Skip navigation

Sudah lama, aku tidak menulis tentang biaya hidup di Jerman. Tahun 2013, aku mengurus kepindahanku dari Nürnberg ke Bremen. Saat itu, aku sempat membayar sewa dua apartemen di dua kota. Aku juga sempat menumpang sementara di kawan. Jadi tahun 2013, bukanlah masa yang betul-betul stabil dalam mencatat biaya hidup. Sepertinya aku lebih mudah menggambarkan seperti apa biaya hidupku di tahun 2014, walau sedikit terkontaminasi dengan biaya hidup tahun 2015.

***

Biaya Bulanan:

  1. Bayar sewa Wohnung (apartemen) = 544 EUR 
  2. Air: Wasser als Nebenkosten = 23 EUR
  3. Listrik SWB = 85 EUR
  4. Iuran GEZ = 18 EUR 
  5. Iuran RT = 10 EUR 
  6. Internet + Telpon Rumah = 38 EUR 
  7. Internet + Telpon Genggam = 40 EUR 
  8. Asuransi kesehatan publik = 261 EUR 
  9. Langganan McFit = 20 EUR 
  10. Makan di Rumah = 80 EUR s.d. 100 EUR
  11. Makan di Luar = 80 EUR s.d. 150 EUR 
  12. Kebersihan = 40 EUR 
  13. Sandang = 20 EUR 

Per bulan, aku harus menyediakan 1259 EUR s.d. 1349 EUR

***

Biaya Semesteran:

  1. Semesterbeitrag = 315 EUR

Per semester, aku harus menyediakan 315 EUR.
Kalau dibulatkan jadi per bulan, jadinya 52 EUR.

***

Biaya Tahunan:

  1. Perpanjangan visa = 90 EUR 
  2. Perabotan = 50 EUR s.d. 250 EUR 
  3. Jalan-jalan dengan kereta DB = 300 s.d. 500 EUR
  4. Bahncard 50 = 255 EUR 
  5. Jalan-jalan dengan pesawat = 0 EUR s.d. 1000 EUR 

Per tahun, aku harus menyediakan 695 EUR s.d. 2095 EUR
Kalau dibulatkan jadi per bulan, jadinya 58 EUR s.d. 175 EUR

***

Oh, ya, ada biaya lagi, yaitu asuransi waspada alias Haftpflichtversicherung. Sementara ini, aku membayar 80 EUR per tahun.
Kalau dibulatkan per bulan, jadinya 7 EUR.

Aku ingin mengganti asuransi ini dengan perusahaan lain yang lebih melindungiku, terutama dari kehilangan kunci. Per bulan kira-kira 27 EUR.

Pada masa transisi, aku harus membayar keduanya. Jadi per bulan, aku harus menyediakan 34 EUR.

***

Setelah dihitung-hitung, semua biaya di atas, per bulan aku harus menyiapkan 1403 EUR s.d. 1610 EUR.

***

Penjelasan biaya hidup:

  1. Aku menyewa apartemen 2 kamar, yang “furnished” atau “mobiliert” (ada perabotan), di daerah yang “convenient” (dekat toserba dan halte angkot), jadi harga sewa lumayan mahal. Tapi bagaimana pun juga sewa kamar di Bremen juga mengalami peningkatan harga. Untuk meredakan kegalauan biaya sewa, aku pun menyewakan satu kamar kepada student lain.
  2. Menambah satu orang di apartemen ternyata membuatku harus menambah bayar iuran air per bulan.
  3. Seperti kata Bang Rhoma Irama tentang begadang, tagihan listrik per bulan jadinya 80-an EUR, bukan 50-an EUR. 
  4. GEZ adalah iuran yang harus dibayarkan setiap kepala rumah tangga untuk setiap peralatan komunikasi yang mengeluarkan gelombang elektromagnet: TV, radio, WiFi, Bluetooth, walkie talkie, dll (web Rundfunkbeitrag, wiki: en,de). Di Indonesia dulu pernah ada iuran TV, untuk menghidupi TVRI yang tanpa iklan. Di Jerman, GEZ dipakai untuk membiayai stasiun TV publik (ARD dan ZDF), dan radio publik. Jadi orang Jerman bisa menikmati Piala Eropa dan Piala Dunia di televisi milik publik.
  5. Iuran RT adalah iuran bersama untuk beli tissue toilet, alat kebersihan, sabun cuci piring, beras, telur, dll untuk dipakai bersama roomie (Mitbewohner/-In).
  6. Internet dan telpon rumah: aku menggunakan kabel DSL dari Telekom. Ada tetangga yang ikut sharing biaya ini, jadi sedikit ringan bebanku untuk sementara.
  7. Internet dan telpon genggam: aku menggunakan smartphone sejak 2012, dan aku berlangganan Telefonica O2 hingga HSPA plus. Waktu itu, di Jerman, LTE belum ada di semua kota. Jika smartphone milikku sudah rusak parah setewas-tewasnya, mungkin aku bakal ganti kontrak dan ganti smartphone untuk LTE, LTE-Advanced (4G), atau bahkan 5G.
  8. Asuransi kesehatan publik (gesetzliche Krankenversicherung) lumayan mahal, kalau lajang dan tidak bekerja. Aku mendapat beasiswa, bukan kontrak kerja, jadinya aku harus membayar penuh. Kalau bekerja, setengah dibayar pemberi kerja dan setengahnya kubayar sebagai penerima kerja, dan langsung motong gaji. Jadi take-home pay, sudah bisa kunikmati tanpa harus mikir askes. Kalau menikah, dengan iuran askes yang kira-kira sama, seluruh anggota keluarga dilindungi. Kalau lajang tanpa anak, dengan iuran tersebut hanya satu saja yang terlindungi, yaitu aku. Keuntungan askes publik adalah tinggal gesek kartu, bisa dapat layanan kesehatan. Dulu sewaktu menggunakan askes swasta, aku harus membayar dulu dan menunggu reimbursement bulan berikutnya. Kena flu saja habis 120 EUR. Teman yang cabut gigi kena 300 EUR. Oh, ya, kalau ibu hamil dan melahirkan itu biaya totalnya ribuan EUR.
  9. McFit itu tempat fitness murah. Aku berlangganan beginian karena ulah kawanku yang impulsif. Aku menemaninya fitness untuk kemudian ditinggalkannya. Kini aku kesepian jika harus pergi fitness sendiri. Tapi aku harus memotivasi diriku di tahun 2015, tahun olahraga. Kalau seminggu sekali fitness, berarti aku keluar 5 EUR per minggu. Kalau tidak, aku cuma buang-buang uang.
  10. Kalau melihat kuitansi belanja untuk mengisi kulkas, sebetulnya per minggu, biayanya sekitar 16 s.d. 18 EUR. Kubulatkan jadi 80 EUR per minggu minimal. Kata orang logistik, kurangi residu untuk menjadi efisien. Aku hanya belanja barang yang kukonsumsi rutin dan sebisa mungkin tidak membiarkan barang kadaluarsa. Jadi “marginal utility” kumanfaatkan dengan optimal. Sebetulnya biaya makan di rumah bisa dihemat lagi, tapi buat apa. Nikmati makanan bergizi selagi masih ada kesempatan. Kesehatan itu penting. Barulah saat masa-masa gawat, dihemat secara ekstrem.
  11. Aku juga makan di luar rumah: kantin, Mensa, kopi, dan kadang untuk ikut acara ngumpul bersama rekan PhD di Oldenburg maupun di Bremen. Bisa saja aku menghemat makan di luar tapi untuk saat ini, waktu jauh lebih berharga daripada uang. Mungkin di masa-masa gawat keadaan ini berbalik. Selain itu, menikmati kebersamaan bersama kawan-kawan juga perlu untuk keseimbangan jiwa. Sekali makan siang di Mensa (kantin universitas), kukeluarkan antara 2 EUR hingga 4 EUR. Segelas kopi seharga 90 sen. Makan hura-hura bersama kawan di restoran bisa menghabiskan 4 EUR hingga 12 EUR. Nonton di bioskop butuh 7 EUR hingga 12 EUR.
  12. Biaya kebersihan adalah biaya membeli sabun mandi, pasta gigi, shampoo, deterjen untuk pakaian, dll, serta biaya mencuci pakaian di Wasch-Center. Kuperkirakan ini menghabiskan 40 EUR per bulan.
  13. Biaya sandang adalah biaya membeli baju, celana, pakaian dalam, asesori, sepatu, dll. Walau aku berasal dari Bandung, kota fashion dan kota tekstil, aku termasuk orang yang jarang belanja sandang. Bahkan beberapa pakaianku pemberian orang atau perusahaan atau organisasi. Tapi bagaimana pun juga aku harus menganggarkan belanja sandang tiap bulan. Untuk sementara, 20 EUR termasuk realistis.
  14. Semesterbeitrag itu uang yang harus kubayar kepada universitas untuk Semesterticket (tiket transportasi untuk mahasiswa), jaringan internet kampus, iuran organisasi mahasiswa, perpustakaan, fasilitas olahraga, bengkel kampus, dll. Sebetulnya aku membayar lebih murah daripada yang kusebut di atas, karena ada potongan.
  15. Tiap tahun kadang orang membayar biaya untuk perpanjangan visa. Kadang tiap dua tahun, tergantung kondisi. 
  16. Tiap tahun kadang aku membeli perabotan: alat masak, keset, alat tulis, dll.
  17. Karena aku sudah berlangganan Bahncard 50, aku harus jalan-jalan dengan kereta. Jadi aku menganggarkan biaya jalan-jalan keliling Jerman dengan kereta Deutsche Bahn.
  18. Ada kalanya aku harus pergi ke Indonesia untuk mudik atau pergi ke negara tetangga di Eropa untuk tapa mlaku, seperti pepatah “Travelling tresno jalaran soko kulino”. Jadi aku menganggarkan biaya perjalanan pesawat.
  19. Jerman punya banyak skema asuransi, yang sulit kusebutkan satu per satu. Bahkan aku pun masih pusing dengan beda-bedanya, karena harus membaca kontraknya dan juga baca wikipedia serta kamus untuk mengerti. 
***

Selain biaya di atas, aku juga membayar pensiun dan reksa dana. Akan tetapi, karena ini tidak bisa disebut sebagai biaya hidup, tetapi lebih cocok disebut sebagai menabung atau investasi, jadinya tidak kumasukkan ke perhitungan ini. Ada kemungkinan pula, aku harus menarik dana ini di masa-masa sulit yang mungkin datang tahun depan, ketika beasiswa dari Niedersachsen berhenti.

