Skip navigation

Tag Archives: deutschland

Setelah lebih dari 10 tahun di Jerman, baru kini kusadari perbedaan antara DE dan DT. Keduanya adalah singkatan yang lazim dipakai di Jerman.

DE atau de berarti Deutschland, yaitu negara Jerman atau Germany. Website dengan domain ‘.de’ adalah website dari negara Jerman, contohnya saptocondro.de.

DT atau dt berarti Deutsch, yaitu bahasa Jerman atau german language. Singkatan ‘dt.’ menandakan suatu kata-kata dari bahasa Jerman.

Bremen, 13 Agustus 2016

iscab.saptocondro

German story of Cerita Jerman Sapto Condro in Deutschland — http://saptocondeutschland.blogspot.com/2016/08/beda-de-dengan-dt.html
posted on August 13, 2016 at 09:22PM in the year of Chinese Yang Red Fire Monkey and Javanese Anama / Jimawal.

Sudah lama, aku tidak menulis tentang biaya hidup di Jerman. Tahun 2013, aku mengurus kepindahanku dari Nürnberg ke Bremen. Saat itu, aku sempat membayar sewa dua apartemen di dua kota. Aku juga sempat menumpang sementara di kawan. Jadi tahun 2013, bukanlah masa yang betul-betul stabil dalam mencatat biaya hidup. Sepertinya aku lebih mudah menggambarkan seperti apa biaya hidupku di tahun 2014, walau sedikit terkontaminasi dengan biaya hidup tahun 2015.

***

Biaya Bulanan:

  1. Bayar sewa Wohnung (apartemen) = 544 EUR 
  2. Air: Wasser als Nebenkosten = 23 EUR
  3. Listrik SWB = 85 EUR
  4. Iuran GEZ = 18 EUR 
  5. Iuran RT = 10 EUR 
  6. Internet + Telpon Rumah = 38 EUR 
  7. Internet + Telpon Genggam = 40 EUR 
  8. Asuransi kesehatan publik = 261 EUR 
  9. Langganan McFit = 20 EUR 
  10. Makan di Rumah = 80 EUR s.d. 100 EUR
  11. Makan di Luar = 80 EUR s.d. 150 EUR 
  12. Kebersihan = 40 EUR 
  13. Sandang = 20 EUR 

Per bulan, aku harus menyediakan 1259 EUR s.d. 1349 EUR

***

Biaya Semesteran:

  1. Semesterbeitrag = 315 EUR

Per semester, aku harus menyediakan 315 EUR.
Kalau dibulatkan jadi per bulan, jadinya 52 EUR.

***

Biaya Tahunan:

  1. Perpanjangan visa = 90 EUR 
  2. Perabotan = 50 EUR s.d. 250 EUR 
  3. Jalan-jalan dengan kereta DB = 300 s.d. 500 EUR
  4. Bahncard 50 = 255 EUR 
  5. Jalan-jalan dengan pesawat = 0 EUR s.d. 1000 EUR 

Per tahun, aku harus menyediakan 695 EUR s.d. 2095 EUR
Kalau dibulatkan jadi per bulan, jadinya 58 EUR s.d. 175 EUR

***

Oh, ya, ada biaya lagi, yaitu asuransi waspada alias Haftpflichtversicherung. Sementara ini, aku membayar 80 EUR per tahun.
Kalau dibulatkan per bulan, jadinya 7 EUR.

Aku ingin mengganti asuransi ini dengan perusahaan lain yang lebih melindungiku, terutama dari kehilangan kunci. Per bulan kira-kira 27 EUR.

Pada masa transisi, aku harus membayar keduanya. Jadi per bulan, aku harus menyediakan 34 EUR.

***

Setelah dihitung-hitung, semua biaya di atas, per bulan aku harus menyiapkan 1403 EUR s.d. 1610 EUR.

