendapatkan secercah cahaya inspirasi, bahwa aku bisa bekerja di mana saja namun aku harus siap berkelana lagi.

Yah, aku harus bergerak. Aku harus mengembara. Rumahku adalah planet bumi. Aku tidak boleh terikat pada satu tempat dan satu jejaring sosial dengan ikatan geografis. Aku belum tahu ke mana, namun aku meraih segenap kesempatan untuk menemukan makna hidupku.

Empat tahun telah berlalu. Saat itu, adalah satu hari di mana kekuatiran lenyap setelah setahun sebelumnya aku hidup terombang-ambing. Hari itu jiwaku seperti dibersihkan dari segenap emosi negatif. Perasaanku seperti suatu cangkir berisi air kotor, kemudian dalam sehari isi cangkir tersebut dibuang dan dikosongkan. Cangkir kosong tersebut siap diisi dengan sesuatu yang baru. Perasaanku kini mirip empat tahun lalu, aku merasakan kehampaan yang sama bagai cangkir kosong. Aku siap menyambut suatu pembaharuan dalam hidupku.

Hari ini, aku memperingati kehampaan ini. Aku tak tahu akan ke mana. Namun aku merasa dalam waktu dekat akan ada suatu perubahan besar dalam hidupku yang memberi jawaban akan pertanyaan makna hidupku. Diriku diliputi perasaan penuh rasa syukur atas segenap pengalaman hidup dan jejaring sosial di berbagai kota di Indonesia, Jerman, dll. Aku yakin pengalaman dan kawan baru akan kudapatkan dalam langkah selanjutnya dalam perjalanan hidupku. Jiwaku merasa dipenuhi dorongan untuk bergerak menyambut setiap kesempatan bagaikan menghadapi suatu hadiah kejutan (surprise) dari Semesta. Surprise me, oh, Universe!

Empat tahun berlalu, dalam suatu kehampaan jiwa dan kepenuhan syukur, aku pun bertanya akan ke mana. Lagu Diana Ross “Do you know where are you going to?” pun menemaniku dalam perenungan ini.

Bremen, 15 Juli 2013

iscab.saptocondro

via iscablog, euy http://iscab.blogspot.com/2013/07/empat-tahun-telah-berlalu.html

Kini kusadari bahwa sekolahku kini menjadi sekolah untuk Alay. Mungkin di dalamnya, para siswa akan belajar Bahasa 4L4y serta tarian bilas-bilas-jemur-jemur Alay. Foto di bawah ini, selain menggambarkan kapitalisme dan komodifikasi yang merambah sekolahku, juga menggambarkan ke-4L4y-an.

Sekolah Alay di Bandung, foto dari Anjar

Aku bersedih bukan hanya karena sekolahku menjadi tempat iklan penerbit buku. Aku bermuram hati bukan hanya karena ada poster dan spanduk lain yang berisi iklan lembaga kursus, perguruan tinggi, dll. Aku merasa masam bukan hanya karena pendidikan telah menjadi komoditas. Aku merasa geram bukan hanya karena sekolah menjadi lahan penumpukan modal yayasan yang menaunginya dan para penerbit buku. Melainkan juga karena sekolahku menjadi Alay.

Bremen, 12 Juli 2013

iscab.saptocondro

via Condro, budak Aloy98 nu TOP tea http://aloyiscabtop.blogspot.com/2013/07/sekolahku-alay-sekali.html

Hari ini, aku melihat topik apa saja yang dibaca orang dari blog iscab milikku. Gambar berikut menjelaskan kategori dan tag apa saja yang menarik dari blogku.