***

Seri biaya hidup di Jerman, bisa dibaca dari tulisanku yang lainnya:

Dari semua biaya hidupku, yang terasa mahal itu biaya tempat tinggal dan biaya (jaminan) kesehatan. Sebetulnya baik Jerman maupun Indonesia, komponen biaya tempat tinggal dan kesehatan itu yang paling mencekik, apalagi kalau kamu rakyat miskin.

Bremen, 19 Februari 2015

iscab.saptocondro

iscab di Bremen Bercinta — http://iscabremen.blogspot.com/2015/02/biaya-hidup-di-bremen-tahun-2014.html

Setelah menulis tentang Bloody Valentine: Cinta Berdarah, tanpa sengaja aku melihat burungku berkicau tentang Valentine. Ternyata aku hanya berkicau tentang Hari Cinta Kasih itu ketika aku sedang berada di Bremen, hanya di Bremen 1.0 dan Bremen 2.0. Selama di Nürnberg, Bayern, aku tak pernah berkicau tentang Hari Kasih Sayang ini. Apakah Bremen itu tanah galau? Apakah selama di Bayern yang kupikirkan hanya “kerja, kerja, kerja” sehingga aku tak punya cinta? Arbeit! Arbeit! Arbeit!

Lange Rede kurzer Sinn, di bawah ini kicauanku tentang Valentine selama di Bremen.

***

Bremen 2.0: masa-masa di Bremen dari 15 Desember 2012 hingga kini

***

Bremen 1.0: masa-masa di Bremen dari 1 April 2006 hingga 31 Juli 2011.

***

Andai dulu Twitter sudah ditemukan, mungkin lebih banyak kicauan cinta dari masa-masa hidupku di Bandung, kota yang romantis. Angin malam kota Bandung menghembuskan kerinduan akan pelukan kekasih, sedangkan angin kota Bremen menggerakkan kincir angin untuk bekerja penuh energi. Kerja! Kerja! Kerja!

Bremen, 18-19 Februari 2015

iscab.saptocondro

iscab di Bremen Bercinta — http://iscabremen.blogspot.com/2015/02/kicauan-valentine-di-bremen.html

Bentar lagi, hari Valentine. Kata orang itu Hari Kasih Sayang, atau Hari Cinta Kasih. Buatku tidak penting, bagaimana sejarahnya, sehingga tanggal 14 Februari menjadi Hari Valentine. Banyak teori tentang itu, termasuk juga teori konspirasi. Seperti kata Lenin tentang kesatuan teori dan praktek, bahkan ada yang mempraktekkan teori konspirasi Valentine, dalam bentuk aksi di jalan dan di Facebook untuk menolak maupun mendukung Hari Valentine. Setiap orang memiliki caranya masing-masing untuk memaknai Hari Valentine.

Ada pesan yang kulupa asalnya dari mana, apakah dari Kahlil Gibran atau Antonio de Mello, yaitu “Tanah Suci kita hormati untuk memperingati bahwa setiap tanah yang kita injak adalah suci.
Hari Suci kita peringati, untuk menyadarkan bahwa setiap hari adalah suci dan anugerah Tuhan itu ada setiap hari”.
Begitu pula, Hari Kasih Sayang atau Hari Cinta Kasih itu ada untuk mengingat bahwa kita setiap hari perlu mengasihi sesama manusia.

***

Bagaimanakah Hari Valentine kumaknai?

Hari Kasih Sayang tersebut selalu membuatku mengenang masa-masa di sekolahku dulu. Tiap Valentine, sekolahku membuat hari ini spesial. Speaker sekolah yang biasa dipakai untuk pengumuman dari “komando terpusat”, jadi dipakai untuk ajang “request” lagu dari si anu ke si doi, pada jam tertentu. Beberapa ekskul memiliki kegiatan masing-masing di hari tersebut.

Berhubung aku bergabung dalam ekskul Palang Merah di SMP dan SMA, aku menjadi panitia donor darah. Setiap Valentine, selalu ada aksi donor darah yang bekerjasama dengan PMI pusat dan Lion’s Club. Tunjukkan kasih sayangmu dengan memberikan darahmu, karena darahmu adalah nyawa bagi orang lain. Kira-kira begitulah makna donor darah di Hari Valentine.

Darah adalah nyawa. Menurut ajaran Yahudi dan Kristen, darah adalah tempat nyawa bersemayam (Kejadian 9, Alkitab). Dalam acara kurban menurut beberapa bagian Kitab Keluaran, Imamat dan Ulangan (Alkitab), darah itu untuk Tuhan dan daging  untuk para imam. Dalam Islam, juga sebetulnya darah itu bukan untuk dimakan. Pada acara kurban, dalam Islam, daginglah yang dimakan. Darah itu untuk Tuhan karena nyawa itu untuk Tuhan. Jadi jangan menumpahkan darah sesama manusia (maksudnya membunuh), karena nyawa manusia adalah milik Tuhan. Kira-kira begitulah makna spiritual atau teologis tentang darah. Namun kali ini, darah sebagai nyawa, juga bermanfaat dalam menyelamatkan kehidupan orang lain. Dengan mendonor darah, kita membagikan sebagian nyawa kita untuk sesama manusia.

Waktu sekolah di SMA, aku masih takut jarum. Jadi aku tidak ikut mendonor darah. Aku hanya menjaga meja pendaftaran atau meja kue. OK, dari postur tubuhku yang gembul, pasti pembaca blog ini tahu kalau aku lebih sering berada di meja kue. Inilah yang disebut sebagai “The Law of Cookie Gravity”.

