Skip navigation

Category Archives: bavaria

Aku sudah meninggalkan Nürnberg lebih dari setahun. Di sana aku pernah tinggal selama setahun. Aku teringat winter yang dingin dan ventilasi rumah yang tidak menyenangkan. Aku harus membeli pemanas portabel dan membiarkan biaya listrik membengkak. Aku jadi terbiasa dengan dinginnya winter. Di sana, aku juga tidak pernah sakit flu. Berbeda dengan Bremen saat ini, rumah lebih hangat tanpa menyalakan pemanas tapi aku kena batuk-pilek dua kali setahun.

Aku senang dan bersyukur bisa bertemu dengan kawan-kawan baru di sana. Sekjen PPI Jerman yang pernah kutemui, sekarang telah menjadi Ketua PPI Jerman. Ketua PPI Franken yang pernah menemani acara makan-gak-makan asal ngumpul, kini menjadi Wakil Ketua PPI Jerman. Kawan Hengky yang membantuku pindah rumah juga telah pindah kota. Sebelum aku banyak bergaul dengan kawan-kawan baru, sayang sekali aku sudah harus pindah. Seperti kata primbon Jawa, sebagai orang dengan wuku Julungpujud yang lahir Selasa Pahing, aku memiliki sifat “Lebu Katiup Angin” yang sering berpindah-pindah: rumah dan pekerjaan. Mungkin pula aku harus terus berpindah ke lain hati, hahaha.
Di bawah ini, gambar wordle mengenai kisah hidupku di Bayern atau Bavaria.
iscabayern di wordle

Dari gambar tersebut, terlihat kalau aku terlalu menonjolkan keakuan. Berarti aku dalam blog ini memang narsis banget. Aku terlalu banyak menggunakan kata “yang”, “dengan”, “ini”, dan “dari” dalam Bahasa Indonesia. Walau aku tinggal di Nürnberg, ingatan akan Bremen tak pernah lepas dari tulisanku. Hal ini bisa dilihat bahwa tulisan “Bremen” dan “Nürnberg” berukuran nyaris sama besar pada gambar. Mata uang euro “EUR” nampak besar pada gambar. Hal ini menunjukkan bahwa aku mata duitan alias cowo matré, hihihi.
Aku bersyukur kepada Tuhan atas segenap pengalaman dan semua kawan-kawan yang kutemui di Nürnberg, Erlangen dan sekitarnya. Semoga perjalanan hidup akan membawa kita kepada kesejatian. 
Bremen, 2 Februari 2014

suka duka iscab di Bavaria http://iscabayern.blogspot.com/2014/02/nuremberg-setahun-telah-berlalu.html

Advertisements

Selasa, 1 November 2011, aku memindahkan barang-barangku ke Wohnung (apartemen) di Gostanbul, Nürnberg. Kamarku di Ebene 2 (dua lantai di atas lantai dasar). Hal yang lumayan sengsara adalah memindahkan kardus berisi catatan kuliah dari lantai nol ke lantai dua. Masalahnya terletak pada massa. Paling sengsara adalah memindahkan sofa. Kini masalahnya terletak pada massa dan volume serta dimensi.

Ketika mengangkat sofa, tanganku kadang membentur dan menggesek tembok. Maka terjadilah pendarahan. Untung ada Palang Merah. Aku pindahan dibantu oleh kawanku, Hengky, yang pernah kukenal ketika kami di Palang Merah. Dia membantuku karena dia memiliki surat ijin mengemudi Jerman, sehingga bisa menyewa mobil untuk keperluan pindahan. Oh, ya, pendarahannya tidak banyak, hanya dua ujung jari karena tangan kering. Keanggotaan kami dulu di Palang Merah tidak terlalu banyak membantu masalah pendarahan ini. Luka kecil pasti cepat kering, sih. Jadi tidak perlu keahlian lebih dari Palang Merah.

Oh, sungguh hari yang melelahkan. Aku tidak memiliki kekuatan eksplosif, jadi tidak bisa mengangkat barang cepat, namun bisa menahan beban berat lama. Hengky yang masih muda, sebaliknya. Dia bisa mengangkat barang berat dengan cepat tapi diduga tak bisa menahan beban berat lama. Efeknya, ritme kerja yang tak imbang. Aku kehabisan tenaga dan mual-mual. Tangan bergetar dan berdarah. Membawa tiga sofa naik dua lantai betul-betul menyengsarakan.

