Skip navigation

Tag Archives: oldenburg

Kemarin di kantor Jade HS Oldenburg mati lampu. Listrik tidak mengalir seharian karena ada pemeriksaan jaringan listrik. Aku pun berada di Bremen (baca Catatan PhD Berdarah, 30 Agustus 2016), untuk mengerjakan hal-hal yang bisa kukerjakan di rumah. Bekerja di kantor cukup rumit karena batere laptop sudah soak dan harddisk eksternal harus selalu tersambung ke jala-jala listrik.

Aku teringat bahwa di Jerman, jarang sekali aku merasakan mati listrik. Di Bremen, sempat kudapatkan surat pemberitahuan akan pemadaman bergilir. Akan tetapi saat itu aku berada di kantor, jadinya aku tidak merasakan padamnya listrik. Ketika aku masih kuliah master di Bremen, hanya dua kali dalam lima tahun, aku merasakan mati listrik di malam hari. Aku pun jadi kangen dengan masa-masa mati lampu di (kabupaten) Bandung, Indonesia, yang nyaris setiap hari. Ketika mati lampu, bintang-bintang Selatan bisa nampak lebih jelas kulihat dari atas genteng rumahku di Margahayu Permai dulu.

Kali ini, aku pertama kali mendapatkan mati listrik di Niedersachsen. Selalu ada yang pertama untuk segala sesuatu. Aku pun mulai merenungkan bahwa aku harus bisa tetap produktif dalam risetku dengan kesadaran penuh: apa yang bisa kukerjakan di rumah dan di kantor, dengan sumber daya masing-masing lokasi. Padamnya listrik membuatku tersadar bahwa hambatan selalu ada, tapi aku tidak boleh lupa dengan tujuanku sebagai pekerja sains. Aku harus bergerak terus ke depan, menyelesaikan masalah, satu per satu dan langkah demi langkah.
Habisi!

Oldenburg, 1 September 2016

iscab.saptocondro

Sapto Condro bernyanyi bersama semilir angin Sachsen Hilir — http://saptoconiedersachsen.blogspot.com/2016/09/mati-listrik-di-kantor-oldenburg.html
posted on September 01, 2016 at 08:08PM in the year of Chinese Yang Red Fire Monkey and Javanese Anama / Jimawal.

Advertisements

Hari ini, aku bertemu Rani, mantan Ketua PPI Bremen. Kali ini, obrolan di bawah ini bukan obrolan imajiner seperti obrolan IKIP lalu.

Rani: “Condro!”
Aku: “Eh, Rani! Apa kabar?”
Rani: “Baik! Lu lagi ngapain di sini?”
Aku: “Mau PhD meeting. Lu lagi bawa susu?”
(melihat kontainer cairan yang digotongnya)
Rani: “Bukan! Ini liquid nitrogen.”
(Oh, ternyata nitrogen cair)
Aku: “Lu ke gedung mana?”
Rani pun menunjuk ke gedung W3.
Rani: “Bye!”
Secepat kilat kami pun menghilang ke gedung tujuan masing-masing.

***

Hari ini, aku kurang tidur karena keracunan deadline selama bulan April ini. Mengapa aku membayangkan kontainer susu cair? Padahal ini bukan peternakan sapi di Oldenburg maupun di Pangalengan atau Lembang. Ini Universitas Oldenburg, kampus Wechloy, tempat bersemayamnya mahasiswa-mahasiswi dan peneliti fisika, kimia dan biologi. Jadi kontainer nitrogen cair lebih masuk akal daripada susu sapi.

Aku pun teringat masa-masa tiga bulan pertama di Bayern atau Bavaria dulu tinggal dekat kandang sapi. Aroma susu sapi dan tahi sapi bergonta-ganti tersebar di udara. Kini, di Jerman Utara, yang kucium pagi hari ini adalah aroma fermentasi biji-bijian menjadi bir Becks. Memang setiap kota dan kampung memiliki aroma yang berbeda-beda.

Aku pun teringat bahwa seekor sapi mengajarkanku mengenai Logika dan Teori Himpunan. Sapi yang sehat memiliki 2 kaki depan, 2 kaki belakang, 2 kaki kanan dan 2 kaki kiri. Berapakah jumlah kaki sapi ini?

Orang yang tidak bisa menguasai kebijaksanaan sapi, akan terjerumus oleh sapi. Aku pun teringat pimpinan partai politik di Indonesia yang terkena masalah hukum karena berurusan dengan sapi. Jadi belajarlah filosofi dua ekor sapi untuk mendalami pandangan dunia (Weltanschauung) dari bermacam-macam ideologi.

OK, kembali ke kegiatan doktoral. Darah Juang!