Topik populer, 9 Juli 2013

Ternyata orang lebih berminat membaca tulisanku yang serius. Aku memang tidak berbakat untuk melucu. Tulisanku yang absurd tidak menarik untuk dibaca. Akan tetapi banyak yang mencari kuntilanak merah di Bayern dengan bernyanyi lagu lingsir wengi. Pembaca sedang tertarik tulisanku tentang wisuda di ITB, mungkin karena akhir minggu ini ada acara itu di sana. Topik tentang cinta termasuk hal yang dibaca orang dari blogku. Aku bingung kenapa tulisanku tentang Bremen tidak semenarik Bayern.

Aku pun merenung. Sepertinya supaya tulisanku menarik, aku harus menulis hal serius, contohnya politik dan filsafat. Kemudian ada tulisan selingan tentang cinta. Tentu saja, bukan tentang bercinta dengan kuntilanak merah, walaupun itu topik populer sementara ini. Aku pun teringat petuah, “Rajin-rajinlah menulis karena writing tresno jalaran soko kulino”.

Bremen, 9 Juli 2013

iscab.saptocondro

via iscablog http://iscab.blogspot.com/2013/07/topik-menarik-blogku-9-juli-2013.html

Suatu hari, menjelang hari ulang tahunku yang ke-20-an, aku menerima hadiah dari kampusku. Aku menjalani acara wisuda di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga). Gedung yang besar dan sejuk. Saat itu, kapasitas gedung tersebut masih cukup untuk wisudawan-wisudawati S1, S2, dan S3 beserta kedua orang tua dan satu orang yang diselundupkan. Pendamping wisuda, disingkat PW, sesungguhnya tidak diundang, sebagaimana Jailangkung.

Wisuda adalah seremoni yang mengasyikkan. Aku bisa bertemu dan lulus bersama angkatan atas yang (terlalu) mencintai kampus seperti rumah dan angkatan bawah yang ingin cepat-cepat lulus dari neraka jahanam. Beberapa kawan menolak ikut wisuda, karena seusai lulus, langsung pergi ke luar negeri untuk studi lanjut.

Yang menarik dari wisuda adalah euforianya. Asyik juga menggunakan toga dan jas. Wisudawati mungkin menderita karena harus begadang atau bangun pagi, menyasak rambut, memasang make-up, memakai kebaya, dll. Tapi semua penderitaan terbayar dengan senyum bangga ketika berfoto bersama kawan-kawan, kajur, dekan, keluarga, PW, dll. Oh, ya, bokap-nyokapku berfoto dengan wajah lelah karena menunggu antrian foto.

Setelah wisuda, di kampusku, ada acara perarakan. Yang paling asyik dilihat adalah acara penyambutan wisudawan-wisudawati Seni Rupa dan Desain. Biasanya meriah, dengan tarian dan musik serta kostum kreatif. Yang suka nonton gladiator, bisa melihat tawuran antara Fakultas dengan jurusan/program studi yang menyandang kata teknik. Mungkin tawuran sudah tiada lagi di zaman pencerahan ini. Dulu aku masih hidup di kampus jahiliyah. Perarakan penuh dengan warna-warni jaket himpunan jurusan beserta yel dan mars masing-masing.

Para Highlander atau mahasiswa abadi dibabtis-celup di kolam Indonesia Tenggelam. Mereka adalah wisudawan yang nyaris DO karena kelamaan studi. Mereka biasanya dikenal sebagai anak nongkrong di unit-unit ekstrakurikuler kampus ini.

Video dari Liga Film Mahasiswa (LFM) tentang wisuda ITB ini menggambarkan eforia yang kudapatkan sepuluh tahun lalu.

Setelah hari itu, hura-hura berakhir. Semua lulusan kampus ini kembali ke realitas. Sebagian menyongsong hari esok penuh harapan, seperti lagu dari Billboard All Stars. Sebagian merasakan kegalauan Lelaina Pierce dalam Reality Bites. Oh, ya, aku termasuk yang galau, bahkan sampai hari ini.

