Skip navigation

Category Archives: absurdiscab

Dulu aku pernah menonton Godfather versi disensor. Ada adegan bangun pagi lalu melihat ranjang penuh darah lalu ketika selimut dibuka, ada suara teriakan panik. Ketika aku menonton ulang versi tidak disensor, aku jadi tahu itu kepala kuda. Beginilah adegan tersebut.

Kuda yang mahal, seharga 600 ribu US dollar. Sayang sekali, ia harus mati demi konflik politik antar mafia. Sperma kuda seperti itu bisa berharga ribuan dollar. Sangat mahal bila dibandingkan harga spermaku.

//platform.twitter.com/widgets.js

Sementara itu, di tahun ini, ada film yang heboh tentang kucing. Dari suatu sinetron Indonesia, satu keluarga bisa pasang tampang kaget dan sok panik, karena ada kucing jadi korban. Andai itu kucing betulan. Tapi itu hanyalah kucing mainan, yaitu Hello Kitty. Sebagai fan, aku jadi ilfil dengan Paramitha Rusady dan Nabila Syakieb, yang menyia-nyiakan kemampuan akting untuk adegan Hello Kitty Rebus. Beginilah sebagian adegan Hello Kitty Rebus.

Yang tadi itu Hello Kitty Rebus versi Eka Gustiwana. Potongan asli sinetron tidak berhasil kutemukan di youtube. Di satu sisi, bersyukur juga tidak ada adegan sadis kucing direbus. Di sisi lain, Hello Kitty rebus yang bikin Nabila Syakieb dan Paramitha Rusady sok panik juga mengganggu akal sehat penonton.

Silahkan dibandingkan kehebohan karena melihat kepala kuda di balik selimut dalam film Godfather dan melihat Hello Kitty rebus dalam sinetron Indonesia, Mana yang paling asyik. Mana yang favorit. Begitulah kisah kuda dan kucing. Silahkan dipilih.

***

Berhubung ini tentang kuda dan kucing, aku jadi ingin memberi tips nonton film. Jika ingin menonton kisah kuda unicorn dan tiga kucing, lebih baik nonton Despicable Me. Cocok buat keluarga. Tidak ada kehebohan Hello Kitty yang direbus. Juga tidak ada kepala kuda yang ditaruh di bawah selimut, tetapi ada kepala boneka dan mainan anak-anak. Sayang sekali tidak ada soundtrack “Ambilkan bulan, Bu” dalam film Despicable Me.

Bremen, 25 Desember 2016

iscab.saptocondro

iscablog, euy — http://iscab.blogspot.com/2016/12/kisah-kuda-dan-kucing.html
posted on December 25, 2016 at 11:08PM in the year of Chinese Yang Red Fire Monkey and Javanese Lalana / Je.

Memberi ucapan selamat itu sebetulnya hal yang sederhana. Ia hanya suatu bentuk pemberian seseorang kepada yang lain untuk menjalin komunikasi dan silaturahmi. Juga bisa berarti turut berbahagia dengan seseorang yang diberi ucapan selamat. Orang biasanya dapat ucapan selamat kalau ia berulangtahun, menikah, punya anak, sukses melewati suatu proses, atau merayakan suatu hari keagamaan. Asumsi yang dipakai adalah ada orang yang sedang berbahagia, makanya ia layak mendapat ucapan selamat. Makanya dalam bahasa Eropa, ucapan selamat menggunakan kata “happy”, “merry”, “feliz”, “felice”, “froh”, “frohlich”, “good”, dll. Jadi mengucap selamat berarti menunjukkan turut berbahagia.

Akan tetapi kadang ucapan selamat juga bisa dipolitisasi. Entah untuk apa. Yang jelas manusia senang mempengaruhi sesamanya untuk mengikuti kemauannya, makanya ada politik. Ucapan selamat hari raya keagamaan jadi tema yang perlu dibahas apakah ia layak atau tidak diucapkan. Berhubung judul posting ini  “Ucapan Selamat Natal”, aku ingin bercerita mengenai sedikit kegaduhan yang melewati kuping kiriku dan kananku.

