Skip navigation

Monthly Archives: October 2012

This blog is under construction because some of the automatization processes are acquired by Twitter.

 

Advertisements

Teringat pesan dari seorang intelijen Melayu.

Jika suster yang seharusnya ngesot bisa keramas, maka pocong bisa cukur ketiak sambil lompat-lompat. – SuaraIntel

Nah, kali ini aku ingin bercerita lagi tentang Kuntilanak. Aku mendengar cerita di kota Nürnberg ini, ada Kuntilanak Merah. Aku kira dia hanya beredar di sekitar kampus perguruan tinggi negeri Depok, tempat Si Mbah kuliah. Ternyata di suatu asrama mahasiswa di Nürnberg ini, aura merah Mbak Kunti ini bisa dirasakan oleh beberapa orang.

Di apartemenku, memang sempat kudengar tangisan perempuan di balik pintu seperti yang telah kuceritakan dulu. Tapi dia bukanlah “La Roja”, Kuntilanak Merah. Dia hanyalah tetanggaku. Kejadian tersebut membuatku merenungkan suatu lagu atau tembang, tentang Kuntilanak. Terkadang kulakukan pula ritual mandi kembang tengah malam untuk mencari inspirasi.

Suatu hari, tanpa diduga, kawanku meminta lagu untuk membuat Kuntilanak Merah bisa bergoyang bagaikan Ayu Ting Ting menari  Geol Mujaer yang mistis. Sel-sel otak kawanku ini mungkin keracunan thesisnya di bidang Neural Network untuk menentukan harga menginap di hotel. Mungkin dia berharap hotel-hotel tersebut bisa menguntungkan secara ekonomis jika ada goyangan Kuntilanak. Apalagi kalau warnanya merah, bagaikan lampu red light district di Jalan Frauentormauer, Nürnberg (foto).

Seperti kata James Redfield, dalam bukunya: “The Celestine Prophecy”, kita harus tetap waspada terhadap peristiwa kebetulan (wiki:en,de). Pada suatu kejadian kebetulan, ada kawan meminta lagu untuk membuat Kuntilanak bergoyang. Lalu ada kejadian kebetulan lagi, ada informasi intelijen gaib tentang kidung Kuntilanak. Namanya Kidung Lingsir Wengi.

Pada kebetulan lain, kutemukan Kidung Lingsir Wengi di Youtube. Tembang yang memuat mistisme Jawa. Namun kawanku lebih minat suatu tembang Kuntilanak dengan mistisme Cirebon, sesuai dengan hasil kontemplasiku ketika mandi kembang tengah malam tadi. Hal ini dikatakan kawanku dalam perjalanan kerja dari Nürnberg, menuju Erlangen, untuk kemudian sampai Herzogenaurach.

Sebagai pahlawan pembela kebetulan, aku menemukan kebetulan lagi. Kutemukan lagu tentang Kuntilanak dengan semangat Cirebonan, dari Cucun Novia. Judulnya “Waru Doyong”. Seperti yang sudah kuceritakan dulu, pohon yang miring karena sering diduduki Kuntilanak disebut waru doyong. Jika penonton MTV disebut “Anak Nongkrong” dan pemilik Trans Corp disebut “Anak Singkong”, maka Mbak Kunti yang di pohon waru doyong disebut “Kuntilanak Nongkrong”.

Mari kita bandingkan lagu untuk Kuntilanak dengan mistisme Jawa Tengah dan mistisme Cirebon. Entah lagu mana yang bisa membuat Kuntilanak Merah bisa bergoyang.

Lingsir Wengi:

Waru Doyong, dari Cucun Novia

Di blog lain, aku akan bercerita lebih lanjut tentang Kuntilanak berambut gondrong, makan singkong, sama King Kong, dari Hongkong, sambil nongkrong, di Waru Doyong. 

Nürnberg, 20 Oktober 2012

iscab.saptocondro

Aku ingat suatu hari di tahun 1999, aku menelpon seorang cewek idaman. Dia teman berolahraga di suatu unit renang di kampus perguruan tinggi negeri di Bandung. Setiap pemanasan, kami berlari bersama sambil mengobrol. Orangnya simpatik, senyumnya asyik. Senyum ramah dengan gigi rapih. Sungguh menarik.

