Skip navigation

Tag Archives: merah

Aku masih bingung kenapa orang sering menyalin tulisan orang lain. Baiklah, aku tahu mereka menyalin karena tidak punya kreativitas untuk membuat tulisan sendiri. Ada juga yang menyalin dengan cara shake and paste lalu ditampilkan di media pers resmi demi honor tulisan. Ada juga yang mencuri tulisan supaya blog terasa penuh content, lalu dipakai untuk membangkitkan iklan (dan traffic, dengan teknik SEO).

Intermezzo: Aku juga tidak kreatif dalam membuat gambar, jadinya aku kadang mencomot gambar dari Google untuk mengisi blog ini. Kalau asal-usul gambar jelas, aku cantumkan sumbernya. Aku juga tidak mengambil keuntungan dari semua tulisan blog.

***

Beberapa orang menggunakan anti right click, supaya tulisan di blog mereka tidak disalin. Masih bisa diakali sih. Bagi banyak orang, tulisan itu seperti anak sendiri. Menyalin tulisan seperti menculik anak dari pemiliknya. Sudah dilahirkan dengan susah payah, dicuri orang lain, lalu dipakai keuntungan komersial. Semua tulisanku adalah milik publik, lebih tepatnya milik blogspot dan wordpress. Mereka bisa menghapus tulisanku. Aku pun sedih kalau anakku dibunuh. Tapi aku tetap menulis untuk khalayak ramai, bukan untuk kepentingan komersial. Tiada iklan yang kupakai untuk kepentinganku. Semua iklan adalah milik blogspot dan wordpress. Aku menulis untuk mencapai keabadian, bukan untuk kepentingan ekonomi, Jadi aku masih merelakan para plagiat menyalin tulisan-tulisanku di blog yang sebetulnya tidak terlalu bermakna.

Kali ini, aku ingin membicarakan tulisanku yang disalin oleh orang lain. Tulisan tentang “tips mencari beasiswa” pernah disalin dan diedit lalu tampil di surat kabar. Tulisanku tersebut tidak kupakai untuk mencari keuntungan pribadi. Penyalin menggunakannya untuk dapat honor. Teknik menyalin yang dipakainya adalah “Shake and Paste”. Lumayanlah masih ada “shake”, alias diedit dikit.

Tulisanku yang lain yang disalin adalah “Goyang Kuntilanak Merah“. Tulisanku ketika di Bayern ini disalin dengan cara “Copy and Paste” mentah-mentah teksnya. Yang digoyang sedikit adalah font tulisan. Judul diganti menjadi “Goyang Dahsyat Kuntilanak Merah“. Penyalinan tulisan kuduga menggunakan bots, hanya judulnya yang diutak-atik oleh manusia. Penyalin memiliki 37 jenis iklan di blognya. Selain itu, teknik SEO yang dipakainya bisa menempatkannya di halaman awal Google. Betul-betul blog komersial.

Aku tak menyangka mengapa Kuntilanak yang bergoyang bisa menarik untuk disalin. Padahal goyang Higgs Boson lebih menarik. Atau goyang gelombang gravitasional juga masih lebih keren. Yah, mau apa lagi. Kita hidup di zaman ketika tulisan salinan lebih mudah muncul di Google Search Engine dan Yahoo News aggregator, daripada tulisan aslinya. Juga zaman ketika video asli Angklung Hamburg bermain “Indonesia Pusaka” di Youtube kalah jumlah view dengan video plagiatnya. Bagi orang yang suka originalitas sepertiku, ada rasa sebak di dada menghadapi situasi ini. Menyalin itu hendaknya mencantumkan sumber aslinya (dan sebaiknya minta izin kalau ada copyright).

Selamat bersalin dan menyalin!

***

Definisi:

Persalinan adalah proses bersalin, yaitu proses melahirkan anak. Bagi beberapa orang, kegiatan kreatif untuk menghasilkan tulisan, gambar, karya seni, kriya, thesis, dll itu seperti proses kehamilan dan persalinan. Ada masa-masa kreatif yang bikin galau dan emosi tidak stabil seperti orang hamil. Masa-masa melahirkan tulisan atau karya kreatif itu seperti proses persalinan, ada rasa pedih dan sakit. Ketika tulisan sudah lahir, ada masa-masa baby blue.

Penyalinan adalah proses menyalin. Beberapa kegiatan menyalin bisa dikatakan plagiat, ketika ia tidak mencantumkan sumber yang disalin. Pada beberapa kegiatan penyalinan juga selain mencantumkan sumber juga butuh izin dari sumber.

Kuntilanak atau Pontianak adalah sosok serupa wanita berambut panjang. Dalam masyarakat patriarkis, wanita menjadi subordinat dari pria. Hanya dengan kekuatan gaib, sosok wanita bisa ditakuti oleh pria. Jadilah wanita yang kuat, menjadi Kuntilanak. Untuk menghapuskan kuntilanak, harus ada revolusi. Masyarakat patriarkis harus dihapuskan sehingga kesetaraan antara pria dan wanita tercapai, maka mitos Kuntilanak akan hilang dengan sendirinya dari kesadaran masyarakat.

