Skip navigation

Monthly Archives: April 2016

Aku sedang berpikir apa yang membuat orang bermotivasi membaca buku, terutama hingga tuntas. Dulu sewaktu SMP, aku bisa menuntaskan satu buku detektif remaja setiap hari. Beralih ke SMA, aku butuh seminggu untuk menyelesaikan buku mirip. Semakin dewasa, kemampuan membaca hingga tuntas makin berkurang. Sepertinya kemampuan membacaku menurun.

Kurenungkan kembali, kalau sewaktu SMA, aku mulai tertarik membaca koran sehingga waktuku untuk membaca buku mulai berkurang. Jadi sebetulnya minat membacaku tidak berkurang. Hanya bacaannya berbeda.

Ketika menjadi mahasiswa di Indonesia, aku juga membeli buku, baik untuk kepentingan kuliah maupun untuk rasa ingin tahu. Buku untuk kepentingan kuliah tidak kubaca tuntas, aku hanya membaca yang penting-penting saja untuk latihan soal dan ujian. Beberapa hal juga tak kumengerti, tapi toh aku bisa lulus kuliah.

Buku-buku untuk kepentingan non akademik juga kubeli. Biasanya aku penasaran dengan suatu buku karena kawan-kawanku mengobrol tentang suatu buku. Jadinya aku (ingin) ikut membaca, supaya “nyambung” kalau kumpul-kumpul. Buku pun kadang kubeli. “Social pressure” ternyata mempengaruhi bacaanku.

Ternyata tidak semua buku yang kubeli bisa tuntas kubaca. Yang tuntas kubaca biasanya buku-buku yang endingnya bikin penasaran atau penuh “element of surprise”, misalnya detektif, misteri, thriller, dll. Buku-buku yang bukan novel yang tuntas kubaca, ternyata adalah buku-buku “kiri”. Jadi bisa kutebak kira-kira buku apa saja yang bisa menggerakkan gairah membaca.

***

Sesampainya di Jerman, aku jarang membeli buku. Alasannya adalah biaya: harga buku relatif mahal dan buku itu berat (kalau pindah rumah) serta buku menghabiskan ruang rak dan kamar. Membuang buku juga pedih rasanya. Seperti ada sebagian jiwa yang harus dilepas ketika aku harus membuang buku. Biasanya aku meminjam buku ke kawan.

Tidak semua buku yang kupinjam atau kudapat, bisa tuntas kubaca dari awal hingga akhir. Ada yang kukembalikan sebelum selesai kubaca tuntas. Ada yang kubaca loncat-loncat untuk tahu kira-kira isinya apa (speed reading). Kurenungkan kembali, kalau buku yang betul-betul tuntas kubaca biasanya bertema feminisme atau “kiri”. Jadi bisa ditebak kira-kira minat bacaku seperti apa.

Karena jarang membeli buku, aku bisa tahu utang membacaku bagaimana. Ada dua buku yang belum tuntas kubaca, yaitu Elizabeth Gilbert “Eat, Pray, Love” dan Rick Warren “The Purpose Driven Life”. Keduanya ada di kamarku karena aku betul memiliki keduanya.

Buku Gilbert tersebut kubeli tahun 2012 dan rencananya ingin kubaca sebelum nonton filmnya. Akan tetapi aku tidak tahan dengan ceritanya yang sepertinya bertele-tele. Aku hanya membaca awalnya saja, lalu kubaca loncat-loncat ala speed reading, kemudian aku menonton filmnya. Tanpa membaca tuntas, aku bisa tahu filmnya berbeda apa saja dengan bukunya. Nampaknya kegalauan wanita tidak membuatku tertarik sama sekali.

Buku Warren (berbahasa Indonesia) dihadiahkan oleh kawanku yang pulang ke Indonesia karena studinya di Jerman berakhir. Aku juga menerima versi asli bahasa Inggris yang digital, via email, dari kawan yang lain. Awalnya aku berminat membaca buku ini supaya lebih “religius” juga demi bertobat dari segala macam kegalauan. Akan tetapi, aku tidak tahan membaca buku ini. Baru tiga bab dari 40, yang bisa kubaca. Sepertinya “Tuhan” bukanlah sesuatu yang cocok untukku.