Setiap Valentine, aku selalu melihat seorang kawan wanita, yang tidak pernah kapok mendonor darah. Kenapa kusebut “kapok”? Lebih baik kuceritakan profil kawanku ini. Dia adalah penari jaipong terbaik di sekolahku. Dia memiliki rasa sosial yang tinggi. Setiap ulang tahun, dia merayakan di panti asuhan. Aku juga pernah ke rumahnya dan di akhir, aku selalu pulang membawa kue yang diberikannya. Jadi kuduga, dia memang orang yang suka berbagi. Saat aksi donor darah Valentine di sekolah, dia pun membagikan darahnya. Akan tetapi, tiap kali selesai donor darah, dia selalu pingsan. Tapi dia tidak kapok-kapok mendonorkan darahnya. Tiga kali Valentine di SMA, dia selalu jadi pendonor yang pasti pingsan. Dan bodohnya kami yang Palang Merah, tetap saja tidak kapok membiarkan dia mendonorkan darahnya. Seperti kata Patkay, “memang begitulah cinta, deritanya tiada akhir.”

Kupikir-pikir, setiap Valentine yang kuingat adalah donor darah di sekolah. Aku tidak pernah merayakan Valentine, ketika aku jomblo maupun ketika berpasangan. Mungkin karena pengalamanku hanya bersama cewek tomboy. Hari spesial buat kami adalah hari ulang tahun masing-masing, bukan hari Valentine. Spesial pakai coklat! Jadi Valentine yang paling terkenang secara mendalam adalah Bloody Valentine, Cinta Berdarah.

Kini aku merenung, karena tidak bisa mendonor plasma darahku di Hari Valentine tahun ini. Padahal aku sudah sembuh dari rasa takutku akan jarum. Aku lagi dalam masa-masa perawatan gigi. Selama sebulan setelah cabut gigi, aku belum boleh mendonor plasma darahku. Selain itu, minggu ini alias besok, aku harus merasakan penambalan gigi. Kegiatan donorku pun harus tertunda lagi. Aku tidak bisa memberikan cintaku pada sesama manusia dalam bentuk plasma darahku.

***

Sebagian tulisan tentang donor darah, donor plasma darah, dan Valentine kali ini, mungkin mirip dengan catatanku sebelumnya:

Darah Juang!

Oldenburg dan Bremen, 12-13 Februari 2015

iscab.saptocondro

Condro, budak Aloy98 nu TOP tea — http://aloyiscabtop.blogspot.com/2015/02/bloody-valentine-cinta-berdarah.html

Aku suka dengan film seri “2 Broke Girls” [1], tentang dua wanita yang “broke” [2] dan menjadi kelas pekerja untuk menyambung hidup. Mereka berdua bernama Max Black dan Caroline Channing. Keduanya bekerja di warung makan milik Han. Di sana bekerja pula seorang bekas pemain musik yaitu Earl. Banyak kritik sosial yang muncul dalam film seri ini, dalam bentuk satire dan jokes yang sinis atau sarkastis. Sarkasme adalah hal yang membuatku jatuh cinta dengan Max Black, yang diperankan oleh Kat Dennings.

Max Black (Kat Dennings), “2 Broke Girls” from CBS 

Sesuai judul posting blog ini, pada satu episode, Earl berkata bahwa dulu dia mencatat ide-ide di tissue toilet, kini orang menggunakan Twitter. Kritik sosial yang menarik. Kebetulan aku termasuk orang yang menggunakan Twitter untuk mencatat ide. Lebih tepatnya aku menggunakan social media lain (Plurk, Path, dll) yang kemudian disambung ke Twitter. Aku dibesarkan di Indonesia yang tidak memiliki tradisi bersih diri menggunakan tissue toilet, tetapi dengan air dan sabun [3].

Tissue toilet dulu digunakan juga oleh Antonio Gramsci [4], ketika menulis teori-teori Marxisme ketika Gramsci dipenjara pada zaman Mussolini. Andai Gramsci bisa menulis di blog atau di Twitter, mungkin Marxisme Italia memiliki perkembangan berbeda dalam perlawanannya menghadapi  fasisme Mussolini dan Hitler.

Dalam kisah “V for Vendetta” [5], versi film [6], diceritakan bahwa Evey Hammond, membaca gulungan tissue toilet yang ditulis oleh Valerie Page. Dari gulungan tersebut, Valerie Page menceritakan dirinya seorang aktris film yang dipenjarakan lalu dihukum mati, oleh pemerintah yang fasis, karena Valerie lesbian. Evey Hammond mengalami simulasi penyiksaan dalam penjara sembari membaca gulungan tersebut. Oh, ya, Evey Hammond diperankan oleh Natalie Portman dalam film. Adegan ketika Evey mengalami simulasi penyiksaan mengingatkanku akan OSpek di ITB yang kualami. Jadi bagian ini yang paling berkesan dalam film.

Aku juga teringat dulu di ITB memiliki kawan yang membawa buku ide. Dia menulis ide-idenya di buku kecilnya kalau tiba-tiba inspirasi muncul. Ketika tidur, buku ide berada di sampingnya. Siapa tahu dia susah tidur atau tiba-tiba terbangun karena ide menghampirinya. Aku tidak mencontoh cara kawanku mencatat ide.

