Skip navigation

Monthly Archives: April 2014

Hari ini, aku bertemu Rani, mantan Ketua PPI Bremen. Kali ini, obrolan di bawah ini bukan obrolan imajiner seperti obrolan IKIP lalu.

Rani: “Condro!”
Aku: “Eh, Rani! Apa kabar?”
Rani: “Baik! Lu lagi ngapain di sini?”
Aku: “Mau PhD meeting. Lu lagi bawa susu?”
(melihat kontainer cairan yang digotongnya)
Rani: “Bukan! Ini liquid nitrogen.”
(Oh, ternyata nitrogen cair)
Aku: “Lu ke gedung mana?”
Rani pun menunjuk ke gedung W3.
Rani: “Bye!”
Secepat kilat kami pun menghilang ke gedung tujuan masing-masing.

***

Hari ini, aku kurang tidur karena keracunan deadline selama bulan April ini. Mengapa aku membayangkan kontainer susu cair? Padahal ini bukan peternakan sapi di Oldenburg maupun di Pangalengan atau Lembang. Ini Universitas Oldenburg, kampus Wechloy, tempat bersemayamnya mahasiswa-mahasiswi dan peneliti fisika, kimia dan biologi. Jadi kontainer nitrogen cair lebih masuk akal daripada susu sapi.

Aku pun teringat masa-masa tiga bulan pertama di Bayern atau Bavaria dulu tinggal dekat kandang sapi. Aroma susu sapi dan tahi sapi bergonta-ganti tersebar di udara. Kini, di Jerman Utara, yang kucium pagi hari ini adalah aroma fermentasi biji-bijian menjadi bir Becks. Memang setiap kota dan kampung memiliki aroma yang berbeda-beda.

Aku pun teringat bahwa seekor sapi mengajarkanku mengenai Logika dan Teori Himpunan. Sapi yang sehat memiliki 2 kaki depan, 2 kaki belakang, 2 kaki kanan dan 2 kaki kiri. Berapakah jumlah kaki sapi ini?

Orang yang tidak bisa menguasai kebijaksanaan sapi, akan terjerumus oleh sapi. Aku pun teringat pimpinan partai politik di Indonesia yang terkena masalah hukum karena berurusan dengan sapi. Jadi belajarlah filosofi dua ekor sapi untuk mendalami pandangan dunia (Weltanschauung) dari bermacam-macam ideologi.

OK, kembali ke kegiatan doktoral. Darah Juang!

Oldenburg, 25 April 2014

iscab.saptocondro

Sapto Condro bernyanyi bersama semilir angin Sachsen Hilir http://saptoconiedersachsen.blogspot.com/2014/04/kontainer-cairan.html

Aku sedang belajar mengerti survei politik. Sekarang ada banyak lembaga survei politik di Indonesia. Yang tercatat di KPU berjumlah 56 lembaga. Mereka menyelenggarakan survei untuk kepentingan pemilu legislatif, pemilu presiden, pemilihan gubernur serta pemilihan walikota atau bupati. Sebagian survei mendapat dana dari universitas, media pers, dunia internasional, dll yang relatif netral dalam politik. Sedangkan sebagian lain mendapat dana dari partai politik atau dari tim sukses calon yang akan dipilih.

Selain mengadakan survei menjelang Pemilu, lembaga-lembaga tersebut juga melakukan “exit polls” dan “quick count”. Tujuannya adalah memperkirakan persentase suara pemilih. Sayang sekali, metode hitung cepat yang dipakai belum bagus memperkirakan jumlah kursi yang akan didapat dalam parlemen.

Alasanku belajar mengerti survei politik adalah untuk mengetahui hal-hal ilmiah seputar kegiatan ini:

  • Bagaimana penggunaan kaidah statistika digunakan?
  • Bagaimana cara pengambilan sampel?
  • Apa yang terjadi jika data asimetris?
  • Masih layakkah asumsi distribusi normal atau Gaussian dipakai?
  • Mengapa metode yang ada mampu memperkirakan suara pemilih tapi belum bisa memperkirakan jumlah kursi di parlemen?
  • Mungkinkah ada algoritma lain yang bisa dipakai untuk memperkirakan proporsi suara dan jumlah kursi, walau data asimetris? Terutama menggunakan pengetahuan mengenai sistem dinamika dan aljabar linear, yang lebih sesuai dengan bidangku sebagai Control Engineer.

Sebelumnya, aku sudah menulis tentang bagaimana cara pengambilan sampel pada survei politik, jika menggunakan kaidah statistik. Tulisan tersebut ada pada blogku yang lain: “Pemilu Indonesia: Survei, Quick Count dan Exit Polls“. Pada tulisanku terdapat sedikit informasi mengenai cara pengambilan sampel menggunakan metode acak berjenjang/bertingkat (stratified random sampling), akan tetapi tidak ada contoh. Kali ini, aku akan menunjukkan beberapa slide presentasi dari 4 lembaga survei yang berisi contoh-contoh tersebut.

***

Survei Nasional Saiful Mujani Research & Consulting
(26-29 Maret 2014)

slide

Penggunaan stratified random sampling dapat dilihat pada halaman 3-9 slide di atas.

***

Survei Nasional CSIS
(7-17 Maret 2014)

slide

Penggunaan metode acak bertingkat dapat dilihat pada halaman 2 slide di atas.

Yang menarik dari kesimpulan CSIS adalah kejujurannya dengan mengatakan bahwa banyak pemilih yang masih ragu-ragu, sehingga pilihannya bisa berubah. Ada pula pemilih yang belum punya pilihan. Ini sesuai hasil survei mereka pada halaman 5-7 slide di atas.

Lembaga survei lain terlalu berani menyimpulkan kalau partai yang satu akan menang telak dan bisa mencalonkan Presiden tanpa koalisi sedangkan ada partai lain akan tidak lolos ambang batas 3,5%. Padahal hasil survei jelas menunjukkan ada persentase tinggi untuk yang belum memiliki pilihan.

Ini menunjukkan kualitas penelitian CSIS dengan kualitas penelitian lembaga lain.

***

Jajak pendapat dari Focus Survei Indonesia
(3-21 Januari 2014)

slide

Penggunaan metode acak berjenjang (multistage random sampling) dapat dilihat pada halaman 5-9 slide di atas.

***

Survei Vox Populi
(9-23 Desember 2013)

slide

Penggunaan metode acak berjenjang (multistage random sampling) dapat dilihat pada halaman 3-6 di atas.

***

Begitulah contoh-contoh penggunaaan metode acak berjenjang/bertingkat yang biasa disebut “multistage random sampling” atau “stratified random sampling”. Dengan metode ini, perkiraan suara mengikuti asumsi distribusi populasi penduduk yang tersebar secara geografis dan gender.

Bremen, 21 April 2014

iscab.saptocondro

Sapto Condro Serius http://saptocondro.blogspot.com/2014/04/belajar-mengerti-survei-politik.html

Posting kali ini bukanlah tentang kredit perbankan atau kuliah dengan meminjam uang dari bank atau lembaga asuransi. Posting ini tentang sistem kredit dalam dunia perkuliahan. Di Indonesia, kita mengenal Satuan Kredit Semester (SKS, wiki: id,en,de). Di Eropa, ada European Credit Transfer System (ECTS, wiki: en,de). Untuk bisa melakukan pertukaran pelajar antar universitas, dikenal istilah “transfer kredit”. Dengan ECTS, universitas di Eropa yang mengikuti perjanjian Bologna (wiki: en,de) dapat mengadakan pertukaran pelajar antar negara di Eropa, contohnya adalah dengan program Erasmus (wiki: en,de).

Indonesia juga mulai merintis bagaimana membuat suatu sistem tranfer kredit kuliah yang bisa membuat kemudahan dalam pertukaran pelajar antar negara. Beberapa universitas di Indonesia, seperti Universitas Gadjah Mada (UGM), tergabung dalam ASEAN University Network (AUN, wiki: en,de). Sejak 2005, sistem transfer kredit antar anggota AUN telah dirintis. Pada tahun 2009, ada ASEAN Credit Transfer System (ACTS). Penjelasan ACTS bisa dibaca dari link dari Universitas Indonesia (UI): ACTS UI.

Selain ACTS, ada pula UCTS untuk negara Asia Pasifik. UCTS itu singkatan dari UMAP Credit Transfer System (wiki: en). Sedangkan UMAP adalah University Mobility in the Asia and Pacific (wiki: en).

Slide dari Pak Gatot Hari Priowirjanto, tahun 2011, berikut menggambarkan perkembangan ECTS, UCTS, dan ACTS. Pada slide, ada visi untuk membuat South East Asia Credit Transfer System (SEA CTS), berdasarkan program transfer kredit SEAMEO RIHED. Profil Pak Gatot HP bisa dilihat di wp gatothp, fb profil gatotpriowirjanto, dan fb page Gatot Hari Priowirjanto.

Menarik juga, kalau semua perguruan tinggi di Indonesia bisa mudah melakukan pertukaran pelajar. Ada sistem kredit semester yang diakui oleh dunia internasional: beban studi (jam/kredit), penilaian (A,B,C, dll), kurikulum, dll. Sampai sekarang Dikti belum terlalu serius mengembangkan ini. Perjalanan masih panjang!

Bremen, 21 April 2014

iscab.saptocondro

Berjuang untuk Beasiswa http://iscabeasiswa.blogspot.com/2014/04/transfer-kredit-kuliah.html

Hari ini Paskah. Sebelumnya ada lima hari Minggu Prapaskah dan 40 hari pantang. Aku ingin berpantang daging. Akan tetapi ternyata tidak sanggup karena ada kegiatan yang membutuhkan lembur dan dinas. Saat itulah aku membutuhkan protein dan lemak hewani. Selama masa Prapaskah ini pula, aku menghapus aplikasi jejaring sosial pada perangkat genggamku. Setelah Paskah juga, aku tidak akan menginstall ulang para aplikasi tersebut sebelum aku memiliki kemajuan yang berarti dalam kegiatan penelitianku.

Aku tertarik dengan tema masa Prapaskah yang ada di Gereja St. Johann Bremen dan yang ada di Gereja Mahasiswa (GEMA) Bandung. Kedua tema memiliki inti yang mirip, terutama tentang Gereja Katolik yang harus memiliki peran sosial dalam masyarakat, dan tidak hanya berpusat pada dirinya sendiri.

Seharusnya aku membuat posting tentang ini pada awal masa Prapaskah, bukan pada akhir Prapaskah seperti sekarang. Tapi baru kali ini aku merasa ada sedikit waktu.

***

Tema Paskah di St. Johann Bremen, Jerman, diambil dari Evangelii Gaudium, suatu himbauan apostolik (apostolic exhortation) yang dikeluarkan Paus Fransiskus pada Selasa Wage, 26 November 2013. Evangelii Gaudium artinya Suka Cita Injil, atau The Joy of Gospel, atau Freude des Evangeliums (wiki: en,de). Tulisan panjangnya bisa dibaca di laman resmi Vatikan: dalam bahasa Inggris atau Jerman. Rangkuman dalam bahasa Indonesia bisa dibaca dari tulisan Pastor Prof Dr B.S. Mardiatmadja SJ tentang Evangelii Gaudium di majalah Hidup, edisi 50, tanggal 15 Desember 2013.

Tema Prapaskah 2014 di St. Johann, Bremen, Jerman

“Brechen wir auf, um allen das Leben anzubieten!”
“Mari kita mulai bergerak untuk mempersembahkan Sang Kehidupan bagi semua orang!”
“Let us go forth to offer everyone the Life!”
(Evangelii Gaudium 49)

1. “Ich will keine Kirche, die darum besorgt ist, der Mittelpunkt zu sein.” Alte und neue Versuchungen.
“Aku tak ingin Gereja yang hanya memusatkan pada dirinya saja.” Cobaan lama dan baru.
“I do not want a Church concerned with being at the centre.” Old and new temptations.
(Evangelii Gaudium 49)

2. “Wir können nicht passiv abwartend in unserem Kirchenräumen sitzen bleiben!”. Aufbrechen.
“Kita tidak bisa pasif menunggu dalam ruang gereja”. Bergerak!
“We cannot passively and calmly wait in our church buildings”. Going forth.
(Evangelii Gaudium 15)

3. “… in enem beständigen Aufbruch zu den Peripherien”. Grenzen ausloten und überschreiten.
“Terus bergerak ke pinggiran.” Berlayar menembus batas.
“… in constantly going forth to the outskirts of its own territory”. Exploring and crossing boundaries.
(Evangelii Gaudium 30)

4. “Die langweiligen Schablonen durchbrechen, die IHN gefangen halten.” Neu sehen lernen.
“Membuat terobosan kreatif, untuk mendekatkan diri dengan-Nya”. Belajar melihat pandangan baru.
“Break through the dull categories with which we would enclose Him”. Learning new vision.
(Evangelii Gaudium 11)