Oldenburg, 25 April 2014

iscab.saptocondro

Sapto Condro bernyanyi bersama semilir angin Sachsen Hilir http://saptoconiedersachsen.blogspot.com/2014/04/kontainer-cairan.html

Seseorang: “Eh, Condro, apa kabar?”
Aku: “Lumayan. Lu gimana?”
Seseorang: “Baik-baik aja. Sekarang lu ngapain?”
Aku: “Kuliah lagi.”
Seseorang: “Kuliah apaan? Di mana?”
Aku: “Kuliah di IKIP.”
Seseorang: “IKIP?”
Aku: “Iya. IKIP Oldenburg, jurusan Psikologi”
Seseorang: “…”

***

Kira-kira begitulah obrolan imajinerku dengan tembok dan jeruk. Sejak Oktober lalu, aku terdaftar menjadi mahasiswa psikologi di Universitas Oldenburg, di Sachsen Hilir, Jerman. Universitas ini dulunya UPI (Universitas Padahal IKIP). Kalau di Bandung, UPI itu Universitas Pendidikan Indonesia, yang dulu bernama IKIP Bandung, singkatan dari Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Bandung (wiki: en,id), tempat mendidik orang supaya menjadi guru. Walau kini banyak juga lulusannya yang menjadi pramugari.

Carl von Ossietzky Universität Oldenburg itu dulu sekolah tinggi pendidikan yang bernama Pädagogische Hochschule Oldenburg atau Pedagogical College Oldenburg (wiki: en,de). Tempat ini masih terkenal sebagai tempat pendidikan untuk calon guru, walau sudah beralih menjadi universitas di tahun 1973. Kini sejak adanya cluster of excellence “Hearing4All”, universitas ini makin dikenal dengan penelitian di bidang akustik dan pengolahan sinyal audio, yang dasarnya sudah diletakkan sejak tahun 1990-an.

Jadi kini, aku sudah tidak mengobrol dengan jeruk lagi. Aku sekarang menjadi mahasiswa psikologi di IKIP Oldenburg dan mengobrol dengan manusia. Berbeda dengan sastra listrik, pada jurusan psikologi, proporsi mahasiswi lebih tinggi daripada mahasiswa. Jadi obrolannya lebih menyenangkan dan banyak yang berpelukan. Di jurusan teknik elektro eh sastra listrik, jarang sekali pelajarnya saling berpelukan.

OK, sejujurnya aku bingung kenapa para mahasiswi senang memeluk orang lain. Mungkin kampus ini memang kampus perdamaian sehingga orang-orang saling berpelukan. Carl von Ossietzky memang pernah memenangkan Nobel Perdamaian tahun 1935 (wiki: en,de,id). Nampaknya demi perdamaian dunia, aku juga perlu belajar berpelukan dengan para mahasiswi.

Saatnya aku kembali ke pekerjaanku, yang (seharusnya) penuh darahdarah perjuangan.

Oldenburg, 16 April 2014

iscab.saptocondro

Sapto Condro bernyanyi bersama semilir angin Sachsen Hilir http://saptoconiedersachsen.blogspot.com/2014/04/kuliah-di-ikip.html

Hari ini, akhirnya aku kembali ke kantorku di Jade HS Oldenburg. Selama 8 hari kerja, aku tidak ke kantor. Aku datang ke kantor jam 1 siang. Contoh pegawai negeri teladan?

Hari ini, aku kollokium di Uni Oldenburg pukul 10:30 pagi. Aku banyak mendapatkan informasi mengenai EEG dan fNIRS yang dipakai secara hybrid untuk mengamati atensi manusia terhadap rangsangan visual dan audio. Jadi aku datang ke kantor siang-siang bukan karena malas, melainkan karena tukar ilmu.

Minggu lalu, aku bersama mahasiswa-mahasiswi Assistive Technology, tiga rekan kerja dan dua Profesor, pergi excursion atau kuliah lapangan ke Hamburg. Selama seminggu, aku menimba pengalaman keilmiahan dan kemahasiswaan. Pengalaman ilmiah kudapatkan dari pagi sampai sore dalam bentuk kunjungan sana-sini dan merasakan beberapa demo teknologi dan presentasi. Pelajaran penting yang kudapatkan adalah kalau tak sengaja melihat penelitian rahasia/confidential (diduga militer), maka wajah kami harus difoto.

Pengalaman kemahasiswaan kuperoleh pada malam hari, dalam bentuk vitamin B33R. Pelajaran penting yang kupetik adalah vitamin B33R dari Irlandia bukan hal yang cocok buat perutku. Jerman lebih baik dan lebih membahagiakan. Jadi aku tidak masuk kantor seminggu, bukan karena malas, melainkan karena tidak mau kesepian di kantor ketika semua rekan kerja pergi kulap ke Hamburg.

