Skip navigation

Aku sedang memikirkan otomatisasi. Bagaimana caranya supaya aku tidak perlu melakukan pekerjaan secara manual. Aku ingin komputer yang bekerja untukku. Pekerjaanku kali ini berhubungan dengan cara memilih kanal secara otomatis berdasarkan pada suatu respon frekuensi. Termasuk posting ini adalah uji coba otomatisasi.

Semoga hal-hal yang otomatis bisa tepat menuju sasaran.

Bremen, 7 Februari 2016

iscab.saptocondro

iscablog, euy — http://iscab.blogspot.com/2016/02/otomatisasi.html
posted on February 07, 2016 at 02:08AM in the year of Chinese Yin Wooden Goat and Javanese Anama / Jimawal.

Aku teringat masa-masa SMA, ketika aku masih lugu. Yang kupikirkan saat itu adalah menguasai matematika dan fisika, tetapi malah bagusnya di kimia. Karena sibuk mendalami ilmu-ilmu tersebut, aku tidak mengasah kemampuanku dalam memahami perasaan cinta dan romansa. Aku pun selalu culun semasa SMA.

Sewaktu SMA, seseorang begitu lugu dan mudah ditipu. Pria ditipu wanita dan wanita ditipu pria. Apalagi tipuan asmara. Contohnya, Ayu Ting Ting ketika masih SMA, dia bisa ditipu dengan alamat palsu. Teringat pula, kalau aku juga pernah memberikan alamat palsu: seharusnya alamatku di Margahayu Permai, tetapi aku mengaku di Margahayu Raya. Yang satu di Selatan Bandung, yang lain di Timur.

Beginilah Ayu Ting Ting bernyanyi ketika begitu lugunya, mendapat alamat palsu.

Video yang menarik, Ayu Ting Ting masih gadis SMA, dan diduga betulan ting-ting. Dari video, terlihat kalau dia lincah menari, tapi ekspresi wajahnya masih culun. Aktingnya masih jelek depan kamera. Yang asyik dari anak SMA adalah masih fresh dan berani mencoba hal baru. Begitu pun Ayu Ting Ting masa SMA: fresh, lincah, gerak tubuh tidak terkoordinasi karena masih pemula, dan baru masuk “nyemplung” ke industri musik yang kejam penuh dengan ikan hiu.

***

Kini Ayu Ting Ting sudah janda. Walau menyandang nama ting-ting, ia sudah tidak ting-ting lagi. Dia sempat menikah paket kilat. Disebut kilat, karena dalam kurang dari 6 bulan bisa melahirkan anak (wiki: en,id,jv,su). Wanita lain biasanya butuh 9 bulan untuk hamil hingga melahirkan.

Setelah tidak SMA lagi, apakah dia masih bisa tertipu oleh pria? Yang jelas, pernikahannya kandas dalam perceraian dan ia pun menjadi janda, sebulan setelah melahirkan anaknya.

Beginilah Ayu Ting Ting bernyanyi Sambalado, tentang pedasnya bibir seorang pria.

Video yang menarik. Kemampuan menarinya tidak sebaik di lagu-lagu sebelumnya. Sepertinya koreografernya dan sutradara video klip Sambalado tidak merasa video harus dibuat menarik. Produser musik hanya ingin menjual ring tone, jadinya ekspresi musik dalam tarian tidak digarap serius. Namun bisa juga karena Ayu Ting Ting punya masalah dengan tulang belakang atau tulang panggul. Apa pun yang terjadi, tariannya tidak menarik di video tersebut. Yang membaik adalah ekspresi wajahnya di video klip. Ia sudah menimba pengalaman akting selama perjalanan karir musiknya.

Dari tema Sambalado, ternyata Ayu Ting Ting masih merasa sakit hati oleh ulah pria. Ketika masih SMA menjadi korban alamat palsu. Kini ia merasakan pedasnya bibir seorang pria.  Ayu Ting Ting jadi korban pria yang rasanya cuma di mulut saja dan enaknya cuma di lidah saja. Aku pun tak terlalu mengerti makna fiksasi oral ini. Sambalado terasa pedas dan panas, mulut bergoyang dan lidah bergetar. OK, ketika sudah janda dan bukan gadis SMA lagi, sepertinya kemampuan oral Ayu semakin terasah.