Aku mencatat ideku secara acak-acakan. Kadang di buku tulis. Kadang di kertas. Kadang di Twitter (via social media lainnya). Kadang di blog. Kadang di Excel. Kadang di file txt yang kutulis dengan notepad dan text editor lainnya. Kadang jadi coding singkat dalam bahasa C/C++ atau MATLAB. Karena catatanku tersebar dalam berbagai bentuk dan di mana-mana, aku suka pusing kalau harus mengingat-ingat. Akan tetapi, aku belum pernah mencatat ide di tissue toilet.

Jadi di manakah kamu biasanya mencatat ide?

***

[1] “Two Broke Girls”, adalah serial TV dari CBS (fb; wiki: en,de,idimdb).
[2] “broke” biasanya diterjemahkan sebagai bangkrut. Namun dalam konteks ini, lebih tepat jika “broke” diartikan sebagai tidak punya banyak uang. Caroline Channing tiba-tiba “broke” karena kekayaan keluarganya disita oleh pengadilan karena ayahnya melakukan kejahatan finansial. Caroline kehilangan tempat tinggal dan akhirnya menumpang di apartemen Max. Sedangkan Max Black “broke” karena dia memang lahir dari kelas pekerja dan dia tak punya modal dan alat produksi. Max menyambung hidup dengan bekerja dan tinggal murah secara ilegal di suatu apartemen.
[3] Bersih diri = cebok
[4] Antonio Gramsci adalah seorang teoretikus Marxisme dari Italia (wiki: en,de,id; web marxist org).
[5] “V for Vendetta” (1982) adalah komik karangan Alan Moore dan David Lloyd, tentang seorang anarchist bertopeng “Guy Fawkes” bernama V yang melakukan revolusi melawan Pemerintah Inggris yang fasis (wiki: en,de,id).
[6] “V for Vendetta” (2005) adalah film adaptasi komik [4] di atas, disutradarai oleh James McTeigue dan ditulis oleh Wachowski bersaudara (wiki: en,de,idimdb).

Semoga ide-idemu tidak terguyur bersama tissue toilet, atau tertimbun oleh kicauan Twitter yang tak bermakna.

Oldenburg, 28 Januari 2015

iscab.saptocondro

iscablog, euy — http://iscab.blogspot.com/2015/01/twitter-dan-tissue-toilet.html

Daftar Beasiswa, Januari 2015.
Berbagai negara.
Selamat berjuang!
— begin forwarded message —
1. Australia Award Scholarship (http://australiaawardsindo.or.id)
3. DIKTI Scholarship
a. Dalam Negeri (http://www.beasiswa.dikti.go.id/dn/)
b. Luar Negeri (http://beasiswa.dikti.go.id/ln/)
4. Turkey Government Scholarship (http://www.turkiyeburslari.gov.tr/index.php/en)
5. General Cultural Scholarship India (http://www.iccrindia.net/gereralscheme.html)
6. USA Government Scholarship
a. (http://www.aminef.or.id/index.php)
b. (http://www.iief.or.id)
7. Netherland Government Scholarship (http://www.nesoindonesia.or.id/beasiswa)
9. Belgium Government Scholarship (http://www.vliruos.be/4273.aspx)
12. Utrecht University Netherland (http://www.uu.nl/university/international-
students/en/financialmatters/grantsandscholarships/Pages/utrechtexcellencescholarships.aspx)
13. Prasetya Mulya Business School Indonesia (http://www.pmbs.ac.id/s2/scholarship.php?lang=ENG)
14. Brunei Darussalam Government Scholarship (http://www.mofat.gov.bn/index.php/announcement)
15. Monbugakusho Scholarship Japan (http://www.id.emb-japan.go.jp/sch.html)
17. PPM School of Management Indonesia (http://ppm-manajemen.ac.id/beasiswa-penuh-s2-mm-reguler/)
19. Sweden Government Scholarship (http://www.studyinsweden.se/Scholarships/)
21. Taiwan Government Scholarship (http://www.studyintaiwan.org/taiwan_scholarships.html)
22. United Kingdom Government SCholarship (http://www.chevening.org/indonesia/)
24. Ancora Foundation Scholarship (http://ancorafoundation.com)
25. Asian Public Intellectuals Fellowship Japan (http://www.api-fellowships.org/body/)
26. AUN/SEED-Net Scholarship (http://www.seed-net.org/index.php)
27. Art Asia Major Scholarship Korea National University of Arts (http://eng.karts.ac.kr:81/karts/board/list.jsp?
c_no=003013002&bt_no=123&page=1&b_category=&b_categoryimg=&searchSelect=&keyword=&divisionSelect=&engNotice=engNotice)
28. Ritsumeikan Asia Pacific University Japan (http://www.apu.ac.jp/home/life/index.php?content_id=30)
30. DIKTIS Overseas Scholarship (http://www.pendis.kemenag.go.id/beasiswaln/)
31. Honjo International Scholarship Foundation Japan (http://hisf.or.jp/english/sch-f/)
33. International HIV & Drug Use Fellowship USA (http://www.iasociety.org/fellowship.aspx)
34. Nitori International Scholarship Foundation Japan (http://www.nitori-shougakuzaidan.com/en/)
35. School of Government and Public Policy Indonesia (http://sgpp.ac.id/pages/financial-conditions)
36. Inpex Scholarship Foundation Japan 

Berjuang untuk Beasiswa — http://iscabeasiswa.blogspot.com/2015/01/daftar-beasiswa-6-januari-2015.html

Daftar Beasiswa September 2014.
Dari berbagai negara.
Selamat berjuang!

