Skip navigation

Monthly Archives: February 2014

Aku selalu memiliki masalah dengan percaya diri. Suatu hari aku bertemu kawanku untuk meminta nasihat kepadanya. Dia berkata bahwa aku harus percaya kepada Tuhan. Aku pun bingung apakah ini jawaban atau solusi dari masalahku.

Setelah kurenungkan dalam-dalam, siang dan malam, aku tersadar bahwa kawanku mungkin benar. Jadi aku harus percaya bahwa diriku adalah Tuhan. Jadi aku bisa percaya diri sekaligus percaya Tuhan.

Oldenburg, 27 Februari 2014

iscab.saptocondro

iscablog, euy http://iscab.blogspot.com/2014/02/percaya.html

Advertisements

Hari ini, tiba-tiba ingin mengungkapkan unek-unek tentang paper ilmiah. Kegiatanku saat ini memang seputar itu. Aku menjadi mahasiswa (lagi) dan harus membaca banyak paper ilmiah untuk penelitianku. Untuk menulis, aku harus merujuk pada paper ilmiah sebelumnya, supaya kata-kataku berdasar.

Ada suatu kegalauan dalam mencari paper. Studi literatur dimulai dengan pencarian paper. Seseorang peneliti harus tahu kata kunci (keyword) yang akan dicari. Tanpa kunci, percuma aja. Zaman dahulu, berbekal kata kunci ini, seorang peneliti pergi ke perpustakaan lokal, melihat katalog, lalu mencari paper di rak yang sesuai. Zaman sekarang, perpustakaan lebih besar dan virtual. Peneliti memasukkan kata kunci ke Google biasa, Google Scholar, Bing, ScienceDirect, IEEE Xplore, dll. (Aku tahunya segitu doang. Ini pertanda aku kurang gaul). Sesudah itu, mesin pencari (search engine) menunjukkan judul-judul paper berdasarkan kata kunci yang dimasukkan. Lalu paper yang relevan dengan penelitian bisa dipilih.

Memilih paper yang relevan juga penuh seni. Ada biaya yang harus diingat oleh peneliti: waktu dan uang. Di Indonesia dulu, kalau aku menemukan paper di mesin pencari, aku tidak bisa langsung mengunduh. Tempatku bekerja dulu tidak berlangganan jurnal tempat paper berada. Jadinya kalau mau mengunduh, pasti ada biaya sekitar 20 dan 30 US dollar. Hal ini juga masih menjadi masalah di beberapa lembaga penelitian dan universitas di Indonesia zaman sekarang.

Selesai diunduh, paper tersebut dibaca dan ini butuh waktu. Ada teknik baca cepat dan baca dalam. Baca cepat itu untuk memperkirakan apa isi paper dan layakkah kita menghabiskan waktu untuk membaca dalam. Ketika paper tersebut relevan dengan penelitian atau pekerjaan, berarti paper tersebut layak dibaca dalam-dalam, tapi jangan membuang waktu karena penelitian itu ada tenggat (deadline).

Nah, kalau tidak relevan, paper tersebut bernilai 20 atau 30 dollar. Menangislah peneliti di Indonesia kalau harus mengunduh 100 paper. Oh, ya, untuk mendapatkan 3 hingga 5 paper yang relevan, aku perlu mencari antara 40 hingga 100 paper. Ilustrasi dari Jorge Cham di PhD Comics bisa menjelaskan bagaimana itu terjadi: 2002, “References” (sok klik aja!). Sedikit info, dulu sewaktu jadi dosen, dana penelitian yang kuperoleh itu 10 juta per tahun, yaitu sekitar 1100 dollar untuk kurs saat itu.

Peneliti yang berasal dari Indonesia mengakali urusan paper ini dengan membentuk jaringan rahasia di milis, facebook, forum, dll untuk bertukar permohonan paper. Hal ini sangat membantu peneliti di Indonesia. Biaya uang berkurang. Biaya waktu masih ada. Peneliti harus menunggu sehari hingga paper tuntas dikirimkan rekan di milis atau jaringan lain.