Ayu Ting Ting kecewa. Lidah pria tersebut mengandung bara api dan racun tikus. Hati Ayu Ting Ting pun terbakar dan nyaris mati keracunan. Kesalahan pria tersebut adalah hanya baik kalau ada maunya tetapi setelah hilang rasanya, pria tersebut menghilang. Ayu Ting Ting hanya dicolek sedikit, tetapi menggigit, namun ujungnya sakit hati. Bagaimana “ujung” pria tersebut menyakitkan? Makna apa yang tersembunyi dari lagu ini?

***

Ah, Ayu Ting ting, mengapa engkau begitu mudah tersakiti oleh pria? Begitu mudah tertipu? Begitu saja terkecewakan? Begitu mudah percaya dengan lidah pria? Begitu nikmatkah kemampuan oral pria tersebut?

Ayu TingTing, semoga engkau belajar banyak dari selama perjalanan hidup dan karir dari masa gadis SMA hingga kini janda beranak. Tidak selamanya ucapan bisa dipercaya. Tidak selamanya kemampuan oral yang nikmat itu tidak berujung sakit hati.

***

Info lain kudapatkan, kalau Ayu Ting Ting masih saja tertipu oleh trik alamat palsu.

Seriously? Ayu Ting Ting, engkau sudah bukan gadis SMA, namun masih tertipu trik alamat palsu? Kapokmu kapan? Aku kira kamu sudah semakin berpengalaman setelah menjadi janda.

***

Begitulah tulisan absurd tentang Ayu Ting Ting.
Posting-posting yang berhubungan dengan Ayu Ting Ting bisa diklik di bawah ini.

Terima kasih, telah membaca tulisan ini.

Bremen, 6-7 Februari 2016

iscab.saptocondro

iscablog, euy — http://iscab.blogspot.com/2016/02/beda-gadis-sma-dengan-janda.html
posted on February 07, 2016 at 01:07AM in the year of Chinese Yin Wooden Goat and Javanese Anama / Jimawal.

Hari ini hari ketujuh Natal dan aku baru sempat menuliskan posting Natal. Nanti akan berganti tahun dan besok akan ganti tanggalan. Semoga aku menjadi manusia baru, tanpa resolusi tahun baru yang tidak kulaksanakan. Oleh karena itu kuucapkan:

Selamat Natal dan Tahun Baru!
Frohe Weihnachten und Guten Rutsch ins neue Jahr!
Feliz Navidad, próspero año y felicidad!
Merry Christmas and Happy New Year!

***

Seperti biasa, aku berkomitmen menulis pesan Natal setiap tahun. Tahun ini, aku ingin bersyukur karena bisa mengalami undangan kumpul-kumpul Natal di berbagai lokasi di Oldenburg dan Bremen. Ada lingkar sosial baru di Oldenburg yang mengajakku bernatalan bersama.

Di Oldenburg, seperti biasa, aku menghadiri Weihnachtsfeier (makan-makan Natal), bersama rekan kerja di TGM Jade Hochschule Oldenburg (baca Catatan Doktoral Berdarah, 11 Desember 2015). Seperti biasa, kami pergi ke Lamberti Markt di pusat kota untuk meminum satu atau dua gelas Glühwein. Kemudian kami pergi menuju tempat makan. Ada dekan yang membaca puisi. Obrolan di meja makan adalah seputar Star Wars. Saat itu, ada premiere Star Wars: The Force Awakens di Bremen dan aku pulang “nebeng” kawan yang ingin nonton ini.

Demi acara di atas, aku tidak mengikuti cemilan Natal bersama rekan kursus Bahasa Spanyol. Aku harus memilih undangan mana yang perlu kuikuti. Kuhadiri yang aku sudah daftar duluan.

Kuikuti pula Weihnachtsfeier bersama international PhD student Uni Oldenburg, dan ternyata aku makan menu yang sama dengan Natal tahun sebelumnya (baca Catatan Doktoral Berdarah, 2 Desember 2015). Yang hadir 20 orang lebih. Sepertinya mahasiswa-mahasiswi doktoral semakin banyak. Dalam galau, aku tak tahu apakah ini makan-makan Natal terakhir bersama kawan-kawan ini. Tahun 2016, aku masih belum tahu bagaimana keberlangsungan studi doktoral yang kudalami.