— begin forwarded message —

Barang kali ada sodara,anak,pacar,dll yang minat lanjut sekolah dalam/luar negeri
1. Australia Award Scholarship (http:/australiaawardsindo.or.id)
2. LPDP Scholarship (http://www.beasiswalpdp.org/index.html)
3. DIKTI Scholarship
a. Dalam Negeri (http://www.beasiswa.dikti.go.id/dn/)
b. Luar Negeri (http://beasiswa.dikti.go.id/ln/)
4. Turkey Government Scholarship (http://www.turkiyeburslari.gov.tr/index.php/en)
5. General Cultural Scholarship India (http://www.iccrindia.net/gereralscheme.html)
6. USA Government Scholarship
a. (http://www.aminef.or.id/index.php)
b. (http://www.iief.or.id)
7. Netherland Government Scholarship (http://www.nesoindonesia.or.id/beasiswa)
8. Korean Government Scholarship (http://www.niied.go.kr/eng/contents.do?contentsNo=78&menuNo=349)
9. Belgium Government Scholarship (http://www.vliruos.be/4273.aspx)
10. Israel Government Scholarship (http://www.mfa.gov.il/mfa/abouttheministry/departments/pages/scholarships%20offered%20by%20the%20israeli%20government%20to.aspx)
11. Sciences Po France (http://formation.sciences-po.fr/en/contenu/the-emile-boutmy-scholarship)
12. Utrecht University Netherland (http://www.uu.nl/university/international-
students/en/financialmatters/grantsandscholarships/Pages/utrechtexcellencescholarships.aspx)
13. Prasetya Mulya Business School Indonesia (http://www.pmbs.ac.id/s2/scholarship.php?lang=ENG)
14. Brunei Darussalam Government Scholarship (http://www.mofat.gov.bn/index.php/announcement)
15. Monbugakusho Scholarship Japan (http://www.id.emb-japan.go.jp/sch.html)
16. Paramadina University Master Fellowship Indonesia (https://gradschool.paramadina.ac.id/in/graduate-school-fellowship/paramadina-medco-fellowship-2013.html)
17. PPM School of Management Indonesia (http://ppm-manajemen.ac.id/beasiswa-penuh-s2-mm-reguler/)
18. University of Twente Netherland (http://www.utwente.nl/internationalstudents/sc  

— end of forwarded message —

Catatan tautan beasiswa yang lain bisa dilihat sebagai berikut

Seperti kata pepatah, “Keberuntungan adalah keahlian melihat dan memanfaatkan kesempatan”.

Bremen, 6 Januari 2015

iscab.saptocondro
Darah Juang!

Berjuang untuk Beasiswa — http://iscabeasiswa.blogspot.com/2015/01/daftar-beasiswa-september-2014.html

Tiga tahun lalu, aku menulis “Mengapa aku tidak lanjut studi doktoral“. Di sana, aku menulis tentang kebosananku karena aku menghabiskan 12,5 tahun hidupku dalam lingkungan pendidikan, baik sebagai pelajar maupun pengajar. Aku studi S1 kelamaan 1 tahun dan aku juga studi S2 atau master dengan waktu lebih dua kali lipat dari waktu seharusnya. Di antara S1 dan S2, aku sempat menjadi pengajar, baik di SMA maupun di universitas. Aku pun berpikir kalau aku harus merasakan bekerja sebagai engineer di suatu industri. Begitulah alasanku untuk tidak lanjut studi doktoral saat itu.

Tiga tahun telah berlalu dan kini aku memakan kata-kataku sendiri. Ini bagai menjilat ludah sendiri yang sudah dibuang. Awal tahun memang cocok buat merenung. Awal 2012, kurenungkan kenapa aku tak mau studi doktoral sedangkan awal 2015 kurenungkan kenapa aku jadi punya peran sebagai PhD student. Renungan tahun ini penting buatku, untuk mempertanyakan apakah peranku ini sungguh bermakna atau tidak. Perlukah peran ini dilanjutkan sampai titik darah penghabisan. Aku harus berani mengkritik diriku sendiri supaya aku bisa berperan sebagai mahasiswa doktoral dengan membawa makna, pertama bagi diriku sendiri dalam perkembangan mentalitas dan karir, kemudian bagi sebanyak-banyaknya orang lain dalam bentuk karya.

Menjadi mahasiswa doktoral di Eropa itu serasa berdiri di atas garis perbatasan. Satu kaki berada di tanah harapan. Di sana, aku percaya bahwa aku akan memberi karya ilmiah yang berguna bagi kemanusiaan. Aku juga percaya bahwa aku membangun karir dan mempersiapkan jalan hidup di tanah itu. Sedangkan kaki lain berdiri gemetaran di atas tanah kekhawatiran. Di tanah ini, selalu ada rasa ingin keluar dari program PhD. Ada rasa tidak sanggup meneruskan studi doktoral ini. Timbullah ide-ide “quit your PhD and get real job”, karena pekerjaan lain bisa memiliki upah yang lebih baik.

Akan tetapi kupikir-pikir, dalam pekerjaan apapun, akan ada masa di mana seseorang galau dan bertanya apakah ini pekerjaan yang cocok atau tidak. Begitu pula dalam studi doktoral. Kegalauan ini takkan bisa dihindari. Seorang manusia kritis sepertiku akan selalu mempertanyakan peran sosial: “Di manakah tempatku berada? Untuk apa, aku hidup? Bagaimana aku bisa memberi makna bagi orang lain di dunia ini?”

