Skip navigation

Tiga tahun lalu, aku menulis “Mengapa aku tidak lanjut studi doktoral“. Di sana, aku menulis tentang kebosananku karena aku menghabiskan 12,5 tahun hidupku dalam lingkungan pendidikan, baik sebagai pelajar maupun pengajar. Aku studi S1 kelamaan 1 tahun dan aku juga studi S2 atau master dengan waktu lebih dua kali lipat dari waktu seharusnya. Di antara S1 dan S2, aku sempat menjadi pengajar, baik di SMA maupun di universitas. Aku pun berpikir kalau aku harus merasakan bekerja sebagai engineer di suatu industri. Begitulah alasanku untuk tidak lanjut studi doktoral saat itu.

Tiga tahun telah berlalu dan kini aku memakan kata-kataku sendiri. Ini bagai menjilat ludah sendiri yang sudah dibuang. Awal tahun memang cocok buat merenung. Awal 2012, kurenungkan kenapa aku tak mau studi doktoral sedangkan awal 2015 kurenungkan kenapa aku jadi punya peran sebagai PhD student. Renungan tahun ini penting buatku, untuk mempertanyakan apakah peranku ini sungguh bermakna atau tidak. Perlukah peran ini dilanjutkan sampai titik darah penghabisan. Aku harus berani mengkritik diriku sendiri supaya aku bisa berperan sebagai mahasiswa doktoral dengan membawa makna, pertama bagi diriku sendiri dalam perkembangan mentalitas dan karir, kemudian bagi sebanyak-banyaknya orang lain dalam bentuk karya.

Menjadi mahasiswa doktoral di Eropa itu serasa berdiri di atas garis perbatasan. Satu kaki berada di tanah harapan. Di sana, aku percaya bahwa aku akan memberi karya ilmiah yang berguna bagi kemanusiaan. Aku juga percaya bahwa aku membangun karir dan mempersiapkan jalan hidup di tanah itu. Sedangkan kaki lain berdiri gemetaran di atas tanah kekhawatiran. Di tanah ini, selalu ada rasa ingin keluar dari program PhD. Ada rasa tidak sanggup meneruskan studi doktoral ini. Timbullah ide-ide “quit your PhD and get real job”, karena pekerjaan lain bisa memiliki upah yang lebih baik.

Akan tetapi kupikir-pikir, dalam pekerjaan apapun, akan ada masa di mana seseorang galau dan bertanya apakah ini pekerjaan yang cocok atau tidak. Begitu pula dalam studi doktoral. Kegalauan ini takkan bisa dihindari. Seorang manusia kritis sepertiku akan selalu mempertanyakan peran sosial: “Di manakah tempatku berada? Untuk apa, aku hidup? Bagaimana aku bisa memberi makna bagi orang lain di dunia ini?”

Seperti kata nasihat meme yang seliweran di internet, “If you feel like quitting, remember why you started”, jadilah aku merasa perlu menjawab mengapa aku memulai studi doktoral ini. Aku perlu mengingat apa yang terjadi tahun 2013, ketika aku melamar program ini. Aku harus berani menghadapi masa lalu, kemudian memeluknya erat, mendalami kehangatannya, kemudian melepaskannya untuk menyambut masa depan penuh harapan.

***

Bagaimana ceritanya aku sampai jadi mahasiswa doktoral?

Cerita dimulai tahun 2011, ketika aku kelaparan dan bangkrut. Aku telah lulus studi master tahun 2010. Aku melamar kerja sana-sini, baik lamaran untuk studi doktoral maupun industri. Setelah 8 bulan penantian, aku pun mendapatkan kontrak kerja sebagai konsultan. Perusahaan consulting ini begitu muda dan lincah. Sebetulnya menarik juga bekerja di perusahaan ini. Kemudian aku ditempatkan di perusahaan besar yang memiliki grup litbang di bidang otomotif.

Tahun 2011 hingga 2012, aku merasakan bekerja sebagai test engineer di bidang otomotif di Bayern. Aku sebetulnya tertarik untuk bekerja sebagai software developer, daripada software tester. Tetapi aku merasa pekerjaan ini cukup OK, untuk mengobati kelaparanku dan mengembalikan utang-utangku untuk sementara. Aku menyimpan harapan kalau aku bisa belajar banyak dan kemudian bisa jadi developer setelah sekian waktu. Akan tetapi semakin lama aku bekerja, semakin aku merasa tidak cocok dengan kultur kerja grup ini. Sebagai konsultan, aku tidak memiliki akses berbagai informasi baik di jaringan kantor maupun rapat, namun aku dituntut bekerja seperti pegawai tetap yang punya akses penuh. Akhirnya aku mengalami putus kontrak.

