Skip navigation

Tag Archives: pindahan

Selasa, 1 November 2011, aku memindahkan barang-barangku ke Wohnung (apartemen) di Gostanbul, Nürnberg. Kamarku di Ebene 2 (dua lantai di atas lantai dasar). Hal yang lumayan sengsara adalah memindahkan kardus berisi catatan kuliah dari lantai nol ke lantai dua. Masalahnya terletak pada massa. Paling sengsara adalah memindahkan sofa. Kini masalahnya terletak pada massa dan volume serta dimensi.

Ketika mengangkat sofa, tanganku kadang membentur dan menggesek tembok. Maka terjadilah pendarahan. Untung ada Palang Merah. Aku pindahan dibantu oleh kawanku, Hengky, yang pernah kukenal ketika kami di Palang Merah. Dia membantuku karena dia memiliki surat ijin mengemudi Jerman, sehingga bisa menyewa mobil untuk keperluan pindahan. Oh, ya, pendarahannya tidak banyak, hanya dua ujung jari karena tangan kering. Keanggotaan kami dulu di Palang Merah tidak terlalu banyak membantu masalah pendarahan ini. Luka kecil pasti cepat kering, sih. Jadi tidak perlu keahlian lebih dari Palang Merah.

Oh, sungguh hari yang melelahkan. Aku tidak memiliki kekuatan eksplosif, jadi tidak bisa mengangkat barang cepat, namun bisa menahan beban berat lama. Hengky yang masih muda, sebaliknya. Dia bisa mengangkat barang berat dengan cepat tapi diduga tak bisa menahan beban berat lama. Efeknya, ritme kerja yang tak imbang. Aku kehabisan tenaga dan mual-mual. Tangan bergetar dan berdarah. Membawa tiga sofa naik dua lantai betul-betul menyengsarakan.

Ich war ein Nürnberger.

***

Sabtu, 13 April 2013, kira-kira satu setengah tahun kemudian, akupun pindahan dari apartemen tempat kuntilanak bergoyang dan berdendang tersebut. Seiring dengan habisnya sabun sari lavender, akupun mengakhiri masa-masa mandi kembang ditemani musik jazz di apartemen tersebut. Perpisahan dengan Wohnung ini kulakukan dengan boker terakhir kali, diiringi lagu Bunga Terakhir dari (Bebi) Romeo.

Kebetulan Nachmieter (orang yang menyewa apartemen setelah diriku) adalah pengusaha jasa pindahan. Jadinya aku menggunakan jasanya untuk mengangkut barang-barang dari apartemen keramat di Nürnberg ke apartemen baru di Bremen. Akupun memindahkan dengan gembira karena jasanya cepat dan tanganku kini sehat dan kuat akibat latihan beban di McFit. Selain itu, kini tiada pemindahan sofa. Kuserahkan sofa, meja makan, meja tulis, beserta kursi-kursinya kepadanya.

Sesampainya di Bremen berangin, barang-barang kupindahkan ke Ebene 1 (satu lantai di atas lantai dasar). Pengantar barang ini sangat cepat dalam memindahkan barang dari mobil ke kamarku. Barang-barang sudah selesai berpindah sebelum kedatangan kawan-kawan Bremen yang kuundang membantuku. Ternyata kawan-kawanku tak datang. Jadinya aku pun tak perlu merepotkan kawan-kawanku.

Usai pindahan ini, akupun melihat pahaku. Kenapa ada darah? Ternyata bisul yang pecah. Akupun teringat pindahan berdarah sebelumnya. Memang kutukan berdarah apartemen di Nürnberg tersebut belum berakhir. Apakah ini ada hubungannya dengan aku yang tidak mandi kembang, melainkan mandi sari kelapa? Oh, ya, kini sabunku menggunakan sari kelapa dan madu. Lagu yang cocok untuk ini adalah Mandi Madu dari Elvy Sukaesih dan Es Lilin Kelapa Muda dari Nining Maeda.

Jetzt bin ich ein Bremer, euy!

***

Berikutnya, aku mengurangi barang-barangku. Catatanku akan kuscan dan kuarsipkan secara digital, baik di harddisk maupun di awan (cloud). Lalu semua kertas yang berat kubuang. Sehingga bebanku ringan pada pindahan berikutnya. Selain itu, aku belajar melepaskan kepemilikan pribadi. Sebagai pria posesif, aku harus belajar melepaskan.