Seperti kata nasihat meme yang seliweran di internet, “If you feel like quitting, remember why you started”, jadilah aku merasa perlu menjawab mengapa aku memulai studi doktoral ini. Aku perlu mengingat apa yang terjadi tahun 2013, ketika aku melamar program ini. Aku harus berani menghadapi masa lalu, kemudian memeluknya erat, mendalami kehangatannya, kemudian melepaskannya untuk menyambut masa depan penuh harapan.

***

Bagaimana ceritanya aku sampai jadi mahasiswa doktoral?

Cerita dimulai tahun 2011, ketika aku kelaparan dan bangkrut. Aku telah lulus studi master tahun 2010. Aku melamar kerja sana-sini, baik lamaran untuk studi doktoral maupun industri. Setelah 8 bulan penantian, aku pun mendapatkan kontrak kerja sebagai konsultan. Perusahaan consulting ini begitu muda dan lincah. Sebetulnya menarik juga bekerja di perusahaan ini. Kemudian aku ditempatkan di perusahaan besar yang memiliki grup litbang di bidang otomotif.

Tahun 2011 hingga 2012, aku merasakan bekerja sebagai test engineer di bidang otomotif di Bayern. Aku sebetulnya tertarik untuk bekerja sebagai software developer, daripada software tester. Tetapi aku merasa pekerjaan ini cukup OK, untuk mengobati kelaparanku dan mengembalikan utang-utangku untuk sementara. Aku menyimpan harapan kalau aku bisa belajar banyak dan kemudian bisa jadi developer setelah sekian waktu. Akan tetapi semakin lama aku bekerja, semakin aku merasa tidak cocok dengan kultur kerja grup ini. Sebagai konsultan, aku tidak memiliki akses berbagai informasi baik di jaringan kantor maupun rapat, namun aku dituntut bekerja seperti pegawai tetap yang punya akses penuh. Akhirnya aku mengalami putus kontrak.

Tahun 2013, aku dijual ke perusahaan bidang luar angkasa. Aku berharap bisa mendesain software dan hardware untuk komponen satelit. Akan tetapi ternyata aku juga tidak cocok dengan kultur kerja perusahaan ini. Selain itu, ilmu mendesain hardware yang kumiliki sudah ketinggalan zaman. Aku juga belum “move on” dari pedihnya putus kontrak di perusahaan otomotif. Selain itu, segenap masalah di Bremen dengan perusahaan telekomunikasi dan urusan visa, membuatku mengalami stress yang mengganggu pekerjaan. Oh, ya, ditambah pula, orang yang menerimaku bekerja, meninggal 3 minggu setelah aku bekerja. Akhirnya aku pun putus kontrak.

Aku pun kembali menjadi ronin. Aku mendapat uang pengangguran (Arbeitslosengeld). Aku kembali melamar kerja sana-sini. Aku merasakan kesulitan yang sama seperti tahun 2011 dalam mencari kerja. Visaku yang belum “permanent residence” atau “unbefristet”, menjadi penghalang. Banyak perusahaan menolak orang-orang dengan visa seperti ini. Hanya perusahaan kecil yang biasanya berani menerimaku dengan visa seperti ini.

Aku berpikir untuk kembali ke Indonesia. Aku sempat tidak bisa tidur karena memikirkan apa saja yang harus kusiapkan untuk kembali ke tanah airku. Aku berpikir kalau aku bekerja di Indonesia, aku akan menjadi apa. Lowongan kerja di Indonesia memiliki syarat umur dan aku tiba-tiba merasa tua.

Entah kenapa, ada bisikan dalam jiwaku, “Why not PhD?”. Aku tiba-tiba kembali diingatkan bisikan supranatural untuk merasakan panggilan jiwaku untuk berperan dalam lembaga pendidikan. Dengan PhD, aku bisa kembali ke universitas. Bukankah aku masih menyimpan gairah atau passion di bidang penelitian dan pendidikan?

Berhubung aku sudah merasakan rasionalisme Eropa, aku tidak mudah tergoda bisikan gaib. Aku tiba-tiba mengontak kawan lama Elektro ITB yang kini hidup di Norwegia, yaitu Eka Suwartadi. Aku minta janji Skype dengannya. Aku jarang mengobrol dengan orang di Skype. Namun kali ini, aku ingin bertanya tentang pengalamannya dalam proses melamar doktoral, termasuk mengapa dan bagaimana. Dia berkata bahwa bertemu seorang Profesor Norwegia yang sedang berkunjung di ITB di Bandung yang membuka jalan hidupnya untuk studi doktoral di Norwegia.

Aku juga mengontak kawan lama PPI Bremen yang sudah kembali ke Indonesia, yaitu Rio Deswandi. Aku bertanya karena dia adalah Doktor lulusan Uni Bremen yang kuanggap paling tekun dan sungguh-sungguh menjiwai kegiatan doktoralnya. Selain itu, dialah yang paling suka mengundangku makan-makan. Kini aku bertanya mengenai apakah aku cocok untuk PhD. Dia bilang kalau aku memiliki daya juang yang cukup untuk PhD.

Aku pun memulai lamaran doktoral. Selain mencari info lowongan engineer di perusahaan, aku juga membuka-buka website lembaga penelitian dan universitas. Aku mencoba lowongan di Jerman Utara karena aku tidak mau pindahan jarak jauh. Uang tunjangan pengangguran  yang kudapat itu hanya 8 bulan. Jadi dalam 8 bulan aku harus mempersiapkan diri kalau pulang ke Indonesia juga pilihan, jika aku gagal dapat pekerjaan di Jerman.