***

Sebagai seorang Katolik, aku tidak mengucapkan “Selamat Natal” sebelum tanggal 25 Desember. Kecuali aku sudah merayakan Misa Malam Natal 24 Desember. Empat minggu sebelum 24 Desember, bagiku adalah masa Advent. Makanya orang Katolik merayakan Natal bersama hanya pada masa-masa 12 hari Natal, yaitu dari 25 Desember s.d. 5 Januari.

Bagaimana kalau ada yang mengucap selamat natal sebelum 24 Desember?
Aku punya banyak pilihan untuk menjawabnya. Kalau jadi asshole atau Arschloch, aku bisa saja menjawab dengan ketus “Sekarang belum Natal!”. Lalu dengan penuh napsu, berharap ideologiku mengenai Natal menjadi keyakinan yang dominan. Tapi aku memilih untuk berkata “Terima kasih!”, tanpa ada ucapan selamat Natal dariku.

***

Suatu hari, aku juga mendapat pesan elektronik berisi keluhan sok heboh, mengenai bahwa ucapan “Merry Christmas” akan diganti dengan “Season’s Greeting”. Orang Kristen yang paranoid mengatakan bahwa itu gejala sekulerisasi dengan paksaan. Aku tak tahu mau bicara apa. Yang kutahu, bahwa tidak semua orang beragama Kristen, dan bagi mereka liburan akhir Desember dan tahun baru itu bukan perayaan Natal. Ucapan yang cocok untuk mereka yang bukan Kristen adalah “Happy Holiday” atau “Season’s Greeting”. Itu adalah hal yang normal. Namun sejumlah orang Kristen merasa mereka perlu mendominasi kebudayaan bahwa akhir Desember itu harus mengucap “Merry Christmas” atau “Selamat Natal”.

***

Di kala lain, ada juga pesan berulang mengenai fatwa MUI tentang larangan ucapan selamat Natal. Tentu saja, Hari Natal 25 Desember bukanlah perayaan agama Islam, jadi aku tidak memerlukan ucapan selamat Natal dari orang yang tidak merayakan. Kelahiran Nabi Isa sebetulnya ada juga dalam tradisi Islam, tapi kelahirannya tidak lazim diperingati dalam kalender internasional umum maupun kalender Hijriah. Ada yang menganggap ucapan selamat hari raya agama lain itu merusak akidah. Akan tetapi, sebagian kawanku yang muslim, memberiku ucapan selamat natal, bahkan ada pula yang pemilih PKS. Aku juga hanya bisa membalasnya dengan ucapan “Terima kasih!” dan “Selamat liburan!”.

***

Sebetulnya kita bisa memilih ingin berkomunikasi seperti apa dengan orang lain. Apakah kita ingin memiliki “mutual respect” dengan sesama dengan memberi ucapan selamat dan menerimanya dengan ramah. Atau kita ingin mendominasi orang lain dengan keyakinan atau ideologi kita dan berharap mereka semua tunduk dengan kemauan kita. Tanpa politisasi yang berlebihan, aku memilih untuk menerima ucapan selamat Natal dengan “Terima kasih!” yang sederhana.

Berhubung aku menulis ini sebelum aku pergi Misa Natal, jadi ucapan Selamat Natal akan kuucapkan besok saja. Mari kita nonton video dari JP Sears tentang ucapan selamat Natal di facebook atau di youtube berikut.

Selamat berucap!
“Keberanian adalah pelaksanaan kata-kata.” (W.S. Rendra)

Bremen, 24 Desember 2016

iscab.saptocondro

iscablog, euy — http://iscab.blogspot.com/2016/12/ucapan-selamat-natal.html
posted on December 24, 2016 at 06:45PM in the year of Chinese Yang Red Fire Monkey and Javanese Lalana / Je.

Hari ini hari Selasa. Dulu aku lahir hari Selasa.

Bremen, 6 Desember 2016

iscab.saptocondro

Koneksi adalah suatu hal penting.

Bremen, 25 Oktober 2016

iscab.saptocondro

Aku lagi belajar instagram: cara melekat (embedding). Semoga sukses.

Chay Box

A post shared by iscab.saptocondro (@iscab) on

Bremen, 25 Oktober 2016

iscab.saptocondro

 

Aku masih bingung kenapa orang sering menyalin tulisan orang lain. Baiklah, aku tahu mereka menyalin karena tidak punya kreativitas untuk membuat tulisan sendiri. Ada juga yang menyalin dengan cara shake and paste lalu ditampilkan di media pers resmi demi honor tulisan. Ada juga yang mencuri tulisan supaya blog terasa penuh content, lalu dipakai untuk membangkitkan iklan (dan traffic, dengan teknik SEO).

