Skip navigation

Hari ini hari Selasa. Dulu aku lahir hari Selasa.

Bremen, 6 Desember 2016

iscab.saptocondro

Selain mengirim kartu pos kepada orangtuaku di bulan Mei 2016, aku juga mengirim kepada mantanku. Beginilah kartu pos tersebut.

Kartu pos untuk mantan, dari Bremen, 9 Mei 2016

Awalnya aku ingin hadir acara mantanku di Bandung. Akan tetapi selama Mei, aku harus sibuk dengan poster konferensi ilmiah dan juga mempersiapkan packing barang untuk terbang ke tempat konferensi di USA. Jadi hanya kartu pos saja yang bisa mewakili kehadiranku.

Bremen, 5 Desember 2016

iscab.saptocondro
P.S. Aku juga mengirim kartu pos dari San Francisco yang tidak sempat kuscan atau kufoto

Kartu Kirim Kasih — http://kartukirimkasihiscab.blogspot.com/2016/12/kartu-pos-untuk-mantan-kirim20160509.html
posted on December 05, 2016 at 02:14AM in the year of Chinese Yang Red Fire Monkey and Javanese Lalana / Je.

Suatu hari di awal Mei, aku berpikir untuk mengirim kartu pos secara rutin kepada orang tuaku (dan keluarga besar serta kawan-kawanku). Pesan digital mudah dihapus dengan telunjuk dan jempol sedangkan pesan tertulis di kertas harus dihempas ke tempat sampah secara fisik kalau mau dilupakan.

Aku juga berpikir untuk menyimpan gambar-gambar menarik pada kartu pos yang kukirim, beserta pesan yang kutulis di baliknya. Berhubung aku berpengalaman dalam kehilangan (12 tahun) data di harddisk, jadi lebih baik pesan dan gambar kutaruh di tempat umum saja, yaitu blog ini.

Selalu ada yang pertama untuk segala sesuatu. Kartu pos berikut inilah yang pertama mengisi blog ini.

Kartu pos untuk Bapak dan Ibu, dari Bremen, 9 Mei 2016

Pada kartu pos, aku ingin bercerita mengenai kehidupan doktoralku yang suram tapi tak ingin membuat kedua orangtuaku kuatir. Aku hanya bercerita sedikit tentang topikku dan perasaanku. Ukuran kartu pos terbatas. Gambar pada kartu pos adalah tentang Cuxhaven, kota pantai di Niedersachsen, Jerman. Aku sempat berjalan-jalan ke sana dan makan salmon panggang.

Bremen, 5 Desember 2016

iscab.saptocondro

Kartu Kirim Kasih — http://kartukirimkasihiscab.blogspot.com/2016/12/kartu-pos-untuk-ayah-bunda-kirim20160509.html
posted on December 05, 2016 at 01:54AM in the year of Chinese Yang Red Fire Monkey and Javanese Lalana / Je.

Suatu hari di awal Mei, aku berpikir untuk mengirim kartu pos secara rutin kepada orang tuaku (dan keluarga besar serta kawan-kawanku). Pesan digital mudah dihapus dengan telunjuk dan jempol sedangkan pesan tertulis di kertas harus dihempas ke tempat sampah secara fisik kalau mau dilupakan.

Aku juga berpikir untuk menyimpan gambar-gambar menarik pada kartu pos yang kukirim, beserta pesan yang kutulis di baliknya. Berhubung aku berpengalaman dalam kehilangan (12 tahun) data di harddisk, jadi lebih baik pesan dan gambar kutaruh di tempat umum saja, yaitu blog ini.

Selalu ada yang pertama untuk segala sesuatu. Kartu pos berikut inilah yang pertama mengisi blog ini.

Kartu pos untuk Bapak dan Ibu, dari Bremen, 9 Mei 2016

Pada kartu pos, aku ingin bercerita mengenai kehidupan doktoralku yang suram tapi tak ingin membuat kedua orangtuaku kuatir. Aku hanya bercerita sedikit tentang topikku dan perasaanku. Ukuran kartu pos terbatas. Gambar pada kartu pos adalah tentang Cuxhaven, kota pantai di Niedersachsen, Jerman. Aku sempat berjalan-jalan ke sana dan makan salmon panggang.