Dua minggu lalu, aku menghadiri training 2 hari di Delmenhorst. Aku menerima ilmu PyMVPA (Python for Multivariate Pattern Analysis). Setelah melalui seleksi tidak ketat, hanya 1 banding 2, aku diterima ikut training tingkat Eropa ini. Training ini cocoknya untuk pengguna fMRI, sedangkan aku pengguna EEG. Entah kenapa, aku diterima. Lumayanlah, bisa kenal banyak orang dan dapat wawasan mengenai utak-atik data fMRI dan tantangannya. Jadi aku tidak masuk kantor, bukanlah karena malas, melainkan karena “ngelmu”.

Sebelum training dua hari, aku mempersiapkan diri dengan belajar Numpy, suatu toolbox python untuk mengolah array, matriks dan hal-hal numerik. Satu hari Rabu, aku belajar di rumahku di Bremen. Aku tidak ke kantor karena alasan religius juga. Saat itu Rabu Abu (Ash Wednesday/ Aschermittwoch) dan aku ingin pergi ke gereja di Bremen yang dekat rumahku. Aku tak mau menghabiskan waktu dalam perjalanan rumah-kantor-gereja. Jadinya aku bekerja (belajar) di rumah lalu pergi ke gereja, dengan sepeda. Lumayan olahraga singkat dan udara segar.

Segala kegiatan training PyMVPA di Delmenhorst dan kulap Hamburg akan kuceritakan di blog Catatan Mahasiswa Doktoral milikku. Sebagian persiapannya telah kuceritakan sebelumnya:

Kini aku kembali ke kantor lagi. Aku harus mengembalikan otakku ke mode bekerja dan meneliti lagi. Aku harus melihat kesibukan apa lagi yang harus kuhadapi.

***

Daftar istilah:

  • EEG = Electroencephalography (wiki: en,de,id)
  • fNIRS = functional Near-Infrared Spectroscopy (wiki: en,en,de,id)
  • fMRI = functional Magnetic Resonance Imaging (wiki: en,de)

Oldenburg, 17 Maret 2014

iscab.saptocondro

Sapto Condro bernyanyi bersama semilir angin Sachsen Hilir http://saptoconiedersachsen.blogspot.com/2014/03/kembali-ke-kantor-oldenburg.html

Kini aku mulai berkarya di kota Oldenburg, di Jerman (wiki: en,de,id). Kota ini terletak di Sachsen Hilir atau Niedersachsen atau Lower Saxony (wiki: en,de,id), yang sebelah Barat, dekat Laut Utara. Sebagian nenek moyang orang Oldenburg adalah pelaut Hanseatic. Mereka berdagang dengan Hansa Cog (Hansa Kogge), suatu kapal kecil. Zaman dahulu, daerah ini adalah daerah Frisian. Sebagian daerah Frisian menjadi wilayah Belanda, kemudian susu di sana menjadi susu Frisian Flag. Sebagian lain, menjadi wilayah Jerman, kemudian susu di sini menjadi Oldenburg Milk. Apapun susunya, semua berasal dari ibu. Dalam hal ini, ibu sapi.

Mengapa aku jadi membicarakan susu?

Kembali ke topik. Aku berada di Oldenburg karena terdaftar menjadi mahasiswa di Carl von Ossietzky Universität Oldenburg, disingkat Uni Oldenburg (wiki: en,de). Berhubung aku masih bingung dengan sistem penerimaan mahasiswa doktoral di suatu graduate school di Uni Oldenburg ditambah pegawai administrasi bilang kalau fakultasku belum dibuka, mereka memberi surat/kartu pelajar (Immatrikulationbeschenigung) yang menyebut aku mahasiswa psikologi. Berikutnya aku dapat kartu bertuliskan “Neurosensory Science and Systems”.

Walau aku tercatat sebagai mahasiswa psikologi di Uni Oldenburg, aku berkantor di Jade Hochschule Oldenburg (wiki: en,de,de). Di Jerman, Hochschule itu “university of applied science” atau Sekolah Tinggi. Di sana aku bereksperimen dengan sinyal otak (EEG), robot, dll untuk studi doktoralku. Bulan-bulan ke depan, aku juga akan sering meneliti di Fraunhofer IDMT di Oldenburg (wiki: de). Pembimbing utamaku berkantor di Jade HS Oldenburg dan Fraunhofer IDMT. Karena posisinya gaib, sulit ditebak di mana, jadi Profesorku ini membuatku menjadi sama-sama makhluk gaib yang harus bisa berpindah-pindah tempat. Oh, ya, kadang ada kegiatanku di Uni Bremen, AWI di Bremerhaven, IAS di Delmenhorst, dll jadinya mobilitas gaib adalah bagian dari ngélmu.

Kini terjawab sudah mengapa aku membuat blog tentang Niedersachsen, sesuai janjiku pada posting sebelumnya: Mukadimah.

Sekarang kembali pada perjuangan doktoral.
Darah Juang!

Oldenburg, 28 Februari 2014

iscab.saptocondro

Sapto Condro bernyanyi bersama semilir angin Sachsen Hilir http://saptoconiedersachsen.blogspot.com/2014/02/semester-pertama-di-oldenburg.html