Aku juga akan sekolah mengemudi supaya dapat SIM Jerman. Membawa mobil sendiri bisa menghemat biaya pindahan menjadi sepertiga biaya menyewa jasa pindahan. Selain itu, memiliki SIM ini, bisa membantu kawan-kawan yang ingin pindahan maupun yang ingin bertanding pada acara Sport Fest di Jerman. Dharmaku yang sesungguhnya adalah membantu sesama dengan melepaskan kepemilikan pribadi, atas alat produksi, bukan alat reproduksi.

Mari kita nikmati, lagu Bunga Terakhir dari Bebi Romeo.

Mandi Madu dari Elvy Sukaesih.

Es Lilin Kelapa Muda, dari Nining Meida

Bremen, 16 April 2013

iscab.saptocondro

via suka duka iscab di Bavaria http://iscabayern.blogspot.com/2013/04/pindahan-berdarah.html

Advertisements

Minggu lalu, aku menghadapi beberapa hal yang membuatku stress.

Pertama, internet dan telpon via DSL tidak jalan. Dari 28 Februari hingga pertengahan Maret, aku bolak-balik ke Kundencenter (customer service) perusahaan telekomunikasi terbesar di Jerman. Customer service yang tidak mengerti produk yang dijual dan cuma mengandalkan layar monitor. Selain itu, telpon hotline menggunakan software speech processing yang hanya cocok untuk mereka berbahasa-ibu Jerman (deutsche Muttersprache/ german mother language).

Akhirnya, kutahu bagaimana mengurus masalah ini via website. Aku bisa memasukkan keluhanku via website, ditambah beberapa ancaman (hehehe). Setelah tiga minggu, yaitu 19 Maret, aku bisa menggunakan DSL ini untuk internet (dan telpon). Itu pun dengan kerja keras mencari di mana kabel telpon dan kotak utama di rumah. Akibat urusan ini, aku tidak bisa konsentrasi dengan pekerjaanku dan insomnia (sampai sekarang).

Kedua, aku pergi mencuci dengan gembira di suatu malam, sepulang kerja. Wajah ceriaku sebelum mencuci bisa dilihat di blogku yang berbahagia. Di sana, terlihat pula seorang jomblo di malam Sabtu, pergi mencuci untuk perdamaian dunia. Washing for World Peace, euy!

Akan tetapi kebahagiaan ini tak bertahan lama. Akibat ketidaktahuan akan jadwal washing center, bencana pun tiba pada diriku ini. Di tempat mencuci tersebut, tidak tertulis jadwal. Aku keluar sebentar untuk secangkir coklat hangat, ternyata pintu otomatis mengunci pada jam tertentu. Ketika aku berbalik, pintu tertutup erat dan terkunci rapat.

Satu lagi yang brengsek, informasi nomor telpon yang harus dihubungi terletak di dalam washing center bukan di pintu atau di luar tempat itu. Terpaksa, keesokan harinya, aku harus mengambil pakaianku yang tertinggal di sana. Lumayan, aku belajar bahwa washing center ini tutup jam 22.00 dan nomor telpon pemiliknya sudah kucatat.

Ketiga, aku masih mengurus kepindahan dari Nürnberg ke Bremen. Urusan telpon di atas membuat waktu dan pikiran terkuras. Ketika aku tidak bisa pergi ke Nürnberg akibat kepala pening, aku mencuci pakaian untuk perdamaian. Ternyata bukan kedamaian yang kudapat, melainkan tambahan stress dan gangguan jam tidur.

Minggu lalu, kudapat telpon dari pemilik rumah kalau akan ada calon penyewa yang ingin melihat apartemen di Nürnberg. Akupun segera pergi ke Nürnberg, membereskan tembok yang bolong dan membereskan beberapa hal. Calon penyewa positif mengambil apartemen tersebut. Untungnya, dia pengusaha tranporter. Jadinya aku bisa menyewa jasanya untuk pindahan. Aku juga mendapat jadwal untuk pindahan.

Urusan pindahan ini lumayan membuat ketenangan Paskah diriku terganggu. Aku juga harus mengatur janji mana yang harus kutepati dan kubatalkan di Bremen. Nampaknya, aku harus merayakan Paskah di Nürnberg.

Keempat, aku salah mengklik tautan di internet. Ini akibat rasa ingin tahuku, tentang apa hubungan hacktivist Anonymous dan suatu kampung bernama Steubenville, di Ohio, USA (Amerika Serikat). Akibat klik ini, tiba-tiba aku menginvestigasi banyak forum, blog, berita, dll yang tentu saja menambah klik jemariku untuk hal di luar pekerjaan utamaku.