Sedikit tambahan, “Tuhan yang mati” menurut Nietsche juga salah satu yang tidak tuntas kubaca. Bukunya berjudul “Thus Spoke Zarathustra” dan tersimpan di rumah ibuku di Indonesia. Aku hanya sanggup membaca 3 halaman saja. “Tuhan” betul-betul tidak bisa memotivasiku untuk membaca.

Ada satu buku yang kupinjam dari kawanku, yaitu Karen Armstrong “A History of God”, atau “Sejarah Tuhan”. Buku ini hanya bisa kubaca tiga bab. Lalu aku tidak sanggup lagi. Mungkin ini karena dalam bahasa asli, bahasa Inggris, bukan dari terjemahan bahasa Indonesia. Tapi bisa jadi karena “Tuhan” tak mampu membuatku bergairah membaca.

***

Suatu hari, aku merasakan ranselku terlalu berat kalau harus membawa buku, dalam perjalanan yang harus kutempuh dengan sepeda dan kereta. Aku pun membeli iPad dan membaca buku digital saja. Sebelumnya aku sudah membandingkan tablet apa saja yang cocok untuk membaca buku (dan paper ilmiah) digital. Awalnya aku ingin Android, tapi ukuran di tangan sepertinya tidak pas (dalam volume dan massa). Jadi aku mencoba memilih Apple.

Tujuan awal memiliki iPad adalah supaya aku tidak merasakan tas yang membengkak dan juga berat akibat berlembar paper dan buku. Dua tas sudah jebol selama menjadi mahasiswa doktoral. Akan tetapi, aku sempat mengalami eforia iPad. Alat ini kupakai untuk social media secara berlebihan. Di masa-masa galau riset, aku bahkan sharing berlebihan. Hingga beberapa kawan Jerman meng-unfriend diriku.

Kini kusadari kalau aku memiliki minat membaca akan informasi “kekinian”, yang sering tampil di social media. Tidak lupa kubagi kemudian. Minatku membaca buku, jadi teralihkan ke bacaan singkat dan semi singkat yang terunggah dan terbagi di social media. Sialnya, aku memiliki banyak kawan online, jadi bahan bacaanku terlampau banyak untuk bisa kubaca tuntas.

Aku pun merenungkan, kalau setiap ada postingan tentang suatu hal yang bisa kubaca, aku bertanya terlebih dahulu: apakah bacaan ini berguna untukku saat ini, apakah mengganggu waktuku dalam Dharmaku, apakah kalau membaca ini akan menjadi manusia tercerahkan, apakah ada yang mati kalau aku tidak membaca ini, apakah ada yang gawat dengan kerjaanku kalau aku tidak membaca ini, dll. Jadi aku hanya membaca seperlunya saja.

***

Awal memiliki iPad, aku bertujuan membaca paper ilmiah dan buku-buku yang berhubungan dengan risetku. Akan tetapi aku malah membaca Harry Potter. Sejak iPad kupakai membaca selama perjalananku di kereta, aku sudah menyelesaikan tiga buku Harry Potter. Sedangkan buku-buku ketuhanan dan curhat wanita galau “Eat, Pray, Love” hingga kini belum kuselesaikan. Kini kusadari minatku seperti apa.

OK, aku juga menggunakan iPad untuk membaca Kitab Suci. Ada bacaan harian dari kalender liturgi Katolik dari suatu aplikasi. Awalnya aku mencoba mengunduh aplikasi Alkitab yang sama dengan yang di Android, tapi tidak ada di Apple Store. Aku pun mencari padanan yang mirip. Aku menemukan aplikasi Alkitab yang tampilan dan navigasinya tidak terlalu asyik. Tapi ketika aku lihat bacaan hariannya sama dengan kalender liturgi Katolik, aku pun tertarik. Bacaan harian ini tidak terlalu pendek dan tidak terlalu panjang. Aku pun mempertahankan aplikasi ini di iPad. Perjalanan keretaku kuisi dengan membaca bacaan harian ini.