Intermezzo: Aku juga tidak kreatif dalam membuat gambar, jadinya aku kadang mencomot gambar dari Google untuk mengisi blog ini. Kalau asal-usul gambar jelas, aku cantumkan sumbernya. Aku juga tidak mengambil keuntungan dari semua tulisan blog.

***

Beberapa orang menggunakan anti right click, supaya tulisan di blog mereka tidak disalin. Masih bisa diakali sih. Bagi banyak orang, tulisan itu seperti anak sendiri. Menyalin tulisan seperti menculik anak dari pemiliknya. Sudah dilahirkan dengan susah payah, dicuri orang lain, lalu dipakai keuntungan komersial. Semua tulisanku adalah milik publik, lebih tepatnya milik blogspot dan wordpress. Mereka bisa menghapus tulisanku. Aku pun sedih kalau anakku dibunuh. Tapi aku tetap menulis untuk khalayak ramai, bukan untuk kepentingan komersial. Tiada iklan yang kupakai untuk kepentinganku. Semua iklan adalah milik blogspot dan wordpress. Aku menulis untuk mencapai keabadian, bukan untuk kepentingan ekonomi, Jadi aku masih merelakan para plagiat menyalin tulisan-tulisanku di blog yang sebetulnya tidak terlalu bermakna.

Kali ini, aku ingin membicarakan tulisanku yang disalin oleh orang lain. Tulisan tentang “tips mencari beasiswa” pernah disalin dan diedit lalu tampil di surat kabar. Tulisanku tersebut tidak kupakai untuk mencari keuntungan pribadi. Penyalin menggunakannya untuk dapat honor. Teknik menyalin yang dipakainya adalah “Shake and Paste”. Lumayanlah masih ada “shake”, alias diedit dikit.

Tulisanku yang lain yang disalin adalah “Goyang Kuntilanak Merah“. Tulisanku ketika di Bayern ini disalin dengan cara “Copy and Paste” mentah-mentah teksnya. Yang digoyang sedikit adalah font tulisan. Judul diganti menjadi “Goyang Dahsyat Kuntilanak Merah“. Penyalinan tulisan kuduga menggunakan bots, hanya judulnya yang diutak-atik oleh manusia. Penyalin memiliki 37 jenis iklan di blognya. Selain itu, teknik SEO yang dipakainya bisa menempatkannya di halaman awal Google. Betul-betul blog komersial.

Aku tak menyangka mengapa Kuntilanak yang bergoyang bisa menarik untuk disalin. Padahal goyang Higgs Boson lebih menarik. Atau goyang gelombang gravitasional juga masih lebih keren. Yah, mau apa lagi. Kita hidup di zaman ketika tulisan salinan lebih mudah muncul di Google Search Engine dan Yahoo News aggregator, daripada tulisan aslinya. Juga zaman ketika video asli Angklung Hamburg bermain “Indonesia Pusaka” di Youtube kalah jumlah view dengan video plagiatnya. Bagi orang yang suka originalitas sepertiku, ada rasa sebak di dada menghadapi situasi ini. Menyalin itu hendaknya mencantumkan sumber aslinya (dan sebaiknya minta izin kalau ada copyright).

Selamat bersalin dan menyalin!

***

Definisi:

Persalinan adalah proses bersalin, yaitu proses melahirkan anak. Bagi beberapa orang, kegiatan kreatif untuk menghasilkan tulisan, gambar, karya seni, kriya, thesis, dll itu seperti proses kehamilan dan persalinan. Ada masa-masa kreatif yang bikin galau dan emosi tidak stabil seperti orang hamil. Masa-masa melahirkan tulisan atau karya kreatif itu seperti proses persalinan, ada rasa pedih dan sakit. Ketika tulisan sudah lahir, ada masa-masa baby blue.

Penyalinan adalah proses menyalin. Beberapa kegiatan menyalin bisa dikatakan plagiat, ketika ia tidak mencantumkan sumber yang disalin. Pada beberapa kegiatan penyalinan juga selain mencantumkan sumber juga butuh izin dari sumber.

