Skip navigation

Category Archives: absurdiscab

Aku teringat kawanku yang memiliki dua buku tulis. Satu buku selalu dibawanya ke mana-mana. Satu lagi ditaruhnya di sebelah tempat tidur.

Buku yang selalu dibawanya adalah buku ide. Setiap kawanku mendapat ide, ia lekas menuliskan idenya di buku tersebut. Kalau lagi ngobrol bareng, kadang ada orang lain mencetuskan ide yang menarik, kawanku juga lekas mencatat ide tersebut.

Buku yang ditaruh di dekat tempat tidur ialah buku mimpi. Jadi kalau ia bangun atau terjaga dari tidur, ia bisa mencatat mimpi apa sebelumnya. Tentu saja kalau ia masih ingat mimpinya. Aku tidak terlalu tahu apakah kawan ini senang masang nomor seperti diriku, atau tidak. Yang jelas, buku mimpi yang ia gunakan, sangat membantunya dalam kegiatan story telling.

Kedua buku tersebut membuat kreativitas kawanku dalam berkarya. Ada ide-ide yang muncul dalam kegiatan keseharian secara sadar. Ada yang muncul dalam mimpi. Ada yang muncul dadakan ketika memandang jendela angkutan umum dalam perjalanan. Ada yang muncul tiba-tiba saat di kamar mandi.

Zaman sekarang ialah zaman aplikasi digital pada gawai elektronik. Mencatat ide maupun mimpi sebetulnya bisa dilakukan dengan apps. Namun ada sensasi tersendiri ketika menulis dengan tangan dan bolpen, pada buku kertas. Tekanan pada jari, gerak pergelangan tangan, semua bisa mengalun sesuai irama jiwa, ketika menulis dengan bolpen dan buku tulis. Aplikasi digital hanya memiliki gerakan tunyuk-tunyuk dan swipe, yang kurang cocok dengan irama jiwaku.

***

Ada hal yang kutiru dari kawanku, yaitu buku ide. Aku tidak mencatat mimpi, jadi buku mimpi tak terlalu kubutuhkan. Aku juga lebih suka melupakan mimpi, karena tak mau meramal masa depan, yang kaga ada hubungannya dengan masang nomor.

Kembali ke buku ide. Aku hanya menggunakannya untuk mencatat ide-ide apa yang muncul dalam rangka penulisan blog-blog milikku ke depan. Akan tetapi aku tidak memiliki kebiasaan seperti kawanku yang bawa buku ide ke mana-mana dan sigap mencatat ide yang muncul. Ada beberapa ide yang sempat kucatat. Ke depannya, aku akan mengisi blog sesuai dengan ide-ide pada bukuku.

Oh, ya, kalau ada yang bertanya apakah tulisan ini berasal dari buku ide, maka kujawab tidak. Aku hanya ingin menulis sesuatu demi mengisi blog ini, tapi aku lupa mau menulis apa. Kubuka buku ide, aku merasa bukan waktu yang tepat untuk menulis sesuai ide-ide yang telah kucatat sebelumnya. Ada ide tulisan yang membutuhkan riset (maksudnya Google Search). Ada ide yang membutuhkan kondisi emosi dan fisik yang pas: sekarang lewat tengah malam, semangat tidur, demi pagi indah siap kerja.

Kalau ada pembaca yang ingin memberi ide mengenai apa yang perlu kutulis di blog ini, silahkan komentar atau kirim pesan via akun-akun media sosial milikku: aku mudah ditemukan di Google.

Lindau, 12 Februari 2019

iscab.saptocondro 
“Menulislah! Writing tresno, jalaran soko kulino.”

iscablog, euy — http://iscab.blogspot.com/2019/02/tercatat-dalam-buku.html
posted on February 12, 2019 at 12:41AM in the year of Chinese Yin Earth Pig and Javanese Pawaka / Bé.

Advertisements

Dua hari menjelang purnama November 2018, aku mencoba menulis blog kembali. Ada banyak hal yang membuatku tak mampu menulis. Perpindahan kerja dan mitigasi bencana finansial sepanjang 2016 dan 2017 mengakibatkan diriku kehilangan kreativitas. No more muse!

Menulis hal penting seperti paper ilmiah tidak sanggup. Menulis hal-hal receh macam blog ini juga tak mampu. Aku betul-betul terkena mampat menulis / Schreibblockade / writer’s block. 
Kini aku harus memulihkan kemampuanku dalam menulis. Aku harus bisa mengalirkan isi kepala ke dalam bentuk tulisan, yang dimengerti manusia. Kalau menulis tulisan yang dimengerti mesin, seperti coding python, itu sudah menjadi keseharian. Tapi tetap saja, ada bagian yang harus dipahami manusia.
Dengan berbahasa, aku menjadi manusia yang nyata. Aku harus menulis untuk mengembalikan kemanusiaanku yang tertindas oleh bayang-bayang utang dan tagihan bulanan. Kini saatku aku melawan penindas mental dalam jiwaku. 
Darah Juang!

