Skip navigation

Tag Archives: doktoral

Tiga tahun lalu, aku menulis “Mengapa aku tidak lanjut studi doktoral“. Di sana, aku menulis tentang kebosananku karena aku menghabiskan 12,5 tahun hidupku dalam lingkungan pendidikan, baik sebagai pelajar maupun pengajar. Aku studi S1 kelamaan 1 tahun dan aku juga studi S2 atau master dengan waktu lebih dua kali lipat dari waktu seharusnya. Di antara S1 dan S2, aku sempat menjadi pengajar, baik di SMA maupun di universitas. Aku pun berpikir kalau aku harus merasakan bekerja sebagai engineer di suatu industri. Begitulah alasanku untuk tidak lanjut studi doktoral saat itu.

Tiga tahun telah berlalu dan kini aku memakan kata-kataku sendiri. Ini bagai menjilat ludah sendiri yang sudah dibuang. Awal tahun memang cocok buat merenung. Awal 2012, kurenungkan kenapa aku tak mau studi doktoral sedangkan awal 2015 kurenungkan kenapa aku jadi punya peran sebagai PhD student. Renungan tahun ini penting buatku, untuk mempertanyakan apakah peranku ini sungguh bermakna atau tidak. Perlukah peran ini dilanjutkan sampai titik darah penghabisan. Aku harus berani mengkritik diriku sendiri supaya aku bisa berperan sebagai mahasiswa doktoral dengan membawa makna, pertama bagi diriku sendiri dalam perkembangan mentalitas dan karir, kemudian bagi sebanyak-banyaknya orang lain dalam bentuk karya.

Menjadi mahasiswa doktoral di Eropa itu serasa berdiri di atas garis perbatasan. Satu kaki berada di tanah harapan. Di sana, aku percaya bahwa aku akan memberi karya ilmiah yang berguna bagi kemanusiaan. Aku juga percaya bahwa aku membangun karir dan mempersiapkan jalan hidup di tanah itu. Sedangkan kaki lain berdiri gemetaran di atas tanah kekhawatiran. Di tanah ini, selalu ada rasa ingin keluar dari program PhD. Ada rasa tidak sanggup meneruskan studi doktoral ini. Timbullah ide-ide “quit your PhD and get real job”, karena pekerjaan lain bisa memiliki upah yang lebih baik.

Akan tetapi kupikir-pikir, dalam pekerjaan apapun, akan ada masa di mana seseorang galau dan bertanya apakah ini pekerjaan yang cocok atau tidak. Begitu pula dalam studi doktoral. Kegalauan ini takkan bisa dihindari. Seorang manusia kritis sepertiku akan selalu mempertanyakan peran sosial: “Di manakah tempatku berada? Untuk apa, aku hidup? Bagaimana aku bisa memberi makna bagi orang lain di dunia ini?”

Seperti kata nasihat meme yang seliweran di internet, “If you feel like quitting, remember why you started”, jadilah aku merasa perlu menjawab mengapa aku memulai studi doktoral ini. Aku perlu mengingat apa yang terjadi tahun 2013, ketika aku melamar program ini. Aku harus berani menghadapi masa lalu, kemudian memeluknya erat, mendalami kehangatannya, kemudian melepaskannya untuk menyambut masa depan penuh harapan.

***

Bagaimana ceritanya aku sampai jadi mahasiswa doktoral?

Cerita dimulai tahun 2011, ketika aku kelaparan dan bangkrut. Aku telah lulus studi master tahun 2010. Aku melamar kerja sana-sini, baik lamaran untuk studi doktoral maupun industri. Setelah 8 bulan penantian, aku pun mendapatkan kontrak kerja sebagai konsultan. Perusahaan consulting ini begitu muda dan lincah. Sebetulnya menarik juga bekerja di perusahaan ini. Kemudian aku ditempatkan di perusahaan besar yang memiliki grup litbang di bidang otomotif.

