Skip navigation

Monthly Archives: February 2015

Sudah lama, aku tidak menulis tentang biaya hidup di Jerman. Tahun 2013, aku mengurus kepindahanku dari Nürnberg ke Bremen. Saat itu, aku sempat membayar sewa dua apartemen di dua kota. Aku juga sempat menumpang sementara di kawan. Jadi tahun 2013, bukanlah masa yang betul-betul stabil dalam mencatat biaya hidup. Sepertinya aku lebih mudah menggambarkan seperti apa biaya hidupku di tahun 2014, walau sedikit terkontaminasi dengan biaya hidup tahun 2015.

***

Biaya Bulanan:

  1. Bayar sewa Wohnung (apartemen) = 544 EUR 
  2. Air: Wasser als Nebenkosten = 23 EUR
  3. Listrik SWB = 85 EUR
  4. Iuran GEZ = 18 EUR 
  5. Iuran RT = 10 EUR 
  6. Internet + Telpon Rumah = 38 EUR 
  7. Internet + Telpon Genggam = 40 EUR 
  8. Asuransi kesehatan publik = 261 EUR 
  9. Langganan McFit = 20 EUR 
  10. Makan di Rumah = 80 EUR s.d. 100 EUR
  11. Makan di Luar = 80 EUR s.d. 150 EUR 
  12. Kebersihan = 40 EUR 
  13. Sandang = 20 EUR 

Per bulan, aku harus menyediakan 1259 EUR s.d. 1349 EUR

***

Biaya Semesteran:

  1. Semesterbeitrag = 315 EUR

Per semester, aku harus menyediakan 315 EUR.
Kalau dibulatkan jadi per bulan, jadinya 52 EUR.

***

Biaya Tahunan:

  1. Perpanjangan visa = 90 EUR 
  2. Perabotan = 50 EUR s.d. 250 EUR 
  3. Jalan-jalan dengan kereta DB = 300 s.d. 500 EUR
  4. Bahncard 50 = 255 EUR 
  5. Jalan-jalan dengan pesawat = 0 EUR s.d. 1000 EUR 

Per tahun, aku harus menyediakan 695 EUR s.d. 2095 EUR
Kalau dibulatkan jadi per bulan, jadinya 58 EUR s.d. 175 EUR

***

Oh, ya, ada biaya lagi, yaitu asuransi waspada alias Haftpflichtversicherung. Sementara ini, aku membayar 80 EUR per tahun.
Kalau dibulatkan per bulan, jadinya 7 EUR.

Aku ingin mengganti asuransi ini dengan perusahaan lain yang lebih melindungiku, terutama dari kehilangan kunci. Per bulan kira-kira 27 EUR.

Pada masa transisi, aku harus membayar keduanya. Jadi per bulan, aku harus menyediakan 34 EUR.

***

Setelah dihitung-hitung, semua biaya di atas, per bulan aku harus menyiapkan 1403 EUR s.d. 1610 EUR.

***

Penjelasan biaya hidup:

  1. Aku menyewa apartemen 2 kamar, yang “furnished” atau “mobiliert” (ada perabotan), di daerah yang “convenient” (dekat toserba dan halte angkot), jadi harga sewa lumayan mahal. Tapi bagaimana pun juga sewa kamar di Bremen juga mengalami peningkatan harga. Untuk meredakan kegalauan biaya sewa, aku pun menyewakan satu kamar kepada student lain.
  2. Menambah satu orang di apartemen ternyata membuatku harus menambah bayar iuran air per bulan.
  3. Seperti kata Bang Rhoma Irama tentang begadang, tagihan listrik per bulan jadinya 80-an EUR, bukan 50-an EUR. 
  4. GEZ adalah iuran yang harus dibayarkan setiap kepala rumah tangga untuk setiap peralatan komunikasi yang mengeluarkan gelombang elektromagnet: TV, radio, WiFi, Bluetooth, walkie talkie, dll (web Rundfunkbeitrag, wiki: en,de). Di Indonesia dulu pernah ada iuran TV, untuk menghidupi TVRI yang tanpa iklan. Di Jerman, GEZ dipakai untuk membiayai stasiun TV publik (ARD dan ZDF), dan radio publik. Jadi orang Jerman bisa menikmati Piala Eropa dan Piala Dunia di televisi milik publik.
  5. Iuran RT adalah iuran bersama untuk beli tissue toilet, alat kebersihan, sabun cuci piring, beras, telur, dll untuk dipakai bersama roomie (Mitbewohner/-In).
  6. Internet dan telpon rumah: aku menggunakan kabel DSL dari Telekom. Ada tetangga yang ikut sharing biaya ini, jadi sedikit ringan bebanku untuk sementara.
  7. Internet dan telpon genggam: aku menggunakan smartphone sejak 2012, dan aku berlangganan Telefonica O2 hingga HSPA plus. Waktu itu, di Jerman, LTE belum ada di semua kota. Jika smartphone milikku sudah rusak parah setewas-tewasnya, mungkin aku bakal ganti kontrak dan ganti smartphone untuk LTE, LTE-Advanced (4G), atau bahkan 5G.
  8. Asuransi kesehatan publik (gesetzliche Krankenversicherung) lumayan mahal, kalau lajang dan tidak bekerja. Aku mendapat beasiswa, bukan kontrak kerja, jadinya aku harus membayar penuh. Kalau bekerja, setengah dibayar pemberi kerja dan setengahnya kubayar sebagai penerima kerja, dan langsung motong gaji. Jadi take-home pay, sudah bisa kunikmati tanpa harus mikir askes. Kalau menikah, dengan iuran askes yang kira-kira sama, seluruh anggota keluarga dilindungi. Kalau lajang tanpa anak, dengan iuran tersebut hanya satu saja yang terlindungi, yaitu aku. Keuntungan askes publik adalah tinggal gesek kartu, bisa dapat layanan kesehatan. Dulu sewaktu menggunakan askes swasta, aku harus membayar dulu dan menunggu reimbursement bulan berikutnya. Kena flu saja habis 120 EUR. Teman yang cabut gigi kena 300 EUR. Oh, ya, kalau ibu hamil dan melahirkan itu biaya totalnya ribuan EUR.
  9. McFit itu tempat fitness murah. Aku berlangganan beginian karena ulah kawanku yang impulsif. Aku menemaninya fitness untuk kemudian ditinggalkannya. Kini aku kesepian jika harus pergi fitness sendiri. Tapi aku harus memotivasi diriku di tahun 2015, tahun olahraga. Kalau seminggu sekali fitness, berarti aku keluar 5 EUR per minggu. Kalau tidak, aku cuma buang-buang uang.
  10. Kalau melihat kuitansi belanja untuk mengisi kulkas, sebetulnya per minggu, biayanya sekitar 16 s.d. 18 EUR. Kubulatkan jadi 80 EUR per minggu minimal. Kata orang logistik, kurangi residu untuk menjadi efisien. Aku hanya belanja barang yang kukonsumsi rutin dan sebisa mungkin tidak membiarkan barang kadaluarsa. Jadi “marginal utility” kumanfaatkan dengan optimal. Sebetulnya biaya makan di rumah bisa dihemat lagi, tapi buat apa. Nikmati makanan bergizi selagi masih ada kesempatan. Kesehatan itu penting. Barulah saat masa-masa gawat, dihemat secara ekstrem.
  11. Aku juga makan di luar rumah: kantin, Mensa, kopi, dan kadang untuk ikut acara ngumpul bersama rekan PhD di Oldenburg maupun di Bremen. Bisa saja aku menghemat makan di luar tapi untuk saat ini, waktu jauh lebih berharga daripada uang. Mungkin di masa-masa gawat keadaan ini berbalik. Selain itu, menikmati kebersamaan bersama kawan-kawan juga perlu untuk keseimbangan jiwa. Sekali makan siang di Mensa (kantin universitas), kukeluarkan antara 2 EUR hingga 4 EUR. Segelas kopi seharga 90 sen. Makan hura-hura bersama kawan di restoran bisa menghabiskan 4 EUR hingga 12 EUR. Nonton di bioskop butuh 7 EUR hingga 12 EUR.
  12. Biaya kebersihan adalah biaya membeli sabun mandi, pasta gigi, shampoo, deterjen untuk pakaian, dll, serta biaya mencuci pakaian di Wasch-Center. Kuperkirakan ini menghabiskan 40 EUR per bulan.
  13. Biaya sandang adalah biaya membeli baju, celana, pakaian dalam, asesori, sepatu, dll. Walau aku berasal dari Bandung, kota fashion dan kota tekstil, aku termasuk orang yang jarang belanja sandang. Bahkan beberapa pakaianku pemberian orang atau perusahaan atau organisasi. Tapi bagaimana pun juga aku harus menganggarkan belanja sandang tiap bulan. Untuk sementara, 20 EUR termasuk realistis.
  14. Semesterbeitrag itu uang yang harus kubayar kepada universitas untuk Semesterticket (tiket transportasi untuk mahasiswa), jaringan internet kampus, iuran organisasi mahasiswa, perpustakaan, fasilitas olahraga, bengkel kampus, dll. Sebetulnya aku membayar lebih murah daripada yang kusebut di atas, karena ada potongan.
  15. Tiap tahun kadang orang membayar biaya untuk perpanjangan visa. Kadang tiap dua tahun, tergantung kondisi. 
  16. Tiap tahun kadang aku membeli perabotan: alat masak, keset, alat tulis, dll.
  17. Karena aku sudah berlangganan Bahncard 50, aku harus jalan-jalan dengan kereta. Jadi aku menganggarkan biaya jalan-jalan keliling Jerman dengan kereta Deutsche Bahn.
  18. Ada kalanya aku harus pergi ke Indonesia untuk mudik atau pergi ke negara tetangga di Eropa untuk tapa mlaku, seperti pepatah “Travelling tresno jalaran soko kulino”. Jadi aku menganggarkan biaya perjalanan pesawat.
  19. Jerman punya banyak skema asuransi, yang sulit kusebutkan satu per satu. Bahkan aku pun masih pusing dengan beda-bedanya, karena harus membaca kontraknya dan juga baca wikipedia serta kamus untuk mengerti. 
***

Selain biaya di atas, aku juga membayar pensiun dan reksa dana. Akan tetapi, karena ini tidak bisa disebut sebagai biaya hidup, tetapi lebih cocok disebut sebagai menabung atau investasi, jadinya tidak kumasukkan ke perhitungan ini. Ada kemungkinan pula, aku harus menarik dana ini di masa-masa sulit yang mungkin datang tahun depan, ketika beasiswa dari Niedersachsen berhenti.

***

Seri biaya hidup di Jerman, bisa dibaca dari tulisanku yang lainnya:

Dari semua biaya hidupku, yang terasa mahal itu biaya tempat tinggal dan biaya (jaminan) kesehatan. Sebetulnya baik Jerman maupun Indonesia, komponen biaya tempat tinggal dan kesehatan itu yang paling mencekik, apalagi kalau kamu rakyat miskin.

Bremen, 19 Februari 2015

iscab.saptocondro

iscab di Bremen Bercinta — http://iscabremen.blogspot.com/2015/02/biaya-hidup-di-bremen-tahun-2014.html

Advertisements

Setelah menulis tentang Bloody Valentine: Cinta Berdarah, tanpa sengaja aku melihat burungku berkicau tentang Valentine. Ternyata aku hanya berkicau tentang Hari Cinta Kasih itu ketika aku sedang berada di Bremen, hanya di Bremen 1.0 dan Bremen 2.0. Selama di Nürnberg, Bayern, aku tak pernah berkicau tentang Hari Kasih Sayang ini. Apakah Bremen itu tanah galau? Apakah selama di Bayern yang kupikirkan hanya “kerja, kerja, kerja” sehingga aku tak punya cinta? Arbeit! Arbeit! Arbeit!

Lange Rede kurzer Sinn, di bawah ini kicauanku tentang Valentine selama di Bremen.

***

Bremen 2.0: masa-masa di Bremen dari 15 Desember 2012 hingga kini

***

Bremen 1.0: masa-masa di Bremen dari 1 April 2006 hingga 31 Juli 2011.

***

Andai dulu Twitter sudah ditemukan, mungkin lebih banyak kicauan cinta dari masa-masa hidupku di Bandung, kota yang romantis. Angin malam kota Bandung menghembuskan kerinduan akan pelukan kekasih, sedangkan angin kota Bremen menggerakkan kincir angin untuk bekerja penuh energi. Kerja! Kerja! Kerja!

Bremen, 18-19 Februari 2015

iscab.saptocondro

iscab di Bremen Bercinta — http://iscabremen.blogspot.com/2015/02/kicauan-valentine-di-bremen.html

Bentar lagi, hari Valentine. Kata orang itu Hari Kasih Sayang, atau Hari Cinta Kasih. Buatku tidak penting, bagaimana sejarahnya, sehingga tanggal 14 Februari menjadi Hari Valentine. Banyak teori tentang itu, termasuk juga teori konspirasi. Seperti kata Lenin tentang kesatuan teori dan praktek, bahkan ada yang mempraktekkan teori konspirasi Valentine, dalam bentuk aksi di jalan dan di Facebook untuk menolak maupun mendukung Hari Valentine. Setiap orang memiliki caranya masing-masing untuk memaknai Hari Valentine.

Ada pesan yang kulupa asalnya dari mana, apakah dari Kahlil Gibran atau Antonio de Mello, yaitu “Tanah Suci kita hormati untuk memperingati bahwa setiap tanah yang kita injak adalah suci.
Hari Suci kita peringati, untuk menyadarkan bahwa setiap hari adalah suci dan anugerah Tuhan itu ada setiap hari”.
Begitu pula, Hari Kasih Sayang atau Hari Cinta Kasih itu ada untuk mengingat bahwa kita setiap hari perlu mengasihi sesama manusia.

***

Bagaimanakah Hari Valentine kumaknai?

