Skip navigation

Monthly Archives: May 2014

Sudah hampir 3 bulan, aku membuat smartphone milikku cacat. Kecerdasannya kukurangi secara sengaja. Sebelumnya, ada beberapa aplikasi jejaring sosial (online social network) di smartphone. Kini semua kuhabisi, kecuali Xing dan LinkedIn. Aku mengakses jejaring sosial di desktop saja. Kalaupun di smartphone, aku menggunakan browser dan harus melewati banyak login dengan segenap kerumitannya.

Aku mengenal perangkat genggam pertama kali ketika ia hanya memiliki kemampuan telpon dan texting SMS. Aku merasa hal ini cukup untuk berkomunikasi via perangkat genggam. Aku tidak butuh getar-getar dalam celana karena kedatangan tempelan foto Pinterest, “mention” Twitter dan Instagram dari orang yang kukenal maupun tidak, kabar terbaru dari kawan Path, dll. Aku puas dengan kemampuan telpon dan texting sederhana. Aku pertahankan aplikasi buat nelpon: telpon bernomor, Skype, Viber, Hangouts, dan Line. Aku pertahankan aplikasi texting: SMS, Whatsapp, dan Telegram.

Sejak “social media shutdown” ini, hidupku lebih mudah dan sederhana. Aku bisa menikmati mentari dan pepohonan yang menari bersama hembusan angin. Aku juga bisa menikmati bulan dan bintang yang tersipu malu di balik tarian gumpalan awan. Aku bisa mengagumi lampu kota di pinggir sungai setiap kulewati jembatan. Aku juga bisa membangun kontak mata dengan orang-orang yang kutemui di jalan, di toko, dan dalam angkutan umum. Aku bisa melihat senyum nyata manusia-manusia di sekelilingku.

***

Aku teringat masa remajaku yang tanpa perangkat genggam. Aku bisa janjian sama kawan-kawanku ke tempat makan, ke bioskop, ke acara api unggun, ke acara piknik, dll tanpa perangkat genggam. Tidak ada telpon panggilan maupun pesan teks “Di mana lu?” atau “Udah sampai di mana lu?”. Akan tetapi kami pun bisa menikmati acara bersama.

Aku tidak akan membiarkan kemanusiaanku dibuat cacat oleh teknologi. Aku akan membuktikan kepada dunia bahwa “smartphone create dumb people” itu tidak berlaku bagi diriku. Aku juga tidak mau merasakan “alone together”, ketika bertemu kawan-kawan hanya untuk duduk menunduk memandang perangkat genggam. Daripada kemanusiaanku dibuat cacat oleh smartphone, maka kubuat smartphone cacat saja.

Leherku sudah terlalu pegal untuk menunduk di bawah kekuasaan smartphone. Kini saatnya merebut kekuasaan itu. Leherku tidak layak untuk menunduk gara-gara smartphone. Leherku diciptakan Tuhan untuk menengadah ke atas memandang bintang-bintang di langit, karena aku tercipta dari bintang. We are all created from stars! Saatnya revolusi! Kerinduan manusia akan bintang revolusi sudah menggelora dalam jiwaku.

Kini aku membersihkan jiwaku dari kebisingan dunia maya. Apalagi tahun ini, kawan-kawanku sedang terkena eforia Jokowi versus Prabowo. Tidak ada ide besar yang dibicarakan dalam dunia online. Yang ada hanya obrolan bocah-bocah fans club selebriti politik. Kebisingan yang mirip ketika aku masih kanak-kanak, “mainan gue lebih keren daripada mainan lu”. Kebisingan ini baru sekadar obrolan “my horse is bigger than your horse” dan sama sekali tidak memberi makna yang berarti bagi hidupku.

Jika hidup bisa dipermudah, mengapa harus dipersulit oleh smartphone?
Aku pun kembali kepada pekerjaanku, Dharmaku, tanpa gangguan smartphone beserta kebisingan dunia maya yang menyertainya. Aku pun bisa jujur pada diriku sendiri yang hidup dalam kesunyian dan kesendirian. Hanya segelintir kawan dekat dan keluargaku yang mengontakku. Sampai jumpa lagi di posting berikutnya!

***

Bacaan lain:

Selamat membaca.

Oldenburg, 9 Mei 2014

iscab.saptocondro

iscablog, euy http://iscab.blogspot.com/2014/05/membuat-smartphone-cacat.html

Advertisements

Bulan April lalu adalah masa-masa yang membuatku sibuk dengan dua laporan dan satu proposal. Dua laporan praktikum/kuliah blok Signal Processing and Acoustic. Satu proposal riset yang sulit kukerjakan karena jadwalku dan pembimbingku tidak pernah cocok. Aku memilih untuk memulai dengan proposal riset dan ternyata pilihan ini salah. Aku tidak bisa menulis secara progresif. Kemudian ketika mendekati deadline laporan di akhir April, aku menulis dua laporan tersebut yang ternyata tak semudah yang kubayangkan.

Ternyata kemampuanku mengetik rumus LaTeX tidak secepat yang kubayangkan. Ternyata copy-paste (salin-pasang) gambar dari MATLAB ke LaTeX tidak semudah yang kubayangkan karena jumlah gambar yang banyak. Jika aku tahu hal seperti ini bakal terjadi, seharusnya kumulai dengan dua laporan barulah aku mengerjakan proposal. Aku terbiasa mengerjakan hal yang jelas ujung-pangkalnya lebih dahulu  atau hal yang mudah kumengerti kemudian barulah aku mengerjakan hal yang sulit dan tak jelas arahnya.

Keputusanku yang salah ini membuat tulisanku pada kedua laporan tersebut menjadi jelek walaupun terkirim sebelum deadline: 30 April 2014, 24:00. Selain itu, proposal juga tidak selesai. Aku gagal di ketiganya. Ternyata urutan mengerjakan suatu hal itu punya dampak “sistemik”.

Kini aku mulai berhati-hati dalam mengambil kuliah, karena jadwalnya dan deadline tugasnya bisa mengganggu penelitianku. Aku juga harus berhati-hati dengan urusan administratif dari universitas, bank, kantor pajak, maupun kantor imigrasi, yang menghabiskan waktu dan pikiranku. Aku harus waspada, tidak boleh kehilangan kunci seperti tahun lalu yang membuat bulan Novemberku rusak karena harus bolak-balik mengurus duplikat kunci. Bikin janji sama orang juga kukurangi.

***

Pada hari Rabu 30 April 2014, aku berada dari pagi hingga malam di perpustakaan Uni Oldenburg. Aku menulis dua laporan Signal Processing Acoustic I and II. Aku sudah memasukkan yang II ke Dropbox minggu sebelumnya, akan tetapi partnerku meminta koreksi dan beberapa tambahan. Sedangkan aku juga harus menulis yang I. Akhirnya kucoba menulis semampuku. Jam 22:30, partnerku untuk kuliah II merasa puas. Aku pun kembali menyelesaikan kuliah I. Ternyata gambar-gambarnya sangat banyak. Akhirnya aku hanya menaruh gambar dan tidak menulis banyak penjelasan. Jam 23:30, semua sudah kutaruh di Dropbox: “selesai tak selesai, kumpulkan”.

Jam 24:00 perpustakaan tutup. Dari smartphone, kulihat jadwal bus 23:38. Aku pun tak mampu mendapatkan bus itu. Aku harus mematikan laptop dan packing barang-barang. Aku lihat jadwal kereta terakhir adalah 00:06. Karena tiada bus lagi, aku menghitung bahwa tak mungkin aku mendapatkan kereta ini. Kereta baru ada lagi jam 5:35 pagi. Saat itu, pilihanku sedikit:

  • menginap di rumah teman di Oldenburg, lalu keesokan hari pulang ke Bremen
  • menginap di hotel atau hostel di Oldenburg
  • naik taksi dari Oldenburg ke Bremen
  • keliling-keliling Oldenburg sampai pagi lalu pulang ke Bremen

Aku baru selamat melewati garis kematian (deadline) dari dua laporan, namun tidak selamat melewati deadline transportasi bus dan kereta api. Bagaimanakah pilihanku selanjutnya?

Aku mencoba menelpon temanku di Oldenburg. Tiada jawaban. Jadi pilihan menginap di rumah teman harus kucoret. Naik taksi dari Oldenburg ke Bremen berbiaya 85 EUR. Cukup mahal! Menginap di hostel berbiaya 43 EUR tapi biasanya hostel meminta booking terlebih dahulu, kaga bisa dadakan. Selain itu, aku juga harus mencari di mana hostel tersebut berada. Akhirnya kupilih keliling Oldenburg sampai pagi. “Dari jam 12 malam sampai jam 5 pagi, apa yang harus kulakukan?”, pikirku saat itu.

Aku menaruh tasku nan berat dengan laptop dan catatan di stasiun Oldenburg. Sebelumnya aku berjalan kaki 3,5 km dari universitas ke stasiun karena ketinggalan bus. Setelah menaruh tas, aku kembali ke kota dan melihat-lihat apa saja kehidupan malam yang ditawarkan di sana.

Di kota, aku tak sengaja bertemu Number Two (Oh, ya, I am Number Sixteen). Lepas tengah malam, dia ingin pulang ke rumahnya. Aku curhat kilat mengenai garis kematian pengolahan sinyal dan kalau aku ketinggalan kereta jadi harus menunggu 5 jam kereta berikutnya. Aku bertanya bar dan kafe apa saja yang buka dari malam sampai pagi. Dia memberiku beberapa pilihan lokasi.