Tahun 2011 hingga 2012, aku merasakan bekerja sebagai test engineer di bidang otomotif di Bayern. Aku sebetulnya tertarik untuk bekerja sebagai software developer, daripada software tester. Tetapi aku merasa pekerjaan ini cukup OK, untuk mengobati kelaparanku dan mengembalikan utang-utangku untuk sementara. Aku menyimpan harapan kalau aku bisa belajar banyak dan kemudian bisa jadi developer setelah sekian waktu. Akan tetapi semakin lama aku bekerja, semakin aku merasa tidak cocok dengan kultur kerja grup ini. Sebagai konsultan, aku tidak memiliki akses berbagai informasi baik di jaringan kantor maupun rapat, namun aku dituntut bekerja seperti pegawai tetap yang punya akses penuh. Akhirnya aku mengalami putus kontrak.

Tahun 2013, aku dijual ke perusahaan bidang luar angkasa. Aku berharap bisa mendesain software dan hardware untuk komponen satelit. Akan tetapi ternyata aku juga tidak cocok dengan kultur kerja perusahaan ini. Selain itu, ilmu mendesain hardware yang kumiliki sudah ketinggalan zaman. Aku juga belum “move on” dari pedihnya putus kontrak di perusahaan otomotif. Selain itu, segenap masalah di Bremen dengan perusahaan telekomunikasi dan urusan visa, membuatku mengalami stress yang mengganggu pekerjaan. Oh, ya, ditambah pula, orang yang menerimaku bekerja, meninggal 3 minggu setelah aku bekerja. Akhirnya aku pun putus kontrak.

Aku pun kembali menjadi ronin. Aku mendapat uang pengangguran (Arbeitslosengeld). Aku kembali melamar kerja sana-sini. Aku merasakan kesulitan yang sama seperti tahun 2011 dalam mencari kerja. Visaku yang belum “permanent residence” atau “unbefristet”, menjadi penghalang. Banyak perusahaan menolak orang-orang dengan visa seperti ini. Hanya perusahaan kecil yang biasanya berani menerimaku dengan visa seperti ini.

Aku berpikir untuk kembali ke Indonesia. Aku sempat tidak bisa tidur karena memikirkan apa saja yang harus kusiapkan untuk kembali ke tanah airku. Aku berpikir kalau aku bekerja di Indonesia, aku akan menjadi apa. Lowongan kerja di Indonesia memiliki syarat umur dan aku tiba-tiba merasa tua.

Entah kenapa, ada bisikan dalam jiwaku, “Why not PhD?”. Aku tiba-tiba kembali diingatkan bisikan supranatural untuk merasakan panggilan jiwaku untuk berperan dalam lembaga pendidikan. Dengan PhD, aku bisa kembali ke universitas. Bukankah aku masih menyimpan gairah atau passion di bidang penelitian dan pendidikan?

Berhubung aku sudah merasakan rasionalisme Eropa, aku tidak mudah tergoda bisikan gaib. Aku tiba-tiba mengontak kawan lama Elektro ITB yang kini hidup di Norwegia, yaitu Eka Suwartadi. Aku minta janji Skype dengannya. Aku jarang mengobrol dengan orang di Skype. Namun kali ini, aku ingin bertanya tentang pengalamannya dalam proses melamar doktoral, termasuk mengapa dan bagaimana. Dia berkata bahwa bertemu seorang Profesor Norwegia yang sedang berkunjung di ITB di Bandung yang membuka jalan hidupnya untuk studi doktoral di Norwegia.

Aku juga mengontak kawan lama PPI Bremen yang sudah kembali ke Indonesia, yaitu Rio Deswandi. Aku bertanya karena dia adalah Doktor lulusan Uni Bremen yang kuanggap paling tekun dan sungguh-sungguh menjiwai kegiatan doktoralnya. Selain itu, dialah yang paling suka mengundangku makan-makan. Kini aku bertanya mengenai apakah aku cocok untuk PhD. Dia bilang kalau aku memiliki daya juang yang cukup untuk PhD.

Aku pun memulai lamaran doktoral. Selain mencari info lowongan engineer di perusahaan, aku juga membuka-buka website lembaga penelitian dan universitas. Aku mencoba lowongan di Jerman Utara karena aku tidak mau pindahan jarak jauh. Uang tunjangan pengangguran  yang kudapat itu hanya 8 bulan. Jadi dalam 8 bulan aku harus mempersiapkan diri kalau pulang ke Indonesia juga pilihan, jika aku gagal dapat pekerjaan di Jerman.