Lindau, 21 November 2018

iscablog, euy — http://iscab.blogspot.com/2018/11/november-2018-sebelum-purnama.html
posted on November 21, 2018 at 11:54PM in the year of Chinese Yang Earth Dog and Javanese Pawaka / Bé.

Tulisan ini hanya untuk menguji-coba koneksi wordpress dengan media lainnya. Hasil ujian yang kudapat kemarin hanyalah hasil medical check-up kesehatan. Hasil ujian kolesterol dan trigliserida mengecewakan jadinya aku harus mengatur jadwal olahraga dan diet. Umurku sudah tidak 20-an lagi, masalah kesehatan dan keletihan sering menimpaku. Mati muda memang tidak apa-apa bagiku, tapi tidak bagi kedua orangtuaku, keluargaku/kerabatku yang lain dan kawan-kawanku.

Jagalah kesehatan!
Darah Juang!

Bandung, 11 April 2017

iscab.saptocondro

Dulu aku pernah menonton Godfather versi disensor. Ada adegan bangun pagi lalu melihat ranjang penuh darah lalu ketika selimut dibuka, ada suara teriakan panik. Ketika aku menonton ulang versi tidak disensor, aku jadi tahu itu kepala kuda. Beginilah adegan tersebut.

Kuda yang mahal, seharga 600 ribu US dollar. Sayang sekali, ia harus mati demi konflik politik antar mafia. Sperma kuda seperti itu bisa berharga ribuan dollar. Sangat mahal bila dibandingkan harga spermaku.

//platform.twitter.com/widgets.js

Sementara itu, di tahun ini, ada film yang heboh tentang kucing. Dari suatu sinetron Indonesia, satu keluarga bisa pasang tampang kaget dan sok panik, karena ada kucing jadi korban. Andai itu kucing betulan. Tapi itu hanyalah kucing mainan, yaitu Hello Kitty. Sebagai fan, aku jadi ilfil dengan Paramitha Rusady dan Nabila Syakieb, yang menyia-nyiakan kemampuan akting untuk adegan Hello Kitty Rebus. Beginilah sebagian adegan Hello Kitty Rebus.

Yang tadi itu Hello Kitty Rebus versi Eka Gustiwana. Potongan asli sinetron tidak berhasil kutemukan di youtube. Di satu sisi, bersyukur juga tidak ada adegan sadis kucing direbus. Di sisi lain, Hello Kitty rebus yang bikin Nabila Syakieb dan Paramitha Rusady sok panik juga mengganggu akal sehat penonton.

Silahkan dibandingkan kehebohan karena melihat kepala kuda di balik selimut dalam film Godfather dan melihat Hello Kitty rebus dalam sinetron Indonesia, Mana yang paling asyik. Mana yang favorit. Begitulah kisah kuda dan kucing. Silahkan dipilih.

***

Berhubung ini tentang kuda dan kucing, aku jadi ingin memberi tips nonton film. Jika ingin menonton kisah kuda unicorn dan tiga kucing, lebih baik nonton Despicable Me. Cocok buat keluarga. Tidak ada kehebohan Hello Kitty yang direbus. Juga tidak ada kepala kuda yang ditaruh di bawah selimut, tetapi ada kepala boneka dan mainan anak-anak. Sayang sekali tidak ada soundtrack “Ambilkan bulan, Bu” dalam film Despicable Me.

Bremen, 25 Desember 2016

iscab.saptocondro

iscablog, euy — http://iscab.blogspot.com/2016/12/kisah-kuda-dan-kucing.html
posted on December 25, 2016 at 11:08PM in the year of Chinese Yang Red Fire Monkey and Javanese Lalana / Je.

Memberi ucapan selamat itu sebetulnya hal yang sederhana. Ia hanya suatu bentuk pemberian seseorang kepada yang lain untuk menjalin komunikasi dan silaturahmi. Juga bisa berarti turut berbahagia dengan seseorang yang diberi ucapan selamat. Orang biasanya dapat ucapan selamat kalau ia berulangtahun, menikah, punya anak, sukses melewati suatu proses, atau merayakan suatu hari keagamaan. Asumsi yang dipakai adalah ada orang yang sedang berbahagia, makanya ia layak mendapat ucapan selamat. Makanya dalam bahasa Eropa, ucapan selamat menggunakan kata “happy”, “merry”, “feliz”, “felice”, “froh”, “frohlich”, “good”, dll. Jadi mengucap selamat berarti menunjukkan turut berbahagia.