Hari Kasih Sayang tersebut selalu membuatku mengenang masa-masa di sekolahku dulu. Tiap Valentine, sekolahku membuat hari ini spesial. Speaker sekolah yang biasa dipakai untuk pengumuman dari “komando terpusat”, jadi dipakai untuk ajang “request” lagu dari si anu ke si doi, pada jam tertentu. Beberapa ekskul memiliki kegiatan masing-masing di hari tersebut.

Berhubung aku bergabung dalam ekskul Palang Merah di SMP dan SMA, aku menjadi panitia donor darah. Setiap Valentine, selalu ada aksi donor darah yang bekerjasama dengan PMI pusat dan Lion’s Club. Tunjukkan kasih sayangmu dengan memberikan darahmu, karena darahmu adalah nyawa bagi orang lain. Kira-kira begitulah makna donor darah di Hari Valentine.

Darah adalah nyawa. Menurut ajaran Yahudi dan Kristen, darah adalah tempat nyawa bersemayam (Kejadian 9, Alkitab). Dalam acara kurban menurut beberapa bagian Kitab Keluaran, Imamat dan Ulangan (Alkitab), darah itu untuk Tuhan dan daging  untuk para imam. Dalam Islam, juga sebetulnya darah itu bukan untuk dimakan. Pada acara kurban, dalam Islam, daginglah yang dimakan. Darah itu untuk Tuhan karena nyawa itu untuk Tuhan. Jadi jangan menumpahkan darah sesama manusia (maksudnya membunuh), karena nyawa manusia adalah milik Tuhan. Kira-kira begitulah makna spiritual atau teologis tentang darah. Namun kali ini, darah sebagai nyawa, juga bermanfaat dalam menyelamatkan kehidupan orang lain. Dengan mendonor darah, kita membagikan sebagian nyawa kita untuk sesama manusia.

Waktu sekolah di SMA, aku masih takut jarum. Jadi aku tidak ikut mendonor darah. Aku hanya menjaga meja pendaftaran atau meja kue. OK, dari postur tubuhku yang gembul, pasti pembaca blog ini tahu kalau aku lebih sering berada di meja kue. Inilah yang disebut sebagai “The Law of Cookie Gravity”.

Setiap Valentine, aku selalu melihat seorang kawan wanita, yang tidak pernah kapok mendonor darah. Kenapa kusebut “kapok”? Lebih baik kuceritakan profil kawanku ini. Dia adalah penari jaipong terbaik di sekolahku. Dia memiliki rasa sosial yang tinggi. Setiap ulang tahun, dia merayakan di panti asuhan. Aku juga pernah ke rumahnya dan di akhir, aku selalu pulang membawa kue yang diberikannya. Jadi kuduga, dia memang orang yang suka berbagi. Saat aksi donor darah Valentine di sekolah, dia pun membagikan darahnya. Akan tetapi, tiap kali selesai donor darah, dia selalu pingsan. Tapi dia tidak kapok-kapok mendonorkan darahnya. Tiga kali Valentine di SMA, dia selalu jadi pendonor yang pasti pingsan. Dan bodohnya kami yang Palang Merah, tetap saja tidak kapok membiarkan dia mendonorkan darahnya. Seperti kata Patkay, “memang begitulah cinta, deritanya tiada akhir.”

Kupikir-pikir, setiap Valentine yang kuingat adalah donor darah di sekolah. Aku tidak pernah merayakan Valentine, ketika aku jomblo maupun ketika berpasangan. Mungkin karena pengalamanku hanya bersama cewek tomboy. Hari spesial buat kami adalah hari ulang tahun masing-masing, bukan hari Valentine. Spesial pakai coklat! Jadi Valentine yang paling terkenang secara mendalam adalah Bloody Valentine, Cinta Berdarah.

Kini aku merenung, karena tidak bisa mendonor plasma darahku di Hari Valentine tahun ini. Padahal aku sudah sembuh dari rasa takutku akan jarum. Aku lagi dalam masa-masa perawatan gigi. Selama sebulan setelah cabut gigi, aku belum boleh mendonor plasma darahku. Selain itu, minggu ini alias besok, aku harus merasakan penambalan gigi. Kegiatan donorku pun harus tertunda lagi. Aku tidak bisa memberikan cintaku pada sesama manusia dalam bentuk plasma darahku.

***

Sebagian tulisan tentang donor darah, donor plasma darah, dan Valentine kali ini, mungkin mirip dengan catatanku sebelumnya:

Darah Juang!

Oldenburg dan Bremen, 12-13 Februari 2015

iscab.saptocondro

Condro, budak Aloy98 nu TOP tea — http://aloyiscabtop.blogspot.com/2015/02/bloody-valentine-cinta-berdarah.html