Karena aku telah mendaftar Weihnachtsessen (makan-makan Natal) bersama KHG Oldenburg, aku menghadiri acara ini. Gedungnya sudah selesai direnovasi, jadinya aku salah masuk gedung. Aku kira acara masih di asrama mahasiswa, seperti masa-masa renovasi, ternyata sudah kembali ke gedung KHG. Obrolan Natal seputar jokes-jokes tentang gereja Katolik. Ada hal yang menarik pada suatu obrolan tentang Trinitas, yaitu konsep trinitas ini adalah suatu doktrin Gereja, bukan sesuatu yang perlu dimengerti. Jadi sebagai orang Kristen, cukup menerima doktrin ini, tanpa perlu tahu bagaimana dan mengapa. Nasihat yang cocok buatku yang kritis. Aku betul-betul tak mengerti konsep Trinitas: Bapa, Putera, dan Roh Kudus. Namun aku tetap hadir ke Gereja Katolik dan gereja-gereja lainnya yang menggunakan doktrin ini. Aku cukup puas dengan spiritualisme Kristen tanpa perlu mengerti doktrin-doktrin rumit yang kalau semakin dipikirkan malah bikin meragukan agamaku. Oh, ya, jokes saat itu adalah “bagaimana bentuk rahim Roh Kudus?” atau “bagaimana bentuk uterus Roh Kudus?”.

Tahun ini, untuk pertama kali, kuikuti Neuropsychologie Weihnachtfeier, bersama grup Pembimbing II. Sebelum acara ini, ada training di grup ini tentang cara membuat spatial filter. Jadi semua orang dari training, langsung pergi ke rumah Pembimbing II. Sedangkan aku sibuk mengopi data dari komputer Uni Bremen ke laptop pribadi. Kemudian aku belanja cemilan lalu pergi naik sepeda ke rumah tujuan. Ternyata aku tersesat. Ketika gelap, rumah-rumah di Oldenburg bentuknya mirip dan belokannya aneh. Akhirnya aku pun sampai juga ke sana. Suasananya hangat. Banyak mahasiswi thesis yang hadir. Juga mahasiswa-mahasiswi doktoral serta para peneliti post-doc, beserta keluarga mereka. Aku masih sungkan dan malu-malu dengan grup Pembimbing II. Aku belum begitu akrab. Obrolan di sana, seputar Star Wars, musik, dan keluarga.

Alasanku mengopi data tersebut ialah aku berencana selama liburan Natal dan Tahun Baru, aku bisa mengolah data di rumah. Tapi ternyata rencana tak kesampaian. Liburan hendaknya untuk berlibur. Aku hanya sempat mencoba sedikit script MATLAB, tapi akhirnya malah sibuk menonton Kartika Yudha (Star Wars), episode 1 s.d. 6., ditambah film-film 2015 yang tidak sempat kutonton di bioskop.

Aku juga mencoba mengikuti acara Weihnachtsbasteln (prakarya Natal), bersama PhD Student internasional Uni Oldenburg (baca Catatan Doktoral Berdarah, 2 Desember 2015). Tahun sebelumnya, aku tak mengikuti ini. Kali ini, aku ingin merasakan bagaimana membuat hiasan Natal dan membungkus kado. Berhubung aku tidak terlalu kreatif, aku hanya membuat satu hiasan botol dan satu kartu Natal. Sisanya aku mengobrol dan menjadi DJ untuk memilih musik Natal.

Ada beberapa kegiatan Natal di Oldenburg yang tidak kuikuti: Weihnachtsfeier bersama mahasiswa-mahasiswi TGM Jade HS Oldenburg, juga bersama mahasiswa/i Psikologi Uni Oldenburg, dan menghias pohon Natal bersama graduate school.

***

Di Bremen, seperti biasa aku mengikuti Natal bersama Perki Bremen (baca Catatan Doktoral Berdarah, 11 Desember 2015). Kebaktian yang aneh dan tidak terlalu cocok untukku. Aku mengharapkan Natal yang bersuasana kekeluargaan dan hangat seperti lagu Silent Night. Akan tetapi, pendeta yang hadir membawa kotbah yang lebih mirip propaganda dan penuh jargon, tapi tidak ada tuahnya. Mungkin hal ini cocok dengan umat di gereja mereka. Urutan lagu dalam ibadah juga terasa aneh. Tapi bisa dimaklumi, karena mungkin aku masih dalam suasana Advent sedangkan panitia sudah merasa Natal. Seorang Katolik tidak akan menyanyikan Gloria sebelum bayi Yesus lahir. Juga Silent Night dinyanyikan pada bagian akhir ibadah.

Usai ibadah, ada perayaan Natal berupa festival of light. Ruangan dibuat gelap dan ada permainan cahaya lampu, dalam teatrikal kelahiran bayi Yesus. Kemudian dilanjutkan dengan koor dan musik yang dibawakan oleh mereka yang sudah daftar.

Sebelum acara Natal bersama Perki Bremen, aku menonton paduan suara GCC Bremen (baca Catatan Doktoral Berdarah, 11 Desember 2015). Baru kali ini, aku mengikuti acara ini dari awal hingga akhir. Aku baru tahu kalau di awal acara ada kotbah. Aku merasa kalau ini fair. GCC butuh tempat acara menyanyi. Penyedia tempat ingin mendakwahi hadirin. Jadinya kepentingan keduanya bisa terlaksana dalam acara ini. Aku pun tertidur saat kotbah. Beberapa lagu dibawakan dengan cara yang kusuka, hingga cocok dengan kupingku. Ada satu lagu yang menggunakan kata “Ding Dong”, yang kurang mantap karena tidak sinkron antara penyanyi koor. Usai konser, ada makan-makan soto. Lumayan, aku dapat soto. Aku juga dapat undangan makan-makan Natal lagi.

Malam Natal, aku mengikuti Misa di St. Johann, Bremen. Kemudian aku mengikuti acara makan-makan Natal di Pfarrheim untuk pertama kali, selama di Bremen. Hadir beberapa orang tua di Bremen. Ada beberapa kursi kosong yang seharusnya untuk refugee/pengungsi. Akan tetapi, mereka pindah ke lokasi lain di Bremen. Hanya ada satu pengungsi dari Nigeria dan anaknya, yang bergabung di acara ini. Walau aku sudah menambah berkali-kali, tetap ada sisa makanan. Usai makan, ada nyanyi bersama di seputar pohon Natal.

//platform.twitter.com/widgets.js

Pulangnya gerimis. Aku pun teringat 20 tahun lalu, ketika aku menanti seorang wanita di bawah gerimis Natal. Wanita itu tidak datang. Yang hadir adalah seorang kawan dan dia memberiku kue untuk menghiburku. Kini aku terharu, karena aku bisa merasakan gerimis usai kebersamaan dengan kenalan baru di St. Johann. Rasa yang mirip ketika kawanku hadir menemaniku dan memberiku kue, 20 tahun yang lalu.

//platform.twitter.com/widgets.js

Hari Natal masih gerimis. Katanya Natal ini ada bulan purnama. Sayang sekali, aku tak bisa melihat purnama tersebut. Aku hanya melihat bulan tak purnama sempurna, hari sebelum dan sesudahnya.

Hari kedua Natal, aku mengikuti undangan makan-makan Natal bersama satu keluarga Indonesia, yang lokasi rumahnya serasa ujung dunia. Satu kelompok kecil mahasiswa hadir. Aku mudah mengobrol di grup kecil daripada besar. Aku banyak mendengar info mengenai beberapa kegiatan orang Indonesia tahun depan. Aku pun membawa pulang daging kalkun yang cukup banyak dan cukup untuk 5 hari.

***

Tiada pesan Natal yang bertuah di tahun ini. Aku hanya ingin bersyukur atas segenap kehangatan Natal bersama kenalan lama dan baru, baik di Bremen maupun Oldenburg. Dengan undangan yang ada, aku pun terlena dan terlupa untuk mengucap selamat Natal via telepon kepada kawan-kawan yang selalu dekat di hatiku. Aku pun hanya bisa memberi pesan singkat di grup Whatsapp, dan tiada kesan yang personal dan mendalam. Aku memohon ampun karena kurang menghayati Natal secara personal dengan kawan-kawanku. Mungkin aku keracunan deadline Desember dan kekuatiran akan pekerjaan tahun depan dan mungkin juga aku semakin egois dan ingin menyendiri supaya tidak terlalu banyak ditanya-tanya tentang status pekerjaan dan cinta.

