Skip navigation

Apakah yang bisa kutuliskan dari smartphone? Bentar lagi sinyal hilang. Jadi cuma bisa segini aja.

Oldenburg, 5 September 2016 

iscab.saptocondro

Kemarin di kantor Jade HS Oldenburg mati lampu. Listrik tidak mengalir seharian karena ada pemeriksaan jaringan listrik. Aku pun berada di Bremen (baca Catatan PhD Berdarah, 30 Agustus 2016), untuk mengerjakan hal-hal yang bisa kukerjakan di rumah. Bekerja di kantor cukup rumit karena batere laptop sudah soak dan harddisk eksternal harus selalu tersambung ke jala-jala listrik.

Aku teringat bahwa di Jerman, jarang sekali aku merasakan mati listrik. Di Bremen, sempat kudapatkan surat pemberitahuan akan pemadaman bergilir. Akan tetapi saat itu aku berada di kantor, jadinya aku tidak merasakan padamnya listrik. Ketika aku masih kuliah master di Bremen, hanya dua kali dalam lima tahun, aku merasakan mati listrik di malam hari. Aku pun jadi kangen dengan masa-masa mati lampu di (kabupaten) Bandung, Indonesia, yang nyaris setiap hari. Ketika mati lampu, bintang-bintang Selatan bisa nampak lebih jelas kulihat dari atas genteng rumahku di Margahayu Permai dulu.

Kali ini, aku pertama kali mendapatkan mati listrik di Niedersachsen. Selalu ada yang pertama untuk segala sesuatu. Aku pun mulai merenungkan bahwa aku harus bisa tetap produktif dalam risetku dengan kesadaran penuh: apa yang bisa kukerjakan di rumah dan di kantor, dengan sumber daya masing-masing lokasi. Padamnya listrik membuatku tersadar bahwa hambatan selalu ada, tapi aku tidak boleh lupa dengan tujuanku sebagai pekerja sains. Aku harus bergerak terus ke depan, menyelesaikan masalah, satu per satu dan langkah demi langkah.
Habisi!

Oldenburg, 1 September 2016

iscab.saptocondro

Sapto Condro bernyanyi bersama semilir angin Sachsen Hilir — http://saptoconiedersachsen.blogspot.com/2016/09/mati-listrik-di-kantor-oldenburg.html
posted on September 01, 2016 at 08:08PM in the year of Chinese Yang Red Fire Monkey and Javanese Anama / Jimawal.

¿Por qué aprendo español?
Aprendo español para cantar la canción española.
Aprendo español para cantar canciones en español.

***

Why do I learn spanish?
I learn spanish to sing spanish song.
I learn spanish to sing songs in spanish.

***

Warum lerne ich Spanisch?
Ich lerne Spanisch um spanisches Lied zu singen.
Ich lerne Spanisch um Lieder auf Spanisch zu singen.

***

Mengapa aku belajar bahasa Spanyol?
Aku belajar bahasa Spanyol untuk menyanyikan lagu berbahasa Spanyol.
Aku belajar bahasa Spanyol untuk menyanyikan lagu-lagu berbahasa Spanyol.

Oldenburgo, 24.08.2016

iscab.saptocondro

Sapto Condro en español — http://spaniscab.blogspot.com/2016/08/por-que-aprendo-espanol.html
posted on August 24, 2016 at 07:00PM in the year of Chinese Yang Red Fire Monkey and Javanese Anama / Jimawal.

Setelah lebih dari 10 tahun di Jerman, baru kini kusadari perbedaan antara DE dan DT. Keduanya adalah singkatan yang lazim dipakai di Jerman.

DE atau de berarti Deutschland, yaitu negara Jerman atau Germany. Website dengan domain ‘.de’ adalah website dari negara Jerman, contohnya saptocondro.de.

DT atau dt berarti Deutsch, yaitu bahasa Jerman atau german language. Singkatan ‘dt.’ menandakan suatu kata-kata dari bahasa Jerman.