Tentang kampung ini, aku akan menceritakan di posting blog berikutnya. Yang jelas kampung ini betul-betul ramai di media berbahasa Inggris: USA, UK, dan Kanada (serta mungkin Australia?). Mengikuti berita ini bisa membuat stress mereka yang bermimpi tentang dunia yang penuh keadilan dan kesetaraan. Perjuangan masih panjang.

Akibat sistem otomatisasi hotline yang menyebalkan, juga kegagalan sistem otomatis pemindahan saluran DSL dari Nürnberg ke Bremen, dan ditambah terkunci oleh pintu otomatis, aku jadi benci dengan otomatisasi dan hal-hal yang serba otomatis. Namun kusadari kalau aku lulusan Automation Engineering, jadi membenci otomatisasi itu sama saja menyangkal diriku sendiri. Kemudian, kutumpahkan semua kekesalanku yang otomatis dalam tulisan “Otomatiscab“.

Aku bersyukur kepada Tuhan, karena aku dapat belajar banyak dari ketegangan ini. Aku juga merasakan bahwa yang membuatku tetap merasa hidup adalah rasa ingin tahuku. Rasa penasaran inilah yang membimbingku dalam Dharmaku sebagai engineer (juga sebagai blogger investigatif, hehehe). Namun kini, aku harus berjuang melawan insomnia. Perjuangan masih panjang, tapi kupercaya bahwa hari kemenangan akan segera tiba.

Bremen, 28 Maret 2013

iscab.saptocondro

via suka duka iscab di bremen http://iscabremen.blogspot.com/2013/03/paska-stress.html

Ada yang belum pindah karena menunggu momen yang tepat. Kira-kira bisa tebak dari judul di bawah, momen seperti apa yang tepat.

Judul-judul yang belum pindah:

Ulang Tahun
(ditulis 17 Agustus 2007)

Selamat Natal 2007
(ditulis 25 Desember 2007)

iscab tak ingin gaptek lagi

Blogs ini dibuat ketika aku sedang belajar teknologi modern, termasuk ICT (Information and Communication Technology). Teknologi berkembang pesat, beberapa orang termasuk aku termasuk kaum gagap teknologi.

Dalam teknologi informasi, ada istilah “Digital Immigrant” yang artinya orang-orang yang dulunya kaga kenal dunia digital, namun jaman sekarang harus menggunakan berbagai macam teknologi dan perangkat digital.

Semoga blogs ini bisa jadi salah satu bacaan bagi para gaptek dan para Digital Immigrant. Entah akan menjadi bahan renungan maupun menjadi panduan teknologi.

Judul-judul yang pindah:

Windows Vista dan Bugs
(dari sini, ke situ)

Another Bug in Vista
(dari sini, ke situ)

Matlab Mengangap
(dari sini, ke situ)

Berjuang untuk beasiswa

Blogs ini dibuat untuk menceritakan pengalamanku memperjuangkan beasiswa plus sedikit tips.

Judul-judul yang pindah:

Pengalamanku dengan Beasiswa
(dari sini, ke situ)

Tips Mencari Beasiswa ke luar negeri
(dari sini, ke situ)

suka duka iscab di bremen

Blogs ini kupakai untuk menceritakan suka duka dalam hidup dan studi di Bremen, Jerman.

Judul-judul yang pindah:

Antara aku, kafein, dan tugas kuliah
(dari sini, ke situ)

Kuliah Hari Ini
(dari sini, ke situ)

Beda ITB dengan Uni Bremen
(dari sini, ke situ)

Satu hal yang bikin aku suka Jerman
(dari sini, ke situ)

Buruh…
(dari sini, ke situ)

Sepak Bola Eropa 2008 – sebelum Jerman dan Turki bertanding
(dari sini, ke situ)

Cinta Sapto Condro (iscab)

Blogs ini, kupakai untuk menceritakan kisah cintaku dan mengungkapkan opiniku tentang cinta.

Judul-judul yang pindah:

Cinta tak harus memiliki?
(dari sini, ke situ)

Laki-laki Patah Hati
(dari sini, ke situ)

Visi 2030
(dari sini, ke situ)

Mencari jodoh butuh biaya
(dari sini, ke situ)

Player
(dari sini, ke situ)

CerMan IndoBremen
(dari sini, ke situ)

Tentang Mantan
(dari sini, ke situ)