Kuntilanak atau Pontianak adalah sosok serupa wanita berambut panjang. Dalam masyarakat patriarkis, wanita menjadi subordinat dari pria. Hanya dengan kekuatan gaib, sosok wanita bisa ditakuti oleh pria. Jadilah wanita yang kuat, menjadi Kuntilanak. Untuk menghapuskan kuntilanak, harus ada revolusi. Masyarakat patriarkis harus dihapuskan sehingga kesetaraan antara pria dan wanita tercapai, maka mitos Kuntilanak akan hilang dengan sendirinya dari kesadaran masyarakat.

Rintihan Kuntilanak, adalah lagu dari The PanasDalam. Aku akan mencoba bikin cover lagu ini di youtube. Tunggu tanggal mainnya aja.

Merah marun, adalah warna merah seperti biji marun atau maroon atau kastanya. Marun yang bisa bermain musik, disebut sebagai Maroon Five. Di sana, ada mas Adam yang bisa menyanyi melengking. Tapi lengkingannya masih kalah efeknya dengan cekikikan Kuntilanak. Yang lagi ngetrend adalah Misteri Tahu Bulat bersama Mas Adam Levine.

Segitiga Merah Marun adalah judul lagu dari The PanasDalam. Lagu ini membuatku terharu, mengingat masa-masa sekolah dulu ketika aku masih lugu.

Kuntilanak Merah Marun Bersalin Merintih adalah usaha kreatif menghubungkan kata-kata tidak bermakna menjadi lebih tidak bermakna. Revolusi absurdisme dimulai dari merayakan kehancuran struktur-struktur pembangun makna.

Nyoiii…

Bremen, 16 Mei 2016

iscab.saptocondro

iscablog, euy — http://iscab.blogspot.com/2016/05/kuntilanak-merah-marun-bersalin-merintih.html
posted on May 16, 2016 at 09:26PM in the year of Chinese Yang Red Fire Monkey and Javanese Anama / Jimawal.

Aku sedang berpikir apa yang membuat orang bermotivasi membaca buku, terutama hingga tuntas. Dulu sewaktu SMP, aku bisa menuntaskan satu buku detektif remaja setiap hari. Beralih ke SMA, aku butuh seminggu untuk menyelesaikan buku mirip. Semakin dewasa, kemampuan membaca hingga tuntas makin berkurang. Sepertinya kemampuan membacaku menurun.

Kurenungkan kembali, kalau sewaktu SMA, aku mulai tertarik membaca koran sehingga waktuku untuk membaca buku mulai berkurang. Jadi sebetulnya minat membacaku tidak berkurang. Hanya bacaannya berbeda.

Ketika menjadi mahasiswa di Indonesia, aku juga membeli buku, baik untuk kepentingan kuliah maupun untuk rasa ingin tahu. Buku untuk kepentingan kuliah tidak kubaca tuntas, aku hanya membaca yang penting-penting saja untuk latihan soal dan ujian. Beberapa hal juga tak kumengerti, tapi toh aku bisa lulus kuliah.

Buku-buku untuk kepentingan non akademik juga kubeli. Biasanya aku penasaran dengan suatu buku karena kawan-kawanku mengobrol tentang suatu buku. Jadinya aku (ingin) ikut membaca, supaya “nyambung” kalau kumpul-kumpul. Buku pun kadang kubeli. “Social pressure” ternyata mempengaruhi bacaanku.

Ternyata tidak semua buku yang kubeli bisa tuntas kubaca. Yang tuntas kubaca biasanya buku-buku yang endingnya bikin penasaran atau penuh “element of surprise”, misalnya detektif, misteri, thriller, dll. Buku-buku yang bukan novel yang tuntas kubaca, ternyata adalah buku-buku “kiri”. Jadi bisa kutebak kira-kira buku apa saja yang bisa menggerakkan gairah membaca.

***

Sesampainya di Jerman, aku jarang membeli buku. Alasannya adalah biaya: harga buku relatif mahal dan buku itu berat (kalau pindah rumah) serta buku menghabiskan ruang rak dan kamar. Membuang buku juga pedih rasanya. Seperti ada sebagian jiwa yang harus dilepas ketika aku harus membuang buku. Biasanya aku meminjam buku ke kawan.

