Skip navigation

Tag Archives: jejaring sosial

Sudah hampir 3 bulan, aku membuat smartphone milikku cacat. Kecerdasannya kukurangi secara sengaja. Sebelumnya, ada beberapa aplikasi jejaring sosial (online social network) di smartphone. Kini semua kuhabisi, kecuali Xing dan LinkedIn. Aku mengakses jejaring sosial di desktop saja. Kalaupun di smartphone, aku menggunakan browser dan harus melewati banyak login dengan segenap kerumitannya.

Aku mengenal perangkat genggam pertama kali ketika ia hanya memiliki kemampuan telpon dan texting SMS. Aku merasa hal ini cukup untuk berkomunikasi via perangkat genggam. Aku tidak butuh getar-getar dalam celana karena kedatangan tempelan foto Pinterest, “mention” Twitter dan Instagram dari orang yang kukenal maupun tidak, kabar terbaru dari kawan Path, dll. Aku puas dengan kemampuan telpon dan texting sederhana. Aku pertahankan aplikasi buat nelpon: telpon bernomor, Skype, Viber, Hangouts, dan Line. Aku pertahankan aplikasi texting: SMS, Whatsapp, dan Telegram.

Sejak “social media shutdown” ini, hidupku lebih mudah dan sederhana. Aku bisa menikmati mentari dan pepohonan yang menari bersama hembusan angin. Aku juga bisa menikmati bulan dan bintang yang tersipu malu di balik tarian gumpalan awan. Aku bisa mengagumi lampu kota di pinggir sungai setiap kulewati jembatan. Aku juga bisa membangun kontak mata dengan orang-orang yang kutemui di jalan, di toko, dan dalam angkutan umum. Aku bisa melihat senyum nyata manusia-manusia di sekelilingku.

***

Aku teringat masa remajaku yang tanpa perangkat genggam. Aku bisa janjian sama kawan-kawanku ke tempat makan, ke bioskop, ke acara api unggun, ke acara piknik, dll tanpa perangkat genggam. Tidak ada telpon panggilan maupun pesan teks “Di mana lu?” atau “Udah sampai di mana lu?”. Akan tetapi kami pun bisa menikmati acara bersama.

Aku tidak akan membiarkan kemanusiaanku dibuat cacat oleh teknologi. Aku akan membuktikan kepada dunia bahwa “smartphone create dumb people” itu tidak berlaku bagi diriku. Aku juga tidak mau merasakan “alone together”, ketika bertemu kawan-kawan hanya untuk duduk menunduk memandang perangkat genggam. Daripada kemanusiaanku dibuat cacat oleh smartphone, maka kubuat smartphone cacat saja.

Leherku sudah terlalu pegal untuk menunduk di bawah kekuasaan smartphone. Kini saatnya merebut kekuasaan itu. Leherku tidak layak untuk menunduk gara-gara smartphone. Leherku diciptakan Tuhan untuk menengadah ke atas memandang bintang-bintang di langit, karena aku tercipta dari bintang. We are all created from stars! Saatnya revolusi! Kerinduan manusia akan bintang revolusi sudah menggelora dalam jiwaku.

Kini aku membersihkan jiwaku dari kebisingan dunia maya. Apalagi tahun ini, kawan-kawanku sedang terkena eforia Jokowi versus Prabowo. Tidak ada ide besar yang dibicarakan dalam dunia online. Yang ada hanya obrolan bocah-bocah fans club selebriti politik. Kebisingan yang mirip ketika aku masih kanak-kanak, “mainan gue lebih keren daripada mainan lu”. Kebisingan ini baru sekadar obrolan “my horse is bigger than your horse” dan sama sekali tidak memberi makna yang berarti bagi hidupku.

Jika hidup bisa dipermudah, mengapa harus dipersulit oleh smartphone?
Aku pun kembali kepada pekerjaanku, Dharmaku, tanpa gangguan smartphone beserta kebisingan dunia maya yang menyertainya. Aku pun bisa jujur pada diriku sendiri yang hidup dalam kesunyian dan kesendirian. Hanya segelintir kawan dekat dan keluargaku yang mengontakku. Sampai jumpa lagi di posting berikutnya!

***

Bacaan lain:

Selamat membaca.

Oldenburg, 9 Mei 2014

iscab.saptocondro

iscablog, euy http://iscab.blogspot.com/2014/05/membuat-smartphone-cacat.html

Dulu aku pernah menceritakan awal mula aku menggunakan perangkat jejaring sosial online, pada artikel “A Friend for a Click or a Click for A Friend?” Pada tulisanku, aku masih belum mengenal perangkat genggam cerdas, sebagaimana smartphone Android milikku kini. Saat itu, kuakses online social network service melalui komputer. Saat itu, kukenal (hanya) Friendster, StudiVZ, Facebook, Multiply, serta KTCommunity.

Kini Friendster tak pernah kubuka dan ia telah bangkrut sebagai penyedia jasa jejaring sosial online. Sebagian datanya dihapus Friendster dan sebagian lagi kupindah ke Facebook dan Blogspot. Multiply kuhapus karena fungsinya tak sesuai keinginanku. Oh, ya, Multiply pun menghapus data penggunanya dan pindah haluan bisnis sebagaimana Friendster. StudiVZ  dan KTCommunity jarang kubuka karena terlalu “Jerman”.