Ada satu hal yang menjadi bagian hidupku yang sulit terlepas, yaitu online social network. Aku membuka Facebook dan LinkedIn. Aku melihat kawan-kawan bekerja apa saja. Aku harus melihat pilihan apa saja kalau aku bekerja di Indonesia atau di Jerman. Tidak kusangka, aku membuka profil ketua PPI Bremen saat itu, yaitu Rany Miranti. Aku melihat program doktoral yang dikerjakannya di Uni Oldenburg, di Niedersachsen, dekat Bremen. Aku tertarik dengan bidangnya: “renewable energy” (energi terbarukan). Aku pun bertanya mengenai lowongan di grupnya. Rany membantu dalam mengirim tautan.

Dari tautan di Uni Oldenburg, aku mengeklik sana-sini kemudian aku melihat topik “Multi-microphone speech enhancement using brain computer interfaces”. Aku merasa topik multi-mikropon sesuai dengan latar belakang S1 di ITB dan “brain-computer interface” (BCI) sesuai dengan latar belakang S2 di Uni Bremen. Aku pun mengirim lamaran. Syukurlah aku diwawancara di Skype. Dalam wawancara, aku banyak ditanya mengenai signal processing. Aku pun merasa kalau aku sudah berkarat. Banyak hal yang tidak kuketahui. Professor tersebut berkata bahwa aku termasuk kandidat yang bagus, namun aku harus menunggu karena dia juga mewawancarai kandidat bagus lainnya.

Tidak berapa lama kemudian, aku mendapat jawaban negatif. Aku agak kecewa tidak bisa diterima program doktoral ini. Namun aku juga lagi sering menanggapi ajakan jalan-jalan, memenuhi panggilan wawancara lainnya di perusahaan. Beberapa minggu kemudian, seorang Professor dari Jade HS Oldenburg mengirimku email. Dia mendapat berkas-berkasku dari Profesor Uni Oldenburg yang menolakku. Ternyata topik doktoral yang kulamar sebelumnya adalah bagian dalam program Signal and Cognition (SigCog), yang didanai kementrian pendidikan dan kebudayaan di Niedersachsen. Professor dari Jade HS ini bertanya apakah aku masih berminat doktoral di bidang BCI. Aku menjawab ya dan siap datang wawancara di kantornya.

Pertama kali aku datang ke kota Oldenburg adalah untuk wawancara doktoral di Jade HS Oldenburg. Sempat tersesat sebentar di Oldenburg karena aku mencari tempat makan siang sebelum wawancara. Aku menjalani wawancara ini dan aku diterima program doktoral, dengan topik “Using brain computer interfaces for active control of assistive technologies”, masih di program SigCog yang sama. Setelah itu, aku sibuk urusan administrasi dan berurusan dengan kegiatan doktoral.

***

Kini aku sudah memasuki akhir semester ketiga dari program doktoralku. Dua semester kuhabiskan waktuku dalam beberapa kuliah dan mencari “research question” (rumusan masalah). Sayang sekali, aku masih meraba-raba dalam kegelapan mengenai apa yang harus kulakukan dalam penelitianku. Waktuku tinggal 3 semester lagi. Setelah itu, dana habis. Tahun depan, aku akan dihadapkan kepada keputusan apakah aku meneruskan program PhD ini atau berhenti. Aku masih belum bisa eksperimen karena komisi ethik belum menyetujui proposalku. Jika satu penelitian butuh 1 tahun, sedangkan aku ingin membuat 3 penelitian, mau tidak mau aku harus mencari dana lain untuk tahun keempat. Juga satu semester tambahan untuk mengetik thesis.

Oh, ya, satu penelitian yang kumaksud terdiri dari 1 proposal ethik yang lolos review komisi ethik, rangkaian percobaan/eksperimen dengan beberapa manusia sebagai subjek yang masing-masing terdiri dari beberapa sesi, kemudian melaporkan dalam bentuk publikasi di 1 jurnal ilmiah. Aku membuat thesis kumulatif: 3 paper di jurnal ilmiah ditambah tulisan pembukaan dan penutup.