5. “Es ist aber auch gewiss, dass mitten in der Dunkelheit etwas neues aufkeimt.” Kämpfen für das Leben.
“Akan tetapi kita tahu bahwa di tengah kegelapan, sesuatu yang baru bertumbuh.” Berjuang untuk hidup.
“But it is also true that in the midst of darkness something new always springs to life”. Struggling for the Life.
(Evangelii Gaudium 276)

***

Di GEMA Bandung, tema Prapaskah 2014 berhubungan dengan tahun politik di Indonesia. Di tahun ini, ada rangkaian Pemilu: pemilihan legislatif di bulan April dan pemilihan Presiden di bulan Juli (dan September). Umat Katolik Indonesia diajak untuk terlibat dalam kegiatan yang menentukan masa depan bangsa untuk setidaknya 5 tahun ke depan. Gereja Katolik Indonesia harus memiliki peran sosial dalam masyarakat Indonesia.

Tema Prapaskah 2014, Gereja Mahasiswa (GEMA) Bandung, Indonesia

Akur ka Batur Sakujur. (Berdamai dengan diri sendiri)

Akur ka Batur Sakasur. (Rukun dengan keluarga)

Akur ka Batur Sadapur. (Bersatu dalam Gereja)

Akur ka Batur Sasumur. (Akur bersama masyarakat)

Akur ka Batur Salembur. (Bhinneka Tunggal Ika)

***

Selamat Paskah 2014!

Lumen Christi, Deo Gratias!
Kristus Cahaya Dunia, Syukur kepada Allah!

Bremen, 20 April 2014

iscab.saptocondro

Bremen Bermentari http://iscabremen.blogspot.com/2014/04/menyambut-paskah-2014-beda-bremen-dan.html

Seseorang: “Eh, Condro, apa kabar?”
Aku: “Lumayan. Lu gimana?”
Seseorang: “Baik-baik aja. Sekarang lu ngapain?”
Aku: “Kuliah lagi.”
Seseorang: “Kuliah apaan? Di mana?”
Aku: “Kuliah di IKIP.”
Seseorang: “IKIP?”
Aku: “Iya. IKIP Oldenburg, jurusan Psikologi”
Seseorang: “…”

***

Kira-kira begitulah obrolan imajinerku dengan tembok dan jeruk. Sejak Oktober lalu, aku terdaftar menjadi mahasiswa psikologi di Universitas Oldenburg, di Sachsen Hilir, Jerman. Universitas ini dulunya UPI (Universitas Padahal IKIP). Kalau di Bandung, UPI itu Universitas Pendidikan Indonesia, yang dulu bernama IKIP Bandung, singkatan dari Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Bandung (wiki: en,id), tempat mendidik orang supaya menjadi guru. Walau kini banyak juga lulusannya yang menjadi pramugari.

Carl von Ossietzky Universität Oldenburg itu dulu sekolah tinggi pendidikan yang bernama Pädagogische Hochschule Oldenburg atau Pedagogical College Oldenburg (wiki: en,de). Tempat ini masih terkenal sebagai tempat pendidikan untuk calon guru, walau sudah beralih menjadi universitas di tahun 1973. Kini sejak adanya cluster of excellence “Hearing4All”, universitas ini makin dikenal dengan penelitian di bidang akustik dan pengolahan sinyal audio, yang dasarnya sudah diletakkan sejak tahun 1990-an.

Jadi kini, aku sudah tidak mengobrol dengan jeruk lagi. Aku sekarang menjadi mahasiswa psikologi di IKIP Oldenburg dan mengobrol dengan manusia. Berbeda dengan sastra listrik, pada jurusan psikologi, proporsi mahasiswi lebih tinggi daripada mahasiswa. Jadi obrolannya lebih menyenangkan dan banyak yang berpelukan. Di jurusan teknik elektro eh sastra listrik, jarang sekali pelajarnya saling berpelukan.

OK, sejujurnya aku bingung kenapa para mahasiswi senang memeluk orang lain. Mungkin kampus ini memang kampus perdamaian sehingga orang-orang saling berpelukan. Carl von Ossietzky memang pernah memenangkan Nobel Perdamaian tahun 1935 (wiki: en,de,id). Nampaknya demi perdamaian dunia, aku juga perlu belajar berpelukan dengan para mahasiswi.

Saatnya aku kembali ke pekerjaanku, yang (seharusnya) penuh darahdarah perjuangan.

Oldenburg, 16 April 2014

iscab.saptocondro

Sapto Condro bernyanyi bersama semilir angin Sachsen Hilir http://saptoconiedersachsen.blogspot.com/2014/04/kuliah-di-ikip.html