Skip navigation

Category Archives: cinta

Sekarang hari keenam Natal 2013. Seharusnya kuucapkan Selamat Natal di hari pertama Natal atau malam Natal. Akan tetapi ada beberapa undangan asyik yang kuterima di kota Bremen ini. Aku tidak memiliki pesan Natal untuk tahun ini. Yang kumiliki hanyalah kenangan.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, aku tak mau berpesan Natal.

Kini aku ingin mengenang suatu hari Natal di tahun 1995, yaitu 18 tahun lalu. Saat itu hujan rintik-rintik, seusai Misa Natal di sekolahku. Aku menunggu seorang wanita. Dia tidak datang. Aku pun tertunduk sedih sembari membiarkan tubuhku terpercik air yang turun dari langit.

Bandung di bulan Desember memiliki udara yang dingin. Kubiarkan udara malam kota Bandung yang romantis memeluk diriku yang sepi dan ditinggalkan. Kemanakah ia? Mengapa tahun itu belum ada telpon genggam? Mengapa tiada smartphone dengan aplikasi pesan teks saat itu?

Oh, Bandung, mengapa engkau merangkulku dengan udaramu? Mengapa bukan wanita itu yang mendekapku mesra? Oh, hujan rintik-rintik, mengapa dikau yang menyentuh kulitku saat itu? Mengapa bukan wanita itu yang mencubitku mesra? Aku ingin ia mencubit, memeluk, dan mencium, sehingga lagu Gombloh “Kugadaikan Cintaku” bisa terasa lebih bermakna.

Kawanku datang mendekatiku. Ia memandang diriku yang sedang muram. Kawanku hanya berkata bahwa dia memiliki kue tart di hari Natal. Dia bertanya untuk menawari tart itu. Aku tersenyum dan berkomentar mengenai ukuran kue tersebut yang sebesar patung Gaban di Dufan zaman dahulu. Dia bilang kalau kue ini untuk diriku dan keluargaku. Tanpa tanya mengapa aku sedikit sedih, kawanku memberi gesture yang menghiburku. Aku pun kembali tersenyum, walau hati masih pedih dan penasaran.

Semenjak itu, aku dirundung duka 7 tahun dalam kegelapan. Api yang berkobar dalam jiwaku menjadi hitam dan hanya tersisa sedikit bara. Aku kehilangan cahayaku. Namun aku tidak sendirian, kawan-kawan selalu ada yang bisa menemaniku. Aku tetap bersyukur atas kegelapan ini karena aku bisa mengerti apa itu terang.

Hingga kini aku mencari serpihan terang diriku untuk membangun Condro yang baru. Pembaharuan diriku adalah suatu proses yang takkan berakhir. Aku yakin aku akan mengumpulkan segenap terang yang kubutuhkan. Aku akan menyinari dunia dengan gelora semangatku.

***

Lagu Kahitna “Setahun Kemarin” menggambarkan segenap penantianku di Natal tahun 1995 itu. Entah berapa lama, satu jam menanti, kutermenung.  Kencan pertama hilang tak bertepi di anganku. Melangkah pergi berteman sepi, berbayang teduh matamu.

Yang menarik dari video klip Kahitna “Setahun Kemarin” adalah Vonny Cornelia (wiki: id). Daripada menanti wanita itu, lebih baik aku mencari yang “Bening” kaya Vonny Cornelia aja deh.

Waktu telah berlalu. Entah kemana wanita itu. Dia tidak ada di Facebook, dan social media lainnya. Mungkin dia pergi ke suatu rimba. Jadi lebih baik kudengarkan lagu “Gereja Tua” dari Panjaitan Bersaudara (Panbers).

Kuhanya ingin dapat bertemu. Bila bertemu, puaslah hatiku. Itu kata Panbers.

***

OK, tahun 2014 adalah saatnya aku mencari terangku. Aku bermeditasi untuk merenungi masa-masa terbaikku (1993,1994, 1997-1999, 2003-2006). Apa yang membuatku menjadi penuh gairah di tahun-tahun itu. Aku memiliki semangat besar dalam hidup. Aku mencari Condro muda yang tenggelam dalam jiwaku yang terdalam karena terkubur oleh Condro tua. Aku ingin membangkitkan Condro muda yang membawa api yang bergelora membawa terang dan hangat bagi diriku dan sesamaku.

“Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu menyala!” Lukas 12:49.

Aku menyambut tahun 2014 dengan penuh semangat. Aku akan mencari terangku dalam setiap pekerjaanku, yaitu sebagai mahasiswa doktoral. Akan kucari cahaya itu, dalam segenap penitian karirku sebagai seorang pekerja sains. Akan kucari gelora api itu dalam seluruh perjuanganku dalam bercinta. Aku akan menemukan terang Condro yang baru dalam segenap jejaring perkawanan yang hangat.

***

Frohe Weihnachten und Guten Rutsch ins neue Jahr!
Selamat Natal dan Tahun Baru!

Bremen, 30 Desember 2013

iscab.saptocondro

via Cinta Sapto Condro http://cintascondro.blogspot.com/2013/12/selamat-natal-2013.html

Advertisements

“Telpon Tak Terangkat” adalah satu teknik untuk menolak orang secara halus. Teknik ini cocok untuk orang yang sulit berbohong dan orang yang susah bilang “No” atau “Tidak”. Aku termasuk orang yang gampang dirayu dan susah bilang tidak, jadinya sering menggunakan teknik ini untuk menghindari spamming telpon dari penawar kartu kredit atau kawan-kawan yang lagi semangat MLM (multi-level marketing).

Telephone spamming bukan hanya tentang kartu kredit saja, tapi juga asuransi, langganan majalah, game online, RBT, dll. Aku tidak membenci kawan-kawanku yang terlibat network marketing alias MLM, tapi aku sudah cukup puas dengan hubungan kita yang sebatas kawan, dan tidak perlu dikomodifikasi menjadi hubungan upline-downline.

Berhubung blog ini tentang cinta, maka “Telpon Tak Terangkat” adalah teknik yang dipakai untuk menolak orang yang punya niat pédékaté. Modus-modus pendekatan yang terdengar dalam alunan kata-kata dalam telpon bisa digagalkan dengan  teknik ini. Aku pernah menjadi korban dan pelaku dari teknik ini.

Teknik ini akan semakin “ciamik” (kata orang Jawa), kalau sebelumnya ada kata-kata “I will call you” atau “Nanti, gua telpon lu!”. Sebetulnya teknik “Telpon Tak Terangkat” itu biasanya didahului dengan mantra tersebut. Jadi jangan percaya kalau ada yang bilang “I will call you”.

Biasanya di suatu pertemuan acak, kita berkenalan dengan orang baru. Kita mengobrol sepertinya asyik. Lalu ada acara tukar nomor telpon. Tapi ketika ditelpon, ada teknik “Telpon Tak Terangkat”. Itu pertanda bahwa ia tidak tertarik. Lupakan! Cari yang lain saja! Seperti kata Ustad Cinta dari Radio OZ Bandung, “Mohon MOVE ON, lahir dan batin!”.

Teringat 3 tahun lalu, aku menjadi korban dari teknik “Telpon Tak Terangkat”. Aku mencoba menelpon, tapi tidak diangkat. Suatu hari aku bertemu, aku pun bertanya mengapa tidak mengangkat telpon. Seperti biasa, ada jawaban kalau lagi di kamar mandi, lagi sibuk ini-itu, dll. Sebagai seorang pencari jodoh, kita perlu sadar bahwa segenap alasan ini dan teknik “Telpon Tak Terangkat” adalah pertanda bahwa ia tidak tertarik.

Sebagai orang yang pernah di-MLM-in, kita harus membuat daftar prospek, yang disebut “The Hitlist”. Jadinya daftar prospek ini bukan hanya diterapkan di dunia MLM saja melainkan juga dalam dunia pencarian jodoh. Jika satu prospek gagal didekati, masih ada prospek yang lain. Perpanjang “Hitlist” ini dengan memperluas jejaring sosial. Semakin banyak kawan, semakin mudah jodoh. Jangan biarkan teknik “Telpon Tak Terangkat” membuatmu rendah diri. “He or she is not just into you”. Seperti kata The PanasDalam, jumlah wanita di dunia ada tiga milyar dua puluh satu, jadi wanita buatku bukan hanya dia saja.

Tiga tahun lalu, aku jadi korban teknik “Telpon Tak Terangkat” dari Lady Gaga dan Beyoncé.

Bukan hanya mereka, aku juga jadi korban Rachel dan Sunshine dari Glee. Telponku kaga diangkat, euy.

Tahun ini, aku jadi korban teknik “Telpon Tak Terangkat” dari Jenita Janet. Aku betul-betul di-“reject”.

Kesimpulan dari tulisan ini adalah jika telponmu tidak diangkat, itu artinya dia tidak tertarik. Segeralah MOVE ON! Ini bukan hanya berlaku bagi agen asuransi, MLM, dan kartu kredit saja, tapi juga bagi pemburu cinta. MOVE ON! Cari prospek yang lain. Perluas jejaring sosial.

Kalau masih susah MOVE ON, mari temani Aa bernyanyi di sini.

Bremen, 24 Desember 2013

iscab.saptocondro

via Cinta Sapto Condro http://cintascondro.blogspot.com/2013/12/telpon-tak-terangkat.html

Ada dua pesan dari mantanku, yang perlu kucatat hari ini. Pesan-pesan tersebut berhubungan dengan pencarian jodohku. Nasihatnya betul-betul menarik.

Mantan
***

Pesan pertama: Carilah wanita yang cantik dan pintar

Pesan dari mantanku yang ini kusetujui. Nampaknya mantanku tahu kalau aku suka wanita yang cantik. Aku suka melihat-lihat perempuan yang menarik secara optis, jadinya kalau lagi jalan bareng dengan mantanku dulu, aku menjadi korban cubitan. Mencubit itu pertanda minta dipeluk.

Aku senang dengan “intellectual challenge”. Aku suka berdiskusi dengan seorang pacar yang bisa memberiku tantangan intelektual. Aku suka dengan wanita yang banyak baca buku dan nonton film, serta mengerti beberapa pandangan dunia (Weltanschauung). Aku tertarik dengan perempuan yang mampu membahasakan renungan terdalamnya ke dalam kata-kata yang terucap atau tertulis.

Berikut ini pesan Whatsapp dari mantanku tentang mencari wanita yang cantik dan pintar.

Mantanku bertanya mengenai kehidupan cintaku

Mantanku berpesan …

Ternyata ada bonus pesan, selain cantik dan pintar. Mantanku bilang agar aku mencari pacar dari Amerika Latin. Setelah kupikir dan kurasa, aku memang suka gairah Amerika Latin. Dalam tawa dan tarian, memang temperamen Amerika Latin cocok buatku. Tapi aku tetap merasa absurd dengan pesan mantanku di bawah ini.

Carilah yang cantik dan pintar.

Selain menulis tentang Shakira, mantanku pun memberiku foto Thalia yang kutaruh di atas. Kenapa Amerika Latin, yah? Kenapa Shakira? Kenapa Thalia?

Sepertinya mantanku tahu seperti apa gairahku dalam bercinta. Jadinya ia pun mengatakan kalau aku cocok dengan cewek Amerika Latin.

***

Pesan kedua: Jangan ganti kelamin

Pesan dari mantanku yang ini juga aku setujui. Walau absurd, tapi kusetujui. Nampaknya mantanku merasa bahwa sebagai pria aku akan lebih bergairah, daripada menjadi transseksual. Kupikir

Berikut pesan Whatsapp dari mantanku agar aku tidak mengganti kelaminku.

Ganti kerjaan lebih baik daripada ganti kelamin

Mantanku menciumku karena aku tidak berganti kelamin

Ah, betapa absurdnya mengobrol dengan mantanku. Mungkin dulu kami cocok karena sama-sama absurd.

***

Seperti pesan Ustad Cinta dari Radio OZ Bandung “Mohon move on lahir dan batin!”

Bremen, 31 Agustus 2013

iscab.saptocondro

via Cinta Sapto Condro http://cintascondro.blogspot.com/2013/08/pesan-dari-mantan.html

Dilema (atau Polilema) Mak Comblang
Max Comblanque Dilemma (or Polylemma)

Hari ini, aku belajar mengenai “procurement”. Salah satu arti dari “procurement” adalah mencarikan pasangan untuk orang lain, selain urusan pengadaan barang dalam perusahaan. Nah, tindakan mencarikan pasangan ini biasa dinamakan “comblang”. Sedangkan pelaku procurement disebut sebagai “Mak Comblang”.

Aksi pencomblangan adalah suatu fenomena kompleksitas. Mak Comblang sebagai suatu agen, memperkenalkan dua agen lain yang sebelumnya tidak saling kenal, dengan suatu tujuan kedua agen tersebut berjodoh. Jika jejaring sosial ini digambarkan dengan graf, kedua agen yang semula tidak menyambung (not adjacent) dan terpisahkan 1 derajat (one-degree of separation) oleh Mak Comblang, menjadi menyambung (adjacent). Jika dimodelkan dengan suatu matriks, akan ada matriks transformasi dari keadaan semua ke keadaan berikutnya.

Ketika agen A dijodohkan dengan agen B, oleh agen Mak Comblang, tersimpan beberapa masalah. Hal ini terjadi jika agen A dan B tidak cocok. Relasi agen A (dan/atau B) dengan Mak Comblang bisa terpengaruh oleh ketakberjodohan ini. Rumit, yah, kata-kata yang kupakai? Untuk mempermudah, kugambarkan dengan soal cerita aja.

Kejadian P0: Tawaran dari Mak Comblang

Seorang Mak Comblang memperkenalkanku (agen A) dengan seorang sahabatnya, adiknya, kakaknya, sepupunya, rekan kerjanya, atau pun kenalannya (agen B).
“Eh, Condro, gua punya kenalan, nih. Sejak dia lihat profil lu di Facebook, dia jadi banyak nanya-nanya tentang elu”.
“Eh, Condro, gua punya kenalan, nih. Dia sendirian, kayanya butuh teman. Mau kan lu kenalan sama dia?”
“Nak, Ibu punya kenalan. Putrinya udah lulus kuliah. Sekarang kerja di xxx, maukan dikenalin?”
Kira-kira begitulah contoh proses pencomblangan yang sederhana.

Pada kejadian ini, aku sebagai agen A, memiliki pilihan.

  • Menjawab Ya, aku mau berkenalan
  • Menjawab Tidak, aku tak mau berkenalan

Sederhana pilihannya. Tapi setiap pilihan akan membawa konsekuensi.

Kejadian P1′: Say No to Max Comblanque

Aku menjawab Tidak.
Untuk menjawab tidak, aku sebagai agen A harus mempersiapkan alasan.
“Wah, tahun ini, aku lagi sibuk urusan ini-itu”.
“Wah, aku lagi sering bepergian tahun ini.”
“Wah, aku sibuk bikin proposal proyek/Ph.D/penelitian.”
“Makasih, ya. Aku sedang dekat dengan orang lain.”

Pada kejadian ini, agen Mak Comblang, memiliki pilihan

  • Pantang menyerah mencomblangin agen A dengan agen B
  • Berhenti mencomblangin (untuk sementara)

Jika ingin dibuat lebih kompleks lagi, agen Comblang bisa memiliki pilihan lain

  • Menyerah mencomblangin agen A dengan agen B, tetapi memberi substitusi yaitu agen C, D, E, F, atau X, Y, Z

Kejadian P1: I am a Yes Man

Aku menjawab Ya.
Ini disebabkan aku sebagai agen A, ingin memaksimalkan kemungkinan perjodohan. Pada pilihan ini, bisa timbul kejadian berikutnya:

  • Agen A dan B saling tertarik
  • Agen A tertarik dengan agen B, tetapi tidak sebaliknya
  • Agen B tertarik dengan agen A, tetapi tidak sebaliknya
  • Agen A dan B tidak tertarik satu dengan yang lain

Kejadian P2: Happily (hopefully) ever after

Agen A dan B berjodoh jika keduanya saling tertarik. Biasanya Mak Comblang bahagia dan tuntas dengan procurement-nya.

Kejadian P2′: Bagai pungguk merindukan bulan

Satu agen tertarik, tetapi yang lainnya tidak tertarik.
Biasanya yang terjadi relasi antara agen yang tidak tertarik dengan agen lainnya akan bermasalah.
Pertanyaan retoris dengan pandangan mata curiga Mak Comblang akan keluar.
“Condro, gimana si B?”
“Condro, kok jarang ketemu si B lagi?”
“Condro, kemarin si B nelpon. Dia nanya kabar lu? Kemana aja elu?”

Mak Comblang yang lebih blak-blakan, akan lebih sadis.
“Condro, lu brengsek! Lu udah membuat sahabat gua si B patah hati.”
“Condro, kasihan adik gua. Dia sampai kurus, kaga makan.”
Agen A merasa kaga enak sama agen B dan Mak Comblang.

Jika aku yang menjadi agen pungguk yang merindukan bulan, aku akan banyak bertanya kepada Mak Comblang.
“Max Comblang, kok, si B susah ditelpon? Dia udah ganti nomor, yah?”
“Max Comblang, si B sekarang sibuk, yah? Kok, jarang online, yah?”

Di sini, terasa penderitaan Mak Comblang, yang berelasi dengan dua agen: A dan B. Dia jadi kambing hitam atas relasi A dan B yang tidak beres. Hal ini bisa membuat relasi antara ketiga agen terputus. Ketiga agen menjadi tidak adjacent.

Kejadian P2”: Kita memang tidak cocok

Agen A dan B tidak saling tertarik.
Jika kedua agen yang dicomblangin tidak saling tertarik, kejadian berikutnya adalah hasil relasi A dan B:

  • Agen A dan B menjelaskan alasan yang sama/mirip kepada Mak Comblang atas ketidaktertarikan mereka satu dengan yang lain.
  • Agen A dan B memiliki alasan yang berbeda. 

Kejadian P3: Looping

Agen A dan B memiliki penjelasan yang sama kepada Mak Comblang atas ketaktertarikan keduanya.
Efeknya adalah hal ini kembali kepada kejadian awal, yaitu A dan B tidak memiliki relasi langsung. Mak Comblang tetap berelasi dengan keduanya.

Kejadian P3′: Who is the liar?

Agen A dan B memiliki penjelasan yang berbeda kepada Mak Comblang, mengapa tidak saling tertarik.
Efeknya adalah Mak Comblang memutuskan relasinya dengan salah satu agen, karena satu agen dianggapnya tidak jujur. Namun ia tetap mempertahankan hubungan dengan agen yang lain.

Posting blog berikutnya, mungkin akan kugambarkan analisis Bayesian dari semua kejadian di atas. Tapi seperti kata Elton John pada lagu Believe, “Love is simple”, maka aku membiarkan kisah cintaku mengalir dengan/tanpa bantuan Maximum Comblanque Bayesian Entropy.

Oh, ya, selain kejadian di atas, terkadang ada kejadian penyimpangan Mak Comblang seperti pada “Maximum Comblanque Deviation Video“.

Bremen, 3 April 2013

iscab.saptocondro

via Cinta Sapto Condro http://cintascondro.blogspot.com/2013/04/maximum-comblanque-dilemma.html

“Jauh di mata, dekat di hati.”
Itu kata orang tentang cinta yang terpisahkan oleh jarak. Satu di sana, satu di sini. Saling cinta, namun jarak memisahkan keduanya secara geografis.

Seberapa besarnya pengaruh jarak ini dalam dunia percintaan? Mungkinkah ikatan cinta tak terputus oleh jarak? Akankah jarak jauh mengganggu kesetiaan cinta? Banyak sekali pertanyaan yang ada dalam kepala para pecinta. Sanggupkah hati menjawab pertanyaan ini?

***

Ketika Bapakku pergi kuliah 5 tahun di St. Gallen, Swiss, terdapat jarak seperempat keliling bumi, dengan ibuku di Bandung, Indonesia. Ikatan cinta keduanya begitu kuat. Kenapa bisa kuat? Ada lembaga pernikahan yang melindungi ikatan ini. Ada anak yang membuat keduanya memiliki suatu hubungan batin. Dan berbagai alasan lain. Oh, ya, waktu itu, jalur komunikasi keduanya adalah telegram, surat, dan kartu pos. OK, ada juga wesel untuk pengiriman uang.

Ketika aku pergi kuliah 2 tahun plus-plus di Bremen, Jerman, terdapat jarak yang sama dengan seseorang di Bandung. Aku tidak merasakan ada ikatan cinta yang kuat antara kami. Aku juga tak percaya cinta jarak jauh kalau tidak dalam ikatan pernikahan.

Seperti kata film Road Trip (wiki, imdb), pada hubungan yang lebih dari 500 mil (kira-kira 800 km), selingkuh bukanlah selingkuh. Jadi kalau satu mencoba mencicipi masakan lokal, itu bukanlah selingkuh melainkan semacam “open relationship”. Intinya aku tidak percaya cinta yang terpisahkan jarak lebih dari 800 km. Ini namanya “The rule of 500 miles”.

Jarak jauh meningkatkan kerinduan, sedangkan “Kerinduanku” adalah judul salah satu album Susilo Bambang Yudhoyono. Kerinduan bagaikan sayatan silet pada hati seorang masochist yang senang mengiris-iris tubuhnya sendiri. Kerinduan ini dapat berbuahkan pita kuning indah bak lagu “Tie A Yellow Ribbon round The Old Oak Tree” atau surat jahanam bagai lagu “Dear John”. Pada suatu ulang tahunku, yang kudapat adalah yang terakhir. Kalau dapat yang pertama, aku yakin sampai di sana, seperti album Susilo Bambang terakhir.

Ketika kerinduan terbasuh oleh pertemuan, reaksi pada otak bisa setara orgasme. Silahkan coba cek sinyal EEG, karena scanning dengan MRI tidak memungkinkan. Ini mirip dengan orang yang kecanduan, lalu diberikan candu. Reaksi otaknya akan orgasmik. Tapi sebaiknya lakukanlah riset neuroscience yang benar, jangan percaya sama neuroscientist wannabe.

Kerugian dari cinta jarak jauh buatku adalah aku tidak bisa memaksimalkan kelima inderaku. Indera penglihatanku hanya mampu kupakai untuk membaca surat, kartu pos, SMS, email, foto, Facebook, Twitter, dan videonya saat Skyping. Indera pendengaranku terpuaskan oleh suaranya di telpon dan Skype. Indera yang lainnya tak terpuaskan.

Aku tak bisa mencium aroma tubuhnya: pakai parfum apa dia hari ini, sabun apa yang membasuh kulitnya, lotion apa yang terbalur di kulitnya. Aku tak bisa merasakan kehangatan tubuhnya. Hembusan angin hangat pada telingaku tak bisa kurasakan ketika ia membisikkan rayuannya. Indera perabaku juga tak bisa kupakai membelai rambutnya dan merasakan rambut-rambut halus pada tubuhnya. Indera pengecapku tak bisa kupakai untuk merasakan manis bibirnya.

Oh, ya, kompresi pada Skype juga membatasi kemampuan indera penglihatan. Aku pernah melihat gambar buram orang yang di sana. Hanya hidungnya saja yang kujadikan patokan saat mengobrol. Indera pendengaran juga terbatas oleh jeda beberapa milidetik dan kadang suaranya seperti kena auto-tuned. Detak jantungnya sama sekali tak bisa kurasakan dari jarak jauh ini.

Akan tetapi banyak juga kisah sukses cinta jarak jauh alias long distance relationship. Bandung-Jerman itu seperempat keliling bumi. Ada lagi yang lebih jauh, yaitu sepertiga keliling bumi: Papua-Jerman. Ada yang bisa sukses dalam kisah cintanya. Yang penting bisa tahan Jetlag, seperti lagu dari Simple Plan dan Natasha Bedingfield.

Dalam cinta jarak jauh, percayalah apa kata hatimu.
Ketika kepalamu bertanya-tanya, hatimu tahu jawabannya.

Aturan 500 mil tidak perlu dipercaya. Biarlah kerinduan ini memuncak dalam orgasme ketika terjadi pertemuan.

***

Ini video Jetlag, dari Simple Plan dan Natasha Bedingfield, untuk mereka yang yang saling mencintai walau terpisah jarak.

Mereka yang merindukan orang-orang yang dicintainya nan jauh, takkan kuberikan lagu Kerinduanku dari Susilo Bambang Yudhoyono. Alunan suara Fievel dan Tanya lebih cocok untuk para perindu.

Yang mempermasalahkan cinta dan jarak, ingatlah pepatah “Kasih anak sepanjang galah, kasih ibu sepanjang jalan”.

Bremen, 2 Maret 2013

iscab.saptocondro

via Cinta Sapto Condro http://cintascondro.blogspot.com/2013/03/jarak-jauh.html

Kata orang, jodoh itu di tangan Tuhan.
Ada yang bilang, Tuhan tinggal dalam surga.
Kata Hadith, surga berada di bawah telapak kaki ibu.
Kaki biasanya dipakai untuk menginjak. 

Nampaknya aku harus diinjak-injak kaum ibu supaya dapat jodoh.
Tapi dalam dunia perjodohan, bisa kunikmati surga dunia.

***

Memang cinta tidak kenal logika Aristoteles.
Seperti kata Vina Panduwinata.

***

Cinta itu buta.
Orang buta suka meraba-raba dalam kegelapan.
Dalam bercinta, memang asyik meraba-raba dalam kegelapan.

***

Logika fuzzy juga sulit untuk diterapkan dalam cinta dan dunia perjodohan.
Jika kita dengarkan Vina Panduwinata lebih keras.

***

Pertanyaan tentang hubungan cinta dan logika juga dipertanyakan oleh Katon Bagaskara.

***

Terkadang cinta bisa membawa kita dalam sesat logika (logical fallacies / Fehlschluss).
Namun dengan tersesat, kita bisa menemukan diri kita sendiri, kata Oki Suryowahono, 30 Desember 2012.

Bercintalah, biarlah cinta membimbingmu dalam menemukan dirimu!
(Tapi tersesatnya jangan kelamaan, yah!) 

Bremen, 1 Januari 2013

iscab.saptocondro    

Aku ingat suatu hari di tahun 1999, aku menelpon seorang cewek idaman. Dia teman berolahraga di suatu unit renang di kampus perguruan tinggi negeri di Bandung. Setiap pemanasan, kami berlari bersama sambil mengobrol. Orangnya simpatik, senyumnya asyik. Senyum ramah dengan gigi rapih. Sungguh menarik.

Aku suka menelponnya. Di telpon, suaranya renyah, enak didengar. Begitu merdu saat itu. Dunia begitu indah. Ceritanya selalu menarik. Dia bercerita tentang keluarganya nan jauh di pulau lain. Butuh 48 jam naik bus dan feri untuk sampai sana. Atau 24 jam, yah? Aku lupa. Dia juga bercerita tentang kakaknya yang di Bandung.

Ketika kutelpon dia hari itu. Aku bertanya “Hai si Anunia, ada?”.
Jawaban teman kosnya, “Kaga! Lagi pergi sama Si Monyet.”.
Kubalas “Oh, Si Monyet, kakaknya, yah?”
Teman kosnya, dengan polosnya, menjawab “Si Monyet itu bukan kakaknya, tapi cowoknya.”
Aku pun menjawab “Terima kasih, ya! Titip salam aja.”

Saat itu, aku terbangun dari mimpi indah akan cinta. Aku teringat beberapa kawan yang seangkatan dengan cewek itu, pernah bilang “Si Anunia bukannya udah punya cowok”. Aku terbutakan oleh gairah cinta.

Kemudian kulakukan jurnalisme investigatif. Kuketahui bahwa cewek idamanku ini anak sulung. Jadi kaga mungkin punya kakak. Kulihat juga cowoknya seperti apa.

Aku belajar banyak hal dari pengalaman ini. Pertama, wanita yang ramah dan enak diajak ngobrol, walaupun berkesan mudah nyambung, bukan berarti suka padamu. Sinyal-sinyal pemberi harapan jangan terlalu dipercaya.

Kedua, dengarlah pendapat orang lain tentang orang ini. Cek gosip beredar. Selalu kritis dan kumpulkan informasi.

Ketiga, jika informasi tentang pasangannya, yaitu Si Monyet, sudah terbukti kebenarannya maupun kebetulannya, barulah menentukan pilihan. Apakah menjadi pejuang cinta dengan menyingkirkan Si Monyet dengan cara apapun? Atau menyerah dengan kisah cinta ini untuk mencari yang lain.

Saat itu, keputusanku adalah menyerah, dan mencari cinta yang lain. Ternyata kisah cinta berikutnya jauh lebih menyedihkan, tapi akan kuceritakan di lain waktu.

***

Oh, ya, perasaanku pada masa itu, adalah seperti lagu “Layang-layang” dari Overload Romance. Lagu ini sempat terbawa mimpi di bulan November 2006. Bulan November bukan saja terkenal karena Guns N’ Roses bernyanyi tentang hujan, melainkan bulan ini cewek tadi berulang tahun. Suatu kebetulan yang aneh. Padahal 7 tahun telah berlalu dan telah banyak wanita singgah di hatiku selama rentang waktu tersebut.

Di tahun 2008, satu bulan setelah November, tiba-tiba lagu “Layang-layang” terunggah di Youtube. Saat itulah masa-masa aku melewati lembah yang bernama “Valley of Shit”. Bangkrut dan kesepian di musim dingin. Kebetulan yang aneh lagi. 

Namun lagu “Layang-layang” akan tetap kudendangkan untuk menyemangatiku tahun-tahun berikutnya. Aku dilahirkan untuk menertawakan tragedi masa lalu dan musik adalah salah satu caraku untuk tertawa. Mari dengarkan lagu ini.

Dia bilang padaku bahwa dia sayang aku
Dia juga bilang bahwa dia cinta padaku
Tapi mengapa bila sayang kau tetap jalan dengan dirinya
Juga mengapa bila cinta kau tetap menjadi kekasihnya

Sudah sudahlah.. aku bukan layang-layang
Sudah sudahlah.. aku bukanlah mainan

Orang bilang cinta itu adalah sebuah pilihan
Tapi aku olehmu seolah bila dibuang sayang
Lalu mengapa bila sayang kau tetap jalan dengan dirinya
Juga mengapa bila cinta kau tetap menjadi kekasihnya

Sudah sudahlah.. aku bukan layang-layang
Sudah sudahlah.. aku bukanlah mainan

Nürnberg, 14 Oktober 2012

iscab.saptocondro