Skip navigation

Aku masih bingung kenapa orang sering menyalin tulisan orang lain. Baiklah, aku tahu mereka menyalin karena tidak punya kreativitas untuk membuat tulisan sendiri. Ada juga yang menyalin dengan cara shake and paste lalu ditampilkan di media pers resmi demi honor tulisan. Ada juga yang mencuri tulisan supaya blog terasa penuh content, lalu dipakai untuk membangkitkan iklan (dan traffic, dengan teknik SEO).

Intermezzo: Aku juga tidak kreatif dalam membuat gambar, jadinya aku kadang mencomot gambar dari Google untuk mengisi blog ini. Kalau asal-usul gambar jelas, aku cantumkan sumbernya. Aku juga tidak mengambil keuntungan dari semua tulisan blog.

***

Beberapa orang menggunakan anti right click, supaya tulisan di blog mereka tidak disalin. Masih bisa diakali sih. Bagi banyak orang, tulisan itu seperti anak sendiri. Menyalin tulisan seperti menculik anak dari pemiliknya. Sudah dilahirkan dengan susah payah, dicuri orang lain, lalu dipakai keuntungan komersial. Semua tulisanku adalah milik publik, lebih tepatnya milik blogspot dan wordpress. Mereka bisa menghapus tulisanku. Aku pun sedih kalau anakku dibunuh. Tapi aku tetap menulis untuk khalayak ramai, bukan untuk kepentingan komersial. Tiada iklan yang kupakai untuk kepentinganku. Semua iklan adalah milik blogspot dan wordpress. Aku menulis untuk mencapai keabadian, bukan untuk kepentingan ekonomi, Jadi aku masih merelakan para plagiat menyalin tulisan-tulisanku di blog yang sebetulnya tidak terlalu bermakna.

Kali ini, aku ingin membicarakan tulisanku yang disalin oleh orang lain. Tulisan tentang “tips mencari beasiswa” pernah disalin dan diedit lalu tampil di surat kabar. Tulisanku tersebut tidak kupakai untuk mencari keuntungan pribadi. Penyalin menggunakannya untuk dapat honor. Teknik menyalin yang dipakainya adalah “Shake and Paste”. Lumayanlah masih ada “shake”, alias diedit dikit.

Tulisanku yang lain yang disalin adalah “Goyang Kuntilanak Merah“. Tulisanku ketika di Bayern ini disalin dengan cara “Copy and Paste” mentah-mentah teksnya. Yang digoyang sedikit adalah font tulisan. Judul diganti menjadi “Goyang Dahsyat Kuntilanak Merah“. Penyalinan tulisan kuduga menggunakan bots, hanya judulnya yang diutak-atik oleh manusia. Penyalin memiliki 37 jenis iklan di blognya. Selain itu, teknik SEO yang dipakainya bisa menempatkannya di halaman awal Google. Betul-betul blog komersial.

Aku tak menyangka mengapa Kuntilanak yang bergoyang bisa menarik untuk disalin. Padahal goyang Higgs Boson lebih menarik. Atau goyang gelombang gravitasional juga masih lebih keren. Yah, mau apa lagi. Kita hidup di zaman ketika tulisan salinan lebih mudah muncul di Google Search Engine dan Yahoo News aggregator, daripada tulisan aslinya. Juga zaman ketika video asli Angklung Hamburg bermain “Indonesia Pusaka” di Youtube kalah jumlah view dengan video plagiatnya. Bagi orang yang suka originalitas sepertiku, ada rasa sebak di dada menghadapi situasi ini. Menyalin itu hendaknya mencantumkan sumber aslinya (dan sebaiknya minta izin kalau ada copyright).

Selamat bersalin dan menyalin!

***

Definisi:

Persalinan adalah proses bersalin, yaitu proses melahirkan anak. Bagi beberapa orang, kegiatan kreatif untuk menghasilkan tulisan, gambar, karya seni, kriya, thesis, dll itu seperti proses kehamilan dan persalinan. Ada masa-masa kreatif yang bikin galau dan emosi tidak stabil seperti orang hamil. Masa-masa melahirkan tulisan atau karya kreatif itu seperti proses persalinan, ada rasa pedih dan sakit. Ketika tulisan sudah lahir, ada masa-masa baby blue.

Penyalinan adalah proses menyalin. Beberapa kegiatan menyalin bisa dikatakan plagiat, ketika ia tidak mencantumkan sumber yang disalin. Pada beberapa kegiatan penyalinan juga selain mencantumkan sumber juga butuh izin dari sumber.

Kuntilanak atau Pontianak adalah sosok serupa wanita berambut panjang. Dalam masyarakat patriarkis, wanita menjadi subordinat dari pria. Hanya dengan kekuatan gaib, sosok wanita bisa ditakuti oleh pria. Jadilah wanita yang kuat, menjadi Kuntilanak. Untuk menghapuskan kuntilanak, harus ada revolusi. Masyarakat patriarkis harus dihapuskan sehingga kesetaraan antara pria dan wanita tercapai, maka mitos Kuntilanak akan hilang dengan sendirinya dari kesadaran masyarakat.

Rintihan Kuntilanak, adalah lagu dari The PanasDalam. Aku akan mencoba bikin cover lagu ini di youtube. Tunggu tanggal mainnya aja.

Merah marun, adalah warna merah seperti biji marun atau maroon atau kastanya. Marun yang bisa bermain musik, disebut sebagai Maroon Five. Di sana, ada mas Adam yang bisa menyanyi melengking. Tapi lengkingannya masih kalah efeknya dengan cekikikan Kuntilanak. Yang lagi ngetrend adalah Misteri Tahu Bulat bersama Mas Adam Levine.