Rintihan Kuntilanak, adalah lagu dari The PanasDalam. Aku akan mencoba bikin cover lagu ini di youtube. Tunggu tanggal mainnya aja.

Merah marun, adalah warna merah seperti biji marun atau maroon atau kastanya. Marun yang bisa bermain musik, disebut sebagai Maroon Five. Di sana, ada mas Adam yang bisa menyanyi melengking. Tapi lengkingannya masih kalah efeknya dengan cekikikan Kuntilanak. Yang lagi ngetrend adalah Misteri Tahu Bulat bersama Mas Adam Levine.

Segitiga Merah Marun adalah judul lagu dari The PanasDalam. Lagu ini membuatku terharu, mengingat masa-masa sekolah dulu ketika aku masih lugu.

Kuntilanak Merah Marun Bersalin Merintih adalah usaha kreatif menghubungkan kata-kata tidak bermakna menjadi lebih tidak bermakna. Revolusi absurdisme dimulai dari merayakan kehancuran struktur-struktur pembangun makna.

Nyoiii…

Bremen, 16 Mei 2016

iscab.saptocondro

iscablog, euy — http://iscab.blogspot.com/2016/05/kuntilanak-merah-marun-bersalin-merintih.html
posted on May 16, 2016 at 09:26PM in the year of Chinese Yang Red Fire Monkey and Javanese Anama / Jimawal.

Teringat pesan dari seorang intelijen Melayu.

Jika suster yang seharusnya ngesot bisa keramas, maka pocong bisa cukur ketiak sambil lompat-lompat. – SuaraIntel

Nah, kali ini aku ingin bercerita lagi tentang Kuntilanak. Aku mendengar cerita di kota Nürnberg ini, ada Kuntilanak Merah. Aku kira dia hanya beredar di sekitar kampus perguruan tinggi negeri Depok, tempat Si Mbah kuliah. Ternyata di suatu asrama mahasiswa di Nürnberg ini, aura merah Mbak Kunti ini bisa dirasakan oleh beberapa orang.

Di apartemenku, memang sempat kudengar tangisan perempuan di balik pintu seperti yang telah kuceritakan dulu. Tapi dia bukanlah “La Roja”, Kuntilanak Merah. Dia hanyalah tetanggaku. Kejadian tersebut membuatku merenungkan suatu lagu atau tembang, tentang Kuntilanak. Terkadang kulakukan pula ritual mandi kembang tengah malam untuk mencari inspirasi.

Suatu hari, tanpa diduga, kawanku meminta lagu untuk membuat Kuntilanak Merah bisa bergoyang bagaikan Ayu Ting Ting menari  Geol Mujaer yang mistis. Sel-sel otak kawanku ini mungkin keracunan thesisnya di bidang Neural Network untuk menentukan harga menginap di hotel. Mungkin dia berharap hotel-hotel tersebut bisa menguntungkan secara ekonomis jika ada goyangan Kuntilanak. Apalagi kalau warnanya merah, bagaikan lampu red light district di Jalan Frauentormauer, Nürnberg (foto).

Seperti kata James Redfield, dalam bukunya: “The Celestine Prophecy”, kita harus tetap waspada terhadap peristiwa kebetulan (wiki:en,de). Pada suatu kejadian kebetulan, ada kawan meminta lagu untuk membuat Kuntilanak bergoyang. Lalu ada kejadian kebetulan lagi, ada informasi intelijen gaib tentang kidung Kuntilanak. Namanya Kidung Lingsir Wengi.

Pada kebetulan lain, kutemukan Kidung Lingsir Wengi di Youtube. Tembang yang memuat mistisme Jawa. Namun kawanku lebih minat suatu tembang Kuntilanak dengan mistisme Cirebon, sesuai dengan hasil kontemplasiku ketika mandi kembang tengah malam tadi. Hal ini dikatakan kawanku dalam perjalanan kerja dari Nürnberg, menuju Erlangen, untuk kemudian sampai Herzogenaurach.

Sebagai pahlawan pembela kebetulan, aku menemukan kebetulan lagi. Kutemukan lagu tentang Kuntilanak dengan semangat Cirebonan, dari Cucun Novia. Judulnya “Waru Doyong”. Seperti yang sudah kuceritakan dulu, pohon yang miring karena sering diduduki Kuntilanak disebut waru doyong. Jika penonton MTV disebut “Anak Nongkrong” dan pemilik Trans Corp disebut “Anak Singkong”, maka Mbak Kunti yang di pohon waru doyong disebut “Kuntilanak Nongkrong”.

Mari kita bandingkan lagu untuk Kuntilanak dengan mistisme Jawa Tengah dan mistisme Cirebon. Entah lagu mana yang bisa membuat Kuntilanak Merah bisa bergoyang.

Lingsir Wengi:

Waru Doyong, dari Cucun Novia

Di blog lain, aku akan bercerita lebih lanjut tentang Kuntilanak berambut gondrong, makan singkong, sama King Kong, dari Hongkong, sambil nongkrong, di Waru Doyong. 

Nürnberg, 20 Oktober 2012

iscab.saptocondro

96907af051cc4a1cf1bfea7e3c5872e3