Berhubung aku belum pernah punya pengalaman PhD, jadi aku banyak tidak tahu apa itu PhD atau apa itu studi doktoral. Aku serasa seorang buta yang berjalan di dalam kegelapan gua hantu. Jadi aku jalani saja masa-masa S3 ini. Suatu hari, aku akan tahu apa itu PhD.
Habisi!

Bagai kucing dalam kotak Schrodinger, sebelum kotak dibuka, aku tak tahu apakah kucing itu akan jadi Doktor atau loncat keluar kabur dari program doktoral.  Setidak-tidaknya kucing itu bakal tahu apa itu PhD. Kenapa jadi ngomong tentang kucing, ya? Bukankah tadi ada Si Buta dari Gua Hantu? Setahuku di Gua Hantu ada ular raksasa yang bernama PhD. Daripada kebanyakan analogi, lebih baik aku kembali ke Dharma Doktoral.
Habisi!

Bremen, 6 Januari 2015

iscab.saptocondro
Darah Juang!

Berjuang untuk Beasiswa — http://iscabeasiswa.blogspot.com/2015/01/mendadak-doktoral.html

Advertisements

Thesis Doktoral atau disertasi Susilo Bambang Yudhoyono (SBY):
“Pembangunan Pertanian dan Perdesaan sebagai upaya Mengatasi Kemiskinan dan Pengangguran: Analisis Ekonomi Politik Kebijakan Fiskal”. 2004. IPB. Bogor.

Pertanyaanku:
Apakah yang dikerjakan Dr. SBY ketika menjadi Presiden (tahun 2004-2014) sesuai dengan thesisnya sewaktu masih studi S3?
Bagaimana kebijakan fiskal SBY?
(Ketika tulisanku di blog ini kubuat, SBY memiliki kebijakan fiskal memotong subsidi bahan bakar minyak: harga premium per liter dari Rp 4500 menjadi Rp 6000)
Bagaimana subsidi yang diberikan kepada pedesaan dan kepada petani?
Kita lihat hingga tahun 2014.

Tulisan Susilo Bambang Yudhoyono yang lain

  • “Kebijakan Fiskal Indonesia: dinamika, permasalahan, dan pilihan”, S.B.Yudhoyono, 2004, Brighten Press, Jakarta. (tautan)
  • “Pengurangan Kemiskinan di Indonesia: mengapa tidak cukup dengan memacu pertumbuhan ekonomi?”, S.B. Yudhoyono, 2004, Brighten Press,Jakarta (tautan)
  • “Menuju Indonesia Baru”, S.B. Yudhoyono, 2004, Brighten Press (tautan)
  • “Membangun Indonesia yang Aman, Adil, dan Sejahtera: visi, misi dan program”,  S.B. Yudhoyono, 2004, Brighten Press (tautan)
  • “Menuju Negara Kebangsaan Indonesia Modern”, S.B. Yudhoyono, 2004, Brighten Press (tautan)
  • “Indonesia 2004-2009: vision for change”, S.B. Yudhoyono, 2004, Brighten Press. (tautan)
  • “Aceh Perlu Keadilan Kesejahteraan dan Keamanan”,S.B. Yudhoyono, 2001,Kantor Menkosospolkam, Jakarta. (tautan)
  • dll (lihat aja tautan di atas, mirip-mirip semua)

Alamat penerbit Brighten Press:
Brighten Institute
Indonesia Institute for Public Policy and Development Studies
Jl. Merak No. 14
Tanah Sareal
Bogor 16161
Indonesia
Telpon: +62 251 8323 080
Fax: +62 251 8357 326
http://www.brighten.or.id 

Dipikir-pikir, hebat juga, Dr. Yudhoyono ini. Dalam setahun bisa bikin banyak buku diselingi kesibukan kampanye untuk Pemilu. Waktu itu, tahun 2004, Beliau masih ganteng dan kantung matanya tidak seperti sekarang tahun 2012. Berarti tidur cukup namun bisa produktif bikin lebih dari 5 buku dalam setahun. Nampaknya SBY lebih sehat hidupnya kalau jadi Ph.D. student daripada jadi Presiden.

OK, mungkin juga ada Ctrl+C dan Ctrl+V dalam karya tulisnya. Tapi hebat juga dalam satu tahun, reviewer dan editor Brighten Press bisa meloloskan tulisannya. Penerbit dan organisasi di belakangnya juga punya alamat di kota yang sama dengan tempat tinggal Pak Beye, yah?

 

Nürnberg, 28 Maret 2012

iscab.saptocondro

Thesis Doktoral atau disertasi Susilo Bambang Yudhoyono (SBY):
“Pembangunan Pertanian dan Perdesaan sebagai upaya Mengatasi Kemiskinan dan Pengangguran: Analisis Ekonomi Politik Kebijakan Fiskal”. 2004. IPB. Bogor.

Pertanyaanku:
Apakah yang dikerjakan Dr. SBY ketika menjadi Presiden (tahun 2004-2014) sesuai dengan thesisnya sewaktu masih studi S3?
Bagaimana kebijakan fiskal SBY?
(Ketika tulisanku di blog ini kubuat, SBY memiliki kebijakan fiskal memotong subsidi bahan bakar minyak: harga premium per liter dari Rp 4500 menjadi Rp 6000)
Bagaimana subsidi yang diberikan kepada pedesaan dan kepada petani?
Kita lihat hingga tahun 2014.

Tulisan Susilo Bambang Yudhoyono yang lain

  • “Kebijakan Fiskal Indonesia: dinamika, permasalahan, dan pilihan”, S.B.Yudhoyono, 2004, Brighten Press, Jakarta. (tautan)
  • “Pengurangan Kemiskinan di Indonesia: mengapa tidak cukup dengan memacu pertumbuhan ekonomi?”, S.B. Yudhoyono, 2004, Brighten Press,Jakarta (tautan)
  • “Menuju Indonesia Baru”, S.B. Yudhoyono, 2004, Brighten Press (tautan)
  • “Membangun Indonesia yang Aman, Adil, dan Sejahtera: visi, misi dan program”,  S.B. Yudhoyono, 2004, Brighten Press (tautan)
  • “Menuju Negara Kebangsaan Indonesia Modern”, S.B. Yudhoyono, 2004, Brighten Press (tautan)
  • “Indonesia 2004-2009: vision for change”, S.B. Yudhoyono, 2004, Brighten Press. (tautan)
  • “Aceh Perlu Keadilan Kesejahteraan dan Keamanan”,S.B. Yudhoyono, 2001,Kantor Menkosospolkam, Jakarta. (tautan)
  • dll (lihat aja tautan di atas, mirip-mirip semua)

Alamat penerbit Brighten Press:
Brighten Institute
Indonesia Institute for Public Policy and Development Studies
Jl. Merak No. 14
Tanah Sareal
Bogor 16161
Indonesia
Telpon: +62 251 8323 080
Fax: +62 251 8357 326
http://www.brighten.or.id 

Dipikir-pikir, hebat juga, Dr. Yudhoyono ini. Dalam setahun bisa bikin banyak buku diselingi kesibukan kampanye untuk Pemilu. Waktu itu, tahun 2004, Beliau masih ganteng dan kantung matanya tidak seperti sekarang tahun 2012. Berarti tidur cukup namun bisa produktif bikin lebih dari 5 buku dalam setahun. Nampaknya SBY lebih sehat hidupnya kalau jadi Ph.D. student daripada jadi Presiden.

OK, mungkin juga ada Ctrl+C dan Ctrl+V dalam karya tulisnya. Tapi hebat juga dalam satu tahun, reviewer dan editor Brighten Press bisa meloloskan tulisannya. Penerbit dan organisasi di belakangnya juga punya alamat di kota yang sama dengan tempat tinggal Pak Beye, yah?

 

Nürnberg, 28 Maret 2012

iscab.saptocondro

Di Indonesia, dikenal ada 3 tingkatan sarjana:

  • S1: sarjana
  • S2: magister, master,
  • S3: Doktor

Semua tingkatan harus ditempuh dengan studi. Sewaktu S1 di Bandung, Indonesia, aku harus mengikuti kuliah beserta ujian dan tugas-tugasnya, praktikum di laboratorium, kerja praktek di perusahaan, dan diakhiri dengan tugas akhir. Kebetulan aku kuliah di tempat yang benar mendidik orang menjadi Sarjana Teknik Elektro. Kebetulan lagi aku betul-betul membuat hardware ketika kerja praktek di industri, bukan sekedar merangkum manual alat seperti beberapa mahasiswa lain. Aku juga merasakan tugas akhir yang berurusan dengan bidangku, yaitu Control Engineering (Teknik Kendali). Dalam tugas akhir ini, aku meneliti secara mandiri. Konsultasi dengan dosen, aku cuma dapat teori umum, bukan praksis memakai alat. Teman diskusi tidak ada. Aku juga menurunkan rumus sendiri untuk setengah dari pekerjaanku dalam tugas akhir ini. Selain itu, aku tidak bisa menulis tugas akhir dengan baik dan benar, terutama bagian menulis referensi. Oleh karena itu, tugas akhirku ini tak kuunggah di internet. Akhirnya aku lulus. Kuhitung lama studiku, 5 tahun. Cum Laude tak kudapat melainkan kemelut (quote: Dhita Yudistira, seniroku dan mantan Ketua HME ITB).

 

Setelah S1, kuberencana lanjut studi S2. Kumimpikan di Jerman. Ternyata tidak mulus perjalanannya. Untuk mengejar impian ini, aku ikut kursus bahasa Jerman di Goethe Institute Bandung. Aku juga merasakan bekerja menjadi pengajar di SMA swasta di Bandung selama kira-kira 2 tahun. Kemudian menjadi pengajar di perguruan tinggi swasta di Semarang. Di Semarang, aku mengajar 1 tahun. Ternyata aku merasakan 3 tahun bekerja di lembaga pendidikan.

 

Suatu kebetulan terjadi. Lamaran beasiswaku kepada DAAD Jakarta dilirik. Aku dipanggil untuk wawancara. Aku datang dan diwawancara oleh 1 Profesor Jerman, 2 Doktor Indonesia lulusan Jerman, dan 1 orang pegawai DAAD. Profesor Jerman bertanya mengenai tugas akhir S1. Doktor Indonesia bertanya mengenai apa manfaat buat negara Indonesia kalau aku studi dengan beasiswa ini. Pegawai DAAD bertanya persiapan apa saja yang telah kulakukan untuk studi ke Jerman. Sebulan kemudian, di kala harus berteduh karena hujan deras, telponku berdering. Penelpon bertanya padaku, apakah aku mau menerima beasiswa DAAD. Aku jawab, ya.

 

Setelah mengikuti permainan tarik-ulur layang-layang dan ping pong di tempat kerjaku di Semarang :-), aku bisa lanjut studi S2 di Jerman. Dalam mengambil master di bidang otomasi di Bremen, aku harus mengikuti kuliah beserta ujiannya, praktikum di laboratorium, mengerjakan penelitian kecil (Project) dan penelitian besar (Thesis). Kecil dan besar berbeda hanya dalam jumlah kredit. Keduanya sama-sama sulit buatku. Penelitiannya dilakukan secara mandiri. Dan kemandirian ini membutuhkan disiplin tinggi dalam manajemen waktu dan memilah-milah paper. Ini yang berat buatku. Aku sudah lelah oleh ujian di Bremen. Ujiannya cuma boleh diulang satu atau dua kali jika tidak lulus (tergantung mata kuliah). Itu aturan Jerman. Kalau mengulang ujian dan tak lulus, itu artinya drop out. Dalam lelah ini, aku salah memilih topik karena pengen cepat lulus. Kemudian aku harus mengulang topik dari awal lagi. Ingin cepat, ternyata aku malah salah jalan.  Mengulang topiknya pun tanpa perlindungan beasiswa DAAD. Aku bekerja jadi buruh di gudang dan pabrik untuk membiayai sisa studiku. Akhirnya aku lulus master. Kuhitung aku studi 4,5 tahun hanya untuk gelar master.

***

Oh, ya, sesuai judul topik ini. Mengapa aku tidak lanjut studi doktoral?

Aku merenung, aku sudah menghabiskan 5 tahun S1, 3 tahun bekerja di lembaga pendidikan, 4,5 tahun S2. Totalnya, aku mendedikasikan hidupku 12,5 tahun untuk dunia pendidikan. Studi S3 bakal menambah masa hidupku di dunia ini lagi.

