Skip navigation

Tag Archives: biaya hidup

Sudah lama, aku tidak menulis tentang biaya hidup di Jerman. Tahun 2013, aku mengurus kepindahanku dari Nürnberg ke Bremen. Saat itu, aku sempat membayar sewa dua apartemen di dua kota. Aku juga sempat menumpang sementara di kawan. Jadi tahun 2013, bukanlah masa yang betul-betul stabil dalam mencatat biaya hidup. Sepertinya aku lebih mudah menggambarkan seperti apa biaya hidupku di tahun 2014, walau sedikit terkontaminasi dengan biaya hidup tahun 2015.

***

Biaya Bulanan:

  1. Bayar sewa Wohnung (apartemen) = 544 EUR 
  2. Air: Wasser als Nebenkosten = 23 EUR
  3. Listrik SWB = 85 EUR
  4. Iuran GEZ = 18 EUR 
  5. Iuran RT = 10 EUR 
  6. Internet + Telpon Rumah = 38 EUR 
  7. Internet + Telpon Genggam = 40 EUR 
  8. Asuransi kesehatan publik = 261 EUR 
  9. Langganan McFit = 20 EUR 
  10. Makan di Rumah = 80 EUR s.d. 100 EUR
  11. Makan di Luar = 80 EUR s.d. 150 EUR 
  12. Kebersihan = 40 EUR 
  13. Sandang = 20 EUR 

Per bulan, aku harus menyediakan 1259 EUR s.d. 1349 EUR

***

Biaya Semesteran:

  1. Semesterbeitrag = 315 EUR

Per semester, aku harus menyediakan 315 EUR.
Kalau dibulatkan jadi per bulan, jadinya 52 EUR.

***

Biaya Tahunan:

  1. Perpanjangan visa = 90 EUR 
  2. Perabotan = 50 EUR s.d. 250 EUR 
  3. Jalan-jalan dengan kereta DB = 300 s.d. 500 EUR
  4. Bahncard 50 = 255 EUR 
  5. Jalan-jalan dengan pesawat = 0 EUR s.d. 1000 EUR 

Per tahun, aku harus menyediakan 695 EUR s.d. 2095 EUR
Kalau dibulatkan jadi per bulan, jadinya 58 EUR s.d. 175 EUR

***

Oh, ya, ada biaya lagi, yaitu asuransi waspada alias Haftpflichtversicherung. Sementara ini, aku membayar 80 EUR per tahun.
Kalau dibulatkan per bulan, jadinya 7 EUR.

Aku ingin mengganti asuransi ini dengan perusahaan lain yang lebih melindungiku, terutama dari kehilangan kunci. Per bulan kira-kira 27 EUR.

Pada masa transisi, aku harus membayar keduanya. Jadi per bulan, aku harus menyediakan 34 EUR.

***

Setelah dihitung-hitung, semua biaya di atas, per bulan aku harus menyiapkan 1403 EUR s.d. 1610 EUR.

***

Penjelasan biaya hidup:

  1. Aku menyewa apartemen 2 kamar, yang “furnished” atau “mobiliert” (ada perabotan), di daerah yang “convenient” (dekat toserba dan halte angkot), jadi harga sewa lumayan mahal. Tapi bagaimana pun juga sewa kamar di Bremen juga mengalami peningkatan harga. Untuk meredakan kegalauan biaya sewa, aku pun menyewakan satu kamar kepada student lain.
  2. Menambah satu orang di apartemen ternyata membuatku harus menambah bayar iuran air per bulan.
  3. Seperti kata Bang Rhoma Irama tentang begadang, tagihan listrik per bulan jadinya 80-an EUR, bukan 50-an EUR. 
  4. GEZ adalah iuran yang harus dibayarkan setiap kepala rumah tangga untuk setiap peralatan komunikasi yang mengeluarkan gelombang elektromagnet: TV, radio, WiFi, Bluetooth, walkie talkie, dll (web Rundfunkbeitrag, wiki: en,de). Di Indonesia dulu pernah ada iuran TV, untuk menghidupi TVRI yang tanpa iklan. Di Jerman, GEZ dipakai untuk membiayai stasiun TV publik (ARD dan ZDF), dan radio publik. Jadi orang Jerman bisa menikmati Piala Eropa dan Piala Dunia di televisi milik publik.
  5. Iuran RT adalah iuran bersama untuk beli tissue toilet, alat kebersihan, sabun cuci piring, beras, telur, dll untuk dipakai bersama roomie (Mitbewohner/-In).
  6. Internet dan telpon rumah: aku menggunakan kabel DSL dari Telekom. Ada tetangga yang ikut sharing biaya ini, jadi sedikit ringan bebanku untuk sementara.
  7. Internet dan telpon genggam: aku menggunakan smartphone sejak 2012, dan aku berlangganan Telefonica O2 hingga HSPA plus. Waktu itu, di Jerman, LTE belum ada di semua kota. Jika smartphone milikku sudah rusak parah setewas-tewasnya, mungkin aku bakal ganti kontrak dan ganti smartphone untuk LTE, LTE-Advanced (4G), atau bahkan 5G.
  8. Asuransi kesehatan publik (gesetzliche Krankenversicherung) lumayan mahal, kalau lajang dan tidak bekerja. Aku mendapat beasiswa, bukan kontrak kerja, jadinya aku harus membayar penuh. Kalau bekerja, setengah dibayar pemberi kerja dan setengahnya kubayar sebagai penerima kerja, dan langsung motong gaji. Jadi take-home pay, sudah bisa kunikmati tanpa harus mikir askes. Kalau menikah, dengan iuran askes yang kira-kira sama, seluruh anggota keluarga dilindungi. Kalau lajang tanpa anak, dengan iuran tersebut hanya satu saja yang terlindungi, yaitu aku. Keuntungan askes publik adalah tinggal gesek kartu, bisa dapat layanan kesehatan. Dulu sewaktu menggunakan askes swasta, aku harus membayar dulu dan menunggu reimbursement bulan berikutnya. Kena flu saja habis 120 EUR. Teman yang cabut gigi kena 300 EUR. Oh, ya, kalau ibu hamil dan melahirkan itu biaya totalnya ribuan EUR.
  9. McFit itu tempat fitness murah. Aku berlangganan beginian karena ulah kawanku yang impulsif. Aku menemaninya fitness untuk kemudian ditinggalkannya. Kini aku kesepian jika harus pergi fitness sendiri. Tapi aku harus memotivasi diriku di tahun 2015, tahun olahraga. Kalau seminggu sekali fitness, berarti aku keluar 5 EUR per minggu. Kalau tidak, aku cuma buang-buang uang.
  10. Kalau melihat kuitansi belanja untuk mengisi kulkas, sebetulnya per minggu, biayanya sekitar 16 s.d. 18 EUR. Kubulatkan jadi 80 EUR per minggu minimal. Kata orang logistik, kurangi residu untuk menjadi efisien. Aku hanya belanja barang yang kukonsumsi rutin dan sebisa mungkin tidak membiarkan barang kadaluarsa. Jadi “marginal utility” kumanfaatkan dengan optimal. Sebetulnya biaya makan di rumah bisa dihemat lagi, tapi buat apa. Nikmati makanan bergizi selagi masih ada kesempatan. Kesehatan itu penting. Barulah saat masa-masa gawat, dihemat secara ekstrem.
  11. Aku juga makan di luar rumah: kantin, Mensa, kopi, dan kadang untuk ikut acara ngumpul bersama rekan PhD di Oldenburg maupun di Bremen. Bisa saja aku menghemat makan di luar tapi untuk saat ini, waktu jauh lebih berharga daripada uang. Mungkin di masa-masa gawat keadaan ini berbalik. Selain itu, menikmati kebersamaan bersama kawan-kawan juga perlu untuk keseimbangan jiwa. Sekali makan siang di Mensa (kantin universitas), kukeluarkan antara 2 EUR hingga 4 EUR. Segelas kopi seharga 90 sen. Makan hura-hura bersama kawan di restoran bisa menghabiskan 4 EUR hingga 12 EUR. Nonton di bioskop butuh 7 EUR hingga 12 EUR.
  12. Biaya kebersihan adalah biaya membeli sabun mandi, pasta gigi, shampoo, deterjen untuk pakaian, dll, serta biaya mencuci pakaian di Wasch-Center. Kuperkirakan ini menghabiskan 40 EUR per bulan.
  13. Biaya sandang adalah biaya membeli baju, celana, pakaian dalam, asesori, sepatu, dll. Walau aku berasal dari Bandung, kota fashion dan kota tekstil, aku termasuk orang yang jarang belanja sandang. Bahkan beberapa pakaianku pemberian orang atau perusahaan atau organisasi. Tapi bagaimana pun juga aku harus menganggarkan belanja sandang tiap bulan. Untuk sementara, 20 EUR termasuk realistis.
  14. Semesterbeitrag itu uang yang harus kubayar kepada universitas untuk Semesterticket (tiket transportasi untuk mahasiswa), jaringan internet kampus, iuran organisasi mahasiswa, perpustakaan, fasilitas olahraga, bengkel kampus, dll. Sebetulnya aku membayar lebih murah daripada yang kusebut di atas, karena ada potongan.
  15. Tiap tahun kadang orang membayar biaya untuk perpanjangan visa. Kadang tiap dua tahun, tergantung kondisi. 
  16. Tiap tahun kadang aku membeli perabotan: alat masak, keset, alat tulis, dll.
  17. Karena aku sudah berlangganan Bahncard 50, aku harus jalan-jalan dengan kereta. Jadi aku menganggarkan biaya jalan-jalan keliling Jerman dengan kereta Deutsche Bahn.
  18. Ada kalanya aku harus pergi ke Indonesia untuk mudik atau pergi ke negara tetangga di Eropa untuk tapa mlaku, seperti pepatah “Travelling tresno jalaran soko kulino”. Jadi aku menganggarkan biaya perjalanan pesawat.
  19. Jerman punya banyak skema asuransi, yang sulit kusebutkan satu per satu. Bahkan aku pun masih pusing dengan beda-bedanya, karena harus membaca kontraknya dan juga baca wikipedia serta kamus untuk mengerti. 
***

Selain biaya di atas, aku juga membayar pensiun dan reksa dana. Akan tetapi, karena ini tidak bisa disebut sebagai biaya hidup, tetapi lebih cocok disebut sebagai menabung atau investasi, jadinya tidak kumasukkan ke perhitungan ini. Ada kemungkinan pula, aku harus menarik dana ini di masa-masa sulit yang mungkin datang tahun depan, ketika beasiswa dari Niedersachsen berhenti.

***

Seri biaya hidup di Jerman, bisa dibaca dari tulisanku yang lainnya:

Dari semua biaya hidupku, yang terasa mahal itu biaya tempat tinggal dan biaya (jaminan) kesehatan. Sebetulnya baik Jerman maupun Indonesia, komponen biaya tempat tinggal dan kesehatan itu yang paling mencekik, apalagi kalau kamu rakyat miskin.

Bremen, 19 Februari 2015

iscab.saptocondro

iscab di Bremen Bercinta — http://iscabremen.blogspot.com/2015/02/biaya-hidup-di-bremen-tahun-2014.html

Advertisements

Dulu aku pernah menulis tentang biaya hidup di Bremen (tautan di bawah). Kini aku ingin menulis tentang biaya hidupku di Nürnberg. Berhubung aku sudah bukan mahasiswa lagi, melainkan sudah bekerja sebagai tukang insinyur seperti Si Doel yang sudah lulus sekolah, aku hidup tidak terlalu hemat lagi.

***

Biaya Bulanan

  1. Bayar sewa Wohnung (apartemen) = 435 EUR
  2. Listrik + Gas = 96 EUR
  3. Tiket transportasi VGN = 120 EUR
  4. Makan di rumah = 100 EUR
  5. Makan di luar = 150 EUR
  6. Internet + Telpon di rumah = 38 EUR
  7. Internet + Telpon dalam genggaman = 30 EUR
  8. Kredit smartphone = 50 EUR
  9. Kebersihan = 40 EUR
  10. Sandang (pakaian, sepatu, asesori) = 20 EUR 

TOTAL Bulanan = 1079 EUR

 

Biaya Tahunan

  1. Asuransi waspada (Haftpflichtversicherung) = 73 EUR
  2. Perpanjangan visa = 80 EUR
  3. Perabotan = 250 EUR
  4. Jalan-jalan ke luar kota/negeri = 500 EUR

TOTAL Tahunan = 903 EUR

Biaya tahunan dibagi 12 = 75,25 EUR

Jadi per bulan, kira-kira aku menyiapkan pengeluaran sekitar 1154,25 EUR.
Kalau dibulatkan, jadinya 1200 EUR.