Tapi kusadari bahwa aku tidak mungkin tuntas membaca Alkitab. Bacaan harian untuk umat itu ayat-ayat yang dipilih otoritas gereja. Ada beberapa hal yang tidak masuk bacaan harian. Beberapa ayat tidak cocok untuk anak bawah umur dan juga kadang tak terlalu berhubungan dengan doktrin gereja yang sehari-hari biasa ditanamkan kepada umat. Jika ingin membaca tuntas, harus mencoba baca sendiri dari awal hingga akhir, tanpa tuntunan bacaan harian.

Oh, ya, aku juga punya aplikasi Al Quran. Secara teoretis, kalau orang membaca 1 juz per hari, dia akan tamat membaca Al Quran dalam 30 hari. Sebulan bisa tuntas. Itu kalau niat membaca. Akan tetapi aku tidak minat membaca tuntas seperti ini. Belum dapat hidayah.

***

Kini kusadari bagaimana minatku dalam membaca. Aku hanya mampu menuntaskan suatu buku dari awal hingga akhir jika aku termotivasi oleh “element of surprise”. Hanya buku-buku dengan tema perjuangan manusia untuk melawan penindasan atau dalam menguak suatu misteri, yang bisa memotivasiku untuk membaca tuntas. Makanya buku-buku “kiri” dan feminis bisa selesai kubaca. Juga buku detektif dan Harry Potter bisa kubaca tuntas dengan lancar.

Bacaan ketuhanan yang kuminati ternyata hanya yang sesuai dengan identitasku, yang Katolik. Aku lebih suka membaca Kitab Suci daripada interpretasi manusia akan Kitab Suci. Ada suatu misteri yang membuatku merenung. Aku memiliki ruang interpretasi yang lebih luas ketika membaca ayat-ayat, daripada membaca buku-buku karangan orang tentang ayat-ayat Kitab Suci dan tentang Tuhan. Tapi di sisi lain, aku hanya berminat membaca bacaan harian yang disodorkan oleh otoritas Gereja Katolik Roma. Aku termotivasi menuntaskan bacaan harian kalau aku yakin itu sesuai flow kalender liturgi dari gereja yang aku percaya.

Kini aku pun berpikir, paper-paper ilmiah apa saja yang tuntas kubaca.

Selamat membaca!

Habisi!

Oldenburg, 21 April 2016

iscab.saptocondro

iscablog, euy — http://iscab.blogspot.com/2016/04/buku-yang-tuntas-kubaca.html

posted on April 21, 2016 at 04:11PM in the year of Chinese Yang Red Fire Monkey and Javanese Anama / Jimawal.

Jaman dulu, aku menulis tentang kuliah di Bremen, ketika aku masih bekerja di Nürnberg, Bayern. Tulisanku dulu adalah tentang kampus di Bremen dan kegiatan orang-orang Bremen. Kini aku kembali tinggal di Bremen, namun aku studi doktoral di Oldenburg, Niedersachsen. Banyak hal yang berubah di Bremen: orang-orangnya, aturan kuliah, dll.

***

Jurusan kuliahku dulu di Universität Bremen berganti nama, dari Information and Automation Engineering (IAE) menjadi  Control, Microelectronics, Microsystems (CMM), mulai 1 April besok (web resmi). Aku pun teringat kalau aku belum melakukan penyetaraan ijazah di Dikti. Kini jurusanku sudah “bubar”.

//platform.twitter.com/widgets.js

Selain itu, lulusan Teknik Elektro ITB tidak bisa lagi mendaftar di jurusan tersebut: CMM Uni Bremen. Masalahnya karena Teknik Elektro ITB tidak terakreditasi di Anabin, suatu lembaga penyetaraan ijazah milik Pemerintah Jerman (web Anabin). Aku beruntung karena lulus ITB dan mendaftar ke Uni Bremen di waktu yang tepat. Adik kelasku terkena masalah akreditasi Anabin ini, jadi pendaftaran ke Uni Bremen ditolak tahun 2015 lalu. Masalah ini terjadi karena Dikti dan atase pendidikan Indonesia di Berlin tidak sistematis melakukan reakreditasi perguruan tinggi di Indonesia ke Anabin. Berat juga jadi Dikti, harus mengurus ribuan perguruan tinggi di Indonesia dan harus mengirim dokumen ke Anabin Jerman, supaya antar universitas bisa mudah pertukaran pelajar, studi lanjut, dll.