Semoga kehangatan Natal bersama kawan-kawan juga bisa kurasakan bersama keluarga di tahun-tahun berikutnya.

***

Tulisan Natal yang lalu

Menghitung berapa Natal yang kulalui di Jerman.

***

Hari keempat Natal, akhirnya aku nonton Star Wars: The Force Awakens. Aku bertemu dengan satu profesor TGM Jade HS Oldenburg. Dia telah menonton versi bahasa Jerman dan kemudian nonton versi bahasa Inggris di waktu yang sama denganku. Kalau ada Ben Stiller, mungkin judul Star Wars bisa jadi Meet The Skywalkers. Konflik keluarga inilah yang menghiasi Kartika Yudha di galaksi nun jauh ini. Salah satu alasan aku lupa mengirim pesan Natal kepada kawan-kawan adalah maraton Star Wars episode 1 s.d. 6, demi persiapan nonton ke-7. Maafkan aku kawan-kawan, semua!

May The Force be with you!
Selamat Natal dan Tahun Baru!

Bremen, 31 Desember 2015

iscab.saptocondro

Sapto Condro bernyanyi bersama semilir angin Sachsen Hilir — http://saptoconiedersachsen.blogspot.com/2015/12/selamat-natal-2015-dan-tahun-baru-2016.html
posted on December 31, 2015 at 04:47PM in the year of Chinese Yin Wooden Goat and Javanese Anama / Jimawal.

Tumblr verification is just a synonym of Tumblr test. It is testing part two. I hope this post can be shared to iscablr.

Bremen, 15 Oktober 2015

iscab.saptocondro

I have to test my tumblr connection. Two posts did not come out on my tumblr:

I hope this post come out on my tumblr (iscab).

Oldenburg, 15 Oktober 2015

iscab.saptocondro

Baru-baru ini, aku memperoleh email dan pesan Facebook, kalau ada Temu Kangen Alumni St. Aloysius. Emailnya adalah tentang kongres alumni, dan serangkaian acara temu kangen dan temu bisnis. Jadwalnya sebagai berikut.

  • IA TOP Gathering Golf Game (Jumat, 31 Juli 2015)
  • IA TOP Biz Gathering (Sabtu, 1 Agustus 2015), oleh Teddy Rachmat (TOP 61), “Enterprise, Leadership and Ethics in Global Business Environment”, di Aula St. Aloysius, Jalan Sultan Agung.  
  • IA TOP Fun Bike (Minggu, 2 Agustus 2015), naik sepeda dari SMA St. Aloysius I di Jalan Sultan Agung ke SMA St. Aloysius II di kompleks Batununggal.
  • Kongres II IA TOP dan Temu Kangen Alumni (Sabtu, 8 Agustus 2015), di SMA St. Aloysius, Jalan Sultan Agung
  • IA TOP Photo Competition (Sabtu, 8 Agustus 2015), di SMA St. Aloysius, Jalan Sultan Agung
  • Main bola bareng IA TOP (Minggu, 9 Agustus 2015)

Terakhir kali, reuni SMA St. Aloysius itu tahun 2009. Aku tidak datang. Saat itu, aku tidak punya uang untuk liburan ke Indonesia. Sebagian kawan-kawan angkatan 98 bisa hadir di sana. Kali ini, aku juga tidak bisa hadir ke Temu Kangen Alumni di tahun ini. Aku berkonsentrasi dengan penelitianku hingga September (atau Oktober), seperti yang kutulis di catatan doktoral berdarah, 28 Juli 2015.

Sewaktu reuni tahun 2009, belum ada organisasi Ikatan Alumni TOP (http://www.iatop.org), melainkan Hexatop (Himpunan Ex dan Alumni TOP). Kali ini, ada Kongres II Ikatan Alumni TOP untuk memilih pengurus. Wakil angkatan diundang untuk menghadiri kongres ini.

Berikut ini foto-foto tentang reuni alumni St. Aloysius.