Bremen, 8 Juli 2013

iscab.saptocondro

via Ignatius S. Condro A.B. (iscab, EL98) & Mbandung Institute of Technology (MIT) http://iscabitb.blogspot.com/2013/07/wisuda.html

Aku selalu bertanya-tanya apakah ideologi yang kuanut dalam berpolitik. Akupun bertanya, akankah ideologiku akan berubah seiring dengan waktu. Aku merasa bahwa aku berideologi “kiri payun“. Aku selalu bergerak ke depan dengan aliran politik kiri. Betulkah “kiri payun” adalah pandangan politik yang kumiliki?

Menurut test political compass, aku menganut aliran politik Left Libertarian. Jadi memang benar aku menganut aliran kiri dalam pandangan politik ekonomi, serta menganut paham kebebasan (libertarian) dalam sosial politik.

Hasil test Political Compass: 60% Libertarian, 60% Left

Aku memiliki kecenderungan untuk menolak fasisme, baik atas nama negara, etnik, agama, dll. Aku juga condong untuk melawan struktur-struktur yang mapan, walau ini lebih banyak berakar dari nihilisme Kejawen daripada anarkisme. Aku memiliki kecenderungan bahwa hak asasi manusia harus dilindungi, tanpa memandang ketololan idenya, kebodohan agamanya, maupun kata-katanya yang asal bunyi. Jadi pandangan sosial politikku adalah libertarian.

social and economic scale in political ideology

Dalam bidang ekonomi, aku merasa bahwa ketimpangan dan kemiskinan bukan karena takdir Tuhan serta pasar tidak boleh dilepas-tangan oleh otoritas negara atau masyarakat. Ketimpangan ekonomi dan kemiskinan adalah konstruksi masyarakat yang bisa diubah. Pasar bebas harus dikendalikan supaya tidak menciptakan ketimpangan. Dalam memandang ekonomi ini, aku banyak terpengaruh oleh Marxisme, Marhaenisme, Swadesi Gandhi, teologi pembebasan, dan sistem pasar sosial di Uni Eropa dan Skandinavia. Jadi pandangan politik ekonomiku adalah kiri.

Gandhi juga Left Libertarian

Ternyata pandangan politikku mirip Gandhi, Nelson Mandela, dan Dalai Lama.

Dalai Lama dan Nelson Mandela juga Left Libertarian

Ing Ngarso Sosialisme.
Ing Madyo Marhaenisme.
Tut Wuri Berdikari.

Selamat berpolitik!

Bremen, 2 Juli 2013

iscab.saptocondro

via Sapto Condro Serius http://saptocondro.blogspot.com/2013/07/left-libertarian.html

Dalam suatu kursus bahasa Jerman, guruku pernah berkata bahwa bahasa itu tidak selamanya logis. Memang dalam setiap bahasa ada aturan tertentu yang bersifat logis. Akan tetapi logika dalam berbahasa bukanlah logika Aristotelian, maupun Boolean.

Aku pernah belajar logika Aristotelian sederhana dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Mereka yang lanjut kuliah jurusan hukum, psikologi, dan sosiologi di Indonesia biasanya belajar logika Aristotelian lebih mendalam. Dulu sempat mendengar curhat dosen jurusan hukum dan psikologi, kalau mahasiswa-mahasiswi pernah ikut kuliah ini namun tetap saja mereka tidak bisa membangun argumentasi yang logis pada kuliah-kuliah berikutnya. Bukan hanya itu, hingga mengerjakan tugas akhir atau skripsi, banyak yang tidak logis.

Sebagai orang yang bergerak di bidang teknik, aku tidak terdidik dengan logika Aristotelian (wiki:en,de). Aku lebih banyak belajar logika matematis, berupa logika simbolik. Untuk lebih mendalami logika ini, sebetulnya perlu belajar banyak kalkulus proposisional (wiki:id,en,de) dan teori himpunan (wiki:id,en,de). Untuk bisa jadi sarjana teknik, aku harus menguasai logika Boolean (wiki:id,en,de). Dalam perjalanan hidup dan kuliah teknik, aku juga mendalami logika fuzzy (wiki:id,en,de).