Bremen, 13 Agustus 2016

iscab.saptocondro

German story of Cerita Jerman Sapto Condro in Deutschland — http://saptocondeutschland.blogspot.com/2016/08/beda-de-dengan-dt.html
posted on August 13, 2016 at 09:22PM in the year of Chinese Yang Red Fire Monkey and Javanese Anama / Jimawal.

Aku masih bingung kenapa orang sering menyalin tulisan orang lain. Baiklah, aku tahu mereka menyalin karena tidak punya kreativitas untuk membuat tulisan sendiri. Ada juga yang menyalin dengan cara shake and paste lalu ditampilkan di media pers resmi demi honor tulisan. Ada juga yang mencuri tulisan supaya blog terasa penuh content, lalu dipakai untuk membangkitkan iklan (dan traffic, dengan teknik SEO).

Intermezzo: Aku juga tidak kreatif dalam membuat gambar, jadinya aku kadang mencomot gambar dari Google untuk mengisi blog ini. Kalau asal-usul gambar jelas, aku cantumkan sumbernya. Aku juga tidak mengambil keuntungan dari semua tulisan blog.

***

Beberapa orang menggunakan anti right click, supaya tulisan di blog mereka tidak disalin. Masih bisa diakali sih. Bagi banyak orang, tulisan itu seperti anak sendiri. Menyalin tulisan seperti menculik anak dari pemiliknya. Sudah dilahirkan dengan susah payah, dicuri orang lain, lalu dipakai keuntungan komersial. Semua tulisanku adalah milik publik, lebih tepatnya milik blogspot dan wordpress. Mereka bisa menghapus tulisanku. Aku pun sedih kalau anakku dibunuh. Tapi aku tetap menulis untuk khalayak ramai, bukan untuk kepentingan komersial. Tiada iklan yang kupakai untuk kepentinganku. Semua iklan adalah milik blogspot dan wordpress. Aku menulis untuk mencapai keabadian, bukan untuk kepentingan ekonomi, Jadi aku masih merelakan para plagiat menyalin tulisan-tulisanku di blog yang sebetulnya tidak terlalu bermakna.

Kali ini, aku ingin membicarakan tulisanku yang disalin oleh orang lain. Tulisan tentang “tips mencari beasiswa” pernah disalin dan diedit lalu tampil di surat kabar. Tulisanku tersebut tidak kupakai untuk mencari keuntungan pribadi. Penyalin menggunakannya untuk dapat honor. Teknik menyalin yang dipakainya adalah “Shake and Paste”. Lumayanlah masih ada “shake”, alias diedit dikit.

Tulisanku yang lain yang disalin adalah “Goyang Kuntilanak Merah“. Tulisanku ketika di Bayern ini disalin dengan cara “Copy and Paste” mentah-mentah teksnya. Yang digoyang sedikit adalah font tulisan. Judul diganti menjadi “Goyang Dahsyat Kuntilanak Merah“. Penyalinan tulisan kuduga menggunakan bots, hanya judulnya yang diutak-atik oleh manusia. Penyalin memiliki 37 jenis iklan di blognya. Selain itu, teknik SEO yang dipakainya bisa menempatkannya di halaman awal Google. Betul-betul blog komersial.

Aku tak menyangka mengapa Kuntilanak yang bergoyang bisa menarik untuk disalin. Padahal goyang Higgs Boson lebih menarik. Atau goyang gelombang gravitasional juga masih lebih keren. Yah, mau apa lagi. Kita hidup di zaman ketika tulisan salinan lebih mudah muncul di Google Search Engine dan Yahoo News aggregator, daripada tulisan aslinya. Juga zaman ketika video asli Angklung Hamburg bermain “Indonesia Pusaka” di Youtube kalah jumlah view dengan video plagiatnya. Bagi orang yang suka originalitas sepertiku, ada rasa sebak di dada menghadapi situasi ini. Menyalin itu hendaknya mencantumkan sumber aslinya (dan sebaiknya minta izin kalau ada copyright).