Tidak semua buku yang kupinjam atau kudapat, bisa tuntas kubaca dari awal hingga akhir. Ada yang kukembalikan sebelum selesai kubaca tuntas. Ada yang kubaca loncat-loncat untuk tahu kira-kira isinya apa (speed reading). Kurenungkan kembali, kalau buku yang betul-betul tuntas kubaca biasanya bertema feminisme atau “kiri”. Jadi bisa ditebak kira-kira minat bacaku seperti apa.

Karena jarang membeli buku, aku bisa tahu utang membacaku bagaimana. Ada dua buku yang belum tuntas kubaca, yaitu Elizabeth Gilbert “Eat, Pray, Love” dan Rick Warren “The Purpose Driven Life”. Keduanya ada di kamarku karena aku betul memiliki keduanya.

Buku Gilbert tersebut kubeli tahun 2012 dan rencananya ingin kubaca sebelum nonton filmnya. Akan tetapi aku tidak tahan dengan ceritanya yang sepertinya bertele-tele. Aku hanya membaca awalnya saja, lalu kubaca loncat-loncat ala speed reading, kemudian aku menonton filmnya. Tanpa membaca tuntas, aku bisa tahu filmnya berbeda apa saja dengan bukunya. Nampaknya kegalauan wanita tidak membuatku tertarik sama sekali.

Buku Warren (berbahasa Indonesia) dihadiahkan oleh kawanku yang pulang ke Indonesia karena studinya di Jerman berakhir. Aku juga menerima versi asli bahasa Inggris yang digital, via email, dari kawan yang lain. Awalnya aku berminat membaca buku ini supaya lebih “religius” juga demi bertobat dari segala macam kegalauan. Akan tetapi, aku tidak tahan membaca buku ini. Baru tiga bab dari 40, yang bisa kubaca. Sepertinya “Tuhan” bukanlah sesuatu yang cocok untukku.

Sedikit tambahan, “Tuhan yang mati” menurut Nietsche juga salah satu yang tidak tuntas kubaca. Bukunya berjudul “Thus Spoke Zarathustra” dan tersimpan di rumah ibuku di Indonesia. Aku hanya sanggup membaca 3 halaman saja. “Tuhan” betul-betul tidak bisa memotivasiku untuk membaca.

Ada satu buku yang kupinjam dari kawanku, yaitu Karen Armstrong “A History of God”, atau “Sejarah Tuhan”. Buku ini hanya bisa kubaca tiga bab. Lalu aku tidak sanggup lagi. Mungkin ini karena dalam bahasa asli, bahasa Inggris, bukan dari terjemahan bahasa Indonesia. Tapi bisa jadi karena “Tuhan” tak mampu membuatku bergairah membaca.

***

Suatu hari, aku merasakan ranselku terlalu berat kalau harus membawa buku, dalam perjalanan yang harus kutempuh dengan sepeda dan kereta. Aku pun membeli iPad dan membaca buku digital saja. Sebelumnya aku sudah membandingkan tablet apa saja yang cocok untuk membaca buku (dan paper ilmiah) digital. Awalnya aku ingin Android, tapi ukuran di tangan sepertinya tidak pas (dalam volume dan massa). Jadi aku mencoba memilih Apple.

Tujuan awal memiliki iPad adalah supaya aku tidak merasakan tas yang membengkak dan juga berat akibat berlembar paper dan buku. Dua tas sudah jebol selama menjadi mahasiswa doktoral. Akan tetapi, aku sempat mengalami eforia iPad. Alat ini kupakai untuk social media secara berlebihan. Di masa-masa galau riset, aku bahkan sharing berlebihan. Hingga beberapa kawan Jerman meng-unfriend diriku.

Kini kusadari kalau aku memiliki minat membaca akan informasi “kekinian”, yang sering tampil di social media. Tidak lupa kubagi kemudian. Minatku membaca buku, jadi teralihkan ke bacaan singkat dan semi singkat yang terunggah dan terbagi di social media. Sialnya, aku memiliki banyak kawan online, jadi bahan bacaanku terlampau banyak untuk bisa kubaca tuntas.