Bremen, 5 Desember 2016

iscab.saptocondro

Kartu Kirim Kasih — http://kartukirimkasihiscab.blogspot.com/2016/12/kartu-pos-untuk-ayah-bunda-kirim20160509.html
posted on December 05, 2016 at 01:54AM in the year of Chinese Yang Red Fire Monkey and Javanese Lalana / Je.

Suatu hari di kantin mahasiswa di Universitas Bremen, aku mengobrol dengan mahasiswi jurusan Sosiologi. Ia sedang membuat tugas tentang “harga diri” (wiki: en.de), yang dalam bahasa lain biasa disebut “Würde” (Jerman), “Dignity” (Inggris), “Dignitas” (Latin), atau “Marwah” (Arab). Ia harus mengetik makalah 8 halaman tentang harga diri dan juga membahas dengan rekan-rekan kuliahnya. Sedangkan aku hanya lagi makan bareng dengannya.

***

Suatu hal yang menarik dari harga diri adalah ia tidak kelihatan tapi ada. Harga diri adalah suatu bagian dari jati diri manusia, baik sebagai suatu pribadi maupun sebagai makhluk sosial. Harga diri manusia terikat dengan identitas manusia tersebut: dari mana ia berasal, apa agama yang dipilihnya, bagaimana bentuk tubuhnya secara biologis, apa suku, bangsa, dan kewarganegaraannya, apa orientasi seksualnya, dan bagaimana status pernikahannya.

Walau tidak kelihatan, harga diri seorang individu kalau dikumpulkan bisa menjadi harga diri suku, harga diri kampung, hingga harga diri bangsa. Termasuk juga harga diri suatu umat beragama.

Harga diri suatu bangsa yang membuat manusia rela berkumpul, berjuang bersama membentuk suatu bangsa dan juga negara. Namun harga diri bangsa juga bisa memecah suatu negara supaya bangsa tersebut bisa berpisah demi membuat negara lain yang baru.

Berbeda dengan tubuh fisik, yang terluka ketika mendapat kekerasan fisik, seperti dianiaya, harga diri tidak butuh kekerasan fisik untuk terluka. Hanya butuh kata-kata atau mungkin hanya gambar tanpa kata-kata, untuk membuat harga diri terluka. Sekali lagi kutekankan, harga diri itu ada, walau tiada bentuk yang terlihat atau bisa dipegang.

Harga diri yang terluka bisa membuat orang berkumpul dan melakukan protes ketika ada tokoh politik yang membuat komentar tidak menyenangkan tentang agama. Berkumpul bersama dan menunjukkan sikap atau pendapat di khalayak umum untuk memperjuangkan harga diri dan berkata lantang bahwa harga diri kami terluka oleh kata-kata atau tindakan seorang pemimpin adalah hak yang diakui oleh undang-undang banyak negara dan juga oleh berbagai perjanjian internasional dan deklarasi universal hak asasi manusia.

***

Sebagai seorang pemimpin hendaklah seseorang menjaga kata-katanya untuk tidak melukai harga diri manusia. Sebagai seorang netizen hendaklah seseorang tidak mengedit kata, gambar, dan video untuk provokasi sehingga makin banyak harga diri yang terluka. Sebagai seorang yang harga dirinya terluka, hendaklah protes secara strategis dan tidak melakukan hal-hal bodoh yang membahayakan diri sendiri dan orang lain, serta malah melukai harga diri orang lain. Sebagai seorang yang tidak ikut protes karena merasa harga dirinya baik-baik saja, juga hendaknya tidak mencemooh mereka yang sedang berduka dan berkabung karena harga diri terluka.

Setiap orang harus menemukan dirinya sendiri yang merupakan bagian dari sesamanya. Semoga di sana, ia menemukan bahwa harga dirinya adalah harga diri sesamanya. Menjaga dan menghormati harga diri sesama manusia akan pula menjaga dan menghormati harga diri sendiri.

Bremen, 5 Desember 2016

iscab.saptocondro

Sapto Condro Serius — http://saptocondro.blogspot.com/2016/12/harga-diri.html
posted on December 05, 2016 at 01:05AM in the year of Chinese Yang Red Fire Monkey and Javanese Lalana / Je.

Koneksi adalah suatu hal penting.

Bremen, 25 Oktober 2016

iscab.saptocondro

Aku lagi belajar instagram: cara melekat (embedding). Semoga sukses.

Chay Box

A photo posted by iscab.saptocondro (@iscab) on

Bremen, 25 Oktober 2016

iscab.saptocondro