Segitiga Merah Marun adalah judul lagu dari The PanasDalam. Lagu ini membuatku terharu, mengingat masa-masa sekolah dulu ketika aku masih lugu.

Kuntilanak Merah Marun Bersalin Merintih adalah usaha kreatif menghubungkan kata-kata tidak bermakna menjadi lebih tidak bermakna. Revolusi absurdisme dimulai dari merayakan kehancuran struktur-struktur pembangun makna.

Nyoiii…

Bremen, 16 Mei 2016

iscab.saptocondro

iscablog, euy — http://iscab.blogspot.com/2016/05/kuntilanak-merah-marun-bersalin-merintih.html
posted on May 16, 2016 at 09:26PM in the year of Chinese Yang Red Fire Monkey and Javanese Anama / Jimawal.

Aku sedang berpikir apa yang membuat orang bermotivasi membaca buku, terutama hingga tuntas. Dulu sewaktu SMP, aku bisa menuntaskan satu buku detektif remaja setiap hari. Beralih ke SMA, aku butuh seminggu untuk menyelesaikan buku mirip. Semakin dewasa, kemampuan membaca hingga tuntas makin berkurang. Sepertinya kemampuan membacaku menurun.

Kurenungkan kembali, kalau sewaktu SMA, aku mulai tertarik membaca koran sehingga waktuku untuk membaca buku mulai berkurang. Jadi sebetulnya minat membacaku tidak berkurang. Hanya bacaannya berbeda.

Ketika menjadi mahasiswa di Indonesia, aku juga membeli buku, baik untuk kepentingan kuliah maupun untuk rasa ingin tahu. Buku untuk kepentingan kuliah tidak kubaca tuntas, aku hanya membaca yang penting-penting saja untuk latihan soal dan ujian. Beberapa hal juga tak kumengerti, tapi toh aku bisa lulus kuliah.

Buku-buku untuk kepentingan non akademik juga kubeli. Biasanya aku penasaran dengan suatu buku karena kawan-kawanku mengobrol tentang suatu buku. Jadinya aku (ingin) ikut membaca, supaya “nyambung” kalau kumpul-kumpul. Buku pun kadang kubeli. “Social pressure” ternyata mempengaruhi bacaanku.

Ternyata tidak semua buku yang kubeli bisa tuntas kubaca. Yang tuntas kubaca biasanya buku-buku yang endingnya bikin penasaran atau penuh “element of surprise”, misalnya detektif, misteri, thriller, dll. Buku-buku yang bukan novel yang tuntas kubaca, ternyata adalah buku-buku “kiri”. Jadi bisa kutebak kira-kira buku apa saja yang bisa menggerakkan gairah membaca.

***

Sesampainya di Jerman, aku jarang membeli buku. Alasannya adalah biaya: harga buku relatif mahal dan buku itu berat (kalau pindah rumah) serta buku menghabiskan ruang rak dan kamar. Membuang buku juga pedih rasanya. Seperti ada sebagian jiwa yang harus dilepas ketika aku harus membuang buku. Biasanya aku meminjam buku ke kawan.

Tidak semua buku yang kupinjam atau kudapat, bisa tuntas kubaca dari awal hingga akhir. Ada yang kukembalikan sebelum selesai kubaca tuntas. Ada yang kubaca loncat-loncat untuk tahu kira-kira isinya apa (speed reading). Kurenungkan kembali, kalau buku yang betul-betul tuntas kubaca biasanya bertema feminisme atau “kiri”. Jadi bisa ditebak kira-kira minat bacaku seperti apa.

Karena jarang membeli buku, aku bisa tahu utang membacaku bagaimana. Ada dua buku yang belum tuntas kubaca, yaitu Elizabeth Gilbert “Eat, Pray, Love” dan Rick Warren “The Purpose Driven Life”. Keduanya ada di kamarku karena aku betul memiliki keduanya.

Buku Gilbert tersebut kubeli tahun 2012 dan rencananya ingin kubaca sebelum nonton filmnya. Akan tetapi aku tidak tahan dengan ceritanya yang sepertinya bertele-tele. Aku hanya membaca awalnya saja, lalu kubaca loncat-loncat ala speed reading, kemudian aku menonton filmnya. Tanpa membaca tuntas, aku bisa tahu filmnya berbeda apa saja dengan bukunya. Nampaknya kegalauan wanita tidak membuatku tertarik sama sekali.

Buku Warren (berbahasa Indonesia) dihadiahkan oleh kawanku yang pulang ke Indonesia karena studinya di Jerman berakhir. Aku juga menerima versi asli bahasa Inggris yang digital, via email, dari kawan yang lain. Awalnya aku berminat membaca buku ini supaya lebih “religius” juga demi bertobat dari segala macam kegalauan. Akan tetapi, aku tidak tahan membaca buku ini. Baru tiga bab dari 40, yang bisa kubaca. Sepertinya “Tuhan” bukanlah sesuatu yang cocok untukku.

Sedikit tambahan, “Tuhan yang mati” menurut Nietsche juga salah satu yang tidak tuntas kubaca. Bukunya berjudul “Thus Spoke Zarathustra” dan tersimpan di rumah ibuku di Indonesia. Aku hanya sanggup membaca 3 halaman saja. “Tuhan” betul-betul tidak bisa memotivasiku untuk membaca.

Ada satu buku yang kupinjam dari kawanku, yaitu Karen Armstrong “A History of God”, atau “Sejarah Tuhan”. Buku ini hanya bisa kubaca tiga bab. Lalu aku tidak sanggup lagi. Mungkin ini karena dalam bahasa asli, bahasa Inggris, bukan dari terjemahan bahasa Indonesia. Tapi bisa jadi karena “Tuhan” tak mampu membuatku bergairah membaca.