***

Penjelasannya sebagai berikut

  1. Wohnung yang kutinggali memiliki 2 kamar, jadinya harganya segitu. Kalau 1 kamar, mungkin aku bakal tinggal di Wohnung 250 s.d. 280 EUR.
  2. Sayang sekali, aku bayar kalt Miete, bukan warm Miete, jadinya masih harus bayar listrik dan gas.
  3. Aku beli berlangganan tiket transportasi untuk perjalanan dari rumah ke tempat kerja. Juga untuk menikmati akhir pekan keliling kota. Oh, ya, perjalananku dari rumah di Nürnberg, ke tempat kerjaku di Herzogenaurach, harus melewati kota Erlangen. Tiket ini kubayar 113,2 EUR per bulan. Akan tetapi kantorku yang membiayai tiket ini.
  4. Sebelum bulan Juli, aku makan di rumah dengan biaya sekitar 75 s.d. 85 EUR per bulan. Setelah itu, aku bayar sekitar 100 s.d. 115 EUR karena diet yang berbeda. Aku melakukan food combining, atau Insulin-Trennkost, suatu metode diet oleh William Howard Hay.
  5. Makan di luar kulakukan di kantin kantor dan bersama kawan-kawan di akhir pekan. Makan di luar kubutuhkan untuk bersosialisasi. Social network is the key to my survival.
  6. Di rumah, aku berlangganan DSL untuk internet dan telpon. Biaya langganan T-Online adalah 37,88 EUR per bulan.
  7. Aku juga baru membeli smartphone Doktor Galaxy. Biaya berlangganan mobile internet dan telpon flatrate adalah 25,85 EUR. Sedangkan biaya kredit smartphone dari Samsung itu adalah 50 EUR per bulan selama setahun.
  8. Biaya kebersihan adalah biaya membeli sabun mandi, shampoo, deodoran, sabun cuci pakaian, pembersih lantai, pembersih wastafel, sabun cuci piring, pembersih jendela, dll. Oh, ya, aku tak punya mesin cuci baju, jadinya aku harus pergi ke Wasch-Center. Di sana, sekali cuci 3,5 EUR dan mengeringkan pakaian 50 cent per 8 menit. Biasa kupilih 32 menit.
  9. Aku membeli baju, celana, sepatu, dan jaket tahun ini. Kuanggarkan rata-rata 20 EUR per bulan.
  10. Aku membayar asuransi yang bernama Haftpflichtversicherung atau Liability Insurance, untuk melindungiku ketika aku tak sengaja merusak barang milik orang lain. Aku wajib memiliki asuransi ini sebagai syarat menyewa Wohnung/apartemen.
  11. Dulu, untuk perpanjangan visa, kubutuhkan biaya 30 EUR, kini 80 EUR. Sekarang data biometrik visa dilakukan secara elektronik dengan standar internasional baru. Di Indonesia standar ini diterapkan dalam e-KTP. Transfer data identitas beserta biometriknya semakin mudah antar negara dan antar institusi.
  12. Perabotan yang kubeli adalah meja makan dan kursi-kursinya. Aku juga membeli perlengkapan penting pertukangan: obeng, tang, dll dalam bentuk toolkit.
  13. Jalan-jalan ke luar kota kubutuhkan untuk menyegarkan pikiran dan menambah wawasan internasional. Aku berlangganan Bahncard 50, yang kubayar per tahun sebesar 240 EUR. Kartu ini memberiku diskon 50% untuk tiket kereta antar kota di Jerman. Akan tetapi biaya langganan kartu ini juga dibiayai kantorku.
  14. Oh, ya, aku lupa memperhitungkan biaya mudik ke Indonesia. Ini karena mudik ke Indonesia tidak kuanggap hal rutin, melainkan insidental. Nanti setelah aku dapat ijin tinggal tetap (green card atau Blaue Karte atau apapun namanya), aku akan merutinkan mudik. Kini aku mudik kalau punya uang atau kalau ada panggilan penting darurat dari keluarga.

***

Aku menganggarkan 1200 EUR per bulan untuk biaya hidup sebagai pekerja terdidik di Jerman. Apakah pengeluaranku cuma segitu?

Ternyata tidak. Ada pengeluaran lain, yaitu untuk menabung berjangka. Di Indonesia, aku merasakan tabungan berjangka dari NISP dan asuransi berjangka dari Manulife (kalau tidak salah. Aku lupa). Beginilah pengeluaranku untuk tabungan di Jerman.

Biaya Tabungan

  1. Rekening berbunga, Sparkonto = 250 EUR
  2. Tabungan berjangka, Bauspar = 100 EUR
  3. Tabungan hari tua, private Rentenversicherung = 150 EUR 

TOTAL Menabung = 500 EUR per bulan

Pengeluaranku per bulan jadi 1200 EUR + 500 EUR = 1700 EUR per bulan

***

Kok, aku tidak membayar asuransi kesehatan (dan jaminan sosial)?
Sebagai seorang pekerja di Jerman, gajiku secara otomatis dipotong untuk asuransi kesehatan wajib dan jaminan sosial. Anggaran pengeluaran kurencanakan dari gaji bersih (netto), bukan dari gaji kotor (brutto).

***

Seri biaya hidup lainnya bisa dibaca di posting blog berikut

Selamat Hidup Hemat!
Selamat Foya-foya! 

 

Nürnberg, 17 November 2012

iscab.saptocondro

Salah satu hal yang berhubungan dengan menipu diri sendiri adalah ketika mengatur anggaran belanja. Lebih tepatnya, ketika mengatur pengeluaran. Cara mengatur pengeluaran adalah dengan menulis biaya hidup kita di atas kertas. Mana yang biaya rutin bulanan, tahunan, dll. Berapa alokasi biaya pangan, sandang, papan/rumah, kebersihan (mandi, cuci, bersih-bersih), rekreasi, studi, dll.

Aku kenal banyak kawan, biasanya Indonesia, yang juga suka menipu diri sendiri dengan berkata bahwa pengeluaran bulanan gua cuma segini. Tapi aku tidak yakin bahwa pengeluarannya cuma segitu.

Cara pertama menipu sendiri adalah dengan tidak menulis biaya hidup di atas kertas. Jadi dia menipu ingatannya kalau dia pernah punya rencana pengeluaran sekian euro atau rupiah. Kalau aku bertanya, dia bisa balik nanya “Ah, emang gua pernah bilang gitu?”.

Cara kedua menipu diri sendiri dengan membuat biaya hidup dengan menekan pengeluaran dengan cara tidak realistis. Aku punya kawan yang bilang mengalokasikan biaya belanja pangan 15 euro per 2 minggu. Aku cuma bisa berdehem “hmmmm”. Kalau dia masak di rumah tiap hari dan kaga pernah makan keluar, mungkin habis 1-2 euro per hari. Angka 15 euro itu nampak realistis karena temanku bisa kaga makan 1 hari lalu hari berikutnya makan. Tetapi buatku, menyiksa diri sendiri bukanlah cara yang baik untuk menekan pengeluaran. Aku hanya sukses menyiksa diri sendiri dengan penghematan pangan ekstrem selama masa 3 bulan. Setelah itu, aku tak sanggup. Aku harus menikmati hidup juga. Temanku ternyata menipu diri sendiri. Pengeluarannya buat pangan ternyata di atas 15 euro per 2 minggu (30 euro per bulan). Dia juga suka beli kebab 3,5 euro kalau kaga masak di rumah.

Cara ketiga menipu sendiri adalah dengan mengomentari rencana anggaran kawan lain sambil berkata “Coba kurangi pengeluarannya! Masa sih kaga bisa dihemat lagi”. Temanku di atas emang kuakui sangat lihai dalam menghemat biaya makan. Tapi untuk biaya pakaian/sandang, dia termasuk tipe “spender”. Tiap bulan, ada pakaian baru, entah baju, celana, sepatu, parfum, dll. Kalau aku lihat, “Hmmm. Itu sepatu setidak-tidaknya 10 euro”, pikirku. Celana “Angebot” minimal 6 euro, dll. Sebetulnya membeli sedikit barang murah dalam tingkat keseringan tinggi biayanya bisa sama aja dengan membeli barang mahal dalam jumlah sedikit. Yang menyebalkan adalah kalau temanku ini mengeluh mengenai biaya hidup sambil menuduh orang lain punya penghasilan lebih besar daripada dirinya sendiri. Yang dituduh biasanya kesal. Temanku ini pernah didamprat teman lain karena hal ini.

***

Prinsip menghitung anggaran hidup atau pengeluaran bulanan.

  1. Tidak menipu diri sendiri
  2. Tulis di kertas
  3. Hitung biaya rutin bulanan, sesuai kebiasaan atau gaya hidup kita
  4. Hitung biaya rutin tahunan/6-bulanan, lalu aproksimasi ke 1 bulan
  5. Hitung biaya lain jangka panjang, misalnya 5-tahunan, 7-tahunan, dll, lalu aproksimasi ke 1 bulan.
  6. Hitung dan jumlahkan semua.
  7. Analisis, mana biaya yang bisa dihemat dan mana yang diperbesar. Buatlah suatu niat bagaimana gaya hidup yang perlu diubah.
  8. Hitung lagi dan jumlahkan semua, lalu tambahkan biaya tak terduga sekitar 10 sampai 30 persen.
  9. Akhirnya dapatlah biaya bulanan kita

Biaya tak terduga adalah biaya akibat hal-hal yang tak diduga. Salah menghitung pengeluaran juga termasuk hal yang tak kita duga. Jadi angka ketidakpastian 10-30% membantu kita untuk tidak kaget kalau pengeluaran bulanan ternyata tidak sesuai dengan rencana penghematan kita akibat kita suka menipu diri sendiri.

***

Contoh caraku menghitung anggaran hidup atau pengeluaran

  1. Biaya pangan
    Biasanya biaya pangan bersifat rutin bulanan.
    – makan di rumah: 
    Aku mengonsumsi beras/nasi, roti, susu, sayuran, buah-buahan, jus. Aku alokasikan 70 euro per bulan karena seminggu sekali belanja pangan aku lihat bonku sekitar 10-19 euro, dengan rata-rata 16 euro per minggu.
    – makan di luar:
    Kalau aku makan di kantin kampus, tiap hari bakal habis 2,2 euro di Uni Bremen. Plus kopi, bisa nambah 70 sen, jadi 2,9 euro per hari. Dikali 20 hari kuliah jadi 58 euro per bulan.
    Kalau aku seminggu sekali makan kebab atau makan Asia karena diajak teman, bisa nambah 3,5 s.d. 7 euro per minggu, jadi per bulan bisa nambah pengeluaran 14 s.d. 28 euro per bulan.
    Sewaktu masih student, aku anggarkan 80 euro per bulan makan di luar.
    Setelah jadi pekerja, biaya kantin 6-7 euro per hari dan ada 20 hari kerja, artinya untuk kantin aku keluar 140 euro per bulan.
    Aku memilih makan di kantin untuk bersosialisasi, baik di antrian maupun di meja makan. Bisa saja aku bersusah payah menyiapkan bekal dari rumah dan makan sendirian yang lebih murah. Tapi kebutuhanku untuk bersosialisasi lebih besar. Anggap saja aku keluar uang untuk berinvestasi dalam social network. 
  2. Biaya sandang/pakaian
    Biaya sandang bisa bersifat rutin bulanan maupun tahunan.
    Bagi pria metroseksual dan wanita, biaya pakaian ini biaya rutin bulanan. Buatku yang pria katroseksual, biaya pakaian bersifat tahunan.
    Kalau punya anak bayi, balita, hingga remaja, biaya pakaian juga rutin bulanan atau 3-bulanan. Bayi dari ukuran segenggam tangan bisa jadi setengah meter dalam setahun, pasti butuh pakaian baru.
    Biaya pakaian itu baju, celana, pakaian dalam, sepatu, topi, kupluk, jaket, sendal, dan pernak-pernik lainnya.
    Sejujurnya aku tak tahu berapa yang kualokasikan untuk biaya pakaian, aku rencanakan saja 30 euro per tahun. Jadinya 6 euro per bulan. 
  3. Biaya papan/rumah
    Biaya ini biasanya bersifat bulanan
    – Sewa
    Kalau sewa kamar, rumah atau kos, pasti tiap bulan harus bayar uang kos atau sewa. Kalau tidak bayar bisa diusir.
    Di Bremen, aku merasakan 3 hari numpang gratis, dan sewa kamar 250 dan 200 euro per bulan. Oh, ya, sewa kamar 200 euro tersebut meningkat secara dinamik 5 euro tiap tahun. Terakhir kali, aku bayar 215 euro per bulan.
    Di Herzogenaurach (Bayern/Bavaria), aku merasakan 3 bulan tinggal dibayari kantor. Jadinya gratis buatku.
    Di Nürnberg (Bayern/Bavaria), aku merasakan bayar kos 435 euro.
    – Beli
    Kalau beli rumah, biasanya orang bayar kredit. Tiap bulan harus bayar kalau kaga mau rumah disita.
    – Uang muka
    Uang muka selalu ada kalau beli rumah, biasanya antara 10-25% harga rumah.
    – Uang jaminan / Kaution
    Kalau sewa kamar atau rumah di Jerman, ada yang namanya uang jaminan yang disebut Kaution. Uang ini dibayar di awal, lalu kalau kita pindah rumah, bapak atau ibu kos akan mengembalikan uang ini, kadang-kadang disertai bunga. Biasanya uang ini seharga 1 hingga 3 bulan harga sewa.
    – Provision / Komisi
    Kalau pakai makelar, buat mencari rumah (baik beli maupun sewa), kita harus membayar uang jasa atau komisi. Di Jerman, maksimum 2 bulan harga sewa ditambah pajak pertambahan nilai 19%. Di negara lain, mungkin tidak ada batas atas uang jasa.
    Di Nürnberg, buat mencari rumah aku jadi membayar 3 + 2 x (1 + 19%) harga sewa (Kaution 3 bulan + Provision 2 bulan). Totalnya di awal menyewa rumah, aku kena 5,38 harga sewa selain membayar sewa bulanan. Sebetulnya kalau aku menghitung biaya transportasi bolak-balik lihat rumah serta bikin janji sama makelar dan pemilik rumah, biayanya bisa nambah.
    Untuk rumah aku alokasikan untuk selalu di bawah 700 euro per bulan ketika aku jadi pekerja. Sewaktu jadi student di Bremen, aku alokasikan untuk berada di sekitar 200 – 280 euro. Kalau aku jadi student di Bayern, aku rela bayar sewa sampai batas 350 euro per bulan. Aku tak sanggup secara mental untuk tinggal di kamar murahan 70 euro.
  4. Biaya Kesehatan
    Biaya kesehatan itu biasanya biaya tak terduga. Kita tidak tahu kapan kita sakit. Oleh karena itu, ada asuransi kesehatan. Asuransi kesehatan biasanya dibayar tiap bulan.
    – asuransi kesehatan milik negara (gesetztliche Krankenversicherung)
    asuransi ini di Indonesia adalah Askes. Di Jerman adalah AOK, TK, DAK, dll. Untuk mahasiswa di Jerman, askes ini berbiaya sekitar 70 euro per bulan untuk mahasiswa muda dan 140 euro per bulan untuk mahasiswa tua. Tua muda di sini tergantung tanggal lahir.
    – asuransi kesehatan swasta (private Krankenversicherung)
    asuransi ini bisa lebih murah atau lebih mahal tergantung permintaan kita ingin mengcover apa saja. Aku pernah bayar 37 euro dan 66 euro untuk asuransi ini di Jerman. 
  5. Pendidikan
    Kalau masih kuliah/sekolah, biaya pendidikan itu uang kuliah, pendaftaran, buku kuliah, dll. Kalau kuliah di Jerman, kadang ada semesterticket yang mencakup biaya transportasi semester.
    – Uang kuliah Jerman
    Biasanya uang kuliah di perguruan tinggi negeri di Jerman tidak lebih dari 500 euro per semester. Kalau diaproksimasi, per bulan habis 85 euro untuk ini.
    – Semesterticket di Jerman
    Biasanya uang transportasi untuk mahasiswa sekitar 200-240 euro per semester. Kalau diaproksimasi, per bulan habis 40 euro untuk ini.
    – kalau hidup di Indonesia
    Kalau hidup di Indonesia dan punya anak yang musti masuk sekolah atau kuliah. Biayanya mantap. Alokasikan 3 juta per bulan untuk sekolah bagus. 
  6. Kebersihan / Higien
    Kebersihan itu mencakup kebersihan tubuh, pakaian, rumah, halaman dan pasangan hidup. Biasanya biaya ini bersifat bulanan.
    – kebersihan tubuh
    Manusia gosok gigi, mandi, keramas, cebok, dandan, dll untuk kebersihan dan keindahan. Ini penting dalam menjaga relasi sosial dengan manusia lainnya.
    Biaya pasta gigi, sabun, shampoo, conditioner, kertas toilet, deodoran, parfum, pelembab (tubuh, muka, bibir), gel rambut, silet buat cukur jenggot (buat cowok), silet buat cukur bulu kaki dan ketiak (biasanya buat cewek), dll perlu masuk biaya bulanan.