Selamat bersalin dan menyalin!

***

Definisi:

Persalinan adalah proses bersalin, yaitu proses melahirkan anak. Bagi beberapa orang, kegiatan kreatif untuk menghasilkan tulisan, gambar, karya seni, kriya, thesis, dll itu seperti proses kehamilan dan persalinan. Ada masa-masa kreatif yang bikin galau dan emosi tidak stabil seperti orang hamil. Masa-masa melahirkan tulisan atau karya kreatif itu seperti proses persalinan, ada rasa pedih dan sakit. Ketika tulisan sudah lahir, ada masa-masa baby blue.

Penyalinan adalah proses menyalin. Beberapa kegiatan menyalin bisa dikatakan plagiat, ketika ia tidak mencantumkan sumber yang disalin. Pada beberapa kegiatan penyalinan juga selain mencantumkan sumber juga butuh izin dari sumber.

Kuntilanak atau Pontianak adalah sosok serupa wanita berambut panjang. Dalam masyarakat patriarkis, wanita menjadi subordinat dari pria. Hanya dengan kekuatan gaib, sosok wanita bisa ditakuti oleh pria. Jadilah wanita yang kuat, menjadi Kuntilanak. Untuk menghapuskan kuntilanak, harus ada revolusi. Masyarakat patriarkis harus dihapuskan sehingga kesetaraan antara pria dan wanita tercapai, maka mitos Kuntilanak akan hilang dengan sendirinya dari kesadaran masyarakat.

Rintihan Kuntilanak, adalah lagu dari The PanasDalam. Aku akan mencoba bikin cover lagu ini di youtube. Tunggu tanggal mainnya aja.

Merah marun, adalah warna merah seperti biji marun atau maroon atau kastanya. Marun yang bisa bermain musik, disebut sebagai Maroon Five. Di sana, ada mas Adam yang bisa menyanyi melengking. Tapi lengkingannya masih kalah efeknya dengan cekikikan Kuntilanak. Yang lagi ngetrend adalah Misteri Tahu Bulat bersama Mas Adam Levine.

Segitiga Merah Marun adalah judul lagu dari The PanasDalam. Lagu ini membuatku terharu, mengingat masa-masa sekolah dulu ketika aku masih lugu.

Kuntilanak Merah Marun Bersalin Merintih adalah usaha kreatif menghubungkan kata-kata tidak bermakna menjadi lebih tidak bermakna. Revolusi absurdisme dimulai dari merayakan kehancuran struktur-struktur pembangun makna.

Nyoiii…

Bremen, 16 Mei 2016

iscab.saptocondro

iscablog, euy — http://iscab.blogspot.com/2016/05/kuntilanak-merah-marun-bersalin-merintih.html
posted on May 16, 2016 at 09:26PM in the year of Chinese Yang Red Fire Monkey and Javanese Anama / Jimawal.

Aku sedang berpikir apa yang membuat orang bermotivasi membaca buku, terutama hingga tuntas. Dulu sewaktu SMP, aku bisa menuntaskan satu buku detektif remaja setiap hari. Beralih ke SMA, aku butuh seminggu untuk menyelesaikan buku mirip. Semakin dewasa, kemampuan membaca hingga tuntas makin berkurang. Sepertinya kemampuan membacaku menurun.

Kurenungkan kembali, kalau sewaktu SMA, aku mulai tertarik membaca koran sehingga waktuku untuk membaca buku mulai berkurang. Jadi sebetulnya minat membacaku tidak berkurang. Hanya bacaannya berbeda.