***

Kongres II dan Temu Kangen Alumni, 8 Agustus 2015
Undangan untuk Wakil Angkatan, Kongres II Ikatan Alumni St. Aloysius/TOP, 8 Agustus 2015
IA TOP Photo Competition, 8 Agustus 2015
IA TOP Fun Bike, 2 Agustus 2015
IA TOP Biz Gathering, 1 Agustus 2015
***

Kawan-kawan Aloy98 di Reuni Akbar SMP/SMA St. Aloysius, tahun 2009 (photo: Novia)
Guru-guru di Reuni Akbar SMP/SMA St. Aloysius, tahun 2009 (photo: Novia)
***

Semoga ada reuni SMA lagi, yang bisa kuhadiri. Entah reuni angkatan 98 maupun reuni akbar multi angkatan. Aku tidak terlalu minat politik ikatan alumni. Jadinya aku menghindari kongres ikatan alumni. Aku hanya ingin reuni yang haha-hihi.

***

Sampai jumpa di reuni berikutnya.

Bremen, 4 Agustus 2015

iscab.saptocondro

Condro, budak Aloy98 nu TOP tea — http://aloyiscabtop.blogspot.com/2015/08/temu-alumni-st-aloysius-2015.html

Sudah lama, aku tidak menulis tentang biaya hidup di Jerman. Tahun 2013, aku mengurus kepindahanku dari Nürnberg ke Bremen. Saat itu, aku sempat membayar sewa dua apartemen di dua kota. Aku juga sempat menumpang sementara di kawan. Jadi tahun 2013, bukanlah masa yang betul-betul stabil dalam mencatat biaya hidup. Sepertinya aku lebih mudah menggambarkan seperti apa biaya hidupku di tahun 2014, walau sedikit terkontaminasi dengan biaya hidup tahun 2015.

***

Biaya Bulanan:

  1. Bayar sewa Wohnung (apartemen) = 544 EUR 
  2. Air: Wasser als Nebenkosten = 23 EUR
  3. Listrik SWB = 85 EUR
  4. Iuran GEZ = 18 EUR 
  5. Iuran RT = 10 EUR 
  6. Internet + Telpon Rumah = 38 EUR 
  7. Internet + Telpon Genggam = 40 EUR 
  8. Asuransi kesehatan publik = 261 EUR 
  9. Langganan McFit = 20 EUR 
  10. Makan di Rumah = 80 EUR s.d. 100 EUR
  11. Makan di Luar = 80 EUR s.d. 150 EUR 
  12. Kebersihan = 40 EUR 
  13. Sandang = 20 EUR 

Per bulan, aku harus menyediakan 1259 EUR s.d. 1349 EUR

***

Biaya Semesteran:

  1. Semesterbeitrag = 315 EUR

Per semester, aku harus menyediakan 315 EUR.
Kalau dibulatkan jadi per bulan, jadinya 52 EUR.

***

Biaya Tahunan:

  1. Perpanjangan visa = 90 EUR 
  2. Perabotan = 50 EUR s.d. 250 EUR 
  3. Jalan-jalan dengan kereta DB = 300 s.d. 500 EUR
  4. Bahncard 50 = 255 EUR 
  5. Jalan-jalan dengan pesawat = 0 EUR s.d. 1000 EUR 

Per tahun, aku harus menyediakan 695 EUR s.d. 2095 EUR
Kalau dibulatkan jadi per bulan, jadinya 58 EUR s.d. 175 EUR

***

Oh, ya, ada biaya lagi, yaitu asuransi waspada alias Haftpflichtversicherung. Sementara ini, aku membayar 80 EUR per tahun.
Kalau dibulatkan per bulan, jadinya 7 EUR.

Aku ingin mengganti asuransi ini dengan perusahaan lain yang lebih melindungiku, terutama dari kehilangan kunci. Per bulan kira-kira 27 EUR.

Pada masa transisi, aku harus membayar keduanya. Jadi per bulan, aku harus menyediakan 34 EUR.

***

Setelah dihitung-hitung, semua biaya di atas, per bulan aku harus menyiapkan 1403 EUR s.d. 1610 EUR.