Tahun 2013, aku dijual ke perusahaan bidang luar angkasa. Aku berharap bisa mendesain software dan hardware untuk komponen satelit. Akan tetapi ternyata aku juga tidak cocok dengan kultur kerja perusahaan ini. Selain itu, ilmu mendesain hardware yang kumiliki sudah ketinggalan zaman. Aku juga belum “move on” dari pedihnya putus kontrak di perusahaan otomotif. Selain itu, segenap masalah di Bremen dengan perusahaan telekomunikasi dan urusan visa, membuatku mengalami stress yang mengganggu pekerjaan. Oh, ya, ditambah pula, orang yang menerimaku bekerja, meninggal 3 minggu setelah aku bekerja. Akhirnya aku pun putus kontrak.

Aku pun kembali menjadi ronin. Aku mendapat uang pengangguran (Arbeitslosengeld). Aku kembali melamar kerja sana-sini. Aku merasakan kesulitan yang sama seperti tahun 2011 dalam mencari kerja. Visaku yang belum “permanent residence” atau “unbefristet”, menjadi penghalang. Banyak perusahaan menolak orang-orang dengan visa seperti ini. Hanya perusahaan kecil yang biasanya berani menerimaku dengan visa seperti ini.

Aku berpikir untuk kembali ke Indonesia. Aku sempat tidak bisa tidur karena memikirkan apa saja yang harus kusiapkan untuk kembali ke tanah airku. Aku berpikir kalau aku bekerja di Indonesia, aku akan menjadi apa. Lowongan kerja di Indonesia memiliki syarat umur dan aku tiba-tiba merasa tua.

Entah kenapa, ada bisikan dalam jiwaku, “Why not PhD?”. Aku tiba-tiba kembali diingatkan bisikan supranatural untuk merasakan panggilan jiwaku untuk berperan dalam lembaga pendidikan. Dengan PhD, aku bisa kembali ke universitas. Bukankah aku masih menyimpan gairah atau passion di bidang penelitian dan pendidikan?

Berhubung aku sudah merasakan rasionalisme Eropa, aku tidak mudah tergoda bisikan gaib. Aku tiba-tiba mengontak kawan lama Elektro ITB yang kini hidup di Norwegia, yaitu Eka Suwartadi. Aku minta janji Skype dengannya. Aku jarang mengobrol dengan orang di Skype. Namun kali ini, aku ingin bertanya tentang pengalamannya dalam proses melamar doktoral, termasuk mengapa dan bagaimana. Dia berkata bahwa bertemu seorang Profesor Norwegia yang sedang berkunjung di ITB di Bandung yang membuka jalan hidupnya untuk studi doktoral di Norwegia.

Aku juga mengontak kawan lama PPI Bremen yang sudah kembali ke Indonesia, yaitu Rio Deswandi. Aku bertanya karena dia adalah Doktor lulusan Uni Bremen yang kuanggap paling tekun dan sungguh-sungguh menjiwai kegiatan doktoralnya. Selain itu, dialah yang paling suka mengundangku makan-makan. Kini aku bertanya mengenai apakah aku cocok untuk PhD. Dia bilang kalau aku memiliki daya juang yang cukup untuk PhD.

Aku pun memulai lamaran doktoral. Selain mencari info lowongan engineer di perusahaan, aku juga membuka-buka website lembaga penelitian dan universitas. Aku mencoba lowongan di Jerman Utara karena aku tidak mau pindahan jarak jauh. Uang tunjangan pengangguran  yang kudapat itu hanya 8 bulan. Jadi dalam 8 bulan aku harus mempersiapkan diri kalau pulang ke Indonesia juga pilihan, jika aku gagal dapat pekerjaan di Jerman.

Ada satu hal yang menjadi bagian hidupku yang sulit terlepas, yaitu online social network. Aku membuka Facebook dan LinkedIn. Aku melihat kawan-kawan bekerja apa saja. Aku harus melihat pilihan apa saja kalau aku bekerja di Indonesia atau di Jerman. Tidak kusangka, aku membuka profil ketua PPI Bremen saat itu, yaitu Rany Miranti. Aku melihat program doktoral yang dikerjakannya di Uni Oldenburg, di Niedersachsen, dekat Bremen. Aku tertarik dengan bidangnya: “renewable energy” (energi terbarukan). Aku pun bertanya mengenai lowongan di grupnya. Rany membantu dalam mengirim tautan.