Aku hanya bisa berkomentar bahwa suatu sistem yang berhasil hanya karena keberuntungan, bukanlah suatu sistem yang kokoh. Makanya ilmuwan menghitung p-value dan chance level, dalam pekerjaan mereka untuk yakin apakah kerjaan mereka bermakna atau tidak.

***

Satu hal yang perlu kukoreksi dari tulisanku sebelumnya ialah kuliah di Bremen adalah kebijakan putra daerah (Landeskinder). Kini kebijakan ini dihapuskan. Jadinya kini tiada lagi uang kuliah (tuition fee / Studiengebühren) bagi mahasiswa/i yang kuliah di perguruan tinggi negeri di Bremen kalau mereka tinggal di luar negara bagian Bremen, seperti Hamburg atau Niedersachsen. Dulu kawanku yang tinggal di Hamburg harus meminjam nama alamatku di Bremen, supaya tidak bayar uang kuliah Uni Bremen. Kini, ada kawan yang tinggal di Achim, Niedersachsen, lalu kuliah di Hochschule Bremen, tanpa kena aturan uang kuliah non-putra daerah. Jadi kuliah gratis itu menjadi semakin nyata

***

Semakin banyak mahasiswa-mahasiswi di Bremen. Grup-grup masyarakat Indonesia di Bremen juga semakin kompleks:

  • Persatuan Pelajar Indonesia (PPI), di Bremen, yang lebih banyak orang, jadi tiap tahun bisa bikin acara kebudayaan yang penuh warna dan massal secara swasembada. Dulu harus nambah penari dan pemain musik tradisional dari kota lain: Hannover atau Hamburg. Kini PPI Bremen sudah jadi organisasi rapi dan lincah serta mandiri.
  • Keluarga Muslim Indonesia Bremen e.V., dulu kusebut Pengajian Bremen. Kini sudah jadi organisasi terdaftar di Jerman (eingetragene Verein, disingkat e.V.). Kalau bayar amal, zakat, infaq, dan sedekah ke sini, bisa mendapat pengurangan pajak, karena sudah e.V.
    Kini, ada “Ngaji Ibu-ibu Bremen” dan Pengajian Remaja Bremen (PRB) untuk mengisi kebutuhan yang lebih spesifik.
  • Persatuan Kristen Indonesia (Perki) Bremen. Kegiatannya adalah kebaktian oikoumene dan pendalaman Alkitab.
  • Keluarga Mahasiswa Katolik Indonesia (KMKI) Bremen. Yang kini sudah bubar lagi. Tulisanku sebelumnya menyebutkan kalau mereka baru dibentuk. Usianya pendek juga. KMKI Bremen belum mandiri secara organisasi, masih tergantung KKI Bremen.
  • Keluarga Katolik Indonesia (KKI) Bremen. Tiap bulan Mei dan Oktober mengadakan Doa Rosario. Beruntunglah di Bremen, kalau lagi berdoa bersama di rumah keluarga tidak ada FPI dan organisasi semiripnya yang menggerebek.
  • Calon Doktor (Cator) Bremen. Kegiatannya adalah kumpul-kumpul mahasiswa doktoral dan kawan-kawan selingkaran.
  • Persatuan Wanita Indonesia (PWI) Bremen. Kegiatannya adalah arisan, dll.
  • Gowes Bareng Yuk, kelompok bersepeda bareng di Bremen. Kegiatannya tur sepeda antar kota di Bremen dan sekitarnya.
  • Gracioso Chamber Choir (GCC), yaitu kelompok paduan suara Indonesia di Bremen. 
  • Studenten-Bibelkreis Bremen, yaitu klub pendalaman Alkitab mahasiswa/i Bremen (dan sekitarnya) yang merasa Pendalaman Alkitab di Perki Bremen kurang intensif atau kurang greget.
  • Klub gamelan kini tinggal satu, yaitu di Übersee museum Bremen (web museum). Kalau tidak salah, nama klub ini adalah Arum Sih (web). Aku dulu ikut klub lain di Bremen jadi tidak terlalu tahu klub ini.
  • Ada grup mama baru Indonesia di Bremen. Lebih tepatnya grup untuk ibu yang memiliki anak bayi dan balita.
  • Juga ada grup Tempat Penitipan Anak.
  • Masih banyak grup lain di Bremen yang tidak berada dalam radarku.