***

Penjelasan biaya hidup:

  1. Aku menyewa apartemen 2 kamar, yang “furnished” atau “mobiliert” (ada perabotan), di daerah yang “convenient” (dekat toserba dan halte angkot), jadi harga sewa lumayan mahal. Tapi bagaimana pun juga sewa kamar di Bremen juga mengalami peningkatan harga. Untuk meredakan kegalauan biaya sewa, aku pun menyewakan satu kamar kepada student lain.
  2. Menambah satu orang di apartemen ternyata membuatku harus menambah bayar iuran air per bulan.
  3. Seperti kata Bang Rhoma Irama tentang begadang, tagihan listrik per bulan jadinya 80-an EUR, bukan 50-an EUR. 
  4. GEZ adalah iuran yang harus dibayarkan setiap kepala rumah tangga untuk setiap peralatan komunikasi yang mengeluarkan gelombang elektromagnet: TV, radio, WiFi, Bluetooth, walkie talkie, dll (web Rundfunkbeitrag, wiki: en,de). Di Indonesia dulu pernah ada iuran TV, untuk menghidupi TVRI yang tanpa iklan. Di Jerman, GEZ dipakai untuk membiayai stasiun TV publik (ARD dan ZDF), dan radio publik. Jadi orang Jerman bisa menikmati Piala Eropa dan Piala Dunia di televisi milik publik.
  5. Iuran RT adalah iuran bersama untuk beli tissue toilet, alat kebersihan, sabun cuci piring, beras, telur, dll untuk dipakai bersama roomie (Mitbewohner/-In).
  6. Internet dan telpon rumah: aku menggunakan kabel DSL dari Telekom. Ada tetangga yang ikut sharing biaya ini, jadi sedikit ringan bebanku untuk sementara.
  7. Internet dan telpon genggam: aku menggunakan smartphone sejak 2012, dan aku berlangganan Telefonica O2 hingga HSPA plus. Waktu itu, di Jerman, LTE belum ada di semua kota. Jika smartphone milikku sudah rusak parah setewas-tewasnya, mungkin aku bakal ganti kontrak dan ganti smartphone untuk LTE, LTE-Advanced (4G), atau bahkan 5G.
  8. Asuransi kesehatan publik (gesetzliche Krankenversicherung) lumayan mahal, kalau lajang dan tidak bekerja. Aku mendapat beasiswa, bukan kontrak kerja, jadinya aku harus membayar penuh. Kalau bekerja, setengah dibayar pemberi kerja dan setengahnya kubayar sebagai penerima kerja, dan langsung motong gaji. Jadi take-home pay, sudah bisa kunikmati tanpa harus mikir askes. Kalau menikah, dengan iuran askes yang kira-kira sama, seluruh anggota keluarga dilindungi. Kalau lajang tanpa anak, dengan iuran tersebut hanya satu saja yang terlindungi, yaitu aku. Keuntungan askes publik adalah tinggal gesek kartu, bisa dapat layanan kesehatan. Dulu sewaktu menggunakan askes swasta, aku harus membayar dulu dan menunggu reimbursement bulan berikutnya. Kena flu saja habis 120 EUR. Teman yang cabut gigi kena 300 EUR. Oh, ya, kalau ibu hamil dan melahirkan itu biaya totalnya ribuan EUR.
  9. McFit itu tempat fitness murah. Aku berlangganan beginian karena ulah kawanku yang impulsif. Aku menemaninya fitness untuk kemudian ditinggalkannya. Kini aku kesepian jika harus pergi fitness sendiri. Tapi aku harus memotivasi diriku di tahun 2015, tahun olahraga. Kalau seminggu sekali fitness, berarti aku keluar 5 EUR per minggu. Kalau tidak, aku cuma buang-buang uang.
  10. Kalau melihat kuitansi belanja untuk mengisi kulkas, sebetulnya per minggu, biayanya sekitar 16 s.d. 18 EUR. Kubulatkan jadi 80 EUR per minggu minimal. Kata orang logistik, kurangi residu untuk menjadi efisien. Aku hanya belanja barang yang kukonsumsi rutin dan sebisa mungkin tidak membiarkan barang kadaluarsa. Jadi “marginal utility” kumanfaatkan dengan optimal. Sebetulnya biaya makan di rumah bisa dihemat lagi, tapi buat apa. Nikmati makanan bergizi selagi masih ada kesempatan. Kesehatan itu penting. Barulah saat masa-masa gawat, dihemat secara ekstrem.