Akan tetapi kadang ucapan selamat juga bisa dipolitisasi. Entah untuk apa. Yang jelas manusia senang mempengaruhi sesamanya untuk mengikuti kemauannya, makanya ada politik. Ucapan selamat hari raya keagamaan jadi tema yang perlu dibahas apakah ia layak atau tidak diucapkan. Berhubung judul posting ini  “Ucapan Selamat Natal”, aku ingin bercerita mengenai sedikit kegaduhan yang melewati kuping kiriku dan kananku.

***

Sebagai seorang Katolik, aku tidak mengucapkan “Selamat Natal” sebelum tanggal 25 Desember. Kecuali aku sudah merayakan Misa Malam Natal 24 Desember. Empat minggu sebelum 24 Desember, bagiku adalah masa Advent. Makanya orang Katolik merayakan Natal bersama hanya pada masa-masa 12 hari Natal, yaitu dari 25 Desember s.d. 5 Januari.

Bagaimana kalau ada yang mengucap selamat natal sebelum 24 Desember?
Aku punya banyak pilihan untuk menjawabnya. Kalau jadi asshole atau Arschloch, aku bisa saja menjawab dengan ketus “Sekarang belum Natal!”. Lalu dengan penuh napsu, berharap ideologiku mengenai Natal menjadi keyakinan yang dominan. Tapi aku memilih untuk berkata “Terima kasih!”, tanpa ada ucapan selamat Natal dariku.

***

Suatu hari, aku juga mendapat pesan elektronik berisi keluhan sok heboh, mengenai bahwa ucapan “Merry Christmas” akan diganti dengan “Season’s Greeting”. Orang Kristen yang paranoid mengatakan bahwa itu gejala sekulerisasi dengan paksaan. Aku tak tahu mau bicara apa. Yang kutahu, bahwa tidak semua orang beragama Kristen, dan bagi mereka liburan akhir Desember dan tahun baru itu bukan perayaan Natal. Ucapan yang cocok untuk mereka yang bukan Kristen adalah “Happy Holiday” atau “Season’s Greeting”. Itu adalah hal yang normal. Namun sejumlah orang Kristen merasa mereka perlu mendominasi kebudayaan bahwa akhir Desember itu harus mengucap “Merry Christmas” atau “Selamat Natal”.

***

Di kala lain, ada juga pesan berulang mengenai fatwa MUI tentang larangan ucapan selamat Natal. Tentu saja, Hari Natal 25 Desember bukanlah perayaan agama Islam, jadi aku tidak memerlukan ucapan selamat Natal dari orang yang tidak merayakan. Kelahiran Nabi Isa sebetulnya ada juga dalam tradisi Islam, tapi kelahirannya tidak lazim diperingati dalam kalender internasional umum maupun kalender Hijriah. Ada yang menganggap ucapan selamat hari raya agama lain itu merusak akidah. Akan tetapi, sebagian kawanku yang muslim, memberiku ucapan selamat natal, bahkan ada pula yang pemilih PKS. Aku juga hanya bisa membalasnya dengan ucapan “Terima kasih!” dan “Selamat liburan!”.

***

Sebetulnya kita bisa memilih ingin berkomunikasi seperti apa dengan orang lain. Apakah kita ingin memiliki “mutual respect” dengan sesama dengan memberi ucapan selamat dan menerimanya dengan ramah. Atau kita ingin mendominasi orang lain dengan keyakinan atau ideologi kita dan berharap mereka semua tunduk dengan kemauan kita. Tanpa politisasi yang berlebihan, aku memilih untuk menerima ucapan selamat Natal dengan “Terima kasih!” yang sederhana.

Berhubung aku menulis ini sebelum aku pergi Misa Natal, jadi ucapan Selamat Natal akan kuucapkan besok saja. Mari kita nonton video dari JP Sears tentang ucapan selamat Natal di facebook atau di youtube berikut.

Selamat berucap!
“Keberanian adalah pelaksanaan kata-kata.” (W.S. Rendra)

Bremen, 24 Desember 2016

iscab.saptocondro

iscablog, euy — http://iscab.blogspot.com/2016/12/ucapan-selamat-natal.html
posted on December 24, 2016 at 06:45PM in the year of Chinese Yang Red Fire Monkey and Javanese Lalana / Je.

Hari ini hari Selasa. Dulu aku lahir hari Selasa.

Bremen, 6 Desember 2016

iscab.saptocondro

Koneksi adalah suatu hal penting.

Bremen, 25 Oktober 2016

iscab.saptocondro