Aku suka menelponnya. Di telpon, suaranya renyah, enak didengar. Begitu merdu saat itu. Dunia begitu indah. Ceritanya selalu menarik. Dia bercerita tentang keluarganya nan jauh di pulau lain. Butuh 48 jam naik bus dan feri untuk sampai sana. Atau 24 jam, yah? Aku lupa. Dia juga bercerita tentang kakaknya yang di Bandung.

Ketika kutelpon dia hari itu. Aku bertanya “Hai si Anunia, ada?”.
Jawaban teman kosnya, “Kaga! Lagi pergi sama Si Monyet.”.
Kubalas “Oh, Si Monyet, kakaknya, yah?”
Teman kosnya, dengan polosnya, menjawab “Si Monyet itu bukan kakaknya, tapi cowoknya.”
Aku pun menjawab “Terima kasih, ya! Titip salam aja.”

Saat itu, aku terbangun dari mimpi indah akan cinta. Aku teringat beberapa kawan yang seangkatan dengan cewek itu, pernah bilang “Si Anunia bukannya udah punya cowok”. Aku terbutakan oleh gairah cinta.

Kemudian kulakukan jurnalisme investigatif. Kuketahui bahwa cewek idamanku ini anak sulung. Jadi kaga mungkin punya kakak. Kulihat juga cowoknya seperti apa.

Aku belajar banyak hal dari pengalaman ini. Pertama, wanita yang ramah dan enak diajak ngobrol, walaupun berkesan mudah nyambung, bukan berarti suka padamu. Sinyal-sinyal pemberi harapan jangan terlalu dipercaya.

Kedua, dengarlah pendapat orang lain tentang orang ini. Cek gosip beredar. Selalu kritis dan kumpulkan informasi.

Ketiga, jika informasi tentang pasangannya, yaitu Si Monyet, sudah terbukti kebenarannya maupun kebetulannya, barulah menentukan pilihan. Apakah menjadi pejuang cinta dengan menyingkirkan Si Monyet dengan cara apapun? Atau menyerah dengan kisah cinta ini untuk mencari yang lain.

Saat itu, keputusanku adalah menyerah, dan mencari cinta yang lain. Ternyata kisah cinta berikutnya jauh lebih menyedihkan, tapi akan kuceritakan di lain waktu.

***

Oh, ya, perasaanku pada masa itu, adalah seperti lagu “Layang-layang” dari Overload Romance. Lagu ini sempat terbawa mimpi di bulan November 2006. Bulan November bukan saja terkenal karena Guns N’ Roses bernyanyi tentang hujan, melainkan bulan ini cewek tadi berulang tahun. Suatu kebetulan yang aneh. Padahal 7 tahun telah berlalu dan telah banyak wanita singgah di hatiku selama rentang waktu tersebut.

Di tahun 2008, satu bulan setelah November, tiba-tiba lagu “Layang-layang” terunggah di Youtube. Saat itulah masa-masa aku melewati lembah yang bernama “Valley of Shit”. Bangkrut dan kesepian di musim dingin. Kebetulan yang aneh lagi. 

Namun lagu “Layang-layang” akan tetap kudendangkan untuk menyemangatiku tahun-tahun berikutnya. Aku dilahirkan untuk menertawakan tragedi masa lalu dan musik adalah salah satu caraku untuk tertawa. Mari dengarkan lagu ini.

Dia bilang padaku bahwa dia sayang aku
Dia juga bilang bahwa dia cinta padaku
Tapi mengapa bila sayang kau tetap jalan dengan dirinya
Juga mengapa bila cinta kau tetap menjadi kekasihnya

Sudah sudahlah.. aku bukan layang-layang
Sudah sudahlah.. aku bukanlah mainan

Orang bilang cinta itu adalah sebuah pilihan
Tapi aku olehmu seolah bila dibuang sayang
Lalu mengapa bila sayang kau tetap jalan dengan dirinya
Juga mengapa bila cinta kau tetap menjadi kekasihnya

Sudah sudahlah.. aku bukan layang-layang
Sudah sudahlah.. aku bukanlah mainan

Nürnberg, 14 Oktober 2012

iscab.saptocondro

 

 

Ini adalah uji coba menulis blog ini menggunakan perangkat genggam. Katanya alat ini sudah secerdas Doktor, sedangkan aku belum pernah studi doktoral.

Padamkanlah gaptekku!

Nürnberg, 6 Oktober 2012

iscab.saptocondro