***

Suatu hari, aku merasakan ranselku terlalu berat kalau harus membawa buku, dalam perjalanan yang harus kutempuh dengan sepeda dan kereta. Aku pun membeli iPad dan membaca buku digital saja. Sebelumnya aku sudah membandingkan tablet apa saja yang cocok untuk membaca buku (dan paper ilmiah) digital. Awalnya aku ingin Android, tapi ukuran di tangan sepertinya tidak pas (dalam volume dan massa). Jadi aku mencoba memilih Apple.

Tujuan awal memiliki iPad adalah supaya aku tidak merasakan tas yang membengkak dan juga berat akibat berlembar paper dan buku. Dua tas sudah jebol selama menjadi mahasiswa doktoral. Akan tetapi, aku sempat mengalami eforia iPad. Alat ini kupakai untuk social media secara berlebihan. Di masa-masa galau riset, aku bahkan sharing berlebihan. Hingga beberapa kawan Jerman meng-unfriend diriku.

Kini kusadari kalau aku memiliki minat membaca akan informasi “kekinian”, yang sering tampil di social media. Tidak lupa kubagi kemudian. Minatku membaca buku, jadi teralihkan ke bacaan singkat dan semi singkat yang terunggah dan terbagi di social media. Sialnya, aku memiliki banyak kawan online, jadi bahan bacaanku terlampau banyak untuk bisa kubaca tuntas.

Aku pun merenungkan, kalau setiap ada postingan tentang suatu hal yang bisa kubaca, aku bertanya terlebih dahulu: apakah bacaan ini berguna untukku saat ini, apakah mengganggu waktuku dalam Dharmaku, apakah kalau membaca ini akan menjadi manusia tercerahkan, apakah ada yang mati kalau aku tidak membaca ini, apakah ada yang gawat dengan kerjaanku kalau aku tidak membaca ini, dll. Jadi aku hanya membaca seperlunya saja.

***

Awal memiliki iPad, aku bertujuan membaca paper ilmiah dan buku-buku yang berhubungan dengan risetku. Akan tetapi aku malah membaca Harry Potter. Sejak iPad kupakai membaca selama perjalananku di kereta, aku sudah menyelesaikan tiga buku Harry Potter. Sedangkan buku-buku ketuhanan dan curhat wanita galau “Eat, Pray, Love” hingga kini belum kuselesaikan. Kini kusadari minatku seperti apa.

OK, aku juga menggunakan iPad untuk membaca Kitab Suci. Ada bacaan harian dari kalender liturgi Katolik dari suatu aplikasi. Awalnya aku mencoba mengunduh aplikasi Alkitab yang sama dengan yang di Android, tapi tidak ada di Apple Store. Aku pun mencari padanan yang mirip. Aku menemukan aplikasi Alkitab yang tampilan dan navigasinya tidak terlalu asyik. Tapi ketika aku lihat bacaan hariannya sama dengan kalender liturgi Katolik, aku pun tertarik. Bacaan harian ini tidak terlalu pendek dan tidak terlalu panjang. Aku pun mempertahankan aplikasi ini di iPad. Perjalanan keretaku kuisi dengan membaca bacaan harian ini.

Tapi kusadari bahwa aku tidak mungkin tuntas membaca Alkitab. Bacaan harian untuk umat itu ayat-ayat yang dipilih otoritas gereja. Ada beberapa hal yang tidak masuk bacaan harian. Beberapa ayat tidak cocok untuk anak bawah umur dan juga kadang tak terlalu berhubungan dengan doktrin gereja yang sehari-hari biasa ditanamkan kepada umat. Jika ingin membaca tuntas, harus mencoba baca sendiri dari awal hingga akhir, tanpa tuntunan bacaan harian.

Oh, ya, aku juga punya aplikasi Al Quran. Secara teoretis, kalau orang membaca 1 juz per hari, dia akan tamat membaca Al Quran dalam 30 hari. Sebulan bisa tuntas. Itu kalau niat membaca. Akan tetapi aku tidak minat membaca tuntas seperti ini. Belum dapat hidayah.

***

Kini kusadari bagaimana minatku dalam membaca. Aku hanya mampu menuntaskan suatu buku dari awal hingga akhir jika aku termotivasi oleh “element of surprise”. Hanya buku-buku dengan tema perjuangan manusia untuk melawan penindasan atau dalam menguak suatu misteri, yang bisa memotivasiku untuk membaca tuntas. Makanya buku-buku “kiri” dan feminis bisa selesai kubaca. Juga buku detektif dan Harry Potter bisa kubaca tuntas dengan lancar.

Bacaan ketuhanan yang kuminati ternyata hanya yang sesuai dengan identitasku, yang Katolik. Aku lebih suka membaca Kitab Suci daripada interpretasi manusia akan Kitab Suci. Ada suatu misteri yang membuatku merenung. Aku memiliki ruang interpretasi yang lebih luas ketika membaca ayat-ayat, daripada membaca buku-buku karangan orang tentang ayat-ayat Kitab Suci dan tentang Tuhan. Tapi di sisi lain, aku hanya berminat membaca bacaan harian yang disodorkan oleh otoritas Gereja Katolik Roma. Aku termotivasi menuntaskan bacaan harian kalau aku yakin itu sesuai flow kalender liturgi dari gereja yang aku percaya.

Kini aku pun berpikir, paper-paper ilmiah apa saja yang tuntas kubaca.

Selamat membaca!

Habisi!

Oldenburg, 21 April 2016

iscab.saptocondro

iscablog, euy — http://iscab.blogspot.com/2016/04/buku-yang-tuntas-kubaca.html

posted on April 21, 2016 at 04:11PM in the year of Chinese Yang Red Fire Monkey and Javanese Anama / Jimawal.

Jaman dulu, aku menulis tentang kuliah di Bremen, ketika aku masih bekerja di Nürnberg, Bayern. Tulisanku dulu adalah tentang kampus di Bremen dan kegiatan orang-orang Bremen. Kini aku kembali tinggal di Bremen, namun aku studi doktoral di Oldenburg, Niedersachsen. Banyak hal yang berubah di Bremen: orang-orangnya, aturan kuliah, dll.

***

Jurusan kuliahku dulu di Universität Bremen berganti nama, dari Information and Automation Engineering (IAE) menjadi  Control, Microelectronics, Microsystems (CMM), mulai 1 April besok (web resmi). Aku pun teringat kalau aku belum melakukan penyetaraan ijazah di Dikti. Kini jurusanku sudah “bubar”.

//platform.twitter.com/widgets.js

Selain itu, lulusan Teknik Elektro ITB tidak bisa lagi mendaftar di jurusan tersebut: CMM Uni Bremen. Masalahnya karena Teknik Elektro ITB tidak terakreditasi di Anabin, suatu lembaga penyetaraan ijazah milik Pemerintah Jerman (web Anabin). Aku beruntung karena lulus ITB dan mendaftar ke Uni Bremen di waktu yang tepat. Adik kelasku terkena masalah akreditasi Anabin ini, jadi pendaftaran ke Uni Bremen ditolak tahun 2015 lalu. Masalah ini terjadi karena Dikti dan atase pendidikan Indonesia di Berlin tidak sistematis melakukan reakreditasi perguruan tinggi di Indonesia ke Anabin. Berat juga jadi Dikti, harus mengurus ribuan perguruan tinggi di Indonesia dan harus mengirim dokumen ke Anabin Jerman, supaya antar universitas bisa mudah pertukaran pelajar, studi lanjut, dll.

Aku hanya bisa berkomentar bahwa suatu sistem yang berhasil hanya karena keberuntungan, bukanlah suatu sistem yang kokoh. Makanya ilmuwan menghitung p-value dan chance level, dalam pekerjaan mereka untuk yakin apakah kerjaan mereka bermakna atau tidak.

***

Satu hal yang perlu kukoreksi dari tulisanku sebelumnya ialah kuliah di Bremen adalah kebijakan putra daerah (Landeskinder). Kini kebijakan ini dihapuskan. Jadinya kini tiada lagi uang kuliah (tuition fee / Studiengebühren) bagi mahasiswa/i yang kuliah di perguruan tinggi negeri di Bremen kalau mereka tinggal di luar negara bagian Bremen, seperti Hamburg atau Niedersachsen. Dulu kawanku yang tinggal di Hamburg harus meminjam nama alamatku di Bremen, supaya tidak bayar uang kuliah Uni Bremen. Kini, ada kawan yang tinggal di Achim, Niedersachsen, lalu kuliah di Hochschule Bremen, tanpa kena aturan uang kuliah non-putra daerah. Jadi kuliah gratis itu menjadi semakin nyata

***

Semakin banyak mahasiswa-mahasiswi di Bremen. Grup-grup masyarakat Indonesia di Bremen juga semakin kompleks:

  • Persatuan Pelajar Indonesia (PPI), di Bremen, yang lebih banyak orang, jadi tiap tahun bisa bikin acara kebudayaan yang penuh warna dan massal secara swasembada. Dulu harus nambah penari dan pemain musik tradisional dari kota lain: Hannover atau Hamburg. Kini PPI Bremen sudah jadi organisasi rapi dan lincah serta mandiri.
  • Keluarga Muslim Indonesia Bremen e.V., dulu kusebut Pengajian Bremen. Kini sudah jadi organisasi terdaftar di Jerman (eingetragene Verein, disingkat e.V.). Kalau bayar amal, zakat, infaq, dan sedekah ke sini, bisa mendapat pengurangan pajak, karena sudah e.V.
    Kini, ada “Ngaji Ibu-ibu Bremen” dan Pengajian Remaja Bremen (PRB) untuk mengisi kebutuhan yang lebih spesifik.
  • Persatuan Kristen Indonesia (Perki) Bremen. Kegiatannya adalah kebaktian oikoumene dan pendalaman Alkitab.
  • Keluarga Mahasiswa Katolik Indonesia (KMKI) Bremen. Yang kini sudah bubar lagi. Tulisanku sebelumnya menyebutkan kalau mereka baru dibentuk. Usianya pendek juga. KMKI Bremen belum mandiri secara organisasi, masih tergantung KKI Bremen.
  • Keluarga Katolik Indonesia (KKI) Bremen. Tiap bulan Mei dan Oktober mengadakan Doa Rosario. Beruntunglah di Bremen, kalau lagi berdoa bersama di rumah keluarga tidak ada FPI dan organisasi semiripnya yang menggerebek.
  • Calon Doktor (Cator) Bremen. Kegiatannya adalah kumpul-kumpul mahasiswa doktoral dan kawan-kawan selingkaran.
  • Persatuan Wanita Indonesia (PWI) Bremen. Kegiatannya adalah arisan, dll.
  • Gowes Bareng Yuk, kelompok bersepeda bareng di Bremen. Kegiatannya tur sepeda antar kota di Bremen dan sekitarnya.
  • Gracioso Chamber Choir (GCC), yaitu kelompok paduan suara Indonesia di Bremen. 
  • Studenten-Bibelkreis Bremen, yaitu klub pendalaman Alkitab mahasiswa/i Bremen (dan sekitarnya) yang merasa Pendalaman Alkitab di Perki Bremen kurang intensif atau kurang greget.
  • Klub gamelan kini tinggal satu, yaitu di Übersee museum Bremen (web museum). Kalau tidak salah, nama klub ini adalah Arum Sih (web). Aku dulu ikut klub lain di Bremen jadi tidak terlalu tahu klub ini.
  • Ada grup mama baru Indonesia di Bremen. Lebih tepatnya grup untuk ibu yang memiliki anak bayi dan balita.
  • Juga ada grup Tempat Penitipan Anak.
  • Masih banyak grup lain di Bremen yang tidak berada dalam radarku.

Aku tidak tahu, cocoknya bergaul di grup mana. Aku sudah sulit bergaul dengan PPI Bremen karena mereka sangat muda, sedangkan aku si tua bangka. Aku masih bergaul dengan Perki Bremen, demi alasan historis romantis dan makanan enak. Sejak tiada Tabak Börse Bremen, aku tidak gabung lagi ke acara Idul Fitri dan Idul Adha bersama Pengajian Bremen, kini bernama Keluarga Muslim Indonesia Bremen e.V.. Aku juga mencoba bergaul dengan Cator Bremen, karena identitasku sebagai mahasiswa doktoral. Beberapa Cator Bremen adalah orang-orang yang kukenal sejak Bremen 1.0. Jadi kini lingkaran gaulku terbatas oleh alasan historis romantis saja. Aku sudah sulit berkenalan dengan orang baru dan mulai susah mengingat nama orang. Aku betul-betul sudah menua.

Tidak berapa lama lagi, angin Bremen bertiup. Akan ada kerjasama lebih erat antara Pemerintah daerah Bremen, Volkhochschule (VHS) Bremen, dan masyarakat Indonesia di Bremen. Semoga kerjasama ini bisa menyatukan orang Indonesia di Bremen lagi, paska “hilangnya” Tabak Börse.

***

Kini ada tiga toko Indonesia di Bremen. Sedangkan aku semenjak mengalami Bremen 2.0 belum pernah belanja di salah satu toko tersebut. Jadinya lokasi pasti ketiga toko tersebut tidak bisa kutulis di posting kali ini.

Vina Store di Am Brill sudah tidak menjadi toko Asia pilihan favorit di Bremen. Kini dekat Hauptbahnhof Bremen juga ada toko Asia lainnya. Aku jarang belanja di toko Asia, karena lidah dan perutku relatif sudah pasrah ter-jerman-kan.

Tempat makan legendaris di Bremen:

  • Tantuni, seperti sudah kusebut di tulisan sebelumnya.
  • Mommy, rumah makan Ibu Afrika, di daerah Bremen-Neustadt. Sambalnya enak tapi berbahaya (nikmat bibir yang bisa membawa pada siksa dubur). Sop kambing serasa gulai Indonesia. 
  • Ali Baba, tempat makan Dürum di Bremen-Neustadt. Tidak bisa dipakai nongkrong, karena kursi terbatas.
  • Sea Moon, rumah makan Asia di Bremen-Viertel. Makanannya variatif. Ada menu babat di sini.
  • Rumah Makan Surabaya, mengandung makanan Indonesia. 
  • dan masih banyak tempat makan lainnya, sesuai selera masing-masing.

Tempat makan di atas, adalah tempat di mana aku bisa berpapasan dengan orang Indonesia, secara kebetulan.

***

Tulisanku sebelumya (part 1), bisa dibaca di “Kuliah di Bremen” (wp) atau “Kuliah di Bremen” (blogger). Terima kasih, telah membaca.

Oldenburg dan Bremen, 31 Maret 2016

iscab.saptocondro

iscab di Bremen Berangin — http://iscabremen.blogspot.com/2016/03/kuliah-di-bremen-part-2.html
posted on March 31, 2016 at 08:37PM in the year of Chinese Yang Red Fire Monkey and Javanese Anama / Jimawal.

Aku sedang memikirkan otomatisasi. Bagaimana caranya supaya aku tidak perlu melakukan pekerjaan secara manual. Aku ingin komputer yang bekerja untukku. Pekerjaanku kali ini berhubungan dengan cara memilih kanal secara otomatis berdasarkan pada suatu respon frekuensi. Termasuk posting ini adalah uji coba otomatisasi.

Semoga hal-hal yang otomatis bisa tepat menuju sasaran.

Bremen, 7 Februari 2016

iscab.saptocondro

iscablog, euy — http://iscab.blogspot.com/2016/02/otomatisasi.html
posted on February 07, 2016 at 02:08AM in the year of Chinese Yin Wooden Goat and Javanese Anama / Jimawal.

Aku teringat masa-masa SMA, ketika aku masih lugu. Yang kupikirkan saat itu adalah menguasai matematika dan fisika, tetapi malah bagusnya di kimia. Karena sibuk mendalami ilmu-ilmu tersebut, aku tidak mengasah kemampuanku dalam memahami perasaan cinta dan romansa. Aku pun selalu culun semasa SMA.

Sewaktu SMA, seseorang begitu lugu dan mudah ditipu. Pria ditipu wanita dan wanita ditipu pria. Apalagi tipuan asmara. Contohnya, Ayu Ting Ting ketika masih SMA, dia bisa ditipu dengan alamat palsu. Teringat pula, kalau aku juga pernah memberikan alamat palsu: seharusnya alamatku di Margahayu Permai, tetapi aku mengaku di Margahayu Raya. Yang satu di Selatan Bandung, yang lain di Timur.

Beginilah Ayu Ting Ting bernyanyi ketika begitu lugunya, mendapat alamat palsu.

