Skip navigation

Tag Archives: pendidikan

Posting kali ini bukanlah tentang kredit perbankan atau kuliah dengan meminjam uang dari bank atau lembaga asuransi. Posting ini tentang sistem kredit dalam dunia perkuliahan. Di Indonesia, kita mengenal Satuan Kredit Semester (SKS, wiki: id,en,de). Di Eropa, ada European Credit Transfer System (ECTS, wiki: en,de). Untuk bisa melakukan pertukaran pelajar antar universitas, dikenal istilah “transfer kredit”. Dengan ECTS, universitas di Eropa yang mengikuti perjanjian Bologna (wiki: en,de) dapat mengadakan pertukaran pelajar antar negara di Eropa, contohnya adalah dengan program Erasmus (wiki: en,de).

Indonesia juga mulai merintis bagaimana membuat suatu sistem tranfer kredit kuliah yang bisa membuat kemudahan dalam pertukaran pelajar antar negara. Beberapa universitas di Indonesia, seperti Universitas Gadjah Mada (UGM), tergabung dalam ASEAN University Network (AUN, wiki: en,de). Sejak 2005, sistem transfer kredit antar anggota AUN telah dirintis. Pada tahun 2009, ada ASEAN Credit Transfer System (ACTS). Penjelasan ACTS bisa dibaca dari link dari Universitas Indonesia (UI): ACTS UI.

Selain ACTS, ada pula UCTS untuk negara Asia Pasifik. UCTS itu singkatan dari UMAP Credit Transfer System (wiki: en). Sedangkan UMAP adalah University Mobility in the Asia and Pacific (wiki: en).

Slide dari Pak Gatot Hari Priowirjanto, tahun 2011, berikut menggambarkan perkembangan ECTS, UCTS, dan ACTS. Pada slide, ada visi untuk membuat South East Asia Credit Transfer System (SEA CTS), berdasarkan program transfer kredit SEAMEO RIHED. Profil Pak Gatot HP bisa dilihat di wp gatothp, fb profil gatotpriowirjanto, dan fb page Gatot Hari Priowirjanto.

Menarik juga, kalau semua perguruan tinggi di Indonesia bisa mudah melakukan pertukaran pelajar. Ada sistem kredit semester yang diakui oleh dunia internasional: beban studi (jam/kredit), penilaian (A,B,C, dll), kurikulum, dll. Sampai sekarang Dikti belum terlalu serius mengembangkan ini. Perjalanan masih panjang!

Bremen, 21 April 2014

iscab.saptocondro

Berjuang untuk Beasiswa http://iscabeasiswa.blogspot.com/2014/04/transfer-kredit-kuliah.html

Advertisements

The complete posting can be seen on my other blog.

I found a good slide about reading after I read Christopher Dawson‘s article. This slide tell us that you need a prior knowledge to understand what you read. This slide explains why reading strategies (in language courses) cannot help you in reading comprehension test like in school exams, TOEFL, IELTS, FCE, CAE, Test DaF, Zertifikat Deutsch, DSH and many other language test. Reading comprehension requires prior knowledge.

Knowledge matters to reading. That sentence is mentioned in the slide. I have a friend, called Rudolf Surya Bonay, who has done DSH test (a German language test for entering university). He did the test well because he had a feeling that World War II would be in the exam. He searched information about the war in the internet. The language test had indeed a lot of question about the war because there was 60 years celebration of the end of World War II at that time. Another sentence in the video is “Knowing the subject makes you good reader“.

After watching the slide, I realised that reading religious text (like Bible, Quran, and so on) could have the same problem. People have different prior knowledge so they interpret religious text differently. For example, I have no experience of being a shepherd, planting figgs, killing people from another religion and so on. The people (or society) who “teach” me religion (and/or theory about religion) give me some experience or knowledge which make me different from other people on other part of the world. My religious believe is not the same as other. It is a pity that there is a group of religious people forcing others to believe what they believe.

Back to the slide, at the end there is a sentence “Teaching content is teaching reading“. Enjoy it!


***


***

Additional information can be seen here.

Ignatius Sapto Condro Atmawan Bisa Serius Santai

Blogs ini kupakai untuk menyuarakan kepedulianku dalam bidang pendidikan, sosial, politik, dan kebudayaan. Blogs ini diharapkan untuk kuisi dengan tulisan yang lebih runut dan lebih baik daripada blogs yang satunya lagi.

Judul-judul yang pindah:

Salam
(dari sini, ke situ)

Secara Gila
(dari sini, ke situ)