Aku pun merenungkan, kalau setiap ada postingan tentang suatu hal yang bisa kubaca, aku bertanya terlebih dahulu: apakah bacaan ini berguna untukku saat ini, apakah mengganggu waktuku dalam Dharmaku, apakah kalau membaca ini akan menjadi manusia tercerahkan, apakah ada yang mati kalau aku tidak membaca ini, apakah ada yang gawat dengan kerjaanku kalau aku tidak membaca ini, dll. Jadi aku hanya membaca seperlunya saja.

***

Awal memiliki iPad, aku bertujuan membaca paper ilmiah dan buku-buku yang berhubungan dengan risetku. Akan tetapi aku malah membaca Harry Potter. Sejak iPad kupakai membaca selama perjalananku di kereta, aku sudah menyelesaikan tiga buku Harry Potter. Sedangkan buku-buku ketuhanan dan curhat wanita galau “Eat, Pray, Love” hingga kini belum kuselesaikan. Kini kusadari minatku seperti apa.

OK, aku juga menggunakan iPad untuk membaca Kitab Suci. Ada bacaan harian dari kalender liturgi Katolik dari suatu aplikasi. Awalnya aku mencoba mengunduh aplikasi Alkitab yang sama dengan yang di Android, tapi tidak ada di Apple Store. Aku pun mencari padanan yang mirip. Aku menemukan aplikasi Alkitab yang tampilan dan navigasinya tidak terlalu asyik. Tapi ketika aku lihat bacaan hariannya sama dengan kalender liturgi Katolik, aku pun tertarik. Bacaan harian ini tidak terlalu pendek dan tidak terlalu panjang. Aku pun mempertahankan aplikasi ini di iPad. Perjalanan keretaku kuisi dengan membaca bacaan harian ini.

Tapi kusadari bahwa aku tidak mungkin tuntas membaca Alkitab. Bacaan harian untuk umat itu ayat-ayat yang dipilih otoritas gereja. Ada beberapa hal yang tidak masuk bacaan harian. Beberapa ayat tidak cocok untuk anak bawah umur dan juga kadang tak terlalu berhubungan dengan doktrin gereja yang sehari-hari biasa ditanamkan kepada umat. Jika ingin membaca tuntas, harus mencoba baca sendiri dari awal hingga akhir, tanpa tuntunan bacaan harian.

Oh, ya, aku juga punya aplikasi Al Quran. Secara teoretis, kalau orang membaca 1 juz per hari, dia akan tamat membaca Al Quran dalam 30 hari. Sebulan bisa tuntas. Itu kalau niat membaca. Akan tetapi aku tidak minat membaca tuntas seperti ini. Belum dapat hidayah.

***

Kini kusadari bagaimana minatku dalam membaca. Aku hanya mampu menuntaskan suatu buku dari awal hingga akhir jika aku termotivasi oleh “element of surprise”. Hanya buku-buku dengan tema perjuangan manusia untuk melawan penindasan atau dalam menguak suatu misteri, yang bisa memotivasiku untuk membaca tuntas. Makanya buku-buku “kiri” dan feminis bisa selesai kubaca. Juga buku detektif dan Harry Potter bisa kubaca tuntas dengan lancar.

Bacaan ketuhanan yang kuminati ternyata hanya yang sesuai dengan identitasku, yang Katolik. Aku lebih suka membaca Kitab Suci daripada interpretasi manusia akan Kitab Suci. Ada suatu misteri yang membuatku merenung. Aku memiliki ruang interpretasi yang lebih luas ketika membaca ayat-ayat, daripada membaca buku-buku karangan orang tentang ayat-ayat Kitab Suci dan tentang Tuhan. Tapi di sisi lain, aku hanya berminat membaca bacaan harian yang disodorkan oleh otoritas Gereja Katolik Roma. Aku termotivasi menuntaskan bacaan harian kalau aku yakin itu sesuai flow kalender liturgi dari gereja yang aku percaya.

Kini aku pun berpikir, paper-paper ilmiah apa saja yang tuntas kubaca.

Selamat membaca!

Habisi!

Oldenburg, 21 April 2016

iscab.saptocondro

iscablog, euy — http://iscab.blogspot.com/2016/04/buku-yang-tuntas-kubaca.html

posted on April 21, 2016 at 04:11PM in the year of Chinese Yang Red Fire Monkey and Javanese Anama / Jimawal.