Video yang menarik, Ayu Ting Ting masih gadis SMA, dan diduga betulan ting-ting. Dari video, terlihat kalau dia lincah menari, tapi ekspresi wajahnya masih culun. Aktingnya masih jelek depan kamera. Yang asyik dari anak SMA adalah masih fresh dan berani mencoba hal baru. Begitu pun Ayu Ting Ting masa SMA: fresh, lincah, gerak tubuh tidak terkoordinasi karena masih pemula, dan baru masuk “nyemplung” ke industri musik yang kejam penuh dengan ikan hiu.

***

Kini Ayu Ting Ting sudah janda. Walau menyandang nama ting-ting, ia sudah tidak ting-ting lagi. Dia sempat menikah paket kilat. Disebut kilat, karena dalam kurang dari 6 bulan bisa melahirkan anak (wiki: en,id,jv,su). Wanita lain biasanya butuh 9 bulan untuk hamil hingga melahirkan.

Setelah tidak SMA lagi, apakah dia masih bisa tertipu oleh pria? Yang jelas, pernikahannya kandas dalam perceraian dan ia pun menjadi janda, sebulan setelah melahirkan anaknya.

Beginilah Ayu Ting Ting bernyanyi Sambalado, tentang pedasnya bibir seorang pria.

Video yang menarik. Kemampuan menarinya tidak sebaik di lagu-lagu sebelumnya. Sepertinya koreografernya dan sutradara video klip Sambalado tidak merasa video harus dibuat menarik. Produser musik hanya ingin menjual ring tone, jadinya ekspresi musik dalam tarian tidak digarap serius. Namun bisa juga karena Ayu Ting Ting punya masalah dengan tulang belakang atau tulang panggul. Apa pun yang terjadi, tariannya tidak menarik di video tersebut. Yang membaik adalah ekspresi wajahnya di video klip. Ia sudah menimba pengalaman akting selama perjalanan karir musiknya.

Dari tema Sambalado, ternyata Ayu Ting Ting masih merasa sakit hati oleh ulah pria. Ketika masih SMA menjadi korban alamat palsu. Kini ia merasakan pedasnya bibir seorang pria.  Ayu Ting Ting jadi korban pria yang rasanya cuma di mulut saja dan enaknya cuma di lidah saja. Aku pun tak terlalu mengerti makna fiksasi oral ini. Sambalado terasa pedas dan panas, mulut bergoyang dan lidah bergetar. OK, ketika sudah janda dan bukan gadis SMA lagi, sepertinya kemampuan oral Ayu semakin terasah.

Ayu Ting Ting kecewa. Lidah pria tersebut mengandung bara api dan racun tikus. Hati Ayu Ting Ting pun terbakar dan nyaris mati keracunan. Kesalahan pria tersebut adalah hanya baik kalau ada maunya tetapi setelah hilang rasanya, pria tersebut menghilang. Ayu Ting Ting hanya dicolek sedikit, tetapi menggigit, namun ujungnya sakit hati. Bagaimana “ujung” pria tersebut menyakitkan? Makna apa yang tersembunyi dari lagu ini?

***

Ah, Ayu Ting ting, mengapa engkau begitu mudah tersakiti oleh pria? Begitu mudah tertipu? Begitu saja terkecewakan? Begitu mudah percaya dengan lidah pria? Begitu nikmatkah kemampuan oral pria tersebut?

Ayu TingTing, semoga engkau belajar banyak dari selama perjalanan hidup dan karir dari masa gadis SMA hingga kini janda beranak. Tidak selamanya ucapan bisa dipercaya. Tidak selamanya kemampuan oral yang nikmat itu tidak berujung sakit hati.

***

Info lain kudapatkan, kalau Ayu Ting Ting masih saja tertipu oleh trik alamat palsu.

Seriously? Ayu Ting Ting, engkau sudah bukan gadis SMA, namun masih tertipu trik alamat palsu? Kapokmu kapan? Aku kira kamu sudah semakin berpengalaman setelah menjadi janda.

***

Begitulah tulisan absurd tentang Ayu Ting Ting.
Posting-posting yang berhubungan dengan Ayu Ting Ting bisa diklik di bawah ini.

Terima kasih, telah membaca tulisan ini.

Bremen, 6-7 Februari 2016

iscab.saptocondro

iscablog, euy — http://iscab.blogspot.com/2016/02/beda-gadis-sma-dengan-janda.html
posted on February 07, 2016 at 01:07AM in the year of Chinese Yin Wooden Goat and Javanese Anama / Jimawal.

Hari ini hari ketujuh Natal dan aku baru sempat menuliskan posting Natal. Nanti akan berganti tahun dan besok akan ganti tanggalan. Semoga aku menjadi manusia baru, tanpa resolusi tahun baru yang tidak kulaksanakan. Oleh karena itu kuucapkan:

Selamat Natal dan Tahun Baru!
Frohe Weihnachten und Guten Rutsch ins neue Jahr!
Feliz Navidad, próspero año y felicidad!
Merry Christmas and Happy New Year!

***

Seperti biasa, aku berkomitmen menulis pesan Natal setiap tahun. Tahun ini, aku ingin bersyukur karena bisa mengalami undangan kumpul-kumpul Natal di berbagai lokasi di Oldenburg dan Bremen. Ada lingkar sosial baru di Oldenburg yang mengajakku bernatalan bersama.

