Skip navigation

Tag Archives: politik

Aku sedang belajar mengerti survei politik. Sekarang ada banyak lembaga survei politik di Indonesia. Yang tercatat di KPU berjumlah 56 lembaga. Mereka menyelenggarakan survei untuk kepentingan pemilu legislatif, pemilu presiden, pemilihan gubernur serta pemilihan walikota atau bupati. Sebagian survei mendapat dana dari universitas, media pers, dunia internasional, dll yang relatif netral dalam politik. Sedangkan sebagian lain mendapat dana dari partai politik atau dari tim sukses calon yang akan dipilih.

Selain mengadakan survei menjelang Pemilu, lembaga-lembaga tersebut juga melakukan “exit polls” dan “quick count”. Tujuannya adalah memperkirakan persentase suara pemilih. Sayang sekali, metode hitung cepat yang dipakai belum bagus memperkirakan jumlah kursi yang akan didapat dalam parlemen.

Alasanku belajar mengerti survei politik adalah untuk mengetahui hal-hal ilmiah seputar kegiatan ini:

  • Bagaimana penggunaan kaidah statistika digunakan?
  • Bagaimana cara pengambilan sampel?
  • Apa yang terjadi jika data asimetris?
  • Masih layakkah asumsi distribusi normal atau Gaussian dipakai?
  • Mengapa metode yang ada mampu memperkirakan suara pemilih tapi belum bisa memperkirakan jumlah kursi di parlemen?
  • Mungkinkah ada algoritma lain yang bisa dipakai untuk memperkirakan proporsi suara dan jumlah kursi, walau data asimetris? Terutama menggunakan pengetahuan mengenai sistem dinamika dan aljabar linear, yang lebih sesuai dengan bidangku sebagai Control Engineer.

Sebelumnya, aku sudah menulis tentang bagaimana cara pengambilan sampel pada survei politik, jika menggunakan kaidah statistik. Tulisan tersebut ada pada blogku yang lain: “Pemilu Indonesia: Survei, Quick Count dan Exit Polls“. Pada tulisanku terdapat sedikit informasi mengenai cara pengambilan sampel menggunakan metode acak berjenjang/bertingkat (stratified random sampling), akan tetapi tidak ada contoh. Kali ini, aku akan menunjukkan beberapa slide presentasi dari 4 lembaga survei yang berisi contoh-contoh tersebut.

***

Survei Nasional Saiful Mujani Research & Consulting
(26-29 Maret 2014)

slide

Penggunaan stratified random sampling dapat dilihat pada halaman 3-9 slide di atas.

***

Survei Nasional CSIS
(7-17 Maret 2014)

slide

Penggunaan metode acak bertingkat dapat dilihat pada halaman 2 slide di atas.

Yang menarik dari kesimpulan CSIS adalah kejujurannya dengan mengatakan bahwa banyak pemilih yang masih ragu-ragu, sehingga pilihannya bisa berubah. Ada pula pemilih yang belum punya pilihan. Ini sesuai hasil survei mereka pada halaman 5-7 slide di atas.

Lembaga survei lain terlalu berani menyimpulkan kalau partai yang satu akan menang telak dan bisa mencalonkan Presiden tanpa koalisi sedangkan ada partai lain akan tidak lolos ambang batas 3,5%. Padahal hasil survei jelas menunjukkan ada persentase tinggi untuk yang belum memiliki pilihan.

Ini menunjukkan kualitas penelitian CSIS dengan kualitas penelitian lembaga lain.

***

Jajak pendapat dari Focus Survei Indonesia
(3-21 Januari 2014)

slide

Penggunaan metode acak berjenjang (multistage random sampling) dapat dilihat pada halaman 5-9 slide di atas.

***

Survei Vox Populi
(9-23 Desember 2013)

slide

Penggunaan metode acak berjenjang (multistage random sampling) dapat dilihat pada halaman 3-6 di atas.

***

Begitulah contoh-contoh penggunaaan metode acak berjenjang/bertingkat yang biasa disebut “multistage random sampling” atau “stratified random sampling”. Dengan metode ini, perkiraan suara mengikuti asumsi distribusi populasi penduduk yang tersebar secara geografis dan gender.

Bremen, 21 April 2014

iscab.saptocondro

Sapto Condro Serius http://saptocondro.blogspot.com/2014/04/belajar-mengerti-survei-politik.html

Advertisements

Setelah merenungkan ideologi politik apa yang perlu kuanut, akhirnya aku memilih suatu ideologi bernama “Kiri Payun”.

