Skip navigation

Tag Archives: bremen

Selasa, 1 November 2011, aku memindahkan barang-barangku ke Wohnung (apartemen) di Gostanbul, Nürnberg. Kamarku di Ebene 2 (dua lantai di atas lantai dasar). Hal yang lumayan sengsara adalah memindahkan kardus berisi catatan kuliah dari lantai nol ke lantai dua. Masalahnya terletak pada massa. Paling sengsara adalah memindahkan sofa. Kini masalahnya terletak pada massa dan volume serta dimensi.

Ketika mengangkat sofa, tanganku kadang membentur dan menggesek tembok. Maka terjadilah pendarahan. Untung ada Palang Merah. Aku pindahan dibantu oleh kawanku, Hengky, yang pernah kukenal ketika kami di Palang Merah. Dia membantuku karena dia memiliki surat ijin mengemudi Jerman, sehingga bisa menyewa mobil untuk keperluan pindahan. Oh, ya, pendarahannya tidak banyak, hanya dua ujung jari karena tangan kering. Keanggotaan kami dulu di Palang Merah tidak terlalu banyak membantu masalah pendarahan ini. Luka kecil pasti cepat kering, sih. Jadi tidak perlu keahlian lebih dari Palang Merah.

Oh, sungguh hari yang melelahkan. Aku tidak memiliki kekuatan eksplosif, jadi tidak bisa mengangkat barang cepat, namun bisa menahan beban berat lama. Hengky yang masih muda, sebaliknya. Dia bisa mengangkat barang berat dengan cepat tapi diduga tak bisa menahan beban berat lama. Efeknya, ritme kerja yang tak imbang. Aku kehabisan tenaga dan mual-mual. Tangan bergetar dan berdarah. Membawa tiga sofa naik dua lantai betul-betul menyengsarakan.

Ich war ein Nürnberger.

***

Sabtu, 13 April 2013, kira-kira satu setengah tahun kemudian, akupun pindahan dari apartemen tempat kuntilanak bergoyang dan berdendang tersebut. Seiring dengan habisnya sabun sari lavender, akupun mengakhiri masa-masa mandi kembang ditemani musik jazz di apartemen tersebut. Perpisahan dengan Wohnung ini kulakukan dengan boker terakhir kali, diiringi lagu Bunga Terakhir dari (Bebi) Romeo.

Kebetulan Nachmieter (orang yang menyewa apartemen setelah diriku) adalah pengusaha jasa pindahan. Jadinya aku menggunakan jasanya untuk mengangkut barang-barang dari apartemen keramat di Nürnberg ke apartemen baru di Bremen. Akupun memindahkan dengan gembira karena jasanya cepat dan tanganku kini sehat dan kuat akibat latihan beban di McFit. Selain itu, kini tiada pemindahan sofa. Kuserahkan sofa, meja makan, meja tulis, beserta kursi-kursinya kepadanya.

Sesampainya di Bremen berangin, barang-barang kupindahkan ke Ebene 1 (satu lantai di atas lantai dasar). Pengantar barang ini sangat cepat dalam memindahkan barang dari mobil ke kamarku. Barang-barang sudah selesai berpindah sebelum kedatangan kawan-kawan Bremen yang kuundang membantuku. Ternyata kawan-kawanku tak datang. Jadinya aku pun tak perlu merepotkan kawan-kawanku.

Usai pindahan ini, akupun melihat pahaku. Kenapa ada darah? Ternyata bisul yang pecah. Akupun teringat pindahan berdarah sebelumnya. Memang kutukan berdarah apartemen di Nürnberg tersebut belum berakhir. Apakah ini ada hubungannya dengan aku yang tidak mandi kembang, melainkan mandi sari kelapa? Oh, ya, kini sabunku menggunakan sari kelapa dan madu. Lagu yang cocok untuk ini adalah Mandi Madu dari Elvy Sukaesih dan Es Lilin Kelapa Muda dari Nining Maeda.

Jetzt bin ich ein Bremer, euy!