Di Oldenburg, seperti biasa, aku menghadiri Weihnachtsfeier (makan-makan Natal), bersama rekan kerja di TGM Jade Hochschule Oldenburg (baca Catatan Doktoral Berdarah, 11 Desember 2015). Seperti biasa, kami pergi ke Lamberti Markt di pusat kota untuk meminum satu atau dua gelas Glühwein. Kemudian kami pergi menuju tempat makan. Ada dekan yang membaca puisi. Obrolan di meja makan adalah seputar Star Wars. Saat itu, ada premiere Star Wars: The Force Awakens di Bremen dan aku pulang “nebeng” kawan yang ingin nonton ini.

Demi acara di atas, aku tidak mengikuti cemilan Natal bersama rekan kursus Bahasa Spanyol. Aku harus memilih undangan mana yang perlu kuikuti. Kuhadiri yang aku sudah daftar duluan.

Kuikuti pula Weihnachtsfeier bersama international PhD student Uni Oldenburg, dan ternyata aku makan menu yang sama dengan Natal tahun sebelumnya (baca Catatan Doktoral Berdarah, 2 Desember 2015). Yang hadir 20 orang lebih. Sepertinya mahasiswa-mahasiswi doktoral semakin banyak. Dalam galau, aku tak tahu apakah ini makan-makan Natal terakhir bersama kawan-kawan ini. Tahun 2016, aku masih belum tahu bagaimana keberlangsungan studi doktoral yang kudalami.

Karena aku telah mendaftar Weihnachtsessen (makan-makan Natal) bersama KHG Oldenburg, aku menghadiri acara ini. Gedungnya sudah selesai direnovasi, jadinya aku salah masuk gedung. Aku kira acara masih di asrama mahasiswa, seperti masa-masa renovasi, ternyata sudah kembali ke gedung KHG. Obrolan Natal seputar jokes-jokes tentang gereja Katolik. Ada hal yang menarik pada suatu obrolan tentang Trinitas, yaitu konsep trinitas ini adalah suatu doktrin Gereja, bukan sesuatu yang perlu dimengerti. Jadi sebagai orang Kristen, cukup menerima doktrin ini, tanpa perlu tahu bagaimana dan mengapa. Nasihat yang cocok buatku yang kritis. Aku betul-betul tak mengerti konsep Trinitas: Bapa, Putera, dan Roh Kudus. Namun aku tetap hadir ke Gereja Katolik dan gereja-gereja lainnya yang menggunakan doktrin ini. Aku cukup puas dengan spiritualisme Kristen tanpa perlu mengerti doktrin-doktrin rumit yang kalau semakin dipikirkan malah bikin meragukan agamaku. Oh, ya, jokes saat itu adalah “bagaimana bentuk rahim Roh Kudus?” atau “bagaimana bentuk uterus Roh Kudus?”.

Tahun ini, untuk pertama kali, kuikuti Neuropsychologie Weihnachtfeier, bersama grup Pembimbing II. Sebelum acara ini, ada training di grup ini tentang cara membuat spatial filter. Jadi semua orang dari training, langsung pergi ke rumah Pembimbing II. Sedangkan aku sibuk mengopi data dari komputer Uni Bremen ke laptop pribadi. Kemudian aku belanja cemilan lalu pergi naik sepeda ke rumah tujuan. Ternyata aku tersesat. Ketika gelap, rumah-rumah di Oldenburg bentuknya mirip dan belokannya aneh. Akhirnya aku pun sampai juga ke sana. Suasananya hangat. Banyak mahasiswi thesis yang hadir. Juga mahasiswa-mahasiswi doktoral serta para peneliti post-doc, beserta keluarga mereka. Aku masih sungkan dan malu-malu dengan grup Pembimbing II. Aku belum begitu akrab. Obrolan di sana, seputar Star Wars, musik, dan keluarga.

Alasanku mengopi data tersebut ialah aku berencana selama liburan Natal dan Tahun Baru, aku bisa mengolah data di rumah. Tapi ternyata rencana tak kesampaian. Liburan hendaknya untuk berlibur. Aku hanya sempat mencoba sedikit script MATLAB, tapi akhirnya malah sibuk menonton Kartika Yudha (Star Wars), episode 1 s.d. 6., ditambah film-film 2015 yang tidak sempat kutonton di bioskop.

Aku juga mencoba mengikuti acara Weihnachtsbasteln (prakarya Natal), bersama PhD Student internasional Uni Oldenburg (baca Catatan Doktoral Berdarah, 2 Desember 2015). Tahun sebelumnya, aku tak mengikuti ini. Kali ini, aku ingin merasakan bagaimana membuat hiasan Natal dan membungkus kado. Berhubung aku tidak terlalu kreatif, aku hanya membuat satu hiasan botol dan satu kartu Natal. Sisanya aku mengobrol dan menjadi DJ untuk memilih musik Natal.

Ada beberapa kegiatan Natal di Oldenburg yang tidak kuikuti: Weihnachtsfeier bersama mahasiswa-mahasiswi TGM Jade HS Oldenburg, juga bersama mahasiswa/i Psikologi Uni Oldenburg, dan menghias pohon Natal bersama graduate school.

***

Di Bremen, seperti biasa aku mengikuti Natal bersama Perki Bremen (baca Catatan Doktoral Berdarah, 11 Desember 2015). Kebaktian yang aneh dan tidak terlalu cocok untukku. Aku mengharapkan Natal yang bersuasana kekeluargaan dan hangat seperti lagu Silent Night. Akan tetapi, pendeta yang hadir membawa kotbah yang lebih mirip propaganda dan penuh jargon, tapi tidak ada tuahnya. Mungkin hal ini cocok dengan umat di gereja mereka. Urutan lagu dalam ibadah juga terasa aneh. Tapi bisa dimaklumi, karena mungkin aku masih dalam suasana Advent sedangkan panitia sudah merasa Natal. Seorang Katolik tidak akan menyanyikan Gloria sebelum bayi Yesus lahir. Juga Silent Night dinyanyikan pada bagian akhir ibadah.