    Walaupun beberapa bahan habis pakai di atas dibeli 3 bulan sekali, kita bisa menghitung biaya bulanan dengan membagi tiga. Aku alokasikan 10 euro per bulan untuk ini.
    Kalau kita harus bayar air, listrik, dan gas buat mandi, biaya ini juga harus dimasukkan per bulan.
    – kebersihan pakaian
    Baju dan celana serta tekstil yang kita pakai perlu dicuci. Ini demi kebersihan dan keindahan. Hormatilah manusia lain dengan baju bersih dan aroma yang ramah.
    Biaya sabun cuci pakaian (deterjen), air, dan mesin cuci perlu diperhitungkan.
    Aku membeli deterjen 10 euro yang nampaknya bertahan 6 bulan. Jadi tiap bulan tidak lebih dari 2 euro.
    Aku tidak punya mesin cuci, jadinya harus pergi ke washing center. Sekali cuci bayar 3,5 euro. Kalau pakai pengering, aku bakal nambah 2 euro.  Aku mencuci 2 atau 3 kali sebulan. Sebulan bakal habis 17 euro.
    Kalau mencuci sendiri di rumah pakai ember, mungkin hanya perlu biaya deterjen.
    Kalau beli mesin cuci untuk dipakai di rumah, biayanya antara 300 hingga 2000 euro. Kaga cocok untuk orang yang sering pindah rumah sepertiku. Mesin cuci di rumah juga butuh air, jadi selain biaya investasi, kita harus menghitung biaya variabel air dan listrik juga.
    – kebersihan alat makan dan masak
    Alat makan (piring, sendok, gelas, mangkok, sendok, garpu, dll) harus dicuci. Begitu juga alat masak (panci, pan, wajan, sudu, penyaring, dll). Kalau tidak dicuci, bisa berkerak dan berjamur.
    Aku membeli sabun cuci piring 6 euro yang kuperkirakan bakal tahan setahun. Jadinya sebulan habis 50 sen untuk biaya cuci piring.
    – kebersihan rumah dan kamar mandi
    Rumah beserta perabotannya biasanya disapu, disedot debunya, dipel, diberi wewangian, dll. Kamar mandi juga dipel, toilet digosok, bath-tub dilap, dll. Biasanya alat dan cairan buat mengepel, mengelap, kantong sedot debu, kantong sampah, dll dibeli tiap 2 tau 3 bulan.
    Aku mengalokasikan biaya bersih-bersih kamar 10 euro per bulan. 
  7. Biaya telpon dan internet
    Biasanya orang jaman sekarang punya telpon. Kalau tidak punya telpon rumah, biasanya punya telpon genggam. Jaman sekarang, telpon genggam dipakai juga mengakses internet. Kabel juga selain dipakai telpon juga dipakai internet.
    Aku membayar telpon dan internet dengan kabel secara flat rate 40 euro per bulan sekarang di Nürnberg.
    Di Bremen dulu, aku bayar 5 euro untuk sharing internet dengan WLAN per bulan.
    Untuk biaya telpon genggam, aku tidak pakai flat rate. Aku bayar sesuai berapa menit aku nelpon dan berapa kali aku mengirim text SMS. Biasanya di bawah 10 euro per bulan dalam kondisi normal. Dalam kondisi terlibat panitia acara tertentu, aku membayar 20 euro dalam satu bulan.
  8. Biaya asuransi lainnya
    Di Jerman, aku harus bayar asuransi tertentu kalau punya rumah, mobil, dll. Aku harus punya asuransi kerusakan yang bernama Haftpflichtversicherung untuk dapat rumah di Nürnberg ini. Aku bayar 72 euro per tahun sekarang.
  9. Biaya investasi
    Aku juga menyisihkan sebagian gajiku tiap bulan ke investasi yang bernama asuransi hari tua (Altervorsorge) dan juga tabungan berjangka. Sebenarnya sih boleh saja, ini tidak dianggap biaya karena ini namanya menabung. Sesuai ajaran guru ekonomi kelas satu SMA, tabungan itu adalah gaji yang disisakan bukan tersisakan. 
  10. Biaya rekreasi
    Biaya rekreasi itu biaya jalan-jalan, nonton, museum, kebun binatang, teater dan biaya party alias dugem. Aku sudah, memasukkan biaya kafe dan makan-makan keluar di biaya makan di atas.
    – jalan-jalan
    Kalau kuliah di Jerman, pasti pernah merasakan yang namanya jalan-jalan. Biasanya setahun habis minimal 100 euro untuk ini. Diaproksimasi, jadi 10 euro per bulan.
    Kalau mau liburan enak seminggu di Eropa, biasanya paling murah 250 euro.
    Kalau aku  pergi liburan ke Indonesia, nampaknya bakal habis untuk pesawat 700 euro dan di Indonesia sekitar 500 euro sebulan buat makan-makan dan beli oleh-oleh.
    Tahun ini, aku ingin ke Indonesia dan tiket pesawat termurah 1100 euro pada jadwal yang kuinginkan.
    Sewaktu masih di Indonesia dulu, jalan-jalan ke Lembang atau Ciwideuy rasanya mudah dan asyik bareng kawan-kawan. Banyak event seperti retreat, latihan kepemimpinan, penyambutan mahasiswa baru, dll yang mendorongku untuk ikut acara beginian.
    – museum
    Dalam setahun, mungkin sekali aku pergi ke museum. Biayanya kira-kira habis 10 euro. Harga naik dan turun tergantung event. Kadang ada hari gratis.
    – nonton film di bioskop
    Di Bandung, Indonesia, seminggu atau dua minggu sekali, aku pergi ke bioskop. Di Semarang, hobi ini kukurangi karena masalah gaji. Di Jerman apalagi.
    Namun kini aku sudah bekerja di Jerman, nampaknya aku harus menggairahkan hobi ini lagi. BTW, biaya bioskop itu sekitar 5 hingga 10 euro di Jerman tergantung hari, posisi kursi, lama film, 3D atau normal, dan student atau bukan.
    – kebun binatang
    Baru sekali aku pergi ke kebun binatang di Jerman, yaitu di Bremerhaven. Waktu itu, tiket masuk 7 euro kayanya.
    – biaya party atau dugem
    Berhubung acara jalan-jalan ke gunung dan berkumpul di api unggun jarang kulakukan di Jerman, aku “terpaksa” ikut acara dugem dan party.
    Tiket masuk club buat party alias dugem biasanya 5 sampai 10 euro. OK, klub elit dengan undangan masuk berbeda harganya (sama seperti di Indonesia). Acara party untuk student di kampus juga biasanya berbayar 7 euro.
    Lalu beli bir dalam klub biasanya habis 2 atau 3 euro per botol.
    Dalam setahun, aku ikut 3 hingga 6 party berbayar. Kalau diaproksimasi, sebulan habis 6 atau 7 euro buat party.
    Mending cari private party gratisan, kita cukup membawa keripik 2 euro dan bir six pack 6 euro atau wine 3 euro  atau jus buah tak beralkohol seharga 60 sen buat host party. Biasanya private party itu berhubungan dengan acara ulang tahun, rumah baru, dll.
  11. Biaya tak terduga
    Seperti yang sudah disebut, semua biaya di atas diaproksimasikan per satu bulan. Lalu semua dijumlahkan. Jumlah tersebut ditambah 10 atau 30 % ketidakpastian. Siapa tahu aku kelupaan dengan biaya lain yang tak kutulis.

Semua biaya di atas, mengasumsikan gaya hidup sebagai single di Jerman. Kalau biaya buat mereka yang berkeluarga bisa berbeda. Cara mengaproksimasinya adalah dengan koefisien sebagai berikut.

  • punya pasangan hidup (suami/istri/kawan kumpul kebo/apapun namanya): kalikan 1,7.
    Misalnya pengeluaran kita 500 euro per bulan kalau single. Kalau punya pasangan jadi 850 euro per bulan.
  • punya pasangan hidup dan 1 anak: kalikan 2,2.
    Kalau pengeluaranku 500 euro per bulan sebagai single, maka sebagai seorang kepala keluarga, total pengeluaran menjadi 1100 euro per bulan.
  • punya pasangan hidup dan 2 anak: kalikan 2,6.
  • punya pasangan hidup dan 3 anak: kalikan 3
  • punya pasangan hidup dan 4 anak: kalikan 3,4
  • seterusnya tinggal tambahkan 0,4 untuk koefisien di atas kalau jumlah anak (maupun pasangan hidup) bertambah.

Silahkan lihat contoh biaya hidupku dulu di Bremen di sini. Biaya hidupku di Nürnberg masih kuaproksimasi. Jadi belum selesai kuhitung.

 

Nürnberg, 11 Maret 2012

iscab.saptocondro

Dari obrolan bersama seorang kawan mengenai biaya hidup, aku tidak percaya kalau pengeluarannya per bulan cuma 200 EUR per bulan. Biaya kosnya 100 EUR per bulan. Jadi untuk makan, mandi, dan bersihin rumah tinggal 100 EUR per bulan.

***

Ini perhitungan biaya makan hemat di Jerman

  • roti lapis untuk 3 hari, seharga 29 s.d. 69 sen. JAdi sebulan habis 2,9 s.d. 6,9 EUR.
  • selai buah untuk seminggu, seharga 50 sen. JAdi sebulan habis 2 EUR.
  • Jus buah untuk 3 hari, seharga 55 sen. JAdi sebulan habis 5,5 EUR
  • Telur untuk 10 hari seharga 39 sen. Jadi sebulan habis 1,17 EUR

Total sebulan habis 15,57 EUR saja untuk makan.

Roti sumber karbohidrat. Selai buah dan jus buah sumber vitamin dan mineral. Telur sumber lemak dan protein.

Kalau masih merasa kurang gizi, cari aja keluarga Indonesia lokal. Siapa tahu ada acara undangan makan-makan. BTW, di universitas sering ada informasi makan gratis yang diselenggarakan oleh organisasi atau acara kultural. Selama di Bremen, aku sudah merasakan makanan Mesir, Iran, Mexico, Venezuela, Kamerun, Kenya, dll dari acara beginian.

***

Perhitungan biaya kebersihan hemat di Jerman

  • sabun batang 29 sen untuk 2 minggu mandi. Sebulan habis 58 sen. Bisa dihemat dengan jarang mandi. Jadinya sabun ini bisa bertahan 6 bulan.
  • shampoo 1 EUR untuk 1-2 minggu mandi. Sebulan habis 4 EUR maksimal. Kalau jarang mandi, shampoo ini bisa bertahan 3 bulan.
  • sabun cuci piring 2 EUR untuk 6 bulan. Sebulan habis 33 sen.
  • sabun cuci baju 6 EUR untuk 12 bulan. Sebulan habis 50 sen. 
  • sabun buat ngelap ini-itu, 3 EUR untuk 12 bulan. Sebulan habis 25 sen.
  • cairan pengepel lantai, 6 EUR untuk 12 bulan. Sebulan habis 50 sen

Total sebulan habis 6,19 EUR.

Sekali lagi, bisa dihemat dengan jarang mandi dan jarang bersihin rumah.

***

Gimana dengan beli baju, sepatu, dan celana?

Lu minta aja sama kawan-kawan yang buang baju, sepatu, celana kalau mau pulang habis ke Indonesia.

***

Gimana dengan meja, kursi, tempat tidur, selimut, lampu, piring, gelas, dan perabotan lainnya?

Lu minta aja sama orang-orang. Sama kaya minta pakaian di atas.

***

Gimana biaya telpon dan internet?

Lu kasih missed-call aja untuk minta ditelpon. Jadi biaya telpon bisa 0 EUR per bulan. Untuk internet, cari tempat tinggal yg internet sharingnya inklusif dalam sewa kos.

***

Gimana kalau mau ngontak keluarga dan teman di Indonesia?

Sebelum ke Jerman, lu harus mendidik mereka untuk kaga gaptek pakai Skype. Kalau gagal mendidik mereka, jangan ngontak mereka dan lebih baik ngobrol sama jeruk kalau kesepian.

***

Gimana dengan air, listrik, dan gas?

Carilah tempat kos yang inklusif air, listrik, dan gas dengan biaya flatrate/Pauschal. Kalau kaga inklusif, sebaiknya mandi dibatasi dengan 1 baskom air per hari. Cara mandi adalah dengan kain waslap (Waschlappen) dan sabun batang. Cara mandi ini biasa dilakukan di rumah sakit ketika diopname tapi juga dilakukan oleh banyak orang tua di Jerman dan Belanda. Listrik dan gas dihemat dengan cara tapa pati geni di rumah.  Belajar di kampus aja, jadi rumah hanya untuk tempat tidur yang kaga perlu lampu.

***

Gimana dengan asuransi kesehatan?

Kalau umur di bawah 30 tahun, asuransi kesehatan privat itu 33 EUR per bulan. Kalau cuma butuh asuransi untuk dapat visa, ikut asuransi di masa-masa sekitar perpanjangan visa. Setelah dapat visa, asuransi dibatalkan. Kalau kamu perempuan yang punya resiko hamil jangan coba-coba hidup di Jerman tanpa asuransi kesehatan.

***

OK, sekarang aku percaya bahwa memang bisa hidup di Jerman dengan biaya hidup di bawah 200 EUR per bulan. Bahkan di bawah 100 EUR per bulan kalau kaga perlu bayar kos.

Untuk biaya hidup lebih nyaman dan realistis di Jerman, bisa baca

  • Biaya hidupku di Bremen tahun 2011, di sini
  • Biaya hidup seorang dukun di Bremen, di sini
  • Biaya hidup Steve Tirta di Darmstadt, di sini
  • Biaya hidup Bayu Van Adam tahun 2011, di sini

 

Nürnberg, 26 Februari 2012

iscab.saptocondro

 

Selain tentang biaya hidupku tahun 2011 di Bremen, aku ingin menulis tentang biaya hidup seorang dukun di Bremen. Baca tulisan sampai bawah kalau ingin tahu dukun ini lebih lanjut.