***

Berikutnya, aku mengurangi barang-barangku. Catatanku akan kuscan dan kuarsipkan secara digital, baik di harddisk maupun di awan (cloud). Lalu semua kertas yang berat kubuang. Sehingga bebanku ringan pada pindahan berikutnya. Selain itu, aku belajar melepaskan kepemilikan pribadi. Sebagai pria posesif, aku harus belajar melepaskan.

Aku juga akan sekolah mengemudi supaya dapat SIM Jerman. Membawa mobil sendiri bisa menghemat biaya pindahan menjadi sepertiga biaya menyewa jasa pindahan. Selain itu, memiliki SIM ini, bisa membantu kawan-kawan yang ingin pindahan maupun yang ingin bertanding pada acara Sport Fest di Jerman. Dharmaku yang sesungguhnya adalah membantu sesama dengan melepaskan kepemilikan pribadi, atas alat produksi, bukan alat reproduksi.

Mari kita nikmati, lagu Bunga Terakhir dari Bebi Romeo.

Mandi Madu dari Elvy Sukaesih.

Es Lilin Kelapa Muda, dari Nining Meida

Bremen, 16 April 2013

iscab.saptocondro

via suka duka iscab di Bavaria http://iscabayern.blogspot.com/2013/04/pindahan-berdarah.html

Advertisements

Sesungguhnya negara bagian Bremen dan Bayern itu berbeda. Luasnya berbeda. Bahasa daerahnya beda. Bremen menggunakan Plaatdüütsch, sedangkan Bayern menggunakan bermacam-macam bahasa daerah.

Kali ini, aku membandingkan apa yang dilakukan SEO tentang cerita kehidupanku di Bremen dan di Bayern.  Dua gambar berikut akan menjelaskan informasi apa yang didapat orang ketika aku ingin berkisah tentang masing-masing negara bagian tersebut.

***

bremen-2013-03
Bremen

Ternyata orang Bremen suka makan baso tahu dan siomay yang bertabur tongcai. Mereka senang hal-hal gratis. Bukan hanya buku gratis dari Gramedia, kalau bisa mereka tinggal di apartemen secara gratis.

***

bayern-2013-03
Bayern

Gadis Bayern senang sekali mandi kembang tengah malam di bawah pohon waru doyong. Hal ini dilakukan supaya mereka tetap segar pikirannya ketika mengembangkan embedded system dalam smartphone. Pikiran yang tidak cerah bisa menyebabkan kepala botak, seperti Palbot.

***

Begitulah ulah SEO dalam menganalisa kedua blogku.

Bremen, 5 Maret 2013

iscab.saptocondro
P.S. Ini uji coba IFTTT lagi.

via iscablog http://iscab.blogspot.com/2013/03/beda-bremen-dan-bayern-maret-2013.html

Jaman dahulu, aku kuliah di Bremen. Di sini ada Bremens Brise atau Bremen’s breeze, yang artinya angin sepoi-sepoi Bremen. Tingkat sepoi-sepoinya betul-betul sesuai dengan kenyamanan mesin pembangkit listrik, bukan kenyamanan manusia yang mudah masuk angin.

Seperti di kota-kota Jerman Utara lainnya, orang sini tidak menggemari payung. Pepatah “sedia payung sebelum hujan” tidak berlaku di sini. Jas hujan lebih berguna daripada payung 5 euro yang tak bakal berbentuk lagi kalau terkena angin dari Laut Utara. 

Di negara bagian Bremen, terdapat dua kota: Bremen dan Bremerhaven. Orang yang senang dengan hujan dan angin, cocok tinggal di Bremerhaven. Orang yang senang naik sepeda di jalan yang relatif datar-datar saja cocok tinggal di kedua kota tersebut. Rem sepeda tidak terlalu dibutuhkan di kota Bremen, berdasarkan pengalamanku yang selalu punya sepeda murahan tanpa rem yang jelas.

Sungai Weser melalui kota Bremen hingga Bremerhaven di Laut Utara. Pelaut-pelaut hanseatik jaman dahulu melalui sungai ini dengan Hansa Cog ketika mereka berlabuh di Bremen. Dengan kapal yang lebih besar dari Hansa Kogge, mereka membawa tembakau dari seluruh dunia untuk diperdagangkan di Tabak Börse (bursa tembakau Eropa) di Bremen.

Di Bremen dan Bremerhaven ada mahasiswa-mahasiswi Indonesia yang membentuk PPI Bremen dan KKOB. PPI Bremen itu singkatan dari Perhimpunan Pelajar Indonesia di Bremen, bagian dari PPI Jerman. KKOB itu Kita-kita Orang Bremen, yang kerjaannya ngumpul buat masak-masak, makan-makan, nonton film, dan membantu menghabiskan makanan kalau ada kegiatan orang Indonesia di Bremen. Semboyan KKOB adalah “Hajar dan Habisi!” (kalau ketemu makanan).

Universitas apa saja yang ada di Bremen-Bremerhaven?

  • Universität Bremen (uni), kampusku dulu tempat aku kuliah sastra
  • Hochschule Bremen (HS)
  • Hochschule Bremerhaven (HS)
  • Hochschule für Künste Bremen (HfK)
  • Hochschule für Öffentliche Verwaltung Bremen (HfÖV)
  • Hochschule für Internationale Wirtschaft und Logistik (HIWL), kaga gratis
  • Jacobs University Bremen (Jacobs), universitas swasta, kuliah Bachelor dan Master di sini kaga gratis, ada uang kuliah 10000 euro per semester.

Kampusnya kaga sebanyak kampus di kota Bandung, apalagi Jakarta. Tapi aliran dana penelitiannya kencang. Uni Bremen selalu masuk 5 besar dalam menyerap dana penelitian dari Pemerintah Jerman.

Kuliah di perguruan tinggi negeri di sini tidak dipungut uang kuliah 500 euro (tuition) kalau belum lewat batas 7 tahun kuliah dan kalau kamu putra daerah (Landeskinder). Putra daerah maksudnya orang yang tinggal dan terdaftar (angemeldet) di Bremen. Jadi kalau mau kuliah gratis, jangan tinggal melewati perbatasan kota Bremen atau Bremerhaven. Jangan terima apartemen di Delmenhorst karena itu udah negara bagian Niedersachsen (Lower Saxony), sudah bukan Freie Hansestadt Bremen.

Walau tidak ada uang kuliah, tapi tiap semester ada biaya sekitar 200 euro untuk status mahasiswa, administrasi, perpustakaan, fasilitas olahraga murah, dan yang paling penting buat jalan-jalan: Semesterticket. Dengan tiket ini, mahasiswa-mahasiswi Bremen bisa “studi banding” ke Hannover, Hamburg, Osnabrück, Cuxhaven, Emden, dll.

Orang Indonesia jaman Orde Soeharto senang mengambil jurusan teknik, kelautan, dan ilmu alam di Bremen. Kalau mengambil jurusan ekonomi, politik, dan sosial, bisa dicurigai sebagai komunis karena Uni Bremen adalah kampus kiri (Linke). Tapi jaman sekarang beda. Orang Indonesia kini banyak mengambil International Studies of Global Management (ISGM) di HS Bremen, supaya bisa ikut pertukaran pelajar ke Jogja atau Bandung.

Kalau ingin kuliah di 4 kampus sekaligus di Bremen, bisa memilih jurusan Digital Media, baik bachelor maupun master. Jurusan ini kerja sama kampus Uni Bremen, HS Bremen, HS Bremerhaven, dan HfK Bremen. Kalau ingin meneliti laut di Indonesia bisa mengambil S3 di Uni Bremen dan berkantor di Leibniz-Zentrum für Marine Tropenökologie (ZMT) kalau suka sosio-ekologi tropis atau Max Planck Institute (MPI) kalau suka mikrobiologi laut. Bisa dimulai dari jurusan master International Studies in Aquatic Tropical Ecology (ISATEC), yang di atas 90% mahasiswanya didanai oleh DAAD.

Apa kegiatan mahasiswa-mahasiswi Indonesia di Bremen?

  • PPI Bremen, yang kegiatan utamanya makan-makan dan olahraga bareng kalau cuaca mendukung. Setelah olahraga bareng, ada makan-makan.
  • Pengajian Bremen, yang tidak dipengaruhi oleh partai politik atau aliran tertentu, berbeda dengan beberapa kota lain di Jerman.
  • KMKI Bremen, baru dibentuk oleh Dewangga dan Pau Pau.
  • Perki Bremen, yang mengadakan kebaktian setiap minggu III dan pendalaman kitab suci tiap minggu I tiap bulan
  • Gracioso Chamber Choir, buat yang suka paduan suara. Dilatih oleh Robin yang murah senyum dan penuh dedikasi.
  • Gamelan, ada dua klub tempat belajar gamelan 
  • Temu Tantuni, bertemu di warung Tantuni untuk makan Dürüm.
  • Temu Hauptbahnhof, bertemu di stasiun, biasanya ini kegiatan insidental dalam rangka ganti angkot atau janjian sama teman.
  • Temu Vina, bertemu di Vina Store, toko Asia tempa beli beras Asia Tenggara, indomie, dan bumbu-bumbu favorit orang Indonesia. Ini juga biasanya kebetulan.
  • KKOB (Kita-kita Orang Bremen), ini perkumpulan misterius di Bremen. Tokoh utamanya para dukun pemegang pusaka. Semakin sakti seorang dukun, semakin kuat hidungnya dalam mengendus informasi acara makan-makan.
  • Pergi ke danau universitas (Uni See) dan bergabung telanjang dengan kaum nudis di FKK Strand. OK, yang ini, tidak dilakukan oleh kebanyakan mahasiswa-mahasiswi Indonesia di Bremen. Biasanya kita cuma bakar-bakar (Grillen), bermusik, main bola santai, atau main kartu di pantai danau ini.

Nürnberg, 26 Mei 2012

iscab.saptocondro

Sudah 6 tahun, aku tinggal di Jerman. Sekarang kumasuki tahun ketujuh seiring dengan awal bulan April ini. Tahun ketujuh aku tak pernah menjejakkan kakiku di Indonesia.

Teringat 6 tahun lalu, kejejakkan kakiku di Jerman pertama kali di bandara Hannover. Lalu naik kereta menuju stasiun utama kota itu. Bingung mencari tempat membeli tiket kereta menuju Bremen.

Sesampainya di stasiun utama Bremen, aku tidak tahu tempat sekretariat jurusanku di Uni Bremen. Aku berdebat dengan sopir taksi mengenai alamat tersebut. Aku hanya punya selembar kertas yang mungkin salah karena kurangnya persiapanku selama di Indonesia.

Sopir taksi membawaku ke gedung NW1 Uni Bremen. Di sana aku harus membayar uang 10,10 EUR. Aku tak punya 10 sen. Sopir taksi tersebut lalu berkata kalau cukup 10 EUR saja. Di gedung NW1 ini aku pun kebingungan dengan lokasi sekretariat jurusanku. Dalam gedung ini, aku tersesat.

Sekretariat jurusan kutemui setelah berkeliling gedung ini. Dari lantai 1 hingga 4, dari Barat hingga Timur. Satu hal yang kupelajari setelah aku menamatkan studi di Uni Bremen adalah sekretariat bisa berpindah tergantung pergantian personalia dalam kampus: entah sekretaris maupun Profesor.

Di sekretariat jurusan alias Master Office, aku diberikan suatu “To-Do List”. Mendaftarkan diri di International Office di Verwaltungsgebäude. Melaporkan diri di imigrasi setempat yang terletak di BSU (Bremen Service University). Mendaftarkan diri untuk masuk antrian asrama. Itulah sebagian isi “To-Do List” tersebut.

Aku menghabiskan banyak waktu menimba ilmu teknik otomasi dan ilmu hidup (bukan biologi, ya!) di Bremen ini. Kalau kuhitung, nyaris lima setengah tahun, aku tinggal di Bremen. Untuk studi kuhabiskan empat setengah tahun, sedangkan seharusnya dua tahun saja. Banyak pengalamanku di sana yang kuceritakan di blogku lainnya.

Tahun lalu, di bulan Agustus, aku pindah ke Bayern. Aku bekerja di Herzogenaurach. Selama tiga bulan kutinggal di sana sembari mencari tempat tinggal di area tersebut. Di bulan November, akhirnya kudapatkan apartemen di Nürnberg. Kupilih kota ini karena di sini aku bisa bertemu dengan mahasiswa-mahasiswi serta aku butuh hingar-bingar kehidupan kota. Tinggal di Herzogenaurach terlalu sunyi untukku.

Akhir tahun tersebut, uang tabunganku habis dan batas atas kartu kreditku tercapai. Relokasi adalah komponen biaya tinggi untuk pekerja. Aku menikmati liburan natal dan tahun baru di apartemen baru tanpa bisa pergi ke mana-mana.

Kini, sudah April 2012. Kumasuki tahun ketujuh tinggal di Jerman. Aku masih belum punya kursi di apartemen ini jadi aku tak bisa mengganti lampu kamarku. Aku juga belum punya meja untuk makan dan untuk bisa menjadi tempat memotong dalam memasak. Gorden untuk jendela juga belum kumiliki. Rak untuk menaruh barang-barangku juga tidak ada, sehingga semua masih dalam kardus. Masih banyak yang harus kulakukan untuk apartemen ini. Andai aku punya istri atau pacar yang tinggal bareng mungkin apartemen ini lebih baik.

Pada tahun ketujuh ini, aku ingin bisa menjejakkan kakiku di tanah kelahiranku dan menghirup udara kota Bandung lagi. Aku ingin mendengar gelak tawa keluarga dan teman-temanku di tanah airku. Aku ingin membasuh jiwaku yang kering dengan sepercik memori masa laluku di Indonesia. Mungkin aku bisa mendapatkan kembali sesuatu yang hilang dari diriku.

 

Nürnberg, 1 April 2012

iscab.saptocondro 

Sudah 6 tahun, aku tinggal di Jerman. Sekarang kumasuki tahun ketujuh seiring dengan awal bulan April ini. Tahun ketujuh aku tak pernah menjejakkan kakiku di Indonesia.

Teringat 6 tahun lalu, kejejakkan kakiku di Jerman pertama kali di bandara Hannover. Lalu naik kereta menuju stasiun utama kota itu. Bingung mencari tempat membeli tiket kereta menuju Bremen.

Sesampainya di stasiun utama Bremen, aku tidak tahu tempat sekretariat jurusanku di Uni Bremen. Aku berdebat dengan sopir taksi mengenai alamat tersebut. Aku hanya punya selembar kertas yang mungkin salah karena kurangnya persiapanku selama di Indonesia.

Sopir taksi membawaku ke gedung NW1 Uni Bremen. Di sana aku harus membayar uang 10,10 EUR. Aku tak punya 10 sen. Sopir taksi tersebut lalu berkata kalau cukup 10 EUR saja. Di gedung NW1 ini aku pun kebingungan dengan lokasi sekretariat jurusanku. Dalam gedung ini, aku tersesat.

Sekretariat jurusan kutemui setelah berkeliling gedung ini. Dari lantai 1 hingga 4, dari Barat hingga Timur. Satu hal yang kupelajari setelah aku menamatkan studi di Uni Bremen adalah sekretariat bisa berpindah tergantung pergantian personalia dalam kampus: entah sekretaris maupun Profesor.

Di sekretariat jurusan alias Master Office, aku diberikan suatu “To-Do List”. Mendaftarkan diri di International Office di Verwaltungsgebäude. Melaporkan diri di imigrasi setempat yang terletak di BSU (Bremen Service University). Mendaftarkan diri untuk masuk antrian asrama. Itulah sebagian isi “To-Do List” tersebut.

Aku menghabiskan banyak waktu menimba ilmu teknik otomasi dan ilmu hidup (bukan biologi, ya!) di Bremen ini. Kalau kuhitung, nyaris lima setengah tahun, aku tinggal di Bremen. Untuk studi kuhabiskan empat setengah tahun, sedangkan seharusnya dua tahun saja. Banyak pengalamanku di sana yang kuceritakan di blogku lainnya.

Tahun lalu, di bulan Agustus, aku pindah ke Bayern. Aku bekerja di Herzogenaurach. Selama tiga bulan kutinggal di sana sembari mencari tempat tinggal di area tersebut. Di bulan November, akhirnya kudapatkan apartemen di Nürnberg. Kupilih kota ini karena di sini aku bisa bertemu dengan mahasiswa-mahasiswi serta aku butuh hingar-bingar kehidupan kota. Tinggal di Herzogenaurach terlalu sunyi untukku.

Akhir tahun tersebut, uang tabunganku habis dan batas atas kartu kreditku tercapai. Relokasi adalah komponen biaya tinggi untuk pekerja. Aku menikmati liburan natal dan tahun baru di apartemen baru tanpa bisa pergi ke mana-mana.

Kini, sudah April 2012. Kumasuki tahun ketujuh tinggal di Jerman. Aku masih belum punya kursi di apartemen ini jadi aku tak bisa mengganti lampu kamarku. Aku juga belum punya meja untuk makan dan untuk bisa menjadi tempat memotong dalam memasak. Gorden untuk jendela juga belum kumiliki. Rak untuk menaruh barang-barangku juga tidak ada, sehingga semua masih dalam kardus. Masih banyak yang harus kulakukan untuk apartemen ini. Andai aku punya istri atau pacar yang tinggal bareng mungkin apartemen ini lebih baik.

Pada tahun ketujuh ini, aku ingin bisa menjejakkan kakiku di tanah kelahiranku dan menghirup udara kota Bandung lagi. Aku ingin mendengar gelak tawa keluarga dan teman-temanku di tanah airku. Aku ingin membasuh jiwaku yang kering dengan sepercik memori masa laluku di Indonesia. Mungkin aku bisa mendapatkan kembali sesuatu yang hilang dari diriku.

 

Nürnberg, 1 April 2012

iscab.saptocondro 

Selain tentang biaya hidupku tahun 2011 di Bremen, aku ingin menulis tentang biaya hidup seorang dukun di Bremen. Baca tulisan sampai bawah kalau ingin tahu dukun ini lebih lanjut.

***

Biaya bulanan

  1. Bayar kos = 70 EUR
  2. Asuransi kesehatan privat = 40 EUR
  3. Makan di rumah = 45 EUR
  4. Telpon = 5 EUR
  5. Kebersihan = 5 EUR

TOTAL bulanan = 165 EUR

***

Biaya Semester

  1. Semesterticket = 190 EUR
  2. Pakaian = 5 EUR

Biaya semester dibagi 6 = 32,5 EUR

Jadi tiap bulan dia butuh 197,5 EUR.

Ditambah biaya darurat 25% (49,38 EUR) menjadi 246,88 EUR per bulan.

***

Biaya di atas hanyalah ramalan alias prediksi dari dukun lain di Bremen yang pindah ke Nürnberg. Penjelasannya sebagai berikut.

  1. Dukun ini tinggal di Kuburan 24. Kos di sana khusus buat dukun ini murah. Selain itu, dia tinggal bersama (Wohnungsgemeinschaft/WG/apartment sharing) dengan banyak kawan, sehingga biaya makan di rumah bisa ditekan.
  2. Asuransi kesehatan privat juga sebetulnya tak lebih dari 40 EUR.
  3. Dukun ini jarang nelpon, nampaknya juga takkan sampai 5 EUR per bulan.
  4. Dukun ini jarang bersihin rumah/kamar, hehehe. Nampaknya biaya kebersihan hanya dipakai untuk beli sabun mandi, pasta gigi, dan shampoo.
  5. Semesterticket Uni Bremen dibeli dukun ini supaya bisa naik angkot sampai Hamburg dan Hannover.
  6. Tidak diketahui berapa besar anggaran dukun ini untuk beli pakaian tiap semester atau tiap tahun. Dukun ini biasanya senang sekali dengan baju pemberian orang. Anggap saja 5 EUR per semester.
  7. Sekarang aku tahu kenapa kiriman 200 EUR per bulan cukup untuk menghidupi dukun ini.

***

Dukun ini disebutkan dalam kisahku di Bremen ketika makan-makan bersama Mba Rina dan legenda Bremen. Tempat tinggal dukun kuncen ini, yaitu Kuburan 24, pernah kuceritakan ketika meninggalkan Bremen. Dukun ini sangat sakti. Dia pernah kuliah di kampus Gajah Tapa di Bandung. Seperti logo kampus perguruan tinggi negeri di Bandung tersebut yang duduk di atas buku, dukun ini pernah tidur di atas puluhan buku yang dipinjam dari Uni Bremen dan HS Bremen.