Dari tautan di Uni Oldenburg, aku mengeklik sana-sini kemudian aku melihat topik “Multi-microphone speech enhancement using brain computer interfaces”. Aku merasa topik multi-mikropon sesuai dengan latar belakang S1 di ITB dan “brain-computer interface” (BCI) sesuai dengan latar belakang S2 di Uni Bremen. Aku pun mengirim lamaran. Syukurlah aku diwawancara di Skype. Dalam wawancara, aku banyak ditanya mengenai signal processing. Aku pun merasa kalau aku sudah berkarat. Banyak hal yang tidak kuketahui. Professor tersebut berkata bahwa aku termasuk kandidat yang bagus, namun aku harus menunggu karena dia juga mewawancarai kandidat bagus lainnya.

Tidak berapa lama kemudian, aku mendapat jawaban negatif. Aku agak kecewa tidak bisa diterima program doktoral ini. Namun aku juga lagi sering menanggapi ajakan jalan-jalan, memenuhi panggilan wawancara lainnya di perusahaan. Beberapa minggu kemudian, seorang Professor dari Jade HS Oldenburg mengirimku email. Dia mendapat berkas-berkasku dari Profesor Uni Oldenburg yang menolakku. Ternyata topik doktoral yang kulamar sebelumnya adalah bagian dalam program Signal and Cognition (SigCog), yang didanai kementrian pendidikan dan kebudayaan di Niedersachsen. Professor dari Jade HS ini bertanya apakah aku masih berminat doktoral di bidang BCI. Aku menjawab ya dan siap datang wawancara di kantornya.

Pertama kali aku datang ke kota Oldenburg adalah untuk wawancara doktoral di Jade HS Oldenburg. Sempat tersesat sebentar di Oldenburg karena aku mencari tempat makan siang sebelum wawancara. Aku menjalani wawancara ini dan aku diterima program doktoral, dengan topik “Using brain computer interfaces for active control of assistive technologies”, masih di program SigCog yang sama. Setelah itu, aku sibuk urusan administrasi dan berurusan dengan kegiatan doktoral.

***

Kini aku sudah memasuki akhir semester ketiga dari program doktoralku. Dua semester kuhabiskan waktuku dalam beberapa kuliah dan mencari “research question” (rumusan masalah). Sayang sekali, aku masih meraba-raba dalam kegelapan mengenai apa yang harus kulakukan dalam penelitianku. Waktuku tinggal 3 semester lagi. Setelah itu, dana habis. Tahun depan, aku akan dihadapkan kepada keputusan apakah aku meneruskan program PhD ini atau berhenti. Aku masih belum bisa eksperimen karena komisi ethik belum menyetujui proposalku. Jika satu penelitian butuh 1 tahun, sedangkan aku ingin membuat 3 penelitian, mau tidak mau aku harus mencari dana lain untuk tahun keempat. Juga satu semester tambahan untuk mengetik thesis.

Oh, ya, satu penelitian yang kumaksud terdiri dari 1 proposal ethik yang lolos review komisi ethik, rangkaian percobaan/eksperimen dengan beberapa manusia sebagai subjek yang masing-masing terdiri dari beberapa sesi, kemudian melaporkan dalam bentuk publikasi di 1 jurnal ilmiah. Aku membuat thesis kumulatif: 3 paper di jurnal ilmiah ditambah tulisan pembukaan dan penutup.

Berhubung aku belum pernah punya pengalaman PhD, jadi aku banyak tidak tahu apa itu PhD atau apa itu studi doktoral. Aku serasa seorang buta yang berjalan di dalam kegelapan gua hantu. Jadi aku jalani saja masa-masa S3 ini. Suatu hari, aku akan tahu apa itu PhD.
Habisi!

Bagai kucing dalam kotak Schrodinger, sebelum kotak dibuka, aku tak tahu apakah kucing itu akan jadi Doktor atau loncat keluar kabur dari program doktoral.  Setidak-tidaknya kucing itu bakal tahu apa itu PhD. Kenapa jadi ngomong tentang kucing, ya? Bukankah tadi ada Si Buta dari Gua Hantu? Setahuku di Gua Hantu ada ular raksasa yang bernama PhD. Daripada kebanyakan analogi, lebih baik aku kembali ke Dharma Doktoral.
Habisi!

Bremen, 6 Januari 2015

iscab.saptocondro
Darah Juang!

Berjuang untuk Beasiswa — http://iscabeasiswa.blogspot.com/2015/01/mendadak-doktoral.html

2 Comments

  1. Darah juang…!!!

  2. Luar biasa pak,.
    saya mulai berani bermimpi lagi, terimakasih.ūüôā


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: