Skip navigation

Category Archives: travelling

“Travelling make you lost and find yourself.”
– Oki Suryowahono, 17 Januari 2014 (fb)

“Travel often; getting lost will help you find yourself.”
– Oki Suryowahono, 30 Desember 2012 (fb)

“Manusia harus menjelajah.
Gen yang diwariskan sejak 60 ribu tahun yang lalu ini,
memaksa manusia untuk tetap bertahan hidup
karena sifat keingintahuannya yang besar.”
– Oki Suryowahono, 29 Desember 2012 (fb)

“Dream is the best reason, why we fight to live”
– “5 cm”, film, Rizal Mantovani, 2012,
Oki mengambil petuah film “5 cm”, untuk menggambarkan gairah travelling (fb).

***

Oki Suryowahono adalah kawan kuliahku ketika di Teknik Elektro ITB. Facebooknya berisi pengalaman dan petuah-petuah tentang travelling. Tahun ini, ketika aku sedang merenung di pantai Barcelonetta, di Barcelona. Spanyol, aku teringat petuah-petuah Oki tentang travelling.

Kini aku ingin mencatat petuah-petuahnya di blog ini, demi memberiku inspirasi untuk travelling lebih serius. Aku merasa kata-kata Oki ini yang paling menggambarkan “Wanderlust” seperti apa yang membuatku bergairah untuk pergi jalan-jalan. Jadi kubagikan gairah ini pada pembaca blog ini.

Dear pembaca, kalau punya petuah-petuah travelling lainnya, silahkan juga bagikan kepadaku.
Mari kita berbagi inspirasi!

Bremen, 18 Desember 2014

iscab.saptocondro
“Dalam suatu perjalanan, libatkan dirimu dalam bicara.”

Jalan-jalan Sapto Condro. Travelling iscab. — http://touriscab.blogspot.com/2014/12/petuah-oki-suryowahono-tentang.html

Dua bulan lalu, aku membuat tulisan blog pertama tentang travelling, kini aku melanjutkan mengisi blog ini dengan tulisan tentang jalan-jalan lagi. Aku merenungkan bagaimana caraku berjalan-jalan: haruskah aku online atau offline?

***

Liburan secara offline, artinya ketika aku sedang berlibur atau berjalan-jalan, aku tidak menggunakan internet, baik di komputer maupun di smartphone. Dengan offline, aku tidak menyambung ke Instagram, Facebook, Twitter, Path, dll hanya demi laporan on-the-spot. Aku juga tidak menggunakan Google Maps dan aplikasi peta lainnya di smartphone, hanya demi mencari lokasi tujuan. Aku juga tidak membaca postingan orang lain di social media ketika sedang liburan. Juga tidak buka email ketika berlibur. Jadi dengan offline, aku murni konsentrasi berlibur dan sintas (survive) tanpa bantuan internet.

Keuntungan dari liburan offline, adalah seseorang bisa fokus berlibur atau jalan-jalan. Seluruh jiwa dan raga bisa fokus di ruang dan tempat ia berpijak. Tidak ada buka-buka email pribadi maupun kantor. Jadi kalau liburan kaga perlu ikut debat susu formula, pilpres dan obrolan kapan kawin di milis maupun di social media. Oh, ya, liburan offline juga membuatmu belajar teknik penting untuk tidak menjawab telpon tawaran kartu kredit. Mengangkat telpon itu mahal, lho, kalau dalam roaming internasional. Nah, terapkan teknik ini sepulangnya ke Indonesia.

Keuntungan lain dari liburan offline adalah bisa dapat pengalaman survival. Kalau tersesat, mau tidak mau, harus beli peta yang bagus di lokasi atau nanya orang di jalan. Ada pengalaman asyik, nanya sama orang yang memiliki bahasa ibu yang berbeda. Orang Eropa biasanya cuma tahu jalan dan transportasi dari rumah ke tempat kerja, tapi kaga tahu selain itu. Tapi banyak yang berusaha membantu, ketika ditanya. Jadi kalau travelling di Eropa, kemampuan baca peta murahan di tangan maupun peta di halte bus/trem/stasiun itu penting. Ada juga orang yang tahu jalan, tapi ketika kita nanya jalan, dia tidak bisa bahasa Inggris atau Indonesia. Jadinya bahasa tubuh dan mencoret-coret di tanah bisa jadi bahasa pemersatu. Oh, ya, aku teringat orang Indonesia yang cuma bisa bahasa Jawa dan Indonesia lalu menangis-nangis panik ketika tersesat di suatu kampung di Perancis ketika ketinggalan bus rombongan.

Kerugian dari liburan offline, adalah persiapan liburan harus dilakukan secara matang. Lokasi apa saja yang ingin dikunjungi. Bagaimana jalur dari tempat menginap ke lokasi ke pariwisata. Bagaimana memanfaatkan waktu dari tempat ini ke tempat itu lalu kembali ke penginapan. Bagaimana mencari tiket transportasi murah, dll. Oh, ya, catatan perjalanan harus diprint dan kumpulan kertas itu kaga ringan. Koper kan juga butuh diisi dengan oleh-oleh. Mau tidak mau, kita bikin sampah kertas: peta dan catatan kadang harus dibuang demi koper yang ringan sekembalinya kita dari liburan. Kerugian lain, adalah kita terlibat dalam kerusakan lingkungan dengan memboroskan kertas.

***

Liburan secara online, artinya ketika travelling kita tetap menyambung dengan internet dan menggunakan aplikasi smartphone. Ketika ingin pergi dari sini ke sana, Google Maps siap membantu: bukan hanya jalurnya tapi juga harga tiketnya. Kalau lagi kaga ide mau ke mana, TripAdvisor siap membantu. Biar up-to-date, Foursquare, Instagram, Facebook, Twitter, dkk siap membantu kenarsisan kita.

Keuntungan liburan online, kita tidak perlu membawa peta. Google Maps siap membantu. Aplikasi transportasi kota juga ada yang bisa dipakai. Oh, ya, tips penting adalah kita tahu nama perusahaan transportasi di kota yang kita tuju. Jadinya kita bisa membuka website-nya dan mungkin juga mengunduh aplikasinya, yang biasanya lebih baik daripada Google Map. Selain jalur sini-sana, kita bisa tahu harga tiket transportasi.

Keuntungan liburan online, kita bisa bikin laporan on-the-spot di social media yang kita miliki. Hal ini kadang penting buat blogger yang punya niche di bidang travelling. Bokap-nyokap yang khawatir bisa dihibur dengan foto-foto liburan via Facebook, Instagram, Whatsapp, dll seketika juga. Udah itu, kita bisa memuaskan gairah narsisme kita dari “Like” dan komentar kenalan-kenalan kita di social media.

Keuntungan liburan online, adalah kita tidak perlu membuat rencana detail liburan. Kalau lagi tidak ada ide mau ke mana, aplikasi travelling seperti TripAdvisor siap membantu.

Kerugian liburan online adalah kebutuhan akan charger dan coverage sinyal yang kadang mengganggu kenyamanan. Kadang lekukan indah arsitektur Romantik dan ketegasan arsitektur Barok tidak bisa dinikmati karena kita sibuk berpikir “Aduh, low bat! Harus cari kafe atau restoran buat colok charger”. Kadang semilir angin lembah pegunungan dan birunya langit tidak membuat kita ingin tidur di atas bunga-bunga warna-warni karena kita terlalu sibuk memikirkan “Anjrit! Kaga ada sinyal, euy! Kaga bisa buka Google Maps, euy!”

***

Oh, ya, seperti apa liburan yang kuinginkan? Online atau offline? Pada dasarnya, aku pergi travelling dalam rangka “tapa mlaku” dan membebaskan diriku dari dunia online. Aku ingin merasakan perjalanan spiritual yang mengembalikan fitrahku sebagai manusia yang bisa sintas (survive) tanpa perlu internet dan aplikasi online. Akan tetapi, ada beberapa kondisi yang membuatku harus tersambung lagi ke internet: beli tiket museum dengan jadwal asyik, tidak tahu di mana mengambil peta gratisan, tidak tahu jadwal kereta, beli tiket murah, dll.

Hal yang menarik tahun ini, aku pergi travelling atas nasihat kawanku yang berprinsip jalan-jalan harus offline. Akan tetapi aku bertemu kawanku yang berprinsip liburan tetap online, walau cuma menggunakan aplikasi Google Maps dan TripAdvisor doang untuk navigasi. Selain itu, foto-fotonya harus ada geo-tagging, sedangkan aku mematikan geo-tagging karena aku tidak suka kalau foto digital terlalu banyak memberi informasi pada metadata.

Baik online maupun offline, semoga travelling membuat hidup semakin bermakna.
Dear pembaca, jadi mending jalan-jalan online atau offline, ya?

Bremen, 17 Desember 2014

iscab.saptocondro
“Dalam suatu perjalanan, libatkan dirimu dalam bicara.”

Jalan-jalan Sapto Condro. Travelling iscab. — http://touriscab.blogspot.com/2014/12/jalan-jalan-online-atau-offline.html

Semester lalu, seorang kawan menasihatiku bahwa aku perlu jalan-jalan. Dia merasa khawatir dengan keadaanku yang sepertinya “No Life”, yang hanya duduk depan komputer. Kawanku yang mahasiswi doktoral ini berkata bahwa ia merasa segar dalam studi setiap ia pulang dari travelling. Aku merasakan bahwa aku memerlukan work-life-balance yang sehat, yang bisa merangsangku beraktivitas fisik. Aku membenarkan ide kawanku. Aku perlu jalan-jalan tahun ini.

Kebetulan, ada kawan sekolah yang sedang travelling keliling Eropa. Dia memberikan jadwalnya dan kulihat kota-kota yang dikunjunginya. Aku memilih kota yang belum pernah kukunjungi, yaitu Barcelona, dan bertemu dengan kawanku ini. Tak berapa lama kemudian, aku membatalkan suatu kuliah blok. Aku pun menemui kawanku di Amsterdam.

Di Barcelona, aku pun merasakan kembali gairah travelling atau “Wanderlust” atau semangat jalan-jalan atau apa pun namanya. Aku bisa mencium aroma daerah Gothik di Barcelona dan meresapi sejarahnya. Aku bisa mengagumi arsitektur Gaudi dan merasakan seluruh persamaan matematis dan segenap elemen pembentukan kehidupan dari bangunan yang didesainnya. Butir-butir pasir pantai Barceloneta kurasakan dengan tangan dan kakiku. Angin pantai mengalunkan musik yang membuat rambutku menari-nari sejenak supaya aku terlupa akan segenap kekalutan pikiran.

Mengobrol dan berjalan bersama orang asing dalam perjalanan menyadarkanku bahwa dua tahun terakhir ini, aku malas berkenalan dengan orang di Bremen dan di online social media. Tersesat dalam mencari hostel, kastil dan tempat makan, membuatku menemukan diriku. Kaki yang melepuh dalam travelling menyadarkanku bahwa aku kurang banyak berjalan dan terlalu mengandalkan sepeda dan transportasi umum.

Di pantai Barcelonetta, aku duduk merenung ditemani angin dan pasir putih. Aku memiliki blog tentang Bremen, tentang Bavaria atau Bayern, dan tentang Niedersachsen atau Lower Saxony, tapi tidak punya blog tentang kota-kota yang kulewati kalau aku lagi jalan-jalan. Aku berpikir bahwa aku perlu membuat blog tentang jalan-jalan atau travelling. Oleh karena itu, kuawali blog berisi pengalamanku menjelajah dunia, sepulangnya aku dari Barcelona. Gairah penjelajahanku sepertinya telah terkubur sejak 2008, kini bangkit kembali. Aku pun ingin mengenang kematian dan kebangkitan ini, lalu menyebarkan kabar gembira ini ke seluruh dunia dalam bentuk tulisan blog.

Dengan posting ini, kumulai tulisanku tentang travelling.

“Wanderlust: an irresistible desire to travel to understand one’s very existence” – internet quote

Bremen, 5 Oktober 2014

iscab.saptocondro
“Dalam suatu perjalanan, libatkan dirimu dalam bicara.”

Jalan-jalan Sapto Condro. Travelling iscab. http://touriscab.blogspot.com/2014/10/memulai-blog-tentang-travelling.html