Ketika menjadi mahasiswa di Indonesia, aku juga membeli buku, baik untuk kepentingan kuliah maupun untuk rasa ingin tahu. Buku untuk kepentingan kuliah tidak kubaca tuntas, aku hanya membaca yang penting-penting saja untuk latihan soal dan ujian. Beberapa hal juga tak kumengerti, tapi toh aku bisa lulus kuliah.

Buku-buku untuk kepentingan non akademik juga kubeli. Biasanya aku penasaran dengan suatu buku karena kawan-kawanku mengobrol tentang suatu buku. Jadinya aku (ingin) ikut membaca, supaya “nyambung” kalau kumpul-kumpul. Buku pun kadang kubeli. “Social pressure” ternyata mempengaruhi bacaanku.

Ternyata tidak semua buku yang kubeli bisa tuntas kubaca. Yang tuntas kubaca biasanya buku-buku yang endingnya bikin penasaran atau penuh “element of surprise”, misalnya detektif, misteri, thriller, dll. Buku-buku yang bukan novel yang tuntas kubaca, ternyata adalah buku-buku “kiri”. Jadi bisa kutebak kira-kira buku apa saja yang bisa menggerakkan gairah membaca.

***

Sesampainya di Jerman, aku jarang membeli buku. Alasannya adalah biaya: harga buku relatif mahal dan buku itu berat (kalau pindah rumah) serta buku menghabiskan ruang rak dan kamar. Membuang buku juga pedih rasanya. Seperti ada sebagian jiwa yang harus dilepas ketika aku harus membuang buku. Biasanya aku meminjam buku ke kawan.

Tidak semua buku yang kupinjam atau kudapat, bisa tuntas kubaca dari awal hingga akhir. Ada yang kukembalikan sebelum selesai kubaca tuntas. Ada yang kubaca loncat-loncat untuk tahu kira-kira isinya apa (speed reading). Kurenungkan kembali, kalau buku yang betul-betul tuntas kubaca biasanya bertema feminisme atau “kiri”. Jadi bisa ditebak kira-kira minat bacaku seperti apa.

Karena jarang membeli buku, aku bisa tahu utang membacaku bagaimana. Ada dua buku yang belum tuntas kubaca, yaitu Elizabeth Gilbert “Eat, Pray, Love” dan Rick Warren “The Purpose Driven Life”. Keduanya ada di kamarku karena aku betul memiliki keduanya.

Buku Gilbert tersebut kubeli tahun 2012 dan rencananya ingin kubaca sebelum nonton filmnya. Akan tetapi aku tidak tahan dengan ceritanya yang sepertinya bertele-tele. Aku hanya membaca awalnya saja, lalu kubaca loncat-loncat ala speed reading, kemudian aku menonton filmnya. Tanpa membaca tuntas, aku bisa tahu filmnya berbeda apa saja dengan bukunya. Nampaknya kegalauan wanita tidak membuatku tertarik sama sekali.

Buku Warren (berbahasa Indonesia) dihadiahkan oleh kawanku yang pulang ke Indonesia karena studinya di Jerman berakhir. Aku juga menerima versi asli bahasa Inggris yang digital, via email, dari kawan yang lain. Awalnya aku berminat membaca buku ini supaya lebih “religius” juga demi bertobat dari segala macam kegalauan. Akan tetapi, aku tidak tahan membaca buku ini. Baru tiga bab dari 40, yang bisa kubaca. Sepertinya “Tuhan” bukanlah sesuatu yang cocok untukku.

Sedikit tambahan, “Tuhan yang mati” menurut Nietsche juga salah satu yang tidak tuntas kubaca. Bukunya berjudul “Thus Spoke Zarathustra” dan tersimpan di rumah ibuku di Indonesia. Aku hanya sanggup membaca 3 halaman saja. “Tuhan” betul-betul tidak bisa memotivasiku untuk membaca.

Ada satu buku yang kupinjam dari kawanku, yaitu Karen Armstrong “A History of God”, atau “Sejarah Tuhan”. Buku ini hanya bisa kubaca tiga bab. Lalu aku tidak sanggup lagi. Mungkin ini karena dalam bahasa asli, bahasa Inggris, bukan dari terjemahan bahasa Indonesia. Tapi bisa jadi karena “Tuhan” tak mampu membuatku bergairah membaca.

***

Suatu hari, aku merasakan ranselku terlalu berat kalau harus membawa buku, dalam perjalanan yang harus kutempuh dengan sepeda dan kereta. Aku pun membeli iPad dan membaca buku digital saja. Sebelumnya aku sudah membandingkan tablet apa saja yang cocok untuk membaca buku (dan paper ilmiah) digital. Awalnya aku ingin Android, tapi ukuran di tangan sepertinya tidak pas (dalam volume dan massa). Jadi aku mencoba memilih Apple.

Tujuan awal memiliki iPad adalah supaya aku tidak merasakan tas yang membengkak dan juga berat akibat berlembar paper dan buku. Dua tas sudah jebol selama menjadi mahasiswa doktoral. Akan tetapi, aku sempat mengalami eforia iPad. Alat ini kupakai untuk social media secara berlebihan. Di masa-masa galau riset, aku bahkan sharing berlebihan. Hingga beberapa kawan Jerman meng-unfriend diriku.

Kini kusadari kalau aku memiliki minat membaca akan informasi “kekinian”, yang sering tampil di social media. Tidak lupa kubagi kemudian. Minatku membaca buku, jadi teralihkan ke bacaan singkat dan semi singkat yang terunggah dan terbagi di social media. Sialnya, aku memiliki banyak kawan online, jadi bahan bacaanku terlampau banyak untuk bisa kubaca tuntas.

Aku pun merenungkan, kalau setiap ada postingan tentang suatu hal yang bisa kubaca, aku bertanya terlebih dahulu: apakah bacaan ini berguna untukku saat ini, apakah mengganggu waktuku dalam Dharmaku, apakah kalau membaca ini akan menjadi manusia tercerahkan, apakah ada yang mati kalau aku tidak membaca ini, apakah ada yang gawat dengan kerjaanku kalau aku tidak membaca ini, dll. Jadi aku hanya membaca seperlunya saja.

***

Awal memiliki iPad, aku bertujuan membaca paper ilmiah dan buku-buku yang berhubungan dengan risetku. Akan tetapi aku malah membaca Harry Potter. Sejak iPad kupakai membaca selama perjalananku di kereta, aku sudah menyelesaikan tiga buku Harry Potter. Sedangkan buku-buku ketuhanan dan curhat wanita galau “Eat, Pray, Love” hingga kini belum kuselesaikan. Kini kusadari minatku seperti apa.

OK, aku juga menggunakan iPad untuk membaca Kitab Suci. Ada bacaan harian dari kalender liturgi Katolik dari suatu aplikasi. Awalnya aku mencoba mengunduh aplikasi Alkitab yang sama dengan yang di Android, tapi tidak ada di Apple Store. Aku pun mencari padanan yang mirip. Aku menemukan aplikasi Alkitab yang tampilan dan navigasinya tidak terlalu asyik. Tapi ketika aku lihat bacaan hariannya sama dengan kalender liturgi Katolik, aku pun tertarik. Bacaan harian ini tidak terlalu pendek dan tidak terlalu panjang. Aku pun mempertahankan aplikasi ini di iPad. Perjalanan keretaku kuisi dengan membaca bacaan harian ini.

Tapi kusadari bahwa aku tidak mungkin tuntas membaca Alkitab. Bacaan harian untuk umat itu ayat-ayat yang dipilih otoritas gereja. Ada beberapa hal yang tidak masuk bacaan harian. Beberapa ayat tidak cocok untuk anak bawah umur dan juga kadang tak terlalu berhubungan dengan doktrin gereja yang sehari-hari biasa ditanamkan kepada umat. Jika ingin membaca tuntas, harus mencoba baca sendiri dari awal hingga akhir, tanpa tuntunan bacaan harian.