Ich war ein Nürnberger.

***

Sabtu, 13 April 2013, kira-kira satu setengah tahun kemudian, akupun pindahan dari apartemen tempat kuntilanak bergoyang dan berdendang tersebut. Seiring dengan habisnya sabun sari lavender, akupun mengakhiri masa-masa mandi kembang ditemani musik jazz di apartemen tersebut. Perpisahan dengan Wohnung ini kulakukan dengan boker terakhir kali, diiringi lagu Bunga Terakhir dari (Bebi) Romeo.

Kebetulan Nachmieter (orang yang menyewa apartemen setelah diriku) adalah pengusaha jasa pindahan. Jadinya aku menggunakan jasanya untuk mengangkut barang-barang dari apartemen keramat di Nürnberg ke apartemen baru di Bremen. Akupun memindahkan dengan gembira karena jasanya cepat dan tanganku kini sehat dan kuat akibat latihan beban di McFit. Selain itu, kini tiada pemindahan sofa. Kuserahkan sofa, meja makan, meja tulis, beserta kursi-kursinya kepadanya.

Sesampainya di Bremen berangin, barang-barang kupindahkan ke Ebene 1 (satu lantai di atas lantai dasar). Pengantar barang ini sangat cepat dalam memindahkan barang dari mobil ke kamarku. Barang-barang sudah selesai berpindah sebelum kedatangan kawan-kawan Bremen yang kuundang membantuku. Ternyata kawan-kawanku tak datang. Jadinya aku pun tak perlu merepotkan kawan-kawanku.

Usai pindahan ini, akupun melihat pahaku. Kenapa ada darah? Ternyata bisul yang pecah. Akupun teringat pindahan berdarah sebelumnya. Memang kutukan berdarah apartemen di Nürnberg tersebut belum berakhir. Apakah ini ada hubungannya dengan aku yang tidak mandi kembang, melainkan mandi sari kelapa? Oh, ya, kini sabunku menggunakan sari kelapa dan madu. Lagu yang cocok untuk ini adalah Mandi Madu dari Elvy Sukaesih dan Es Lilin Kelapa Muda dari Nining Maeda.

Jetzt bin ich ein Bremer, euy!

***

Berikutnya, aku mengurangi barang-barangku. Catatanku akan kuscan dan kuarsipkan secara digital, baik di harddisk maupun di awan (cloud). Lalu semua kertas yang berat kubuang. Sehingga bebanku ringan pada pindahan berikutnya. Selain itu, aku belajar melepaskan kepemilikan pribadi. Sebagai pria posesif, aku harus belajar melepaskan.

Aku juga akan sekolah mengemudi supaya dapat SIM Jerman. Membawa mobil sendiri bisa menghemat biaya pindahan menjadi sepertiga biaya menyewa jasa pindahan. Selain itu, memiliki SIM ini, bisa membantu kawan-kawan yang ingin pindahan maupun yang ingin bertanding pada acara Sport Fest di Jerman. Dharmaku yang sesungguhnya adalah membantu sesama dengan melepaskan kepemilikan pribadi, atas alat produksi, bukan alat reproduksi.

Mari kita nikmati, lagu Bunga Terakhir dari Bebi Romeo.

Mandi Madu dari Elvy Sukaesih.

Es Lilin Kelapa Muda, dari Nining Meida

Bremen, 16 April 2013

iscab.saptocondro

via suka duka iscab di Bavaria http://iscabayern.blogspot.com/2013/04/pindahan-berdarah.html

Hari ini, aku berada di Nürnberg lagi, dalam rangka beres-beres rumah dan bersih-bersih sebelum pindahan. Aku berputar-putar di kota ini untuk mencari makan. Aku tak punya alat masak yang siap-sedia di dapur. Semuanya sudah ada di kardus.

Seusai makan, segeralah aku pergi stasiun utama kota ini. Aku pergi naik kereta bawah tanah: U-bahn nomor 1. Aku naik dengan penuh keyakinan, bahwa U1 jurusan Fürth-Langwasser pasti takkan sampai di Caringin maupun Sadang Serang.

Perjalanan kali ini, nampaknya aku sulit sekali konsentrasi. Aku selalu terbayang, barang apa yang kubereskan hari ini. Yang ini masuk kardus mana. Ataukah segera kubawa ke Bremen dalam koper. Berapa berat barang ini? Ukurannya gimana. Posisi dalam kardus/koper/tas bagaimana?

Lamunanku buyar seiring keherananku pada U1. Mengapa halte yang kulewati begitu indah? Biasanya kumuh. Selain itu, penumpangnya cantik-cantik. Biasanya, sih, yang kulihat orang bertampang kumal atau wanita lesbian (Emangnya cewe lesbi kaga ada yang cantik?). Mengapa kali ini berbeda? Kulihat halte dengan cara seksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya. Ternyata aku salah jurusan.

Aku salah jurusan. Seharusnya dari stasiun utama, aku menuju Fürth. Aku malah menuju Langwasser. Aku  tak memperhatikan tanda-tanda pada papan, kereta, dan tembok. Ini menunjukkan bahwa aku betul-betul tidak waspada hari ini. Hal seperti inilah yang membuat orang mudah dihipnotis atau kecopetan.

Setelah menyadari kesalahan ini, akupun keluar dari kereta. Pindahlah aku ke sepur lain. Aku balik ke arah Fürth. Kurenungkan kata-kata temanku akhir tahun lalu, “Dengan tersesat, kamu akan menemukan dirimu“. Ternyata aku sudah kehilangan orientasi di kota ini. Ikatan geopsikologis dengan kota ini telah putus. Akupun tersadar kalau aku diutus Tuhan untuk menjalankan Dharmaku di kota lain, yaitu mendakwahkan Kabar Gembira dalam pergerakan.

Dengan kereta yang benar, sampailah aku di rumah Nürnberg. Kusadari bahwa aku harus menjalani kisah sengsara: The Passion of Condro. Rumah di daerah Ghetto Gostanbul. Pergi ke kantor lama untuk diospek. Jalur kantor lama dan rumah yang penuh aroma mencolok. Sepulangnya di rumah, aku sudah tak bisa mengurus rumah lagi karena kelelahan dalam menstabilkan emosi. Empat belas jam sehari untuk kantor terasa berat. Aku pun merasa bahwa keberadaanku di kota ini adalah suatu “salah jurusan” dalam hidup.

Salah jurusan membuatku merenungkan makna hidupku. Aku belajar banyak bahwa aku harus melepaskan keterikatanku akan kota. Aku harus selalu siap berpindah. Mobilitasku harus tinggi. Aku harus mulai mengurangi barang-barang milikku. Catatan harus kuscan lalu kutaruh di harddisk dan di awan. Ini artinya aku harus menghilangkan kepemilikan pribadi. Sebagai pria posesif, aku belajar bahwa aku harus menanggalkan yang kumiliki. Aku harus membuang hal-hal yang menghambat mobilitasku.

Melepaskan keterikatan bisa membuatku menjadi Jedi, seperti di Star Wars. Kota Nürnberg memang Jedi Academy. Ketua PPI setempat juga suka dengan Star Wars, selain suka jeruk nipis. Menanggalkan kepemilikan pribadi bisa membuatku jadi komunis, seperti Uni Bremen yang didirikan oleh kaum komunis Bremen tahun 70-an. Oleh karena itu, aku menjadi Jedi Komuniscab.

Kusadari bahwa kota ini selain menimbulkan perasaan “salah jurusan” dalam hidup, juga membuatku belajar banyak. Selain belajar memaknai (maupun menghilangkan makna) kepemilikan pribadi dan keterikatan geografis dan geopsikologis, aku belajar banyak dari orang-orang di sini. Aku terinspirasi ketua PPI Franken yang mengorganisasikan manusia dengan cepat dan efisien, walaupun ia bukan tentara. Aku belajar bahwa dalam bekerja, aku harus tetap menjaga kemanusiaanku. Aku belajar bahwa selain ber-Dharma di kantor, aku juga harus menjadi Bapak Rumah Tangga. Kulihat rumahku berantakan sulit diurus. Kegagalanku dalam mengatur rumah tangga tak boleh terulang di Bremen baru.

Aku bersyukur kepada Tuhan atas segenap “salah jurusan” dalam hidupku. Tanpa kesalahan ini, aku takkan menemukan diriku. Salah jurusan membuatku menemukan manusia-manusia baru yang mengisi hidupku dengan makna baru. Mereka membentukku menjadi semakin dewasa, secara intelektual maupun spiritual. Kini aku selalu berjaga-jaga dalam menghadapi “salah jurusan” berikutnya.

***

Buat mereka yang “Salah Jurusan”, selain tembang macapat Selat Kalatida dan pupuh Asmaranda tanah Sunda, ada lagu dari rif yang cocok untuk didengarkan. Silahkan lihat video di bawah ini.

Kalau videonya gagal ter-embed, silahkan klik tautan di bawah ini.
http://www.youtube.com/watch?v=EoSDaKFKlqY

***

Oh, ya, ayat Kitab Suci di Gereja hari ini tentang “anak yang hilang” (Lukas 15:11-32) menjadi semakin bermakna ketika aku merenungkan kisah “salah jurusan” ini. Salah satunya karena aku salah naik angkot U1 sepulang dari Gereja.

Nürnberg, 10 Maret 2013

iscab.saptocondro

via iscablog http://iscabayern.blogspot.com/2013/03/salah-jurusan.html

Dulu aku pernah menulis tentang biaya hidup di Bremen (tautan di bawah). Kini aku ingin menulis tentang biaya hidupku di Nürnberg. Berhubung aku sudah bukan mahasiswa lagi, melainkan sudah bekerja sebagai tukang insinyur seperti Si Doel yang sudah lulus sekolah, aku hidup tidak terlalu hemat lagi.

***

Biaya Bulanan

  1. Bayar sewa Wohnung (apartemen) = 435 EUR
  2. Listrik + Gas = 96 EUR
  3. Tiket transportasi VGN = 120 EUR
  4. Makan di rumah = 100 EUR
  5. Makan di luar = 150 EUR
  6. Internet + Telpon di rumah = 38 EUR
  7. Internet + Telpon dalam genggaman = 30 EUR
  8. Kredit smartphone = 50 EUR
  9. Kebersihan = 40 EUR
  10. Sandang (pakaian, sepatu, asesori) = 20 EUR 

TOTAL Bulanan = 1079 EUR

 

Biaya Tahunan

  1. Asuransi waspada (Haftpflichtversicherung) = 73 EUR
  2. Perpanjangan visa = 80 EUR
  3. Perabotan = 250 EUR
  4. Jalan-jalan ke luar kota/negeri = 500 EUR

TOTAL Tahunan = 903 EUR

Biaya tahunan dibagi 12 = 75,25 EUR

Jadi per bulan, kira-kira aku menyiapkan pengeluaran sekitar 1154,25 EUR.
Kalau dibulatkan, jadinya 1200 EUR.

***

Penjelasannya sebagai berikut

  1. Wohnung yang kutinggali memiliki 2 kamar, jadinya harganya segitu. Kalau 1 kamar, mungkin aku bakal tinggal di Wohnung 250 s.d. 280 EUR.
  2. Sayang sekali, aku bayar kalt Miete, bukan warm Miete, jadinya masih harus bayar listrik dan gas.
  3. Aku beli berlangganan tiket transportasi untuk perjalanan dari rumah ke tempat kerja. Juga untuk menikmati akhir pekan keliling kota. Oh, ya, perjalananku dari rumah di Nürnberg, ke tempat kerjaku di Herzogenaurach, harus melewati kota Erlangen. Tiket ini kubayar 113,2 EUR per bulan. Akan tetapi kantorku yang membiayai tiket ini.
  4. Sebelum bulan Juli, aku makan di rumah dengan biaya sekitar 75 s.d. 85 EUR per bulan. Setelah itu, aku bayar sekitar 100 s.d. 115 EUR karena diet yang berbeda. Aku melakukan food combining, atau Insulin-Trennkost, suatu metode diet oleh William Howard Hay.
  5. Makan di luar kulakukan di kantin kantor dan bersama kawan-kawan di akhir pekan. Makan di luar kubutuhkan untuk bersosialisasi. Social network is the key to my survival.
  6. Di rumah, aku berlangganan DSL untuk internet dan telpon. Biaya langganan T-Online adalah 37,88 EUR per bulan.
  7. Aku juga baru membeli smartphone Doktor Galaxy. Biaya berlangganan mobile internet dan telpon flatrate adalah 25,85 EUR. Sedangkan biaya kredit smartphone dari Samsung itu adalah 50 EUR per bulan selama setahun.
  8. Biaya kebersihan adalah biaya membeli sabun mandi, shampoo, deodoran, sabun cuci pakaian, pembersih lantai, pembersih wastafel, sabun cuci piring, pembersih jendela, dll. Oh, ya, aku tak punya mesin cuci baju, jadinya aku harus pergi ke Wasch-Center. Di sana, sekali cuci 3,5 EUR dan mengeringkan pakaian 50 cent per 8 menit. Biasa kupilih 32 menit.
  9. Aku membeli baju, celana, sepatu, dan jaket tahun ini. Kuanggarkan rata-rata 20 EUR per bulan.
  10. Aku membayar asuransi yang bernama Haftpflichtversicherung atau Liability Insurance, untuk melindungiku ketika aku tak sengaja merusak barang milik orang lain. Aku wajib memiliki asuransi ini sebagai syarat menyewa Wohnung/apartemen.
  11. Dulu, untuk perpanjangan visa, kubutuhkan biaya 30 EUR, kini 80 EUR. Sekarang data biometrik visa dilakukan secara elektronik dengan standar internasional baru. Di Indonesia standar ini diterapkan dalam e-KTP. Transfer data identitas beserta biometriknya semakin mudah antar negara dan antar institusi.
  12. Perabotan yang kubeli adalah meja makan dan kursi-kursinya. Aku juga membeli perlengkapan penting pertukangan: obeng, tang, dll dalam bentuk toolkit.
  13. Jalan-jalan ke luar kota kubutuhkan untuk menyegarkan pikiran dan menambah wawasan internasional. Aku berlangganan Bahncard 50, yang kubayar per tahun sebesar 240 EUR. Kartu ini memberiku diskon 50% untuk tiket kereta antar kota di Jerman. Akan tetapi biaya langganan kartu ini juga dibiayai kantorku.
  14. Oh, ya, aku lupa memperhitungkan biaya mudik ke Indonesia. Ini karena mudik ke Indonesia tidak kuanggap hal rutin, melainkan insidental. Nanti setelah aku dapat ijin tinggal tetap (green card atau Blaue Karte atau apapun namanya), aku akan merutinkan mudik. Kini aku mudik kalau punya uang atau kalau ada panggilan penting darurat dari keluarga.

***

Aku menganggarkan 1200 EUR per bulan untuk biaya hidup sebagai pekerja terdidik di Jerman. Apakah pengeluaranku cuma segitu?

Ternyata tidak. Ada pengeluaran lain, yaitu untuk menabung berjangka. Di Indonesia, aku merasakan tabungan berjangka dari NISP dan asuransi berjangka dari Manulife (kalau tidak salah. Aku lupa). Beginilah pengeluaranku untuk tabungan di Jerman.

Biaya Tabungan

  1. Rekening berbunga, Sparkonto = 250 EUR
  2. Tabungan berjangka, Bauspar = 100 EUR
  3. Tabungan hari tua, private Rentenversicherung = 150 EUR 

TOTAL Menabung = 500 EUR per bulan

Pengeluaranku per bulan jadi 1200 EUR + 500 EUR = 1700 EUR per bulan

***

Kok, aku tidak membayar asuransi kesehatan (dan jaminan sosial)?
Sebagai seorang pekerja di Jerman, gajiku secara otomatis dipotong untuk asuransi kesehatan wajib dan jaminan sosial. Anggaran pengeluaran kurencanakan dari gaji bersih (netto), bukan dari gaji kotor (brutto).

***

Seri biaya hidup lainnya bisa dibaca di posting blog berikut

Selamat Hidup Hemat!
Selamat Foya-foya! 

 

Nürnberg, 17 November 2012

iscab.saptocondro

Suatu hari, aku bertemu dengan cewek seksi, yang ternyata berasal dari jurusan Teknik Elektro arus kuat. Biasanya sih, kalau dengar kata Teknik Elektro, aku tidak mungkin mengasosiakan dengan wanita seksi. Apalagi, kata Arus Kuat. Bayanganku tentang arus kuat adalah aku di-OSPEK dengan cara gendong orang, push up berantai, disuruh naik gedung tinggi lalu melambaikan tangan ke lab kalau sudah sampai atas, dll. Kali ini aku bertemu wanita seksi lulusan jurusan tadi. Dia mengajakku pergi ke Praha secara mendadak. 

Ternyata Nürnberg dan Praha itu dekat. Ada jalan bebas hambatan yang langsung menghubungkan keduanya. Nürnberg atau Nurenberg di Jerman, sedangkan Praha atau Prague di Ceko. Di jalan tersebut di Jerman, mobil sempat melaju dengan kecepatan 220 km/jam. Sampailah di Praha, dalam waktu kurang dari 3 jam.