  11. Aku juga makan di luar rumah: kantin, Mensa, kopi, dan kadang untuk ikut acara ngumpul bersama rekan PhD di Oldenburg maupun di Bremen. Bisa saja aku menghemat makan di luar tapi untuk saat ini, waktu jauh lebih berharga daripada uang. Mungkin di masa-masa gawat keadaan ini berbalik. Selain itu, menikmati kebersamaan bersama kawan-kawan juga perlu untuk keseimbangan jiwa. Sekali makan siang di Mensa (kantin universitas), kukeluarkan antara 2 EUR hingga 4 EUR. Segelas kopi seharga 90 sen. Makan hura-hura bersama kawan di restoran bisa menghabiskan 4 EUR hingga 12 EUR. Nonton di bioskop butuh 7 EUR hingga 12 EUR.
  12. Biaya kebersihan adalah biaya membeli sabun mandi, pasta gigi, shampoo, deterjen untuk pakaian, dll, serta biaya mencuci pakaian di Wasch-Center. Kuperkirakan ini menghabiskan 40 EUR per bulan.
  13. Biaya sandang adalah biaya membeli baju, celana, pakaian dalam, asesori, sepatu, dll. Walau aku berasal dari Bandung, kota fashion dan kota tekstil, aku termasuk orang yang jarang belanja sandang. Bahkan beberapa pakaianku pemberian orang atau perusahaan atau organisasi. Tapi bagaimana pun juga aku harus menganggarkan belanja sandang tiap bulan. Untuk sementara, 20 EUR termasuk realistis.
  14. Semesterbeitrag itu uang yang harus kubayar kepada universitas untuk Semesterticket (tiket transportasi untuk mahasiswa), jaringan internet kampus, iuran organisasi mahasiswa, perpustakaan, fasilitas olahraga, bengkel kampus, dll. Sebetulnya aku membayar lebih murah daripada yang kusebut di atas, karena ada potongan.
  15. Tiap tahun kadang orang membayar biaya untuk perpanjangan visa. Kadang tiap dua tahun, tergantung kondisi. 
  16. Tiap tahun kadang aku membeli perabotan: alat masak, keset, alat tulis, dll.
  17. Karena aku sudah berlangganan Bahncard 50, aku harus jalan-jalan dengan kereta. Jadi aku menganggarkan biaya jalan-jalan keliling Jerman dengan kereta Deutsche Bahn.
  18. Ada kalanya aku harus pergi ke Indonesia untuk mudik atau pergi ke negara tetangga di Eropa untuk tapa mlaku, seperti pepatah “Travelling tresno jalaran soko kulino”. Jadi aku menganggarkan biaya perjalanan pesawat.
  19. Jerman punya banyak skema asuransi, yang sulit kusebutkan satu per satu. Bahkan aku pun masih pusing dengan beda-bedanya, karena harus membaca kontraknya dan juga baca wikipedia serta kamus untuk mengerti. 
***

Selain biaya di atas, aku juga membayar pensiun dan reksa dana. Akan tetapi, karena ini tidak bisa disebut sebagai biaya hidup, tetapi lebih cocok disebut sebagai menabung atau investasi, jadinya tidak kumasukkan ke perhitungan ini. Ada kemungkinan pula, aku harus menarik dana ini di masa-masa sulit yang mungkin datang tahun depan, ketika beasiswa dari Niedersachsen berhenti.

***

Seri biaya hidup di Jerman, bisa dibaca dari tulisanku yang lainnya:

Dari semua biaya hidupku, yang terasa mahal itu biaya tempat tinggal dan biaya (jaminan) kesehatan. Sebetulnya baik Jerman maupun Indonesia, komponen biaya tempat tinggal dan kesehatan itu yang paling mencekik, apalagi kalau kamu rakyat miskin.

Bremen, 19 Februari 2015

iscab.saptocondro

iscab di Bremen Bercinta — http://iscabremen.blogspot.com/2015/02/biaya-hidup-di-bremen-tahun-2014.html

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 559 other followers