Ada satu hal yang menjadi bagian hidupku yang sulit terlepas, yaitu online social network. Aku membuka Facebook dan LinkedIn. Aku melihat kawan-kawan bekerja apa saja. Aku harus melihat pilihan apa saja kalau aku bekerja di Indonesia atau di Jerman. Tidak kusangka, aku membuka profil ketua PPI Bremen saat itu, yaitu Rany Miranti. Aku melihat program doktoral yang dikerjakannya di Uni Oldenburg, di Niedersachsen, dekat Bremen. Aku tertarik dengan bidangnya: “renewable energy” (energi terbarukan). Aku pun bertanya mengenai lowongan di grupnya. Rany membantu dalam mengirim tautan.

Dari tautan di Uni Oldenburg, aku mengeklik sana-sini kemudian aku melihat topik “Multi-microphone speech enhancement using brain computer interfaces”. Aku merasa topik multi-mikropon sesuai dengan latar belakang S1 di ITB dan “brain-computer interface” (BCI) sesuai dengan latar belakang S2 di Uni Bremen. Aku pun mengirim lamaran. Syukurlah aku diwawancara di Skype. Dalam wawancara, aku banyak ditanya mengenai signal processing. Aku pun merasa kalau aku sudah berkarat. Banyak hal yang tidak kuketahui. Professor tersebut berkata bahwa aku termasuk kandidat yang bagus, namun aku harus menunggu karena dia juga mewawancarai kandidat bagus lainnya.

Tidak berapa lama kemudian, aku mendapat jawaban negatif. Aku agak kecewa tidak bisa diterima program doktoral ini. Namun aku juga lagi sering menanggapi ajakan jalan-jalan, memenuhi panggilan wawancara lainnya di perusahaan. Beberapa minggu kemudian, seorang Professor dari Jade HS Oldenburg mengirimku email. Dia mendapat berkas-berkasku dari Profesor Uni Oldenburg yang menolakku. Ternyata topik doktoral yang kulamar sebelumnya adalah bagian dalam program Signal and Cognition (SigCog), yang didanai kementrian pendidikan dan kebudayaan di Niedersachsen. Professor dari Jade HS ini bertanya apakah aku masih berminat doktoral di bidang BCI. Aku menjawab ya dan siap datang wawancara di kantornya.

Pertama kali aku datang ke kota Oldenburg adalah untuk wawancara doktoral di Jade HS Oldenburg. Sempat tersesat sebentar di Oldenburg karena aku mencari tempat makan siang sebelum wawancara. Aku menjalani wawancara ini dan aku diterima program doktoral, dengan topik “Using brain computer interfaces for active control of assistive technologies”, masih di program SigCog yang sama. Setelah itu, aku sibuk urusan administrasi dan berurusan dengan kegiatan doktoral.

***

Kini aku sudah memasuki akhir semester ketiga dari program doktoralku. Dua semester kuhabiskan waktuku dalam beberapa kuliah dan mencari “research question” (rumusan masalah). Sayang sekali, aku masih meraba-raba dalam kegelapan mengenai apa yang harus kulakukan dalam penelitianku. Waktuku tinggal 3 semester lagi. Setelah itu, dana habis. Tahun depan, aku akan dihadapkan kepada keputusan apakah aku meneruskan program PhD ini atau berhenti. Aku masih belum bisa eksperimen karena komisi ethik belum menyetujui proposalku. Jika satu penelitian butuh 1 tahun, sedangkan aku ingin membuat 3 penelitian, mau tidak mau aku harus mencari dana lain untuk tahun keempat. Juga satu semester tambahan untuk mengetik thesis.

Oh, ya, satu penelitian yang kumaksud terdiri dari 1 proposal ethik yang lolos review komisi ethik, rangkaian percobaan/eksperimen dengan beberapa manusia sebagai subjek yang masing-masing terdiri dari beberapa sesi, kemudian melaporkan dalam bentuk publikasi di 1 jurnal ilmiah. Aku membuat thesis kumulatif: 3 paper di jurnal ilmiah ditambah tulisan pembukaan dan penutup.

Berhubung aku belum pernah punya pengalaman PhD, jadi aku banyak tidak tahu apa itu PhD atau apa itu studi doktoral. Aku serasa seorang buta yang berjalan di dalam kegelapan gua hantu. Jadi aku jalani saja masa-masa S3 ini. Suatu hari, aku akan tahu apa itu PhD.
Habisi!

Bagai kucing dalam kotak Schrodinger, sebelum kotak dibuka, aku tak tahu apakah kucing itu akan jadi Doktor atau loncat keluar kabur dari program doktoral.  Setidak-tidaknya kucing itu bakal tahu apa itu PhD. Kenapa jadi ngomong tentang kucing, ya? Bukankah tadi ada Si Buta dari Gua Hantu? Setahuku di Gua Hantu ada ular raksasa yang bernama PhD. Daripada kebanyakan analogi, lebih baik aku kembali ke Dharma Doktoral.
Habisi!

Bremen, 6 Januari 2015

iscab.saptocondro
Darah Juang!

Berjuang untuk Beasiswa — http://iscabeasiswa.blogspot.com/2015/01/mendadak-doktoral.html

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 447 other followers