Cerita ini kudapat dari teman kosnya di Kuburan 24. Puluhan buku ditumpuk rapi, lalu di atasnya ditumpuk pakaian-pakaian kemudian sprei. Tidurlah dukun ini dengan tenang di atas buku-buku tersebut.

Ketika dukun kuncen ini pergi dari Bremen dan terbang ke Indonesia untuk selamanya, kosmologi Bremen berubah drastis. Kemudian gunung Eyjafjallajökull meletus di Islandia yang abunya mematikan penerbangan di Eropa. Kesaktiannya betul-betul mengguncangkan Eropa. Dukun-dukun lain di Bremen pun terguncang dan mereka melakukan tapa thesis bersama-sama secara serius untuk menghormati kepergian dukun dari Kuburan 24 ini.

Nürnberg, 25 Februari 2012

iscab.saptocondro

Teringat masa-masa tinggal di Bremen. Biaya hidup di sana lebih murah daripada di Bayern, tempat tinggalku sekarang. Di bawah ini, perhitungan kasar biaya hidupku di Bremen di tahun 2011, pada masa-masa paska kuliah (bahasa halus dari masa pengangguran atau pencarian kerja).

***

Biaya Bulanan

  1. Bayar kos =  220 EUR
  2. Asuransi kesehatan privat = 70 EUR
  3. Makan di rumah = 70 EUR
  4. Makan di luar = 80 EUR
  5. Telpon = 20 EUR
  6. Kebersihan = 25 EUR
  7. Tiket transportasi = 50 EUR

TOTAL Bulanan = 535 EUR

Biaya Tahunan

  1. Pakaian = 60 EUR

Biaya tahunan dibagi 12 = 5 EUR

Tiap bulan intinya butuh 540 EUR

Darurat 25% = 135 EUR

TOTAL Semua = 675 EUR / bulan

***

Kira-kira penjelasannya sebagai berikut:

  • Bayar kos itu wajib kalau tidak mau diusir. Mencari Wohnung/apartemen itu tidak mudah. Yang penting bisa dapat tempat tinggal. Kadang kita bisa dapat Wohnung murah dan kadang tidak.
  • Asuransi privat tahun pertama mungkin bisa didapat seharga 35 – 40 EUR. Tahun kedua 70 EUR kira-kira.
  • Sebaiknya menggunakan asuransi kesehatan yang gesetzliche Krankenversicherung. Untuk student berusia di atas 30 tahun, biayanya memang 130-140 EUR per bulan, tapi tidak perlu bayar uang di muka untuk di-reimburse kemudian.
  • Makan di rumah lumayan menekan biaya kantong. Apalagi kalau tinggal bersama (WG/Wohnungsgemeinschaft)
  • Makan di luar buatku penting untuk bersosialisasi dan untuk variasi gizi. Serta untuk mendapat ide, masak apa. Makan di Mensa/kantin universitas termasuk makan di luar.
  • Biaya kebersihan adalah biaya membeli sabun mandi, shampoo, deodoran, deterjen, alat pembersih kaca, cairan buat ngepel lantai, cairan pembersih, sabun cuci piring, kantong debu vacuum cleaner, dll. Selain itu, biaya mencuci pakaian juga termasuk di sini. Biaya kebersihan penting buat sosialisasi. Pasti kamu ingin tampil bersih dan wangi serta tidak pakai pakaian penuh bercak kalau keluar rumah. Juga kamu ingin punya rumah yang ramah tamu (rapi dan bersih). Kamu juga kaga mungkin menyediakan piring yang jamuran kepada tamu.
  • Tiket bus per bulan kubayar 50 EUR. Sewaktu masih student, aku beli tiket 200 EUR per semester (lebih murah).
  • Biaya pakaian bagiku tak terlalu banyak. Kalau kamu wanita atau pria metroseksual, biaya pakaian per bulan itu pasti per bulannya besar.
  • Biaya tak terduga harus selalu diperhitungkan karena banyak hal yang tak pasti di dunia ini. Untuk contoh di atas, kupakai 25% dan ini mungkin lebay.

Nürnberg, 17 Februari 2012

iscab.saptocondro