Seiring berjalannya waktu, aku menambah jejaring sosial lainnya: Twitter, Plurk, Flickr, Instagram, Path, LinkedIn, Xing, dll. Sebagian untuk “haha hihi”. Sebagian untuk alasan profesional. Semenjak aku bekerja jadi tukang insinyur, aku sanggup memmbeli perangkat genggam untuk menggantikan semua handphone rusak dan quasi-rusak milikku. Tentu saja alat genggam ini harus cerdas dan bisa internet. Aku pun kini memiliki aplikasi untuk jejaring sosial tersebut. Jadi social network dalam genggaman, deh.

***

Apakah ada perbedaan antara jejaring sosialku di dunia nyata dan maya?
Apa perbedaan kawan di jagad online dan di dunia nyata?
Apa makna perkawanan? Mengapa harus berteman?
Apakah kita teman? atau kolega? atau sekedar pernah kenalan?
Mengapa mereka tidak meng-unfriend diriku walau aku cukup “annoying” dan bikin kebisingan di Facebook?

Banyak sekali pertanyaan di dalam benakku. Aku bertanya seperti ini karena aku merasakan kehilangan makna akan teknologi jejaring sosial ini. Aku sudah tidak tahu siapa temanku yang sesungguhnya. Semua yang kulihat hanyalah aliran data, gambar, tulisan, video, dan tautan. Aku tidak bisa merasakan kemanusiaan dan pertemanan dalam teknologi ini.

Kini akupun merenung, mengapa aku masih menggunakan teknologi ini. Pada dasarnya aku cukup puas dengan telpon dan SMS untuk mengobrol jarak jauh dengan sahabat dan keluarga. Lebih asyik lagi kalau bikin acara bareng: makan-makan, nonton, jalan-jalan, dll. Jadi ada pertemuan fisik yang sesungguhnya.

Kucoba kembali ke awal mula menggunakan teknologi tersebut.

  • Friendster, diperkenalkan oleh kawan dekatku, Arief, di Bandung, Indonesia tahun 2004. Isi jejaringnya ialah teman dekat, kawan sekolah, kawan kuliah, murid-murid yang pernah kuajar.
  • StudiVZ, diperkenalkan oleh teman kos di Bremen, Jerman tahun 2006. Isi jejaringnya ialah orang-orang yang kukenal di Jerman, terutama Bremen.
  • Facebook, awalnya kupakai untuk ikatan silaturahmi dengan para Erasmus Student. Kemudian karena bentuknya semakin lama semakin menarik, kawan-kawanku di Friendster dan jejaring milis kutambahkan ke sini. Oh, ya, Facebook memiliki kemudahan untuk disambungkan ke jasa online social network lainnya.
  • LinkedIn, aku diperkenalkan Arthur Purnama di tahun 2007. Aku memakai ini untuk alasan profesional. Urusan mencari kerja, gitu loh.
  • Xing, juga untuk urusan profesional. Tapi ini terlalu Eropa-sentris (baca: Jerman).
  • Twitter, awalnya kupakai karena bisa disambung ke berbagai jasa lainnya. Kini Twitter sudah pernah kusambung ke StudiVZ, Facebook, LinkedIn, WordPress, dll serta juga e-learning kampus Uni Bremen. Semenjak menggunakan perangkat genggam, aku mulai mengerti kelebihan Twitter (baca juga GBT ini).
  • Path, diajak kawan dekatku, Andre Tobing, ketika aku mudik ke Bandung, Indonesia tahun 2012. Karena jumlah teman dibatasi cuma 150 orang, jadinya aku mulai merenung siapakah sesungguhnya temanku.
  • Online social network lain tidak kusebut karena jarang kupakai. Sebagian diperkenalkan oleh kawan maya maupun nyata. Sebagian kupakai terus, misalnya untuk mencari penginapan (Couchsurfing) atau karena untuk baca artikel harus dipaksa jadi anggota dan selalu login. Sebagian tidak kupakai lagi.
  • Blog yang kupakai seperti Blogspot dan WordPress, sebetulnya memiliki kemampuan jejaring sosial. Namun kemampuan ini tidak kutekankan penggunaannya. Aku menggunakan blog untuk menulis, sesuai hobiku.

Kini kusadari bahwa mayoritas isi jejaring sosial di jagad maya adalah orang yang pernah kutemui di dunia nyata. Namun kawan-kawan terdekatku di Bandung, juga keluargaku di Indonesia, bukanlah orang-orang yang banyak berinteraksi di dunia maya (Facebook, Twitter, dll). Menghubungi mereka pun harus lewat telpon. Kawan-kawan terdekatku di Bremen mengobrol dengan nyaman jika kami bertemu fisik bukan di layar monitor komputer maupun perangkat genggam. Apalagi kalau mereka masak, betul-betul lezat.