Di Praha, mobil diparkir di Nove Mesto (New Town), tepatnya antara National Museum dan National Theater. Kami pun berfoto di Wenceslas Square. Salju turun dan mentari tak bersinar dengan indah. Jadinya foto-fotoku tidak mantap. Tapi karena acara ini dadakan, jadinya aku tidak merasa kecewa. Mudah-mudahan bisa ke sini lagi di lain waktu dengan kamera yang lebih baik dan suasana lebih asyik.

Praha adalah kawasan Bohemia di Ceko. Jaman dulu, para Bohemian Scholar, dari Praha pergi ke Jerman untuk merayu gadis-gadis Jerman dengan cerita-cerita kehidupan (kuliah) Bohemia. Dulu Jerman, berisi kampung peternakan dan Ceko adalah negara maju dengan universitas yang maju. Jaman sekarang, yang aku tahu tentang Bohemia adalah lagu Bohemian Rhapsody dari Queen.

Dari Nove Mesto, kami pun berjalan kilat menuju Stare Mesto (Old Town), bersama penunjuk jalan seorang mahasiswi di Praha. Dalam perjalanan, tentu saja membeli oleh-oleh murah dari pedagang kaki lima. Museum sex toy pun kami lewati. Tidak kamu kunjungi. Sampailah kami di alun-alun kota (Old Town Square), dengan banyak bangunan gothik dan barok.

Kemudian perjalanan dilanjutkan ke Mala Strana (Lesser Town). Untuk menuju ke sana dari Stare Mesto, harus lewat jembatan karena ada sungai Vltava. Jembatan yang terkenal adalah Charles Bridge. Karena salju yang licin, sulit sekali menari Charleston dengan iringan Party Rock dari LMFAO. Kami pun hanya memotret kastil Praha dan Katedral St. Vitus dari jembatan ini.

Di Mala Strana, kami pun menikmati suasana malam Praha. Kafe-kafe murah yang sering dikunjungi mahasiswa-mahasiswi Bohemia. Minuman khas daerah ini adalah Slivovice dan bir Pilsener. Slivovice adalah minuman hasil fermentasi buah Plum. Cara menyebutnya dalam Bahasa Indonesia adalag Slivovitsa. Pilsener adalah bir yang dibuat dengan metode Pilsen.

Setelah menikmati malam, kami pun pergi menuju Metro terdekat untuk naik kereta bawah tanah menuju museum. Kami pun pulang dengan mobil menuju Nürnberg. Perjalanan kali ini, tidak ditempuh dengan kecepatan lebih dari 100 km/jam. Jalan bersalju, terlalu licin untuk mobil yang tidak memakai ban musim dingin. Kecepatan cukup 60 km/jam saja

Akhirnya sampailah kami di Nürnberg. Akupun terkapar lelah dan teralkoholisasi. Bangun pun dalam keadaan hang over. Aku pun lupa pergi ke Praha sama siapa aja.
Seperti kata cewek seksi Elektro Arus Kuat tersebut, “What happens in Prague, stays in Prague”. Kok, aku bisa ingat kata-katanya, yah?

***

Oh, ya, inilah lagu Bohemian Rhapsody yang dinyanyikan sesampainya di Praha

Inilah Charleston Dance yang biasa dipakai menari di Charles Bridge

Biasanya menggunakan irama Party Rock dari LMFAO

Ini sejarah Charleston Dance di tahun 1920-an.

This is the roaring 20’s! 

Nürnberg, 11 November 2012

iscab.saptocondro

Teringat pesan dari seorang intelijen Melayu.

Jika suster yang seharusnya ngesot bisa keramas, maka pocong bisa cukur ketiak sambil lompat-lompat. – SuaraIntel

Nah, kali ini aku ingin bercerita lagi tentang Kuntilanak. Aku mendengar cerita di kota Nürnberg ini, ada Kuntilanak Merah. Aku kira dia hanya beredar di sekitar kampus perguruan tinggi negeri Depok, tempat Si Mbah kuliah. Ternyata di suatu asrama mahasiswa di Nürnberg ini, aura merah Mbak Kunti ini bisa dirasakan oleh beberapa orang.