***

Biaya bulanan

  1. Bayar kos = 70 EUR
  2. Asuransi kesehatan privat = 40 EUR
  3. Makan di rumah = 45 EUR
  4. Telpon = 5 EUR
  5. Kebersihan = 5 EUR

TOTAL bulanan = 165 EUR

***

Biaya Semester

  1. Semesterticket = 190 EUR
  2. Pakaian = 5 EUR

Biaya semester dibagi 6 = 32,5 EUR

Jadi tiap bulan dia butuh 197,5 EUR.

Ditambah biaya darurat 25% (49,38 EUR) menjadi 246,88 EUR per bulan.

***

Biaya di atas hanyalah ramalan alias prediksi dari dukun lain di Bremen yang pindah ke Nürnberg. Penjelasannya sebagai berikut.

  1. Dukun ini tinggal di Kuburan 24. Kos di sana khusus buat dukun ini murah. Selain itu, dia tinggal bersama (Wohnungsgemeinschaft/WG/apartment sharing) dengan banyak kawan, sehingga biaya makan di rumah bisa ditekan.
  2. Asuransi kesehatan privat juga sebetulnya tak lebih dari 40 EUR.
  3. Dukun ini jarang nelpon, nampaknya juga takkan sampai 5 EUR per bulan.
  4. Dukun ini jarang bersihin rumah/kamar, hehehe. Nampaknya biaya kebersihan hanya dipakai untuk beli sabun mandi, pasta gigi, dan shampoo.
  5. Semesterticket Uni Bremen dibeli dukun ini supaya bisa naik angkot sampai Hamburg dan Hannover.
  6. Tidak diketahui berapa besar anggaran dukun ini untuk beli pakaian tiap semester atau tiap tahun. Dukun ini biasanya senang sekali dengan baju pemberian orang. Anggap saja 5 EUR per semester.
  7. Sekarang aku tahu kenapa kiriman 200 EUR per bulan cukup untuk menghidupi dukun ini.

***

Dukun ini disebutkan dalam kisahku di Bremen ketika makan-makan bersama Mba Rina dan legenda Bremen. Tempat tinggal dukun kuncen ini, yaitu Kuburan 24, pernah kuceritakan ketika meninggalkan Bremen. Dukun ini sangat sakti. Dia pernah kuliah di kampus Gajah Tapa di Bandung. Seperti logo kampus perguruan tinggi negeri di Bandung tersebut yang duduk di atas buku, dukun ini pernah tidur di atas puluhan buku yang dipinjam dari Uni Bremen dan HS Bremen.

Cerita ini kudapat dari teman kosnya di Kuburan 24. Puluhan buku ditumpuk rapi, lalu di atasnya ditumpuk pakaian-pakaian kemudian sprei. Tidurlah dukun ini dengan tenang di atas buku-buku tersebut.

Ketika dukun kuncen ini pergi dari Bremen dan terbang ke Indonesia untuk selamanya, kosmologi Bremen berubah drastis. Kemudian gunung Eyjafjallajökull meletus di Islandia yang abunya mematikan penerbangan di Eropa. Kesaktiannya betul-betul mengguncangkan Eropa. Dukun-dukun lain di Bremen pun terguncang dan mereka melakukan tapa thesis bersama-sama secara serius untuk menghormati kepergian dukun dari Kuburan 24 ini.

Nürnberg, 25 Februari 2012

iscab.saptocondro

Teringat masa-masa tinggal di Bremen. Biaya hidup di sana lebih murah daripada di Bayern, tempat tinggalku sekarang. Di bawah ini, perhitungan kasar biaya hidupku di Bremen di tahun 2011, pada masa-masa paska kuliah (bahasa halus dari masa pengangguran atau pencarian kerja).

***

Biaya Bulanan

  1. Bayar kos =  220 EUR
  2. Asuransi kesehatan privat = 70 EUR
  3. Makan di rumah = 70 EUR
  4. Makan di luar = 80 EUR
  5. Telpon = 20 EUR
  6. Kebersihan = 25 EUR
  7. Tiket transportasi = 50 EUR

TOTAL Bulanan = 535 EUR

Biaya Tahunan

  1. Pakaian = 60 EUR

Biaya tahunan dibagi 12 = 5 EUR

Tiap bulan intinya butuh 540 EUR

Darurat 25% = 135 EUR

TOTAL Semua = 675 EUR / bulan

***

Kira-kira penjelasannya sebagai berikut:

  • Bayar kos itu wajib kalau tidak mau diusir. Mencari Wohnung/apartemen itu tidak mudah. Yang penting bisa dapat tempat tinggal. Kadang kita bisa dapat Wohnung murah dan kadang tidak.
  • Asuransi privat tahun pertama mungkin bisa didapat seharga 35 – 40 EUR. Tahun kedua 70 EUR kira-kira.
  • Sebaiknya menggunakan asuransi kesehatan yang gesetzliche Krankenversicherung. Untuk student berusia di atas 30 tahun, biayanya memang 130-140 EUR per bulan, tapi tidak perlu bayar uang di muka untuk di-reimburse kemudian.
  • Makan di rumah lumayan menekan biaya kantong. Apalagi kalau tinggal bersama (WG/Wohnungsgemeinschaft)
  • Makan di luar buatku penting untuk bersosialisasi dan untuk variasi gizi. Serta untuk mendapat ide, masak apa. Makan di Mensa/kantin universitas termasuk makan di luar.
  • Biaya kebersihan adalah biaya membeli sabun mandi, shampoo, deodoran, deterjen, alat pembersih kaca, cairan buat ngepel lantai, cairan pembersih, sabun cuci piring, kantong debu vacuum cleaner, dll. Selain itu, biaya mencuci pakaian juga termasuk di sini. Biaya kebersihan penting buat sosialisasi. Pasti kamu ingin tampil bersih dan wangi serta tidak pakai pakaian penuh bercak kalau keluar rumah. Juga kamu ingin punya rumah yang ramah tamu (rapi dan bersih). Kamu juga kaga mungkin menyediakan piring yang jamuran kepada tamu.
  • Tiket bus per bulan kubayar 50 EUR. Sewaktu masih student, aku beli tiket 200 EUR per semester (lebih murah).
  • Biaya pakaian bagiku tak terlalu banyak. Kalau kamu wanita atau pria metroseksual, biaya pakaian per bulan itu pasti per bulannya besar.
  • Biaya tak terduga harus selalu diperhitungkan karena banyak hal yang tak pasti di dunia ini. Untuk contoh di atas, kupakai 25% dan ini mungkin lebay.

Nürnberg, 17 Februari 2012

iscab.saptocondro