Skip navigation

Tag Archives: dosen

Pada semester III, di suatu perguruan tinggi di Bandung, aku merasakan suatu kuliah bernama Dasar Teknik Elektro. Disingkat sebagai DTE karena mahasiswa yang pertama kali mengambil kuliah ini biasanya mendapat nilai D, T, atau E.

Apa itu nilai T?
Nilai T artinya “Tanpa Nilai”. Kalau dapat nilai T, seorang mahasiswa harus pergi ke dosen yang bersangkutan untuk mengurus nilai. Jika tidak, maka setelah masa waktu mengurus nilai habis (1 semester), nilai T akan berubah jadi E.

Kembali ke cerita, di kuliah Dasar Teknik Elektro yang 4 sks ini, aku merasakan kuliah Dasar Rangkaian Listrik, Dasar Elektronika, Dasar Teknik Digital, dan apapun yang mendasar dari calon sarjana teknik elektro digabung, dipadatkan, dan dijejalkan dalam satu kuliah. Walaupun begitu, satu mata kuliah ini diajar oleh 4 dosen. Wow!

Salah satu dosen, bernama Dimitri Mahayana. Beliau mengajarkan dioda, transistor, dll di mata kuliah ini. Sebenarnya aku lupa, dia mengajar apa aja. Sekilas yang kuingat adalah dia berkata bahwa dioda dan transistor bisa menjadi rangkaian digital. Beliau berkata ini HIGH, maka situ LOW, jadi ini rangkaian NAND, atau NOR, atau apapun lah namanya.

Cara mengajarnya cocok denganku. Dia menjelaskan dari inti suatu konsep lalu berkembang ke suatu hal yang lebih kompleks. Selain itu, dia senang menghubungkan isi mata kuliahnya dengan dunia politik, filsafat, dan musik klasik. Itulah kelebihannya, Kekurangannya adalah kemampuan mengajarnya yang hebat ini hanya tampil jika dia datang ke kelas. Pada masa-masa tertentu, dosen ini bisa tak hadir karena ada tenggat suatu proyek. Mungkin inilah sebabnya, dia hanya mengajar inti dari suatu kuliah, dan contoh-contohnya bisa diserahkan kepada asistennya.

Kuliah DTE, yang katanya terkutuk, ternyata biasa aja. Berkat dosen yang tepat, aku bisa menguasai ilmu yang cukup untuk dapat B dalam sekali mengambil kuliah ini.

***

Aku juga kembali diajar oleh Pak Dimitri Mahayana pada kuliah Sinyal dan Sistem. Kuliah ini berisi hal-hal mengenai sistem, sinyal, dan belitan (konvolusi), yang menjadi jalan hidupku sekarang. Kemudian, aku diajar lagi di mata kuliah “lanjutannya” yaitu Pengolahan Sinyal Digital (Digital Signal Processing). Di kuliah DSP ini, pernah ada mahasiswa meminta diktat kuliah atau catatan dosen untuk difotokopi. Beliau memberikan 4 lembar kertas. Inti kuliah cuma 4 lembar kertas tersebut yang berisi rumus dan diagram. Papan tulislah yang dipakai untuk menjelaskan 4 lembar ilmu kung fu tersebut. Aku suka dosen yang mempersiapkan kuliah seperti ini.

Beliau juga tidak suka menggunakan buku ajar yang rumit-rumit. Walaupun kata dosen lain, buku-buku tersebut digunakan di universitas elit di Amerika Serikat, Jepang, dan Eropa. Pak Dimitri Mahayana lebih suka buku karangan orang India yang mudah dibaca dan singkat. Nampaknya Beliau tahu, mahasiswa-mahasiswi Indonesia malas membaca. Kalaupun suka membaca, biasanya baca novel atau kitab suci agama masing-masing.

***

Saat aku masuk perguruan tinggi di bandung itu, Indonesia lagi penuh eforia politik. Aku mulai kuliah tahun 1998. Dosen dan mahasiswa dalam kampus perguruan tinggi negeri masuk dalam kegiatan politik yang berbeda-beda. Pak Dimitri Mahayana waktu itu kagum dengan PAN, yang berisi Amien Rais dan Faisal Basri. Jadi Beliau banyak bercerita seputar partai dan orang-orang itu. Kadang ketika menjelaskan sistem linear, Beliau menjelaskan nonlinearitas dengan tindakan politik Gus Dur (Presiden saat itu).

Pandangan ekonomi (politik) Dimitri Mahayana cenderung optimis terhadap liberalisasi. Dia ingin menyiapkan mahasiswa-mahasiswinya untuk menghadapi pasar bebas Asia Tenggara (ACTA) yang dimulai tahun 2003. Dia juga membuat buku tentang ini. Aku lupa judulnya. Dia berpikir bahwa pasar bebas tersebut adalah kesempatan Indonesia untuk maju dan bisa bersaing adil dengan negara lain. Untuk hal ini, aku cenderung skeptis dengan “persaingan yang adil”.

Dalam praktek ekonomi, Beliau punya usaha “engineering service” di bidang IT dan bisnis telekomunikasi, yaitu Sharing Vision. Usaha ini dibuka bersama dosen yang lain, juga beberapa alumni kampusku.

Beliau suka filsafat, maka dia membuat blog bernama Filsafat Islam. Dalam kuliah kadang-kadang muncul pertanyaan kritis yang mengarah pada filsafat. Aku tidak mengerti filsafat yang berhubungan dengan agama, jadi tidak bisa bicara banyak. Kalau berhubungan dengan sinyal, sistem, dan dunia sosial politik, aku masih bisa mengerti.

Suatu hari dalam kuliah mengenai sinyal dan sistem, Beliau menghubungkan suatu sistem dengan musik Mozart versus Beethoven. Ini menggambarkan kecintaan dosen lulusan Waseda University Tokyo ini terhadap musik klasik. Berhubung aku cacat irama, aku tidak mengerti musik.

Ini penampilannya saat bermain Mozart.

Oh, ya, videonya diunggah oleh putranya. Pak Dimitri Mahayana memiliki putra dan putri yang bisa bermain musik klasik menggunakan piano.

 

 

Nürnberg, 20 Januari 2013

iscab.saptocondro

P.S: Engineering service adalah bahasa halus dari outsourcing.

Aku ini senang mengajar. Makanya dulu pernah menjadi tutor alias guru les, sejak aku masih SMA. Lalu aku juga pernah jadi guru SMA di tempatku pernah sekolah dulu. Kemudian aku menjadi dosen Teknik Elektro, sesuai bidangku, di sebuah universitas swasta di Semarang.

Selama menjadi guru SMA dan menjadi dosen, aku merasa gundah dengan gajiku. Kalau guru atau dosen dianggap sebagai buruh, maka guru atau dosen menjual jasa mereka kepada “perusahaan” lalu mereka menerima upahnya. Tentu saja semakin sibuk (baca produktif, bukan sibuk kaga jelas) suatu dosen, dia berhak memperoleh upah lebih. Tapi apakah kesibukan suatu dosen dan upahnya memang sebanding?

Dua tulisan di blog milikku di blogger ini sedikit menggambarkan dosen dan hitung-hitungan gajinya.

Mereka yang telah mengajarku

Blogs ini ditujukan untuk mengenang guru-guru yang pernah mengajarku. Berjuta terima kasih tak cukup membalas jasa para guruku dalam mengajarkanku tentang dunia.

Judul yang pindah cuma satu:

Thomas Tatang
(dari sini, ke situ)