***

Penjelasan biaya hidup:

  1. Aku menyewa apartemen 2 kamar, yang “furnished” atau “mobiliert” (ada perabotan), di daerah yang “convenient” (dekat toserba dan halte angkot), jadi harga sewa lumayan mahal. Tapi bagaimana pun juga sewa kamar di Bremen juga mengalami peningkatan harga. Untuk meredakan kegalauan biaya sewa, aku pun menyewakan satu kamar kepada student lain.
  2. Menambah satu orang di apartemen ternyata membuatku harus menambah bayar iuran air per bulan.
  3. Seperti kata Bang Rhoma Irama tentang begadang, tagihan listrik per bulan jadinya 80-an EUR, bukan 50-an EUR. 
  4. GEZ adalah iuran yang harus dibayarkan setiap kepala rumah tangga untuk setiap peralatan komunikasi yang mengeluarkan gelombang elektromagnet: TV, radio, WiFi, Bluetooth, walkie talkie, dll (web Rundfunkbeitrag, wiki: en,de). Di Indonesia dulu pernah ada iuran TV, untuk menghidupi TVRI yang tanpa iklan. Di Jerman, GEZ dipakai untuk membiayai stasiun TV publik (ARD dan ZDF), dan radio publik. Jadi orang Jerman bisa menikmati Piala Eropa dan Piala Dunia di televisi milik publik.
  5. Iuran RT adalah iuran bersama untuk beli tissue toilet, alat kebersihan, sabun cuci piring, beras, telur, dll untuk dipakai bersama roomie (Mitbewohner/-In).
  6. Internet dan telpon rumah: aku menggunakan kabel DSL dari Telekom. Ada tetangga yang ikut sharing biaya ini, jadi sedikit ringan bebanku untuk sementara.
  7. Internet dan telpon genggam: aku menggunakan smartphone sejak 2012, dan aku berlangganan Telefonica O2 hingga HSPA plus. Waktu itu, di Jerman, LTE belum ada di semua kota. Jika smartphone milikku sudah rusak parah setewas-tewasnya, mungkin aku bakal ganti kontrak dan ganti smartphone untuk LTE, LTE-Advanced (4G), atau bahkan 5G.
  8. Asuransi kesehatan publik (gesetzliche Krankenversicherung) lumayan mahal, kalau lajang dan tidak bekerja. Aku mendapat beasiswa, bukan kontrak kerja, jadinya aku harus membayar penuh. Kalau bekerja, setengah dibayar pemberi kerja dan setengahnya kubayar sebagai penerima kerja, dan langsung motong gaji. Jadi take-home pay, sudah bisa kunikmati tanpa harus mikir askes. Kalau menikah, dengan iuran askes yang kira-kira sama, seluruh anggota keluarga dilindungi. Kalau lajang tanpa anak, dengan iuran tersebut hanya satu saja yang terlindungi, yaitu aku. Keuntungan askes publik adalah tinggal gesek kartu, bisa dapat layanan kesehatan. Dulu sewaktu menggunakan askes swasta, aku harus membayar dulu dan menunggu reimbursement bulan berikutnya. Kena flu saja habis 120 EUR. Teman yang cabut gigi kena 300 EUR. Oh, ya, kalau ibu hamil dan melahirkan itu biaya totalnya ribuan EUR.
  9. McFit itu tempat fitness murah. Aku berlangganan beginian karena ulah kawanku yang impulsif. Aku menemaninya fitness untuk kemudian ditinggalkannya. Kini aku kesepian jika harus pergi fitness sendiri. Tapi aku harus memotivasi diriku di tahun 2015, tahun olahraga. Kalau seminggu sekali fitness, berarti aku keluar 5 EUR per minggu. Kalau tidak, aku cuma buang-buang uang.
  10. Kalau melihat kuitansi belanja untuk mengisi kulkas, sebetulnya per minggu, biayanya sekitar 16 s.d. 18 EUR. Kubulatkan jadi 80 EUR per minggu minimal. Kata orang logistik, kurangi residu untuk menjadi efisien. Aku hanya belanja barang yang kukonsumsi rutin dan sebisa mungkin tidak membiarkan barang kadaluarsa. Jadi “marginal utility” kumanfaatkan dengan optimal. Sebetulnya biaya makan di rumah bisa dihemat lagi, tapi buat apa. Nikmati makanan bergizi selagi masih ada kesempatan. Kesehatan itu penting. Barulah saat masa-masa gawat, dihemat secara ekstrem.
  11. Aku juga makan di luar rumah: kantin, Mensa, kopi, dan kadang untuk ikut acara ngumpul bersama rekan PhD di Oldenburg maupun di Bremen. Bisa saja aku menghemat makan di luar tapi untuk saat ini, waktu jauh lebih berharga daripada uang. Mungkin di masa-masa gawat keadaan ini berbalik. Selain itu, menikmati kebersamaan bersama kawan-kawan juga perlu untuk keseimbangan jiwa. Sekali makan siang di Mensa (kantin universitas), kukeluarkan antara 2 EUR hingga 4 EUR. Segelas kopi seharga 90 sen. Makan hura-hura bersama kawan di restoran bisa menghabiskan 4 EUR hingga 12 EUR. Nonton di bioskop butuh 7 EUR hingga 12 EUR.
  12. Biaya kebersihan adalah biaya membeli sabun mandi, pasta gigi, shampoo, deterjen untuk pakaian, dll, serta biaya mencuci pakaian di Wasch-Center. Kuperkirakan ini menghabiskan 40 EUR per bulan.
  13. Biaya sandang adalah biaya membeli baju, celana, pakaian dalam, asesori, sepatu, dll. Walau aku berasal dari Bandung, kota fashion dan kota tekstil, aku termasuk orang yang jarang belanja sandang. Bahkan beberapa pakaianku pemberian orang atau perusahaan atau organisasi. Tapi bagaimana pun juga aku harus menganggarkan belanja sandang tiap bulan. Untuk sementara, 20 EUR termasuk realistis.
  14. Semesterbeitrag itu uang yang harus kubayar kepada universitas untuk Semesterticket (tiket transportasi untuk mahasiswa), jaringan internet kampus, iuran organisasi mahasiswa, perpustakaan, fasilitas olahraga, bengkel kampus, dll. Sebetulnya aku membayar lebih murah daripada yang kusebut di atas, karena ada potongan.
  15. Tiap tahun kadang orang membayar biaya untuk perpanjangan visa. Kadang tiap dua tahun, tergantung kondisi. 
  16. Tiap tahun kadang aku membeli perabotan: alat masak, keset, alat tulis, dll.
  17. Karena aku sudah berlangganan Bahncard 50, aku harus jalan-jalan dengan kereta. Jadi aku menganggarkan biaya jalan-jalan keliling Jerman dengan kereta Deutsche Bahn.
  18. Ada kalanya aku harus pergi ke Indonesia untuk mudik atau pergi ke negara tetangga di Eropa untuk tapa mlaku, seperti pepatah “Travelling tresno jalaran soko kulino”. Jadi aku menganggarkan biaya perjalanan pesawat.
  19. Jerman punya banyak skema asuransi, yang sulit kusebutkan satu per satu. Bahkan aku pun masih pusing dengan beda-bedanya, karena harus membaca kontraknya dan juga baca wikipedia serta kamus untuk mengerti. 
***

Selain biaya di atas, aku juga membayar pensiun dan reksa dana. Akan tetapi, karena ini tidak bisa disebut sebagai biaya hidup, tetapi lebih cocok disebut sebagai menabung atau investasi, jadinya tidak kumasukkan ke perhitungan ini. Ada kemungkinan pula, aku harus menarik dana ini di masa-masa sulit yang mungkin datang tahun depan, ketika beasiswa dari Niedersachsen berhenti.

***

Seri biaya hidup di Jerman, bisa dibaca dari tulisanku yang lainnya:

Dari semua biaya hidupku, yang terasa mahal itu biaya tempat tinggal dan biaya (jaminan) kesehatan. Sebetulnya baik Jerman maupun Indonesia, komponen biaya tempat tinggal dan kesehatan itu yang paling mencekik, apalagi kalau kamu rakyat miskin.

Bremen, 19 Februari 2015

iscab.saptocondro

iscab di Bremen Bercinta — http://iscabremen.blogspot.com/2015/02/biaya-hidup-di-bremen-tahun-2014.html

Tautan:

Salam perjuangan!

Nürnberg, 27 Juli 2012

iscab.saptocondro

Dari obrolan bersama seorang kawan mengenai biaya hidup, aku tidak percaya kalau pengeluarannya per bulan cuma 200 EUR per bulan. Biaya kosnya 100 EUR per bulan. Jadi untuk makan, mandi, dan bersihin rumah tinggal 100 EUR per bulan.

***

Ini perhitungan biaya makan hemat di Jerman

  • roti lapis untuk 3 hari, seharga 29 s.d. 69 sen. JAdi sebulan habis 2,9 s.d. 6,9 EUR.
  • selai buah untuk seminggu, seharga 50 sen. JAdi sebulan habis 2 EUR.
  • Jus buah untuk 3 hari, seharga 55 sen. JAdi sebulan habis 5,5 EUR
  • Telur untuk 10 hari seharga 39 sen. Jadi sebulan habis 1,17 EUR

Total sebulan habis 15,57 EUR saja untuk makan.

Roti sumber karbohidrat. Selai buah dan jus buah sumber vitamin dan mineral. Telur sumber lemak dan protein.

Kalau masih merasa kurang gizi, cari aja keluarga Indonesia lokal. Siapa tahu ada acara undangan makan-makan. BTW, di universitas sering ada informasi makan gratis yang diselenggarakan oleh organisasi atau acara kultural. Selama di Bremen, aku sudah merasakan makanan Mesir, Iran, Mexico, Venezuela, Kamerun, Kenya, dll dari acara beginian.

***

Perhitungan biaya kebersihan hemat di Jerman

  • sabun batang 29 sen untuk 2 minggu mandi. Sebulan habis 58 sen. Bisa dihemat dengan jarang mandi. Jadinya sabun ini bisa bertahan 6 bulan.
  • shampoo 1 EUR untuk 1-2 minggu mandi. Sebulan habis 4 EUR maksimal. Kalau jarang mandi, shampoo ini bisa bertahan 3 bulan.
  • sabun cuci piring 2 EUR untuk 6 bulan. Sebulan habis 33 sen.
  • sabun cuci baju 6 EUR untuk 12 bulan. Sebulan habis 50 sen. 
  • sabun buat ngelap ini-itu, 3 EUR untuk 12 bulan. Sebulan habis 25 sen.
  • cairan pengepel lantai, 6 EUR untuk 12 bulan. Sebulan habis 50 sen

Total sebulan habis 6,19 EUR.

Sekali lagi, bisa dihemat dengan jarang mandi dan jarang bersihin rumah.

***

Gimana dengan beli baju, sepatu, dan celana?

Lu minta aja sama kawan-kawan yang buang baju, sepatu, celana kalau mau pulang habis ke Indonesia.

***

Gimana dengan meja, kursi, tempat tidur, selimut, lampu, piring, gelas, dan perabotan lainnya?

Lu minta aja sama orang-orang. Sama kaya minta pakaian di atas.

***

Gimana biaya telpon dan internet?

Lu kasih missed-call aja untuk minta ditelpon. Jadi biaya telpon bisa 0 EUR per bulan. Untuk internet, cari tempat tinggal yg internet sharingnya inklusif dalam sewa kos.

***

Gimana kalau mau ngontak keluarga dan teman di Indonesia?

Sebelum ke Jerman, lu harus mendidik mereka untuk kaga gaptek pakai Skype. Kalau gagal mendidik mereka, jangan ngontak mereka dan lebih baik ngobrol sama jeruk kalau kesepian.

***

Gimana dengan air, listrik, dan gas?

Carilah tempat kos yang inklusif air, listrik, dan gas dengan biaya flatrate/Pauschal. Kalau kaga inklusif, sebaiknya mandi dibatasi dengan 1 baskom air per hari. Cara mandi adalah dengan kain waslap (Waschlappen) dan sabun batang. Cara mandi ini biasa dilakukan di rumah sakit ketika diopname tapi juga dilakukan oleh banyak orang tua di Jerman dan Belanda. Listrik dan gas dihemat dengan cara tapa pati geni di rumah.  Belajar di kampus aja, jadi rumah hanya untuk tempat tidur yang kaga perlu lampu.

***

Gimana dengan asuransi kesehatan?

Kalau umur di bawah 30 tahun, asuransi kesehatan privat itu 33 EUR per bulan. Kalau cuma butuh asuransi untuk dapat visa, ikut asuransi di masa-masa sekitar perpanjangan visa. Setelah dapat visa, asuransi dibatalkan. Kalau kamu perempuan yang punya resiko hamil jangan coba-coba hidup di Jerman tanpa asuransi kesehatan.

***

OK, sekarang aku percaya bahwa memang bisa hidup di Jerman dengan biaya hidup di bawah 200 EUR per bulan. Bahkan di bawah 100 EUR per bulan kalau kaga perlu bayar kos.

Untuk biaya hidup lebih nyaman dan realistis di Jerman, bisa baca

  • Biaya hidupku di Bremen tahun 2011, di sini
  • Biaya hidup seorang dukun di Bremen, di sini
  • Biaya hidup Steve Tirta di Darmstadt, di sini
  • Biaya hidup Bayu Van Adam tahun 2011, di sini

 

Nürnberg, 26 Februari 2012

iscab.saptocondro

 

Teringat masa-masa tinggal di Bremen. Biaya hidup di sana lebih murah daripada di Bayern, tempat tinggalku sekarang. Di bawah ini, perhitungan kasar biaya hidupku di Bremen di tahun 2011, pada masa-masa paska kuliah (bahasa halus dari masa pengangguran atau pencarian kerja).

***

Biaya Bulanan

  1. Bayar kos =  220 EUR
  2. Asuransi kesehatan privat = 70 EUR
  3. Makan di rumah = 70 EUR
  4. Makan di luar = 80 EUR
  5. Telpon = 20 EUR
  6. Kebersihan = 25 EUR
  7. Tiket transportasi = 50 EUR

TOTAL Bulanan = 535 EUR

Biaya Tahunan

  1. Pakaian = 60 EUR

Biaya tahunan dibagi 12 = 5 EUR

Tiap bulan intinya butuh 540 EUR

Darurat 25% = 135 EUR

TOTAL Semua = 675 EUR / bulan

***

Kira-kira penjelasannya sebagai berikut:

  • Bayar kos itu wajib kalau tidak mau diusir. Mencari Wohnung/apartemen itu tidak mudah. Yang penting bisa dapat tempat tinggal. Kadang kita bisa dapat Wohnung murah dan kadang tidak.
  • Asuransi privat tahun pertama mungkin bisa didapat seharga 35 – 40 EUR. Tahun kedua 70 EUR kira-kira.
  • Sebaiknya menggunakan asuransi kesehatan yang gesetzliche Krankenversicherung. Untuk student berusia di atas 30 tahun, biayanya memang 130-140 EUR per bulan, tapi tidak perlu bayar uang di muka untuk di-reimburse kemudian.
  • Makan di rumah lumayan menekan biaya kantong. Apalagi kalau tinggal bersama (WG/Wohnungsgemeinschaft)
  • Makan di luar buatku penting untuk bersosialisasi dan untuk variasi gizi. Serta untuk mendapat ide, masak apa. Makan di Mensa/kantin universitas termasuk makan di luar.
  • Biaya kebersihan adalah biaya membeli sabun mandi, shampoo, deodoran, deterjen, alat pembersih kaca, cairan buat ngepel lantai, cairan pembersih, sabun cuci piring, kantong debu vacuum cleaner, dll. Selain itu, biaya mencuci pakaian juga termasuk di sini. Biaya kebersihan penting buat sosialisasi. Pasti kamu ingin tampil bersih dan wangi serta tidak pakai pakaian penuh bercak kalau keluar rumah. Juga kamu ingin punya rumah yang ramah tamu (rapi dan bersih). Kamu juga kaga mungkin menyediakan piring yang jamuran kepada tamu.
  • Tiket bus per bulan kubayar 50 EUR. Sewaktu masih student, aku beli tiket 200 EUR per semester (lebih murah).
  • Biaya pakaian bagiku tak terlalu banyak. Kalau kamu wanita atau pria metroseksual, biaya pakaian per bulan itu pasti per bulannya besar.
  • Biaya tak terduga harus selalu diperhitungkan karena banyak hal yang tak pasti di dunia ini. Untuk contoh di atas, kupakai 25% dan ini mungkin lebay.

Nürnberg, 17 Februari 2012

iscab.saptocondro

Ada suatu persekutuan Kristen (Indonesia) di Bremen, namanya Perki Bremen. Organisasi ini memiliki blog lama yang tidak (atau sulit) diperbaharui lagi. Hal ini disebabkan pembelian Blogger oleh Google yang waktunya bersamaan dengan para admin blog yang sedang pindahan (dan mengerjakan thesis). Sebelum mereka thesis eh pindahan, ada percobaan mengutak-atik HTML dan JS supaya menjadi blog yang lebih baik tetapi proyek ini berhenti sampai di sini.

Setelah melalui proses panjang, di antara kegaptekan dan sulitnya mencari waktu, mulailah blog baru Perki Bremen dirintis sejak 2009. Blog ini masih versi Beta karena ada hal-hal politis, maksudnya hal-hal yang secara organisasi belum disetujui. Jadi masih menunggu penilaian khalayak dalam menentukan nasib blog baru ini, baik dari segi desain maupun isi.

Oh, ya, blog baru ini ditemukan di alamat http://perkibremen2009.blogspot.com

Tujuan awal pendirian blog Perki Bremen (seingatku) adalah

  • memublikasikan isi Pendalaman Alkitab Perki Bremen
  • memublikasikan renungan Kristiani (dengan tak lupa mencantumkan sumber asli)
  • yang lainnya lupa karena notulensi tidak di tanganku

Pada blog baru, terdapat desain yang mengakomodasi prinsip web 2.0. Ada tautan menuju Facebook dan milis Perki Bremen serta tautan ke website Perki Eropa dan Perki se-Eropa. Karena arsip milis bersifat terbuka, blog baru bisa menampilkan “feed” dari milis. Intinya sih menambah kekuatan dalam jejaring di dunia maya internet.

Tampilan blog baru masih kurang menarik karena masih menggunakan “template” jadi dari Blogger. Kawan Rudolf S.B. mencoba memikirkan gambar yang bisa menggambarkan ke-Indonesia-an sekaligus ke-Bremen-an (Jerman). Namun sulit sekali, akhirnya pasang gambar merah-putih plus Garuda. Akibatnya jadi kaya situs resmi Pemerintah Indonesia. Tapi setidak-tidaknya dua admin ini jadi belajar bagaimana cara menempel gambar di blogger.

Untuk saat ini, isinya baru sebagai berikut

Ke depannya, blog baru akan dibuat multi penulis. Semua anggota Perki Bremen (yang punya akun Blogspot) bisa menulis di blog ini. Tujuannya adalah meningkatkan semangat gotong royong. Blog lama sulit diperbaharui karena mengandalkan kemampuan satu orang (atau quasi satu orang). Ada tertulis, jika dua tiga orang berkumpul dalam nama Yesus maka di situ Dia hadir. Nah, “multi-author-ish” alias “Mehrautorig” ini akan menjadi kekuatan baru pada blog ini. Kebersamaan akan menghalau kesepian. Kekurangan satu orang ditutupi dengan kelebihan yang lain. Bersama kita bisa!

Perjuangan masih panjang! Para penulis blog harus dikunjungi satu-satu (dan dijarah makanannya olehku) supaya mau (dan bisa) menulis di blog ini. Mereka sudah di-invite tapi tidak ada balasan. Entah gaptek atau tidak ada waktu. Seperti biasa, orang Indonesia di Bremen tidak akan “bergerak” kalau tidak dikunjungi secara personal.

Silahkan melihat dan menilai blog baru.

I remember the movie “Seven years in Tibet”, which have Brad Pitt inside. That movie has nothing to do with this writing. :-))

OK, seriously.

It’s been 3 years now. I remember the day I arrived in Bremen. It was Monday, 3rd of April 2006. The temperatur was 7 degree of Celcius. It was too cold for me. Well, after 3 years, I am getting used to the cold weather in Europe.

Last friday, on 3rd of April 2009, I celebrated the “3 Years in Bremen” by having a new haircut. I wanted to have a new look as a symbol of a kind of new “Me”.

What the hell is a new “Me”?

I’ve spent those 3 years with fear, doubt, sloth, procrastination and no life purpose. My master study in Bremen is not completed. But now I am waiting for my master project presentation date. This presentation will end those sufferings. I found it hard to do my master project. I had to learn the real C++. I am fast in learning human language but very slow in learning programming language. I do not have a confidence with computers, programming and stuffs.

I also have fear of going back to Indonesia. I have a picture of working with big burden, visious colleges and low wages. If I go back to Indonesia as soon as I graduate as a master student, I am afraid that I will suffer.

These 3 years, I contemplated. I wanted to know what is my purpose in life, what the future I want to build, what kind of Condro I want to be and so on and so on. I do not know exactly what I want to be. But I know that I want to finish this master program with an improved ability in C++ and Latex programming language. And then I want to continue to doctoral study. I do not know where but I will find my way. Now, my self confidence is back. Nothing can stop me but myself. Obstacles have no longer any meaning for me. Carpe Diem!

So I celebrate the new “Me” by having a new haircut. Next week is Easter. I want to celebrate the rising of Jesus Christ from death as well as the return of my self confidence and my motivation. Condro, the Fighter, is back. Condro, the Loser, is dead.

I write this writing also in Indonesian dan in German on other blogs.

I remember the day when I was first year student in my bachelor program in the Electrical Engineering of Institut Teknologi Bandung. There were poetry and words to motivate myself. They remind me to live on those words at this time.

Carpe Diem
with pride, I go
I walk my way
I seize my days
Someday I’ll show
that nothing can stop me but myself

OK, Champs!
Elektro… Elektro… Elektro…

ELEKTRO, We can Fight!

Yes, I am now a fighter. Obstacles are just lame jokes.

Condro strikes back!

Return of the Condro.