Oh, ya, aku juga punya aplikasi Al Quran. Secara teoretis, kalau orang membaca 1 juz per hari, dia akan tamat membaca Al Quran dalam 30 hari. Sebulan bisa tuntas. Itu kalau niat membaca. Akan tetapi aku tidak minat membaca tuntas seperti ini. Belum dapat hidayah.

***

Kini kusadari bagaimana minatku dalam membaca. Aku hanya mampu menuntaskan suatu buku dari awal hingga akhir jika aku termotivasi oleh “element of surprise”. Hanya buku-buku dengan tema perjuangan manusia untuk melawan penindasan atau dalam menguak suatu misteri, yang bisa memotivasiku untuk membaca tuntas. Makanya buku-buku “kiri” dan feminis bisa selesai kubaca. Juga buku detektif dan Harry Potter bisa kubaca tuntas dengan lancar.

Bacaan ketuhanan yang kuminati ternyata hanya yang sesuai dengan identitasku, yang Katolik. Aku lebih suka membaca Kitab Suci daripada interpretasi manusia akan Kitab Suci. Ada suatu misteri yang membuatku merenung. Aku memiliki ruang interpretasi yang lebih luas ketika membaca ayat-ayat, daripada membaca buku-buku karangan orang tentang ayat-ayat Kitab Suci dan tentang Tuhan. Tapi di sisi lain, aku hanya berminat membaca bacaan harian yang disodorkan oleh otoritas Gereja Katolik Roma. Aku termotivasi menuntaskan bacaan harian kalau aku yakin itu sesuai flow kalender liturgi dari gereja yang aku percaya.

Kini aku pun berpikir, paper-paper ilmiah apa saja yang tuntas kubaca.

Selamat membaca!

Habisi!

Oldenburg, 21 April 2016

iscab.saptocondro

iscablog, euy — http://iscab.blogspot.com/2016/04/buku-yang-tuntas-kubaca.html

posted on April 21, 2016 at 04:11PM in the year of Chinese Yang Red Fire Monkey and Javanese Anama / Jimawal.

Jaman dulu, aku menulis tentang kuliah di Bremen, ketika aku masih bekerja di Nürnberg, Bayern. Tulisanku dulu adalah tentang kampus di Bremen dan kegiatan orang-orang Bremen. Kini aku kembali tinggal di Bremen, namun aku studi doktoral di Oldenburg, Niedersachsen. Banyak hal yang berubah di Bremen: orang-orangnya, aturan kuliah, dll.

***

Jurusan kuliahku dulu di Universität Bremen berganti nama, dari Information and Automation Engineering (IAE) menjadi  Control, Microelectronics, Microsystems (CMM), mulai 1 April besok (web resmi). Aku pun teringat kalau aku belum melakukan penyetaraan ijazah di Dikti. Kini jurusanku sudah “bubar”.

//platform.twitter.com/widgets.js

Selain itu, lulusan Teknik Elektro ITB tidak bisa lagi mendaftar di jurusan tersebut: CMM Uni Bremen. Masalahnya karena Teknik Elektro ITB tidak terakreditasi di Anabin, suatu lembaga penyetaraan ijazah milik Pemerintah Jerman (web Anabin). Aku beruntung karena lulus ITB dan mendaftar ke Uni Bremen di waktu yang tepat. Adik kelasku terkena masalah akreditasi Anabin ini, jadi pendaftaran ke Uni Bremen ditolak tahun 2015 lalu. Masalah ini terjadi karena Dikti dan atase pendidikan Indonesia di Berlin tidak sistematis melakukan reakreditasi perguruan tinggi di Indonesia ke Anabin. Berat juga jadi Dikti, harus mengurus ribuan perguruan tinggi di Indonesia dan harus mengirim dokumen ke Anabin Jerman, supaya antar universitas bisa mudah pertukaran pelajar, studi lanjut, dll.