Di apartemenku, memang sempat kudengar tangisan perempuan di balik pintu seperti yang telah kuceritakan dulu. Tapi dia bukanlah “La Roja”, Kuntilanak Merah. Dia hanyalah tetanggaku. Kejadian tersebut membuatku merenungkan suatu lagu atau tembang, tentang Kuntilanak. Terkadang kulakukan pula ritual mandi kembang tengah malam untuk mencari inspirasi.

Suatu hari, tanpa diduga, kawanku meminta lagu untuk membuat Kuntilanak Merah bisa bergoyang bagaikan Ayu Ting Ting menari  Geol Mujaer yang mistis. Sel-sel otak kawanku ini mungkin keracunan thesisnya di bidang Neural Network untuk menentukan harga menginap di hotel. Mungkin dia berharap hotel-hotel tersebut bisa menguntungkan secara ekonomis jika ada goyangan Kuntilanak. Apalagi kalau warnanya merah, bagaikan lampu red light district di Jalan Frauentormauer, Nürnberg (foto).

Seperti kata James Redfield, dalam bukunya: “The Celestine Prophecy”, kita harus tetap waspada terhadap peristiwa kebetulan (wiki:en,de). Pada suatu kejadian kebetulan, ada kawan meminta lagu untuk membuat Kuntilanak bergoyang. Lalu ada kejadian kebetulan lagi, ada informasi intelijen gaib tentang kidung Kuntilanak. Namanya Kidung Lingsir Wengi.

Pada kebetulan lain, kutemukan Kidung Lingsir Wengi di Youtube. Tembang yang memuat mistisme Jawa. Namun kawanku lebih minat suatu tembang Kuntilanak dengan mistisme Cirebon, sesuai dengan hasil kontemplasiku ketika mandi kembang tengah malam tadi. Hal ini dikatakan kawanku dalam perjalanan kerja dari Nürnberg, menuju Erlangen, untuk kemudian sampai Herzogenaurach.

Sebagai pahlawan pembela kebetulan, aku menemukan kebetulan lagi. Kutemukan lagu tentang Kuntilanak dengan semangat Cirebonan, dari Cucun Novia. Judulnya “Waru Doyong”. Seperti yang sudah kuceritakan dulu, pohon yang miring karena sering diduduki Kuntilanak disebut waru doyong. Jika penonton MTV disebut “Anak Nongkrong” dan pemilik Trans Corp disebut “Anak Singkong”, maka Mbak Kunti yang di pohon waru doyong disebut “Kuntilanak Nongkrong”.

Mari kita bandingkan lagu untuk Kuntilanak dengan mistisme Jawa Tengah dan mistisme Cirebon. Entah lagu mana yang bisa membuat Kuntilanak Merah bisa bergoyang.

Lingsir Wengi:

Waru Doyong, dari Cucun Novia

Di blog lain, aku akan bercerita lebih lanjut tentang Kuntilanak berambut gondrong, makan singkong, sama King Kong, dari Hongkong, sambil nongkrong, di Waru Doyong. 

Nürnberg, 20 Oktober 2012

iscab.saptocondro

Air memiliki makna spiritual dalam berbagai macam kebudayaan. Dalam tradisi Indonesia (Jawa, Sunda, Bali, dll), beberapa mata air dikeramatkan. Dalam tradisi Kristen, air adalah dipakai dalam pembabtisan dan pembaharuan janji babtis. Dibabtis berarti menjadi manusia baru dan meninggalkan dosa lama. Air di sini lambang pembersihan dari dosa. Dalam tradisi Islam, air dipakai untuk wudhu. Sebelum berdoa, orang harus membersihkan dirinya terlebih dahulu.

Dalam tradisi Jawa, sebelum menikah ada mandi kembang pada saat “Midodareni”. Juga ada mandi kembang tengah malam. Ada yang bilang jika mandi kembang tujuh rupa pada tengah malam, akan cepat dapat jodoh atau kasih tak sampai bisa berubah haluan menjadi sampai. Ada juga yang bilang mandi kembang tengah malam akan memikat pria.

Dalam lagu Caca Handika “Mandi Kembang Tengah Malam”, seorang wanita ingin balik kepada pria yang ditinggalkannya dan disakiti hatinya dulu. Dengan mandi kembang, wanita tadi berharap pria itu kembali padanya. Sang Pria berkata kalau untuk meminta maaf tak perlu mandi kembang dan Sang Pria langsung memaafkannya. Betul-betul pria berhati besar. Nasib Caca Handika lebih baik daripada diriku. Wanita yang kukasihi tidak mau balik padaku jadinya aku lebih baik mencari yang lain. Move on, gitu loh!