Semua logika yang kupelajari sebetulnya lebih untuk mengerti bagaimana mesin bekerja, bukan bagaimana manusia berpikir. Namun aku banyak belajar dari kawan-kawan dari ilmu sosial dan humaniora mengenai apa saja yang termasuk sesat pikir atau “logical fallacy” (wiki:id,en,de). Hal-hal yang termasuk dalam daftar sesat logika harus dihindari (wiki:en), untuk membangun alur yang logis dalam berpikir dan berbahasa, baik lisan maupun tulisan.

Dalam dunia pemrograman, aku belajar bahasa yang lain, yaitu programming language. Di sini, ada aturan berbahasa dengan baik. Bagaimana menggunakan tanda baca dan spasi dengan benar. Jika ada kesalahan, komputer akan memberikan pesan “error” dan program tidak bisa dikompilasi. Selain itu, kadang ada hal yang tidak salah, namun bisa menimbulkan kerancuan. Untuk ini, komputer hanya memberi peringatan “warning”. Seorang programmer yang baik, belajar dari pesan-pesan ini. Programmer akan menghilangkan “error” dan mengurangi “warning” dalam kerjanya.

Dalam berbahasa manusia, aku belajar banyak dari dunia pemrograman. Aku harus mengurangi hal-hal yang sesat secara logika dan yang rancu atau ambigu (wiki:id,en,de). Kemampuan berbahasa secara logis sangat penting dalam dunia sains, karena di sini ilmuwan harus membuat tulisan ilmiah (scientific paper) dan menyusun presentasi serta diskusi di seminar atau konferensi ilmiah. Dalam dunia pers dan jurnalisme, wartawan dan pembawa acara haruslah menjaga alur logika tulisan, siaran radio maupun televisi. Pembawa acara harus membuat diskusi di televisi dan radio tetap dalam kerangka berpikir logis. Wartawan di media cetak dan internet harus menyusun tulisan yang logis dan tidak rancu.

Di zaman pesan pendek ini, banyak sekali tantangan dalam menggunakan bahasa yang logis dan tidak rancu. Kalimat pada SMS, chatting, twitter, dll banyak yang rancu. Bahkan dengan kebangkitan alay (4L4y), berbahasa menjadi tidak mudah. Dalam pesan pendek, aku selalu pusing dengan huruf “g”, kadang artinya “gua” (saya), kadang artinya “gak” (kagak/tidak). Aku menghindari penggunaan singkatan, karena itu rancu. PHP bisa artinya Personal Home Page, bisa juga Pemberi Harapan Palsu.

Gambar berikut, menjelaskan pentingnya berbahasa secara logis dan tidak rancu.

Jika menggunakan alur logika dalam satu kalimat, “Bring 6” memiliki arti “Bring 6 eggs”.
Jika menggunakan alur logika dalam satu paragraf, “Bring 6” bisa berarti “Bring 6 bottles of milk.”
Berbahasalah dengan tidak rancu. Berdiskusilah dengan menghindari sesat pikir (logical fallacy). Maka dunia akan damai dari debat kusir dan kebisingan tidak penting.

Berhubung gambar di atas berisi susu dan telur, tolong jangan siram mukaku dengan air teh!
(contoh kalimat yang tidak logis)

Bremen, 30 Juni 2013

iscab.saptocondro

P.S. Bagaimana bercinta dengan logika, masih kupelajari dan belum selesai. Aku masih mempelajari kebenaran kata- kata Vina Panduwinata “ternyata asmara tidak kenal dengan logika“. Jika premis tersebut benar, aku harus mempelajari implikasi logisnnya beserta silogisme apa saja yang bisa tersusun.

via Sapto Condro Serius http://saptocondro.blogspot.com/2013/07/logika-bahasa.html