Kata “kiri payun” berasal dari bahasa Indonesia “kiri” dan bahasa Sunda “payun”, yang artinya “depan” dalam Bahasa Indonesia. Dengan ideologi ini, aku memilih pergerakan di kiri dan arah ke depan. Kalau banyak membaca buku Marx, Engels, dan Trotski tentang revolusi permanen, gerakan “kiri payun” bersifat progresif revolusioner. Progresif yang bergerak ke depan dan revolusioner yang kiri. Dalam gerakan sosial, ekonomi, dan politik, “kiri payun” terinspirasi oleh Marxisme dan variannya.

Kata-kata “kiri payun” ini digunakan oleh orang di Jawa Barat dan Banten di Indonesia ketika dalam angkot ingin turun. Ideologi kiri payun juga berhubungan dengan angkot (angkutan kota). Penganut ideologi ini mengedepankan penggunaan kendaraan umum daripada kendaraan pribadi. Kendaraan umum memiliki keunggulan berupa bahwa dia bisa digunakan oleh masyarakat umum secara bersama-sama. Kebersamaan ini bisa diresapi maknanya dari pidato Soekarno “Lahirnya Pancasila” tentang gotong royong (lihat sini).

Kendaraan pribadi itu tidak ramah lingkungan. Dia serakah akan lahan parkir. Kendaraan pribadi menghabiskan lebih banyak waktunya di tempat parkir daripada dipakai jalan. Selain itu, kendaraan pribadi berperan besar dalam kemacetan. Pengurangan kendaraan pribadi bisa mengurangi polusi lokal. Sebagai penganut ideologi “kiri payun”, aku juga bersifat progresif revolusioner dalam gerakan lingkungan hidup secara praksis dan teori. Sisi environmentalisme dalam “kiri payun”, bersifat eco-sosialist.

Karena “kiri payun” berhubungan dengan angkot. Penganut ideologi ini perlu mempelajari sifat-sifat angkot, terutama di wilayah Jawa Barat dan Banten. Angkot bersifat adaptif, dalam artian berhentinya bisa di mana saja. Jalur angkot juga bisa berubah ketika tiba-tiba jalan ditutup atau penumpang tinggal sedikit kemudian sopir dan penumpang membuat kesepakatan mengenai jalur angkot. Dari sini, kita bisa ambil sisi pragmatisme gerakan politik “kirip payun”. Selain itu, kita bisa mengambil sisi ekologis dari gerakan kiri payun, terutama tentang self-organizing ecology. Ketika suatu sistem ekologi berubah, contoh jalan ditutup, angkot bisa melakukan “self organizing” untuk memilih jalur lain. Penganut ideologi kiri payun harus sadar sosial ekologi.

Kiri payun berasal dari dua bahasa, yaitu Indonesia dan Sunda, menunjukkan bahwa penganut harus memiliki sifat “think globally, act locally”. Walau menguasai teori-teori yang menjadi pandangan dunia (Weltanschauung/world view), gerakan praksis selalu bersifat lokal. Gerakan politik harus mulai dari sesuatu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Seperti kata Aa Gym, dimulai dari yang kecil, dari diri sendiri, dan dari sekarang, penganut “kiri payun” memulai gerakan dengan membentuk sikap hidup dan gaya hidup pribadi. Sesuatu ideologi politik harus bersifat personal.

Gerakan kiri payun juga terinspirasi oleh kata-kata seorang feminis Carol Hanisch, “The Personal is Political” (baca ini). Gerakan politik tak bisa terpisahkan dengan hal-hal personal. Beberapa hal personal seperti identitas, seks, pilihan penampilan, dll tak terpisahkan dengan politik. Bagaimana seseorang berpenampilan diatur dengan Perda jilbab di beberapa wilayah di Indonesia. Peraturan daerah adalah hasil proses politik dan bagaimana seseorang berpakaian adalah masalah personal. Larangan berambut mohawk di Aceh yang mengakibatkan penggundulan paksa adalah contoh lain mengenai kehidupan personal dan dunia politik tak bisa dipisahkan. Gerakan kiri payun bersifat sadar dan kritis terhadap politik identitas.

Ignatius Sapto Condro Atmawan Bisa Serius Santai

Blogs ini kupakai untuk menyuarakan kepedulianku dalam bidang pendidikan, sosial, politik, dan kebudayaan. Blogs ini diharapkan untuk kuisi dengan tulisan yang lebih runut dan lebih baik daripada blogs yang satunya lagi.

Judul-judul yang pindah:

Salam
(dari sini, ke situ)

Secara Gila
(dari sini, ke situ)