Aku hanya bisa berkomentar bahwa suatu sistem yang berhasil hanya karena keberuntungan, bukanlah suatu sistem yang kokoh. Makanya ilmuwan menghitung p-value dan chance level, dalam pekerjaan mereka untuk yakin apakah kerjaan mereka bermakna atau tidak.

***

Satu hal yang perlu kukoreksi dari tulisanku sebelumnya ialah kuliah di Bremen adalah kebijakan putra daerah (Landeskinder). Kini kebijakan ini dihapuskan. Jadinya kini tiada lagi uang kuliah (tuition fee / Studiengebühren) bagi mahasiswa/i yang kuliah di perguruan tinggi negeri di Bremen kalau mereka tinggal di luar negara bagian Bremen, seperti Hamburg atau Niedersachsen. Dulu kawanku yang tinggal di Hamburg harus meminjam nama alamatku di Bremen, supaya tidak bayar uang kuliah Uni Bremen. Kini, ada kawan yang tinggal di Achim, Niedersachsen, lalu kuliah di Hochschule Bremen, tanpa kena aturan uang kuliah non-putra daerah. Jadi kuliah gratis itu menjadi semakin nyata

***

Semakin banyak mahasiswa-mahasiswi di Bremen. Grup-grup masyarakat Indonesia di Bremen juga semakin kompleks:

  • Persatuan Pelajar Indonesia (PPI), di Bremen, yang lebih banyak orang, jadi tiap tahun bisa bikin acara kebudayaan yang penuh warna dan massal secara swasembada. Dulu harus nambah penari dan pemain musik tradisional dari kota lain: Hannover atau Hamburg. Kini PPI Bremen sudah jadi organisasi rapi dan lincah serta mandiri.
  • Keluarga Muslim Indonesia Bremen e.V., dulu kusebut Pengajian Bremen. Kini sudah jadi organisasi terdaftar di Jerman (eingetragene Verein, disingkat e.V.). Kalau bayar amal, zakat, infaq, dan sedekah ke sini, bisa mendapat pengurangan pajak, karena sudah e.V.
    Kini, ada “Ngaji Ibu-ibu Bremen” dan Pengajian Remaja Bremen (PRB) untuk mengisi kebutuhan yang lebih spesifik.
  • Persatuan Kristen Indonesia (Perki) Bremen. Kegiatannya adalah kebaktian oikoumene dan pendalaman Alkitab.
  • Keluarga Mahasiswa Katolik Indonesia (KMKI) Bremen. Yang kini sudah bubar lagi. Tulisanku sebelumnya menyebutkan kalau mereka baru dibentuk. Usianya pendek juga. KMKI Bremen belum mandiri secara organisasi, masih tergantung KKI Bremen.
  • Keluarga Katolik Indonesia (KKI) Bremen. Tiap bulan Mei dan Oktober mengadakan Doa Rosario. Beruntunglah di Bremen, kalau lagi berdoa bersama di rumah keluarga tidak ada FPI dan organisasi semiripnya yang menggerebek.
  • Calon Doktor (Cator) Bremen. Kegiatannya adalah kumpul-kumpul mahasiswa doktoral dan kawan-kawan selingkaran.
  • Persatuan Wanita Indonesia (PWI) Bremen. Kegiatannya adalah arisan, dll.
  • Gowes Bareng Yuk, kelompok bersepeda bareng di Bremen. Kegiatannya tur sepeda antar kota di Bremen dan sekitarnya.
  • Gracioso Chamber Choir (GCC), yaitu kelompok paduan suara Indonesia di Bremen. 
  • Studenten-Bibelkreis Bremen, yaitu klub pendalaman Alkitab mahasiswa/i Bremen (dan sekitarnya) yang merasa Pendalaman Alkitab di Perki Bremen kurang intensif atau kurang greget.
  • Klub gamelan kini tinggal satu, yaitu di Übersee museum Bremen (web museum). Kalau tidak salah, nama klub ini adalah Arum Sih (web). Aku dulu ikut klub lain di Bremen jadi tidak terlalu tahu klub ini.
  • Ada grup mama baru Indonesia di Bremen. Lebih tepatnya grup untuk ibu yang memiliki anak bayi dan balita.
  • Juga ada grup Tempat Penitipan Anak.
  • Masih banyak grup lain di Bremen yang tidak berada dalam radarku.