Usai ibadah, ada perayaan Natal berupa festival of light. Ruangan dibuat gelap dan ada permainan cahaya lampu, dalam teatrikal kelahiran bayi Yesus. Kemudian dilanjutkan dengan koor dan musik yang dibawakan oleh mereka yang sudah daftar.

Sebelum acara Natal bersama Perki Bremen, aku menonton paduan suara GCC Bremen (baca Catatan Doktoral Berdarah, 11 Desember 2015). Baru kali ini, aku mengikuti acara ini dari awal hingga akhir. Aku baru tahu kalau di awal acara ada kotbah. Aku merasa kalau ini fair. GCC butuh tempat acara menyanyi. Penyedia tempat ingin mendakwahi hadirin. Jadinya kepentingan keduanya bisa terlaksana dalam acara ini. Aku pun tertidur saat kotbah. Beberapa lagu dibawakan dengan cara yang kusuka, hingga cocok dengan kupingku. Ada satu lagu yang menggunakan kata “Ding Dong”, yang kurang mantap karena tidak sinkron antara penyanyi koor. Usai konser, ada makan-makan soto. Lumayan, aku dapat soto. Aku juga dapat undangan makan-makan Natal lagi.

Malam Natal, aku mengikuti Misa di St. Johann, Bremen. Kemudian aku mengikuti acara makan-makan Natal di Pfarrheim untuk pertama kali, selama di Bremen. Hadir beberapa orang tua di Bremen. Ada beberapa kursi kosong yang seharusnya untuk refugee/pengungsi. Akan tetapi, mereka pindah ke lokasi lain di Bremen. Hanya ada satu pengungsi dari Nigeria dan anaknya, yang bergabung di acara ini. Walau aku sudah menambah berkali-kali, tetap ada sisa makanan. Usai makan, ada nyanyi bersama di seputar pohon Natal.

//platform.twitter.com/widgets.js

Pulangnya gerimis. Aku pun teringat 20 tahun lalu, ketika aku menanti seorang wanita di bawah gerimis Natal. Wanita itu tidak datang. Yang hadir adalah seorang kawan dan dia memberiku kue untuk menghiburku. Kini aku terharu, karena aku bisa merasakan gerimis usai kebersamaan dengan kenalan baru di St. Johann. Rasa yang mirip ketika kawanku hadir menemaniku dan memberiku kue, 20 tahun yang lalu.

//platform.twitter.com/widgets.js

Hari Natal masih gerimis. Katanya Natal ini ada bulan purnama. Sayang sekali, aku tak bisa melihat purnama tersebut. Aku hanya melihat bulan tak purnama sempurna, hari sebelum dan sesudahnya.

Hari kedua Natal, aku mengikuti undangan makan-makan Natal bersama satu keluarga Indonesia, yang lokasi rumahnya serasa ujung dunia. Satu kelompok kecil mahasiswa hadir. Aku mudah mengobrol di grup kecil daripada besar. Aku banyak mendengar info mengenai beberapa kegiatan orang Indonesia tahun depan. Aku pun membawa pulang daging kalkun yang cukup banyak dan cukup untuk 5 hari.

***

Tiada pesan Natal yang bertuah di tahun ini. Aku hanya ingin bersyukur atas segenap kehangatan Natal bersama kenalan lama dan baru, baik di Bremen maupun Oldenburg. Dengan undangan yang ada, aku pun terlena dan terlupa untuk mengucap selamat Natal via telepon kepada kawan-kawan yang selalu dekat di hatiku. Aku pun hanya bisa memberi pesan singkat di grup Whatsapp, dan tiada kesan yang personal dan mendalam. Aku memohon ampun karena kurang menghayati Natal secara personal dengan kawan-kawanku. Mungkin aku keracunan deadline Desember dan kekuatiran akan pekerjaan tahun depan dan mungkin juga aku semakin egois dan ingin menyendiri supaya tidak terlalu banyak ditanya-tanya tentang status pekerjaan dan cinta.

Semoga kehangatan Natal bersama kawan-kawan juga bisa kurasakan bersama keluarga di tahun-tahun berikutnya.

***

Tulisan Natal yang lalu

Menghitung berapa Natal yang kulalui di Jerman.

***

Hari keempat Natal, akhirnya aku nonton Star Wars: The Force Awakens. Aku bertemu dengan satu profesor TGM Jade HS Oldenburg. Dia telah menonton versi bahasa Jerman dan kemudian nonton versi bahasa Inggris di waktu yang sama denganku. Kalau ada Ben Stiller, mungkin judul Star Wars bisa jadi Meet The Skywalkers. Konflik keluarga inilah yang menghiasi Kartika Yudha di galaksi nun jauh ini. Salah satu alasan aku lupa mengirim pesan Natal kepada kawan-kawan adalah maraton Star Wars episode 1 s.d. 6, demi persiapan nonton ke-7. Maafkan aku kawan-kawan, semua!

May The Force be with you!
Selamat Natal dan Tahun Baru!

Bremen, 31 Desember 2015

iscab.saptocondro

Sapto Condro bernyanyi bersama semilir angin Sachsen Hilir — http://saptoconiedersachsen.blogspot.com/2015/12/selamat-natal-2015-dan-tahun-baru-2016.html
posted on December 31, 2015 at 04:47PM in the year of Chinese Yin Wooden Goat and Javanese Anama / Jimawal.

Tumblr verification is just a synonym of Tumblr test. It is testing part two. I hope this post can be shared to iscablr.

Bremen, 15 Oktober 2015

iscab.saptocondro

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 646 other followers