Setelah mengobrol sebentar dengan Number Two dan pacarnya, aku melanjutkan perjalananku keliling Oldenburg. Aku tidak tahu kehidupan malam seperti apa di Oldenburg. Aku melihat beberapa Irish Pubs dan semuanya penuh. Aku pun berjalan semakin dalam ke pusat kota. Aku berpikir Bar Celona di tengah kota adalah tempat yang cocok untuk duduk dan minum sambil menunggu pagi.

Sebelum sampai di sana, aku bertemu sekelompok orang muda yang teralkoholisasi. Satu orang yang termabuk tiba-tiba mengajak bicara. Dia bertanya aku dari mana dan mau ke mana. Aku bilang aku ketinggalan kereta dan menunggu kereta pagi dengan keliling-keliling merasakan dunia malam Oldenburg. Lalu dia mengajakku bergabung dengan grupnya. Aku pun mengiyakan. Aku bergabung.

Mereka yang mengajakku bergabung adalah orang-orang yang sedang merayakan ulang tahun satu orang. Entah kenapa, aku bisa diajak gabung. Daripada aku kesepian, aku pun ikut mereka ke klub manapun yang mereka masuki. Mereka pun berbagi Havana Cola bersamaku. Kami pun berkenalan dan mengobrol ringan selama mengantri masuk klub.

Klub pertama adalah Amadeus dan antriannya panjang.Tempat ini bertema rock. Lagunya tidak pas buatku dan sebagian besar di antara kami. Aku tidak cocok dengan hard rock. Di sini, aku bertemu rekan kerjaku di Jade HS Oldenburg. Dia suka rock.  Biaya masuk 4 EUR, titip jaket 1 EUR, dan aku minum 1 bir seharga 2,5 EUR. Totalnya 7,5 EUR. Seingatku, aku ditraktir minum bir, jadinya aku keluar uang 5 EUR di sini.

Berhubung banyak yang tidak cocok dengan Amadeus, kami pun keluar dan mencari klub lain. Klub kedua adalah Cubes dan antriannya panjang juga. Oh, ya, grup yang mengajakku berkata bahwa klub yang bagus adalah klub yang antriannya paling panjang. Tempat ini bertema hip-hop, reggaeton, dan pop, sesuai seleraku. Di klub ini ada “Tanz in den Mai” (Tarian memasuki bulan Mei). Di dalam klub, lagu-lagunya cocok dengan selera kami. Kami pun berdansa berdansa. Biaya masuk 5 EUR dan titip jaket 1 EUR. Aku pun hanya meminum air bening seharga 2,5 EUR. Jadinya aku keluar uang 8,5 EUR di sini.

Di Cubes, aku berpisah dengan grup yang mengajakku. Mereka keluar klub jam 4 pagi lalu menginap di Oldenburg. Sedangkan aku menunggu kereta jam 5:35 yang akan membawaku ke Bremen. Oh, ya, grup yang mengajakku ini mayoritas berasal dari Bremen. Mereka sama sepertiku, sama sekali tidak kenal Oldenburg. Jadinya mereka memilih klub secara acak, dan hanya melihat panjang antrian masuk sebagai patokan.

Jam 5 kurang, aku keluar dari Cubes lalu berjalan menuju stasiun. Lalu ada orang mabuk lagi yang memanggilku dan mengajak ngobrol. Aku mengobrol sebentar lalu melanjutkan ke stasiun. Sesampainya di stasiun, kuambil tasku dari loker dan kutunggu kereta 5:35. Kereta ini pun membawaku sampai ke Bremen.

Garis kematian ini memberiku kenangan yang berbekas. Aku jadi mengerti kehidupan malam di Oldenburg. Aku juga jadi mengerti bahwa sepeda memiliki peranan penting di Oldenburg. Berjalan kaki 3,5 km itu lama juga: 45 menit. Aku juga belajar bahwa kita harus waspada terhadap peristiwa kebetulan. Kadang hal tak terduga bisa memberi kita suatu hal bermakna. Karena suatu kebetulan, aku bisa berkenalan dengan orang baru. Gambar di bawah ini, menunjukkan bahwa garis kematian memberiku stigmata, pertanda bahwa aku lulus kursus bahasa roh.

Stigmata setelah melewati garis kematian, pertanda lahir baru dan lulus kursus bahasa roh

Kini aku kembali lagi dalam kehidupan selanjutnya, untuk melewati garis-garis kematian lainnya. Di sana, ada batu mil yang harus kulewati. Aku pun bingung kenapa mereka menggunakan batu mil (milestone), padahal di Jerman, orang menggunakan kilometer. Bukankah seharusnya “kilometerstone” lebih logis daripada “milestones”?

***

Garis kematian pengolahan sinyal bisa dibaca di tempat lain:

Kematian ini telah menebus dosa-dosa kebodohan. Aku pun lahir baru menjadi Anak Manusia.

Oldenburg, 5 Mei 2014

iscab.saptocondro

Sapto Condro bernyanyi bersama semilir angin Sachsen Hilir http://saptoconiedersachsen.blogspot.com/2014/05/setelah-kulewati-garis-kematian.html