Penjelasan non mistik dari mandi kembang adalah begini. Kembang alias bunga memiliki serangkaian senyawa ester dan eter yang memiliki aroma khas. Aroma ini menarik banyak hewan, dari insekta hingga mamalia. Salah satu spesies mamalia, yaitu Homo Sapiens, tertarik dengan aroma mawar, melati, anggrek, dll tergantung selera masing-masing individu. Di wikipedia, ada penjelasan mengenai ester (id,en,de) dan eter (id, Ether en, Ästher de).

Pada teknologi pembuatan parfum modern. Kembang dimasukkan ke dalam air atau larutan alkohol yang diaduk. Setelah beberapa lama, air yang berisi larutan sari kembang diambil. Dengan proses destilasi, ester dan eter bisa diambil secara terpisah. Kadang ester dihidrogenisasi untuk memisahkan asam lemak dan eter. Jadilah bibit parfum.

Cara lain adalah dengan mesin espresso. Uap air panas bertekanan tinggi dialirkan ke kembang. Setelah uap mengembun, didapatkan sari kembang. Sari kembang ini diolah seperti di atas untuk mendapatkan bibit parfum. Kemudian bibit parfum dicampur dengan bibit parfum lainnya untuk memperoleh aroma parfum yang berbeda-beda.

Pada tradisi parfum jaman raja-raja Jawa dulu, kembang baru sampai tahap dimasukkan dalam air untuk memperoleh wanginya. Kemudian air ini langsung dibasuhkan kepada tubuh. Setelah mandi kembang, diharapkan aroma kembang ini bisa menarik pria.

Kembali ke judul. Akhir-akhir ini aku sering mandi kembang tengah malam. Hal ini bukan kulakukan untuk membuatku tahir dari segenap cacat asmara yang kumiliki. Aku tak percaya fakir jodoh bisa dientaskan dengan mandi kembang tengah malam. Acara ini kulakukan karena aku baru sempat dan kuat mandi pada tengah malam. Aku pulang kerja malam, lalu beristirahat (mengolah makanan, makan, istirahat, santai). Setelah badan kaga keringatan dan makanan tercerna, barulah aku mandi. Inilah alasan mandi tengah malam.

Pada mandi tengah malam ini, kembang yang kugunakan adalah Lavender. OK, lebih tepatnya sih sabun dengan tulisan sari bunga Lavender dari pegunungan Alpen. Ester yang terdapat dalam bunga lavender adalah Linalil asetat. Aromanya asyik.

Dengan diiringi musik jazz, dari smartphone Samsung Galaxy S III yang baru kubeli kredit bulan Agustus lalu, aku mandi kembang tengah malam. Betul-betul relax. Tubuhku dipijat secara lembut dengan semburan air dari shower. Tanganku membasuh segenap permukaan tubuhku. Kadang kupijat bahu dan leherku dengan tangan yang penuh sabun aroma Lavender. Setiap bulir-bulir air yang menetes membuat jiwaku berkata “Selamat tinggal segala penat!”.

Aku pun bersyukur pada Tuhan dan teringat Matius 6:34 “Janganlah kamu kuatir akan hari besok karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” Keringat, daki, dan air mata mengalir bersama basuhan air shower dan alunan musik jazz. Semoga seluruh dosaku dan pikiran negatif terhanyut dalam aliran ini.

Andai Caca Handika bisa bermain musik jazz, mungkin aku akan mendengar “Mandi Kembang Tengah Malam” dalam jazz. Walaupun dangdut is the music of my country, seperti kata Project Pop, aku suka musik jazz. Seperti kata seniorku di ITB, daripada musik metal, lebih baik musik jazz. Seperti kata lagu rohani, dalam Jazz kita bersaudara. Kuingat selalu akan Jazz yang pernah berkata “Aku adalah jalan, kebenaran, dan hidup” (Yohanes 14:6).

***

Inilah lagu “Mandi Kembang Tengah Malam” yang dinyanyikan Caca Handika bukan dalam jazz.

***

Ini petuah seniorku di ITB dulu tentang musik jazz.

***

Nürnberg, 9 September 2012

iscab.saptocondro