Aku tidak tahu, cocoknya bergaul di grup mana. Aku sudah sulit bergaul dengan PPI Bremen karena mereka sangat muda, sedangkan aku si tua bangka. Aku masih bergaul dengan Perki Bremen, demi alasan historis romantis dan makanan enak. Sejak tiada Tabak Börse Bremen, aku tidak gabung lagi ke acara Idul Fitri dan Idul Adha bersama Pengajian Bremen, kini bernama Keluarga Muslim Indonesia Bremen e.V.. Aku juga mencoba bergaul dengan Cator Bremen, karena identitasku sebagai mahasiswa doktoral. Beberapa Cator Bremen adalah orang-orang yang kukenal sejak Bremen 1.0. Jadi kini lingkaran gaulku terbatas oleh alasan historis romantis saja. Aku sudah sulit berkenalan dengan orang baru dan mulai susah mengingat nama orang. Aku betul-betul sudah menua.

Tidak berapa lama lagi, angin Bremen bertiup. Akan ada kerjasama lebih erat antara Pemerintah daerah Bremen, Volkhochschule (VHS) Bremen, dan masyarakat Indonesia di Bremen. Semoga kerjasama ini bisa menyatukan orang Indonesia di Bremen lagi, paska “hilangnya” Tabak Börse.

***

Kini ada tiga toko Indonesia di Bremen. Sedangkan aku semenjak mengalami Bremen 2.0 belum pernah belanja di salah satu toko tersebut. Jadinya lokasi pasti ketiga toko tersebut tidak bisa kutulis di posting kali ini.

Vina Store di Am Brill sudah tidak menjadi toko Asia pilihan favorit di Bremen. Kini dekat Hauptbahnhof Bremen juga ada toko Asia lainnya. Aku jarang belanja di toko Asia, karena lidah dan perutku relatif sudah pasrah ter-jerman-kan.

Tempat makan legendaris di Bremen:

  • Tantuni, seperti sudah kusebut di tulisan sebelumnya.
  • Mommy, rumah makan Ibu Afrika, di daerah Bremen-Neustadt. Sambalnya enak tapi berbahaya (nikmat bibir yang bisa membawa pada siksa dubur). Sop kambing serasa gulai Indonesia. 
  • Ali Baba, tempat makan Dürum di Bremen-Neustadt. Tidak bisa dipakai nongkrong, karena kursi terbatas.
  • Sea Moon, rumah makan Asia di Bremen-Viertel. Makanannya variatif. Ada menu babat di sini.
  • Rumah Makan Surabaya, mengandung makanan Indonesia. 
  • dan masih banyak tempat makan lainnya, sesuai selera masing-masing.

Tempat makan di atas, adalah tempat di mana aku bisa berpapasan dengan orang Indonesia, secara kebetulan.

***

Tulisanku sebelumya (part 1), bisa dibaca di “Kuliah di Bremen” (wp) atau “Kuliah di Bremen” (blogger). Terima kasih, telah membaca.

Oldenburg dan Bremen, 31 Maret 2016

iscab.saptocondro

iscab di Bremen Berangin — http://iscabremen.blogspot.com/2016/03/kuliah-di-bremen-part-2.html
posted on March 31, 2016 at 08:37PM in the year of Chinese Yang Red Fire Monkey and Javanese Anama / Jimawal.