Aku teringat beberapa kawan di Bremen, yang studi kelautan, melakukan pengunduhan paper secara sistematis dan gotong royong. Kemudian mereka mengumpulkan paper yang telah diunduh lalu mengorganisasikan dalam folder untuk dimasukkan ke harddisk masing-masing. Lalu kembalilah mereka ke lembaga masing-masing di Indonesia. Hal yang menarik. Tapi riset tidak bekerja seperti itu. Seorang peneliti mencari paper yang relevan dan cenderung yang terbaru. Paper terbaru, dibutuhkan karena peneliti harus membuat sesuatu yang “novel”, “original”, “filing the gaps”, “state-of-the-art”, dan istilah lainnya yang mirip.

Cara sapu jagad mengunduh paper seperti yang dilakukan beberapa kawanku tersebut hanya akan menghasilkan sejumlah paper yang teronggok di folder harddisk dan server. Paper-paper tersebut bisa berguna untuk menulis buku, tapi sulit untuk dipakai penelitian berskala internasional. Akan tetapi, seseorang hanya menulis buku kalau topiknya relevan dengan minatnya. Tidak semua paper itu relevan. Selain itu, aku tak yakin mahasiswa-mahasiswi tempat kawanku mengajar akan membaca paper-paper tersebut.

Kembali ke topik. Setelah sukses membaca paper yang relevan, seorang peneliti akan terbebas dari kegalauan studi literatur. Ia pun bisa melanjutkan dalam membuat karya ilmiah. Ia bisa menyusun tulisan: proposal, paper, laporan penelitian, thesis, disertasi, dll. Kegalauan berikutnya adalah urusan teknis penelitian dan urusan menyusun kata demi kata.

Untuk kawan-kawan yang jadi peneliti, kuucapkan “Selamat berurusan dengan paper ilmiah! Darah Juang!

Bremen, 17 Februari 2014

iscab.saptocondro

Sapto Condro Serius http://saptocondro.blogspot.com/2014/02/paper-ilmiah.html

Aku sudah meninggalkan Nürnberg lebih dari setahun. Di sana aku pernah tinggal selama setahun. Aku teringat winter yang dingin dan ventilasi rumah yang tidak menyenangkan. Aku harus membeli pemanas portabel dan membiarkan biaya listrik membengkak. Aku jadi terbiasa dengan dinginnya winter. Di sana, aku juga tidak pernah sakit flu. Berbeda dengan Bremen saat ini, rumah lebih hangat tanpa menyalakan pemanas tapi aku kena batuk-pilek dua kali setahun.

Aku senang dan bersyukur bisa bertemu dengan kawan-kawan baru di sana. Sekjen PPI Jerman yang pernah kutemui, sekarang telah menjadi Ketua PPI Jerman. Ketua PPI Franken yang pernah menemani acara makan-gak-makan asal ngumpul, kini menjadi Wakil Ketua PPI Jerman. Kawan Hengky yang membantuku pindah rumah juga telah pindah kota. Sebelum aku banyak bergaul dengan kawan-kawan baru, sayang sekali aku sudah harus pindah. Seperti kata primbon Jawa, sebagai orang dengan wuku Julungpujud yang lahir Selasa Pahing, aku memiliki sifat “Lebu Katiup Angin” yang sering berpindah-pindah: rumah dan pekerjaan. Mungkin pula aku harus terus berpindah ke lain hati, hahaha.
Di bawah ini, gambar wordle mengenai kisah hidupku di Bayern atau Bavaria.
iscabayern di wordle

Dari gambar tersebut, terlihat kalau aku terlalu menonjolkan keakuan. Berarti aku dalam blog ini memang narsis banget. Aku terlalu banyak menggunakan kata “yang”, “dengan”, “ini”, dan “dari” dalam Bahasa Indonesia. Walau aku tinggal di Nürnberg, ingatan akan Bremen tak pernah lepas dari tulisanku. Hal ini bisa dilihat bahwa tulisan “Bremen” dan “Nürnberg” berukuran nyaris sama besar pada gambar. Mata uang euro “EUR” nampak besar pada gambar. Hal ini menunjukkan bahwa aku mata duitan alias cowo matré, hihihi.
Aku bersyukur kepada Tuhan atas segenap pengalaman dan semua kawan-kawan yang kutemui di Nürnberg, Erlangen dan sekitarnya. Semoga perjalanan hidup akan membawa kita kepada kesejatian. 
Bremen, 2 Februari 2014

suka duka iscab di Bavaria http://iscabayern.blogspot.com/2014/02/nuremberg-setahun-telah-berlalu.html