Hanya kawan-kawan dekat (dan orang-orang yang ingin kudekati), yang mampu meyakinkanku untuk menggunakan jasa online social network terbaru. Aku hanya tergerak oleh kawan-kawan yang dekat di hatiku. Sesudah diajak mereka untuk memiliki akun, aku hanya terikat pada jasa yang memudahkan hobiku: membaca, mencatat, menulis, dan berbagi. Facebook dan Twitter begitu pintar untuk terhubung dengan blogku.

Kupikir-pikir, aku menulis ini karena kangen kawan-kawanku di Bandung dulu. Oh, ya, aku juga belum bertemu saudara-saudara dan keluarga besarku selama 7 tahun lebih dikit. Kurenungkan pula, akhir-akhir ini, aku menjadi Lone Wolf. Aku hidup sendiri dan tidak tahu ingin ngomong apa kalau bertemu kawan di dunia nyata maupun jagad maya. Isi Facebook dan Twitter dariku hanyalah kebisingan. Interaksi denganku hanyalah bunyi-bunyian tidak penting. Mending aku menjadi pendengar (dan pembaca) yang baik aja.

Hidupku semakin absurd dengan teknologi jejaring sosial. Setidak-tidaknya aplikasi jejaring sosial online membantuku di toilet ketika aku menunggu kejatuhan mereka yang melekat hangat di pantat.
Absurdiscab, iscab yang absurd.

Bremen, 21 April 2013

iscab.saptocondro

via iscablog http://iscab.blogspot.com/2013/04/jejaring-sosial-maya-dan-nyata.html

Di hari Paskah ini, aku datang ke suatu undangan. Aku merasa kali ini aku sebaiknya datang ke acara ini. Aku memiliki firasat bahwa aku akan bertemu banyak orang yang dekat di hatiku. Ternyata benar, ada senior jurusan otomasi, yang bercerita indahnya dunia engineering di Italia. Seseorang yang jarang kutemui. Ada pula, junior jurusan otomasi, yang bercerita cerianya bekerja dan bekeluarga di suatu kampung di Niedersachsen.

Selain itu, menu nasi kuning, rendang, dan kolak, betul-betul menghibur diriku yang baru sibuk urusan mengepak barang untuk pindahan. Oh, ya, dalam dua minggu, barangku akan berpindah dari Nürnberg ke Bremen. Lalu urusan berikutnya adalah sekolah mengemudi. Memiliki SIM Jerman bisa membuat pindahan jauh lebih murah. 
Seusai kegembiraan pertemuan ini, ada suatu hal yang menyebalkan. Orang Indonesia memiliki masalah dalam menghormati privasi orang. Di saat aku masih stress dengan urusan kepindahanku ke Bremen, masih ada orang yang sok tahu mengurus pilihan hidupku mengenai jodoh. Betul-betul cara tidak sopan menyambut orang yang baru datang ke suatu kota.
Baru kali ini, aku merasa kesal dengan obrolan seperti ini. Aku diatur bagaimana aku harus mencari jodoh. Kapan aku harus mencari jodoh. Bagaimana aku harus membawa jodoh. Aku tidak menyangka kalau jawabanku bahwa aku masih mengurus kepindahanku ke Bremen, tidak cukup menjawab pertanyaan mereka kenapa aku tidak mencari jodoh saat ini. Bapak-Ibuku dan keluargaku yang lainnya bahkan tak pernah mengatur diriku seperti ini. Sedangkan ini, orang yang sama sekali tak dekat di hatiku, bisa sok mengatur jalan hidupku.
Untung aku lelaki. Aku tidak bisa membayangkan kalau aku perempuan. Bagaimana peer group menodongkan pertanyaan yang tak berhenti. Jawaban apapun takkan memuaskan mereka. Setiap jawabanku dibantah dengan kata-kata yang sok mengatur bagaimana seorang mencari jodoh. Mereka hanya ingin membakar pantat orang yang ditodong pertanyaan.
Aku teringat seorang perempuan. Dia menangis usai suatu pertemuan orang Indonesia. Pada pertemuan itu, ia ditodong berbagai pertanyaan seputar pilihan hidupnya. Cecaran pertanyaan memang bisa melelahkan. Kali ini, aku yang jadi target interogasi.
Kini kusadari kenapa beberapa orang Indonesia di Bremen dalam menerima undangan akan bertanya “Siapa aja yang diundang?”, “Siapa aja yang datang?”, dll. Mereka tidak mau bertemu orang tertentu. Mereka harus pasang kuda-kuda dan siap mental kalau sampai bertemu orang yang ini atau orang yang itu.
Aku pun bersyukur karena aku bisa belajar mengenai pribadi manusia. Kali ini, aku harus berhati-hati dalam memilih lokasi tempat duduk dan ada siapa dalam ruangan. Aku harus menghindari orang tertentu sebelum dia mulai obrolan skak mat. Atau lebih baik, aku lebih banyak bertemu mahasiswa yang bisa mengobrol tema pendidikan, politik, film, dll daripada bertemu orang-orang yang mengobrol topik dunia perjodohan melulu.

Bremen, 31 Maret 2013

via suka duka iscab di bremen http://iscabremen.blogspot.com/2013/03/obrolan-aneh-di-hari-paskah.html