Aku tidak tahu, cocoknya bergaul di grup mana. Aku sudah sulit bergaul dengan PPI Bremen karena mereka sangat muda, sedangkan aku si tua bangka. Aku masih bergaul dengan Perki Bremen, demi alasan historis romantis dan makanan enak. Sejak tiada Tabak Börse Bremen, aku tidak gabung lagi ke acara Idul Fitri dan Idul Adha bersama Pengajian Bremen, kini bernama Keluarga Muslim Indonesia Bremen e.V.. Aku juga mencoba bergaul dengan Cator Bremen, karena identitasku sebagai mahasiswa doktoral. Beberapa Cator Bremen adalah orang-orang yang kukenal sejak Bremen 1.0. Jadi kini lingkaran gaulku terbatas oleh alasan historis romantis saja. Aku sudah sulit berkenalan dengan orang baru dan mulai susah mengingat nama orang. Aku betul-betul sudah menua.

Tidak berapa lama lagi, angin Bremen bertiup. Akan ada kerjasama lebih erat antara Pemerintah daerah Bremen, Volkhochschule (VHS) Bremen, dan masyarakat Indonesia di Bremen. Semoga kerjasama ini bisa menyatukan orang Indonesia di Bremen lagi, paska “hilangnya” Tabak Börse.

***

Kini ada tiga toko Indonesia di Bremen. Sedangkan aku semenjak mengalami Bremen 2.0 belum pernah belanja di salah satu toko tersebut. Jadinya lokasi pasti ketiga toko tersebut tidak bisa kutulis di posting kali ini.

Vina Store di Am Brill sudah tidak menjadi toko Asia pilihan favorit di Bremen. Kini dekat Hauptbahnhof Bremen juga ada toko Asia lainnya. Aku jarang belanja di toko Asia, karena lidah dan perutku relatif sudah pasrah ter-jerman-kan.

Tempat makan legendaris di Bremen:

  • Tantuni, seperti sudah kusebut di tulisan sebelumnya.
  • Mommy, rumah makan Ibu Afrika, di daerah Bremen-Neustadt. Sambalnya enak tapi berbahaya (nikmat bibir yang bisa membawa pada siksa dubur). Sop kambing serasa gulai Indonesia. 
  • Ali Baba, tempat makan Dürum di Bremen-Neustadt. Tidak bisa dipakai nongkrong, karena kursi terbatas.
  • Sea Moon, rumah makan Asia di Bremen-Viertel. Makanannya variatif. Ada menu babat di sini.
  • Rumah Makan Surabaya, mengandung makanan Indonesia. 
  • dan masih banyak tempat makan lainnya, sesuai selera masing-masing.

Tempat makan di atas, adalah tempat di mana aku bisa berpapasan dengan orang Indonesia, secara kebetulan.

***

Tulisanku sebelumya (part 1), bisa dibaca di “Kuliah di Bremen” (wp) atau “Kuliah di Bremen” (blogger). Terima kasih, telah membaca.

Oldenburg dan Bremen, 31 Maret 2016

iscab.saptocondro

iscab di Bremen Berangin — http://iscabremen.blogspot.com/2016/03/kuliah-di-bremen-part-2.html
posted on March 31, 2016 at 08:37PM in the year of Chinese Yang Red Fire Monkey and Javanese Anama / Jimawal.