Aku sudah penat dengan kuliah dan dengan dunia pendidikan. Walau dalam diriku masih tersisa keinginan untuk mengajar. Tapi aku butuh suatu rehat untuk kesehatan jiwaku.

 

Studi S3 atau doktoral juga berarti suatu penelitian mandiri. Aku sudah dua kali gagal dalam penelitian mandiri. Sewaktu S1 di Bandung, kerja praktek dan tugas akhir memperpanjang lama studiku. Sewaktu S2 di Bremen, project dan thesis juga membuat kelulusanku lambat. Aku butuh suatu istirahat dari dunia penelitian di lembaga pendidikan tinggi.

 

Oh, ya, status dosenku juga hilang ketika aku sedang menjalani studi master di Bremen. Aku mendapat email di hari ulang tahunku, tepat ketika aku bangun pagi hari dan membuka komputer. Untuk menambah rasa ini, sorenya, cintaku kandas via telpon. Di saat aku stress karena salah memilih topik project di Bremen, aku mendapat dua hadiah ulang tahun ini. Hal ini sempat membuatku mengobrol dengan jeruk.

 

Tiga dosenku di Bandung berkata tentang studi doktoral atau S3. Studi ini hanya cocok untuk dosen dan mereka yang hidup di dunia penelitian, kata Pak Eniman Syamsudin. Beliau mengajarku Sistem Kendali, suatu mata kuliah yang membentuk identitasku sebagai seorang Control Engineer. Selain itu, Beliau mendidikku menjadi orang jujur dan berintegritas. Dosen kedua, Pak Armein Langi menulis tentang beda S1, S2, dan S3. Menurutnya pendidikan S3 itu untuk menghasilkan peneliti. Pendidikan ini hanya cocok untuk orang yang punya keinginan menghasilkan dan MENULIS pengetahuan baru. Beliau ini dulu memberi kuliah Pengolahan Sinyal Digital yang sempat kuhadiri sekali. Terakhir, Pak Budi Rahardjo membuatku merenung tentang perlu-tidaknya mengambil studi S3. Studi S3 hanya membuang waktu kalau tidak punya “passion” atau gairah dalam penelitian. Selain itu, Beliau juga berkata kalau ingin S3, pilihlah tempat yang memiliki promotor (pembimbing), infrastruktur dan lingkungan yang mendukung. Infrastruktur itu maksudnya fasilitas (alat, laboratorium, perpustakaan, akses jurnal, dll). Lingkungan maksudnya teman diskusi dan “network”. Penelitian berkembang dalam jejaring peneliti. Komunitas peneliti biasanya mengadakan konferensi atau seminar serta menerbitkan jurnal penelitian.

 

Aku menyadari bahwa teman diskusi itu penting dalam dunia penelitian. Dulu di Bandung, aku bisa dapat hal-hal berguna dalam penelitian ketika aku berdiskusi dengan kawan-kawan, terutama Eka Suwartadi. Di Semarang, tiba-tiba aku sulit bergerak karena tiadanya rekan diskusi. Di Bremen, ada beberapa mahasiswa doktoral asal Indonesia yang senang mengajak diskusi. Karena diskusi inilah, ide-ide penelitian bermunculan serta paper ilmiah karangan mereka bisa tajam karena diasah oleh kritik. Kawan diskusi lokal juga berguna buat makan-makan bareng dan nyanyi bareng. Tentu saja makan bareng mereka diselingi obrolan bermutu yang bisa mengisi jiwaku. Mereka juga membuatku untuk masih memiliki keinginan untuk lanjut doktoral.

***

Akhirnya kupilih tak lanjut studi doktoral. Aku ingin membuka mataku untuk dunia lain di luar dunia pendidikan. Aku juga terlalu lelah untuk studi lagi. Mentalku belum siap untuk penelitian mandiri. Apakah aku tidak suka dunia penelitian? Tidak! Saat ini, aku bekerja di bagian penelitian dan pengembangan pada perusahaan komponen kendaraan bermotor. Ternyata aku tidak jauh-jauh dari dunia penelitian. Beberapa rekan kerjaku di sini juga ada yang bergelar Doktor. Saat ini, aku tak sudi lanjut S3 tapi entah apa yang terjadi 5 tahun lagi.